My Name Is Rose

My Name Is Rose
Poster



Seorang pekebun mencopot sebuah poster di samping perpustakaan. Tampaknya itu poster baru sebab kemarin belum ada.


"Poster apa Pak?" Tanyaku iseng.


"Alah...ini lo, poster lomba, sama kepala sekolah suruh lepas" Jawab Pekebun santai.


"Kok dilepas, baru kan ya?"


"Iya nih, kata bu kepala kita kagak ikutan, ribet, makanya dicopot aja"


Inilah yang menyebabkan sekolah ini tidak berkembang. Pemikiran yang pesimis, tidak ada greget untuk mengikuti event-event dan tidak bersemangat dalam mendulang prestasi.


"Sini pak buat aku saja" Kataku.


"Lah buat apa neng?"


"Gak papa buat aku aja mau aku pakek. Boleh kan Pak"


"Oh ya udah kalo gitu"


Kubawa poster itu ke dalam kelas. Tapi rupanya di dalam kelas sudah ada guru yang sedang melakukan absensi.


"Maaf Bu telat" Kataku.


"Silahkan duduk" Jawab guru yang hanya melihatku sekilas.


Sangat kebetulan, karena guru yang sedang berada di kelas saat ini adalah wali kelas kami. Pelajaran dimulai. Pelajaran yang diampu oleh beliau adalah Bahasa Indonesia. Sangat tepat dengan poster yang ditempel itu. Pelajaran berlangsung dengan membosankan, sebab hanya berisi mencatat di papan tulis, tidak ada sesi tanya jawab maupun diskusi. Praktek langsung, apa yang perlu dipraktekkan dari pelajaran Bahasa Indonesia, menurutku seperti itu pemikiran mereka. Padahal banyak sekali yang bisa dipraktekkan langsung dari Bahasa Indonesia. Surat menyurat, drama, percakapan dan masih banyak lagi.


Pelajaran selesai. Guru mengakhiri sesi hari ini.


"Baik, sampai jumpa lain hari" Kata guru.


"Maaf Bu, saya mau menyampaikan sesuatu" Aku mengacungkan tangan.


"Oh iya silahkan Rosa" Jawab guru.


Dengan acungan tanganku, anak-anak yang lain yang tadinya menyandarkan kepala di meja, terpaksa mendongak karena penasaran.


"Saya menemukan poster ini di dekat perpus sewaktu saya ke toilet" Aku menunjukkan poster yang kuminta dari pekebun.


"Oh lomba itu. Kenapa?"tanya guru yang tampaknya sudah paham.


"Jadi Ibu sudah tahu ada lomba ini?"


"Iya tahu sekilas. Apa yang ingin kamu sampaikan?"


"Saya ingin sekolah kita ikut lomba ini. Dan saya ingin kelas kita yang mewakili"


Mendengar itu, seisi kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi. Sebagian siswa memandangku dengan tatapan penuh tanya. Mereka mungkin berpikiran bagaimana anak baru bisa memberi usul sebesar itu. Pasalnya yang dilombakan adalah mading. Sementara sekolah ini tidak memiliki tim mading khusus. Mading yang ditempel di beberapa sudut sekolah belum berganti sejak setahun yang lalu. Bahkan kertasnya sampai usang dan tulisannya sudah banyak yang hilang. Jadi mana mungkin sekolah yang tidak memiliki mading yang jalan, bisa mengikuti lomba mading.


"Kamu yakin kita mau ikut? Biayanya besar Rosa. Itu juga perlu konsep yang menarik tidak sekedar karya yang ditempel, tetapi juga ada hiasan yang diperlukan"


"Iya Bu, dan saya yakin kita mampu. Kita bisa cari referensi di internet" Jawabku yakin.


"Eh....iya...ya..saya paham. Nanti saya coba ngomong ke kepala sekolah ya" Jawab guru dengan ragu.


Selepas guru meninggalkan kelas, kelas kembali riuh dengan berbagai komentar masing-masing.


"Ros. Kamu ini apa apaan sih. Jangan usul yang aneh aneh aduh" Kata Dewi, anak penjual cilok.


"Gue gak usul yang aneh-aneh kok. Ini kesempatan kita menunjukkan ke seluruh Jakarta kalau kita ini anak-anak yang berbakat" Aku begitu semangat menyampaikan ini.


"Waduh Ros kita ini gak ada waktu untuk hal yang begituan, mending kita pakek buat bantu Bapak Ibu kita" Kata Adi.


