
Alanta sedang berbicara dengan seseorang saat aku kembali dari toilet. Perempuan itu tidak begitu jelas, sebab hanya terlihat dari belakang. Aku mendekat pelan-pelan sampai jarak dua puluh meter. Barulah terlihat siapa perempuan berbaju hijau elegan itu. Nyonya Hamdani.
Nyonya Hamdani menoleh menyadari kehadiran seseorang. Begitu tahu orang itu adalah aku, dia hanya menoleh sebentar dengan tatapan rendah kemudian kembali pada Alanta.
"Oke Alanta, Tante duluan ya" Katanya.
"Iya Tante" Jawab Alanta dengan senyum hormat.
"Kok bisa ada Nyonya Hamdani di sini Alan?" Tanyaku setelah Nyonya Hamdani jauh.
"Ada bisnis sama pemilik kafe nya" Kata Alanta.
"Dia ngomong apa?" Tanyaku penasaran.
"Ah biasa, basa basi saja"
Semua tampak normal. Tampaknya memang hanya basa basi dan kebetulan. Tak ada yang aneh sejauh ini.
***
Suara musik band terdengar dari area parkir. Drumnya begitu menggema hingga menerobos tembok-tembok yang mengelilingi First Internasional School. Taman-taman sekolah dihiasi dengan lampu warna warni dan di sepanjang jalan dihiasi dengan lampion dari bola sepak bekas. Banyak spot foto yang disediakan demi memuaskan peserta prom night yang telah menghabiskan tenaganya demi menaklukkan ujian nasional.
"Biasa aja, gak usah grogi gitu dong" Ledek Alanta.
"Iiih..." Kucubit ringan pinggangnya.
Jujur aku memang grogi. Kembali ke sekolah favorit yang dulu pernah membuatku bangga, rasanya seperti mendapat nominasi di sebuah ajang penghargaan. Rindu rasanya menapakkan kaki di atas rumput-rumput hijau yang dirawat setiap hari.
"Ya Bun? Iya ini sudah masuk" Kata Alanta menjawab telepon dari Bundanya, Bu Mariana.
Aku melihat sekeliling, adakah yang masih mengenalku? Dan benar saja. Dari kejauhan seseorang berlari ke arahku dengan ekspresi surprise.
"Rosa!!! Katanya gak mau kesini, malu..." Dinda terkejut dengan kedatanganku. Dia tampil beda hari ini. Dengan busana sedikit mencolok membuat penampilannya sama sekali berbeda. Hampir saja aku tidak mengenalinya jika saja dia tidak berteriak menyapaku.
"Kamu cantik banget sumpah" Komentarku membuatnya tersipu malu.
"Kamu sama siapa kesini?" Tanya Dinda.
"Tuh" Aku menunjuk pria yang tak jauh dari posisiku.
"Hmm pantes gue ajak gak mau, rupanya udah punya gandengan hehehe"
Kami berpisah setelah beberapa orang memanggil Dinda. Dinda sekarang berbeda dengan yang dulu, dia lebih berani dan sekarang sudah punya banyak teman. Syukurlah. Dia bisa beradaptasi meski menunggu tahunan untuk mampu melakukannya.
"Sayang tunggu bentar, Bunda panggil aku ke dalam" Kata Alanta dan aku mengangguk.
Sejenak aku menikmati es mojitos rasa apel diiringi musik band yang mendayu. Saat itu hapeku bergetar. Sebuah nomor baru yang tak kukenal.
'mengingat saudara masa kecilku, naiklah ke lantai 3, kelas kita dulu'
Siapa yang mengirim pesan itu? Kelas kita dulu? Dinda? Karena aku dan dia dulu satu kelas sebelum dia dipindahkan ke kelas lain oleh Mamanya. Aku melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Alanta, namun dia masih belum terlihat sejak menerima telepon dari Bundanya.
'lantai tiga'
Dia mengirim pesan lagi. Aku mencoba berjalan menuju tempat yang dimaksud. Jika itu adalah kelasku dulu, aku paham betul dimana tempatnya. Semua jalan di sini masih menyala terang dan banyak orang lalu lalang. Itulah yang membuatku berani melangkah.
