
Pagi yang cerah. Tampaknya matahari sedang mengucapkan selamat pagi untukku. Seolah ia tersenyum padaku. Cerah sekali hari ini. Secerah perasaanku saat ini. Masa depan yang sempat terhenti karena keadaan, kini hidup kembali seperti bayi baru lahir.
Kelas sudah hampir penuh. Hanya beberapa siswa saja yang belum datang. Dinda tampaknya juga belum datang. D egan langkah semangat aku menuju ke kursiku. Betapa terkejutnya aku melihat kondisi kursi yang berantakan. Ada bekas tumpahan kopi di sana lengkap dengan cup nya. Siapa yang melakukan hal semacam ini. apakah ini kebetulan atau memang disengaja. Sekolah sebagus ini tentu punya petugas kebersihan yang bertanggung jawab atas kebersihan kelas. Apakah mereka lupa tidak membersihkan kursiku.
"Selamat pagi, silahkan duduk, kita akan mulai kegiatan hari ini dengan berdoa" Seorang guru memulai kelas.
Semua siswa segera duduk di bangku masing-masing. Sekonyong-konyong Dinda masuk ke kelas dan segera menuju kursinya yang berdekatan dengan kursiku. Dinda pun terkejut melihat kondisi kursiku. Pandangannya pun penuh tanya padaku. Aku mengangkat kedua bahu menjawab tatapan penuh tanya Dinda.
"Ada apa? Kenapa tidak duduk?" Guru itu bertanya pada kami berdua.
"Anu Bu, kotor" Jawabku.
"Kotor kenapa?" Bu Guru masih belum paham.
"Ada bekas kopi" Kini Dinda yang berbicara.
"Kok bisa. Siapa yang piket hari ini?"
"Anu Bu, tadi saya lihat Rosa membawa kopi trus tumpah Bu" Seorang siswa berkomentar.
Aneh. Kenapa dia berbicara seperti itu padahal jelas sekali kopi itu sudah ada sebelum aku masuk ke kelas. Ah, seandainya di dalam kelas ini ada kamera cctv. Aku melihat siswi yang berbicara itu. Dia menunduk. Aku tahu dia berbohong. Kenapa? Siapa yang menyuruhnya berbohong sedalam itu.
"Betul Rosa?"
Aku menggeleng tapi aku tak punya kesempatan untuk menjelaskan.
"Benar Bu, tadi saya lihat sendiri. Tapi dia malas buat beresin Bu" Kata siswa itu lagi.
Kurang ajar sekali dia memfitnahku seperti itu. Ah aku yakin dia punya niatan lain. Pasti ada seseorang di belakangnya. Aku toh tidak punya masalah dengannya. Ini masih hari kedua aku ke sekolah, mustahil jika punya masalah dengan dia yang belum kukenal bahkan aku belum tahu namanya.
"Rosa, silahkan bersihkan dulu kursi kamu, baru kamu bisa ikuti pelajaran" Kata Bu Guru.
Gila. Anak itu sukses membuatku keluar dari kelas. Aku terpaksa membawa kursiku ke luar lalu mencucinya di toilet.
Istirahat.
Aku mengikuti siswi itu. Siswi yang belum kuketahui namanya. Siswi yang memfitnahku tadi di kelas. Aku berjalan di belakangnya. Tampaknya dia menyadari sedang diikuti oleh seseorang. Siswi itu mempercepat langkahnya. Aku pun mempercepat langkahku.
"Hey.. tunggu..." Teriakku.
"Namanya Eva" Sahut Dinda yang menemaniku mengejar siswi itu.
"Hey....Eva tunggu!!" Panggilku setelah tahu namanya.
Setelah beberapa saat mengejar Eva, doa pun bisa kuraih. Kubalikkan badannya dan kupepet sampai ke tembok. Dia tak bisa berkutik. Dia kuga tidak berani menatap mataku.
"Eh, kamu punya masalah apa sih ke aku, kok kamu ngomong kayak gitu tadi di kelas?" Aku bertanya dnegan kesal.
"Emang begitu kan??" Eva berani menjawab meski sangat terlihat jelas dia ketakutan.
"Begitu gimana? Jelas-jelas kopi itu sudah ada sebelum aku masuk kelas. Pasti ada yang sengaja tumpahkan di situ kan? Kamu orangnya?"
"Bukan!!"
"Trus siapa? Kau tahu orangnya?"
Eva menggeleng kuat.
