
"Rosa...!!...Rosa...!!" Panggil Alanta.
Aku segera berdiri dan mengusap air mataku. Segera Alanta menemukanku di sebuah tempat di area taman. Ia memandangku nanar. Aku berusaha tegar seolah tak terjadi apa-apa. Tapi sekuat apapun aku berpura-pura, tidak akan mampu membohongi Alanta.
Dia mendekatiku dan menggenggam kedua tanganku. Dia tahu aku baru saja menangis. Kemudian dia menarik kepalaku ke dadanya. Di situlah aku tidak bisa menahan. Aku menangis sejadi-jadinya. Kutumpahkan segalanya di sana. Aku benamkan kepalaku di balik jasnya dan kupegang kuat bahunya. Aku tidak kuat lagi menahan. Aku sesenggukan di sana.
"Maafin aku...." Kata Alanta lirih.
Aku tidak menjawab selain dengan isakan tangis.
"Aku gak bisa bela kamu di meja makan. Aku minta maaf...." Lanjutnya.
Kuberanikan diri mengangkat mukaku. Wajah kami berhadapan dengan jarak sekitar sepuluh sentimeter saja. Dia memegang kepalaku dan menghapus sisa-sisa air mata di pipiku.
"Aku janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi....maafin aku ya...sayang" Pinta Alanta.
Dan sampai detik ini aku tidak menjawab selain air yang keluar dari mata.
"Kenapa kamu gak bilang kalau hari ini ini ulang tahun kamu?" Kataku kemudian.
Giliran Alanta yang tak bisa menjawab. Dia tahu dia salah tentang ini.
"Ros...aku..."
"Kamu tahu gimana rasanya berada di antara orang-orang yang kasih kamu kado mahal, sementara cuma aku yang gak bawa kado dan cuma aku yang baru tahu kalau malam ini adalah ulang tahun kamu!!" Aku marah tentu saja, lebih tepatnya protes.
"Ros...aku mau kasih tahu kamu nanti pas di meja makan. Gak tahunya mereka datang juga. Aku pikir malam ini cuma ada aku, kamu dan kedua orang tuaku. Ini rencana mereka kasih surprise" Jelas Alanta.
"Apapun alasannya kamu salah gak kasih tahu aku sebelumnya. Kalau saja kamu kasih tahu aku, aku bisa nyiapin sesuatu ya meskipun harganya tak seberapa jika dibanding pemberian mereka"
"Pemberian apa yang lebih mahal dari hati kamu?"
Aku terdiam.
"Kamu sudah kasih aku hadiah spesial dengan terima aku sebagai pacar kamu, nerima setiap bantuanku, dan tetap berada di sisiku dalam keadaan apapun. Apa yang lebih berharga dari itu?"
"Tapi...Alan..."
"Jangan pernah berpikir lebih rendah dari mereka hanya karena gaya hidup kalian berbeda. Mereka memaknai sebuah ulang tahun dengan sebuah benda. Tapi aku tidak. Ada hal yang jauh lebih berharga dari sekedar kado ulang tahun. Kamu hadiah terbesar dalam hidupku. Aku hanya ingin kamu paham itu"
Siapa laki-laki di depanku ini? Dia begitu gamblang menjelaskan posisiku dalam hidupnya. Siapa yang tak jatuh hati dengan pria seperti ini? Aku tak berdaya dengan tatapannya. Aku menunduk. Aku paham sekarang, aku harus lebih kuat dari waktu dia meja makan tadi.
"Anterin aku pulang" Kataku dengan terisak.
"Oke...kita pulang ya" Kata Alanta.
Berada di sini hanya akan menguras kesabaranku. Mereka ingin menunjukkan dimana levelku dibanding dengan mereka. Kami memang berbeda dari segi materi. Tapi tidakkah mereka sadar bahwa kita sama-sama manusia.
Mobil melaju meninggalkan gerbang rumah Alanta sekaligus meninggalkan para tamu di dalam sana. Alanta mengantarkanku pulang sebelum acara usai. Bahkan acara baru saja dimulai. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Alanta sangat tahu disaat seperti ini aku hanya ingin diam tanpa berdiskusi apapun. Sesekali ia mengelus rambutku untuk menenangkan.