Kelasku berada di sebelah kiri menghadap ke luar. Dari jendelanya kita bisa melihat halaman yang biasa dipakai upacara. Dan sekarang dari jendela kita bisa melihat lokasi prom night. Bahkan dapat melihat dengan jelas panggung kreasinya.
Aku membuka pintu pelan-pelan. Seorang perempuan berdiri menghadap jendela. Ada asap yang mengepul pelan. Kurasa itu asap rokok. Jadi siapa perempuan yang merokok itu. Atau jangan-jangan dia adalah laki-laki.
Kreek...begitu mendengar suara pintu terbuka, dia menoleh dan tetap menghisap rokoknya.
"Kamu merokok?" Tanyaku.
Dia terkekeh mendengar pertanyaanku.
"Ternyata benar kata orang, merokok sedikit mengurangi beban" Katanya.
Di salah satu meja terdapat kue tart lengkap dengan lilin-lilin kecil dan sudah menyala. Aku mendekati kue itu.
Anniversary Rania & Rosa.
Dia masih mengingat tanggal dimana kami berjanji untuk selalu bersama.
"Kenapa tiba-tiba ingat itu?" Tanyaku.
Clara membuang rokoknya sebelum menjawab.
"Menurut kamu, apakah selama ini aku benar-benar lupa semua yang terjadi di masa lalu?"
Rania alias Clara kemudian mendekati kue tart itu dan duduk di depannya.
"Semua masih jelas. Setiap detik, setiap malam, semakin tajam ingatan tentang itu. Terkadang aku senyum-senyum sendiri waktu mengingat kamu ngompol di kasur" Rania tampak terbayang sesuatu.
Aku pun duduk di depannya.
"Kamu masih ingat Badrun? Anak nakal yang selalu gangguin aku? Dia bahkan selalu bergidik jika melihat kamu. Sebab jika berhadapan dengan kamu, tubuhnya yang segede gentong itu nggak bakalan bisa lari" Lanjutnya.
"Semua sudah berlalu bukan? Bahkan identitasmu pun sudah berganti" Kataku datar.
"Bagaimana menurutmu? Aku senang? Hidup di tengah keluarga yang selalu memanjakan? Keluarga yang melimpah ruah bahkan tidak ada cela sama sekali? Putri yang selalu dielu-elukan, yang menjadi idola remaja? Menurut kamu aku senang?"
Pertanyaan macam apa itu. Menjadi anak dari keluarga Hamdani adalah impian semua anak. Kenapa ia justru berkata demikian. Apakah dia tidak bahagia? Rasanya mustahil.
"Setiap hari kegiatanku terjadwal. Les ini les itu, semua sudah diatur. Ketika aku mulia capek, dan protes, mereka mengingatkanku kembali, bahwa semua ini nggak gratis. Aku harus mencapai level seperti yang mereka mau"
Tuntutan. Kupikir itulah yang ia rasakan. Menjadi seorang putri dari sebuah kerajaan manapun pasti akan membawa tanggung jawab yang ia pikul. Tuntutan akan turut menyertai setiap langkahnya.
"Kamu tahu, aku kehilangan semuanya setelah aku menerima diadopsi oleh keluarga itu. Aku kehilangan kamu, saudaraku yang selalu ada kapanpun aku membutuhkan. Kebebasanku, aku tidak lagi memiliki kebebasanku sendiri, karena semua sudah ditentukan oleh mereka. Dan pria yang sangat kuinginkan. Dia pun tidak kudapatkan"
"Siapa?"
"Oh, jangan pura-pura lah Ros. Cowok yang membawamu kemari. Dia adalah sosok yang sangat kudambakan selama ini. Saat kami masih SMP, keluargaku memperkenalkan dia padaku. Dan saat itu, menurutku dia sempurna"
Aku melihat Rania di depanku, bukan lagi Clara. Dia terlihat begitu buruk. Merokok misalnya. Gadis selugu dia yang kutahu tidak memiliki keberanian lebih, sekarang berani merokok. Banyak orang bilang, gadis yang merokok biasanya disebabkan ole pikiran yang kacau. Anak jalanan sekalipun jika ditelusuri, maka buntutnya adalah pikiran yang kacau.
Aku melihat Rania di depanku. Rania yang meratapi nasibnya yang tak banyak orang tahu.
***