"Nah betul itu"


"Aku setuju"


"Nah itu bener"


Mereka tampaknya sama pesimisnya dengan kepala sekolah. Jika seperti ini terus, mereka tidak akan maju. Pikiran mereka hanya seputar cari uang untuk menyambung hidup. Kreatifitas untuk akademik masih belum dibutuhkan. Kreatifitas mereka, ditumpahkan pada produk orang tuanya. Tanpa mereka berpikir untuk lepas dari orang tua dan berdiri di kaki sendiri.


Aku tak kurang akal. Aku tahu siapa yang pasti bisa menyadarkan mereka.


"Selamat siang semuanya" Sapa Alanta.


"Huuuuuuu" Para siswi bukannya menjawab Alanta malah bersorak.


"Salam kenal saya Alanta dari kelas 3 IPA"


"Salam kenal Kak" Sahut seorang siswi.


"Halo Kak"


"Wuih Kakak ganteng banget loh"


"Udah punya pacar belum Kak"


"Tenang...tenang.... Saya kesini untuk menyampaikan sesuatu. Bukan hanya ke kelas ini saja tapi juga ke kelas lain"


Para cewek serius mendengarkan. Bahkan para cowok sebagian terpesona dengan performa Alanta.


"Sebentar lagi, ada lomba mading. Nah saya mau ngajakin kalian ikut lomba itu. Siapa uang kira-kira bersedia?" Tanya Alanta.


Seketika semua cewek mengacungkan tangan. Hanya aku saja yang tidak mengacungkan tangan karena tercengang. Hmm, giliran yang ganteng yang ngomong langsung diterima.


"Mbak yang itu, oh iya Rosa ya namanya...gak mau ikutan?" Tanya Alanta pura-pura tidak mengenal dekat.


"Oh iya saya juga setuju"


"Baik semuanya setuju ya. Tetapi tidak semua yang akan ikut dalam lomba. Dibatasi 10 orang saja. Tetapi yang tidak terpilih juga kami mintai tolong untuk membantu di balik layar. Oke!!"


"Oke!!!"


Berhasil. Sekarang aku mengerti, kenapa dunia menyelenggarakan Miss World, Misa Universe, Puteri Indonesia dan sebagainya. Jawabannya ialah, karena kecantikan luar, tutur kata, performa ketika berbicara sangat mempengaruhi orang lain. Ini buktinya. Ketika aku berbicara semua menolak, giliran Alanta yang mereka idolakan semenjak pindah kesini yang berbicara, semua mengacungkan tangan untuk ikut serta.


"Thanks ya Alan... Akhirnya mereka mau juga ikut lomba mading"


"Sayangnya mana?"


"Ha?"


"Thanks ya sayang gitu looo"


Kutepuk lengannya ringan.


"Hush ah jangan keras-keras ntar ada yang denger berabe" Kataku.


Alanta tampak puas setelah menggodaku.


"Tugas kamu selanjutnya, mencari referensi model mading yang kreatif namun bermakna" Kata Alanta kemudian.


"Oke...aku pikir profil anak-anak di kelasku bagus untuk diangkat"


"Maksudnya?"


"Alan, di kelasmu gitu juga gak ya. Di kelasku semua anak-anak pekerja. Tiap pulang sekolah mereka bantu orang tuanya kerja. Ada yang jualan cilok, kue basah, reparasi kipas angin, jahit dan sebagainya. Mereka ini mengasah keterampilannya sejak masih kecil. Aku rasa ini adalah topik yang menarik"


"Boleh juga. Apalagi kalau kita berikan hiasan sesuai dengan keterampilannya. Misal yang dagang cilok kita kasih miniatur cilok ditusukin, yang jahit kita kasih aksen baju, yang gitu-gitu lah pokoknya"


"Betul. Ada satu kendala sih sebenernya"


"Apa?"


"Sekarang aku baru tahu kenapa sekolah ini kurang berkembang. Karena takut. Takut mengeluarkan biaya. Takut kalah. Takut ribet. Makanya aku perlu dukungan kamu secara penuh. Sebagian gajiku akan kusumbangkan untuk lomba ini. Jika nanti kurang, aku minta tolong kamu ya"


Alanta tidak menjawab. Dia hanya memegang kepalaku, dan menggoyangkannya sedikit. Tapi aku tahu, jawabannya adalah iya.


***