Sampai di depan rumah. Mobil berhenti. Alan tak langsung membiarkanku turun. Ia memegang tanganku, dipandangnya wajahku lekat-lekat. Dia masih merasa bersalah atas kejadian di rumahnya tadi. Meskipun aku sudah memaafkannya dari relung hati yang terdalam. Diciumnya keningku lembut. Barulah ia lepaskan aku untuk turun dari mobil.
***
Selang dua hari setelah kejadian menyakitkan itu, Alanta datang lagi ke sekolahku, namun kali ini sebagai alumni. Tentu saja para cewek bersorak menghampirinya. Masih juga dua hari, mereka sudah kangen dengan Alanta.
"Wah ..sudah jadi mahasiswa Bang?" Ledekku setelah cewek-cewek itu pergi.
" Belum...baru juga dua hari neng" Jawab Alanta.
Aku terkekeh ringan.
"Eh si eneng sudah bisa ketawa...adem rasanya neng" Kelakar Alanta.
"Selamat hari Senin ya" Katanya.
"Selamat hari Senin? Apa spesialnya hari Senin?"
"Karena jari Senin, kamu libur kerja..."
"Oh...iya" Aku baru kepikiran alasan itu.
"Dan...malam ini Bunda kembali indang kamu makan di rumah"
Deg, senyumku yang tadi full dari ketemu sampai detik ini berubah datar. Makan di rumahnya? Menerima perlakuan tidak enak lagi? Bertemu Clara dan Mama angkatnya lagi? Dan aku akan menangis lagi?
"Kamu jangan buruk sangka dulu, jadi Bunda mengundang kamu sebagai permintaan maaf atas kejadian malam itu. Jadi aku jamin malam ini kamu bakal jadi gadis terhormat"
Aku menghela nafas berat. Tampaknya Alanta paham kekhawatiranku. Diapun segera meraih tanganku.
"Nanti yang ada cuma aku, kamu, Bunda dan Ayah. Hanya kita berempat. Tidak ada orang lain lagi. Aku janji"
Sebenarnya aku masih ragu. Sebab sekuat apapun Alanta melindungiku, dia tidak bisa berkutik di hadapan Nyonya Hamdani. Bagaimanapun dia masih remaja. Kekuatannya tak seberapa. Tapi, aku juga harus ingat, berapa banyak yang dia lakukan untukku. Betapa dia sudah menopangku selama ini. Dia selalu ada di belakangku menjaga agar aku tidak jatuh.
"Okey" Jawabku kemudian.
Saat itu juga Alanta mengantarku pulang untuk ganti baju, makan siang dulu tentunya. Hari Senin hari yang spesial seperti yang dia katakan. Rasanya waktu bergulir melambat khusus hari Senin. Karena hari libur kerja menjadi hari yang begitu istimewa.
Alanta menungguku di depan sementara aku berdandan. Untunglah ada Pak Juki yang menemaninya ngobrol sambil main catur. Selang beberapa waktu aku keluar dari rumah. Tak lupa mengunci pintu terlebih dulu.
"Nah itu si eneng udah kelar" Kata Pak Juki.
Alanta menoleh ke arahku. Dilihatnya diriku dari aras ke bawah lalu ke atas lagi. Ia tersenyum melihatku.
"Yuk" Ajakku.
Alanta tidak menyahut. Ia masih memandangku tak berkedip.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Nggak. Cantik"
Aku mengangkat bahu. Kami tidak ingin mengulur waktu terlalu lama. Kami pun masuk ke dalam mobil untuk segera menuju rumah Alanta. Alanta beberapa kali menoleh ke arahku di sepanjang perjalanan.
"Kenapa sih?" Tanyaku.
"Sumpah kamu cantik banget malam ini" Jawabnya.
"Hmmm memang selama ini nggak cantik. Cantik cuma malam ini doang?"
"Hahaha...ya nggak. Cuma malam ini beda. Lebih cantik, lebih manis....lebih artis"
"Hahaha..."
Sampai di rumah. Seorang satpam membukakan pintu gerbang. Mobil masuk dan berhenti di pintu samping. Segera seorang satpam yang tadi membukakan pintu, mengambil alih kemudi sesaat setelah kami turun.
"Are you ready?" Tanya Alanta.
"Yeah" Jawabku.
Inilah pertama kalinya aku menjadi princess di istana jaman sekarang. Sudah kupastikan hanya aku yang diundang. Terbukti, tidak ada mobil lain selain yang tadi membawaku kemari.
***