"Kalo gak tahu kenapa lo bilang Rosa numpahin sendiri?" Dinda membantuku.
Eva tidak bisa menjawab. Dia tampak ketakutan. Jadi jelas pasti ada yang menyuruhnya.
"Itu Bu di situ!!" Tiba-tiba seseorang membawa Bu Guru ke tempat kami.
"Anu Bu...kita..." Dinda berusaha membantah tapi dia juga tidak tahu menggunakan alasan apa dan kalimat bagaimana.
"Kalian bertiga ikut Ibu ke kantor" Kata Bu Guru.
Jadilah kami bertiga dibawa ke kantor. Semua siswa yang ada di situ memandang kami dengan pandangan bermacam-macam. Ada yang sinis, ada yang mencibir, ada pula yang kasihan. Saat di kantor, Eva tidak berbicara apa-apa. Dia hanya diam dan menunduk. Sementara Dinda menggebu-gebu menceritakan yang sebenarnya demi membela diri. Akupun demikian. Lalu apa reaksi Bu Guru?
"Saya tidak tahu mana yang benar dan mama yang salah. Siapa yang berkata jujur dan siapa yang sedang berbohong. Tapi Ibu melihat dengan mata kepala Ibu sendiri, kalian sedang mengancam dan membully Eva"
What? Bu Guru ini hanya melihat dari satu sisi saja. Dia hanya percaya apa yang dia lihat tanpa menggali informasi lebih dalam. Dari sini aku mengerti, bahwa untuk melawan seseorang, bukan otot yang dibutuhkan, tapi taktik. Seperti hari ini, dalam sehari saja aku sudah terkena dua fitnah sekaligus, dengan taktik yang matang.
"Kalian berdua, ibu hukum, bersihkan perpustakaan" Kata Bu Guru.
Sepulang sekolah aku dan Dinda menjalani hukuman membersihkan perpustakaan yang sebenarnya tidak terlalu kotor, namun berantakan karena banyaknya pengunjung. Dinda terus terusan menggerutu. Aku paham dengan perasaan Dinda. Sahabatku itu merasa bahwa ini tidak adil baginya. Dia hanya membantuku tetapi dia juga terkena imbasnya. Dalam hati aku berjanji, sekuat tenaga aku tidak ingin dia terlibat lagi dalam masalahku. Sudah cukup hukuman ini dia jalani. Dia bukan sasaran utama, tapi aku.
Selesai dari perpus, kulihat Alanta sudah duduk di depan sana. Apakah dia menungguku? Ah pede sekali aku.
"Alan!!" Panggilku
Alanta menoleh. Melihat siapa yang ada di depan sana, Dinda melongo.
"Loh itu kan..." Dinda sampai bengong dibuatnya.
"Udah selesai ke perpusnya? Rajin amat " Kata Alanta.
Aku menggenggam erat tangan Dinda, sebuah isyarat agar Dinda tidak berbicara macam-macam.
"Iya nih, banyak tugas. Kamu ngapain di sini?"
"Nungguin kamu. Mau langsung pulang atau ke outlet?"
"Ke outlet. Yuk udah telat!!"
"Tunggu...tunggu kok kalian saling kenal gini. Ini bukannya kak Alanta yabg mimpin ospek itu kan?" Tanya Dinda.
"Iya" Jawab Alanta.
"Oh my God!! Senengnya bisa ketemu berhadapan kayak gini" Kata Dinda.
"Eh Din, ngobrolnya besok lagi ya. Ini aku buru-buru" Kataku.
Aku bicara jujur. Aku memang sudah telat ke outlet karena mendapat hukuman membersihkan perpustakaan.
"Alan, aku boleh nanya gak?" Tanyaku dalam perjalanan.
"Hm, apa?"
"Kenapa kamu tempatkan aku di kelas X A?"
"Kenapa? Kamu gak nyaman?"
"Oh nggak..nggak ..ya penasaran aja. Aku seneng di sana ada Dinda, sahabatku dari SMP"
"Oh, jadi bener dong aku"
"Iya, tapi kenapa, alasannya apa gitu lo"
"Oh, karena kelas itu kelas pilihan. Siswa yang ada di dalam kelas itu adalah siswa dengan nilai terbaik, dan dengan kemampuan non akademik lebih" Jelas Alanta.
Kelas pilihan. Oh jadi karena itu, bukan karena dia tahu masa laluku. Motor melaju dengan kencang karena memburu waktu.
***