
"Hai..." Aku menyapa Panji yang sudah menunggu di samping jembatan kecil.
"Hai...gimana sepedanya ...enak? Gak terlalu berat kan? Kenapa dituntun" Tanya Panji yang melihatku menuntun sepeda.
"Enak... Lagi keluar gang aja, thanks ya...kita mau kemana nih?" Tanyaku antusias.
Sepeda itu, adalah milik teman Panji yang jarang digunakan. Teman Panji sedang di tugaskan di salah satu rumah sakit di kota Magdala, dan diharuskan menginap di asrama selma tiga bulan. Maka sepedanya dipinjamkan untukku.
"Yuk" Ajak Panji tanpa menjawabku terlebih dahulu.
Menyusuri kota dengan sepeda ternyata asyik juga. Berbeda dengan Indonesia yang sudah terlalu padat dengan sepeda motor, jarang ada orang naik sepeda. Sementara di Jerman justru kebalikannya. Banyak orang yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi pribadi. Dan jarang sekali bahkan hampir tidak pernah aku melihat sepeda motor.
Sepanjang jalan selalu terlihat sungai Isar. Seakan sungai Isar mengikuti arah kami. Di beberapa tempat terdapat taman kecil dan tampak beberapa keluarga sedang menikmati hari libur bersama di sana. Ada juga sepasang muda mudi yang tampak bercengkerama dengan mesranya, ah atau mungkin mereka pengantin baru. Aku tersenyum melihatnya. Kau tahu siapa uang terlintas di benakku? Alanta.
Tak lama kemudian kami berhenti di sebuah gedung. Sepeda kami parkir di ujung sebuah tempat. Dan di sana banyak sekali sepeda terparkir.
"Mahasiswa kedokteran awal, wajib mengunjungi tempat ini. Supaya tahu bagian tubuh manusia" Jelas Panji.
Benar saja banyak replika tubuh manusia berikut organ-organnya. Di bagian bawah ada banyak keterangan tentang fungsi organ tubuh dan rata-rata berbahasa Jerman dan Inggris. Sesekali aku mengambil foto agar mampu menerjemahkan di kamar.
"Wah...ada replika janin juga" Kataku menunjuk pada satu obyek.
"Jadi seperti ini posisi janin dalam rahim. Yang ini plasenta, ini selangnya. Ini ovarium dan posisi kontrasepsi jenis IUD akan seperti ini" Panji menjelaskan.
"Lalu...adakah milik ibu yang dibawa bayi sampai lahir?"
Panji tampak berpikir.
"Genetik. Penyakit keturunan, watak, dan semisalnya"
"Tidak adakah yang nyata, selain bentuk wajah?"
"Tidak. Itulah kenapa untuk membuktikan siapa anak siapa harus melalui serangkaian tes"
Ya, itulah kenapa aku memilih jalur dokter. Karena hanya dokter yang akan melakukan serangkaian tes itu. Dan hanya dokter yang bisa memahaminya.
"Kamu tertarik? Ambil spesialis kandungan saja. Pasti seru" Kata Panji tiba-tiba.
"Bisa gak ya kira-kira?" Aku ragu.
"Yakin. Ya, memang harus bersabar saja. Pendidikan di Jerman relatif lebih lama dibanding di Indonesia. Ya, kalau rela jadi perawan tua aja sih" Kata Panji dengan tertawa.
Aku tersenyum. Aku tahu dia hanya meledek. Padahal banyak orang yang berusia di atas tiga puluh tahun dan belum menikah. Ada-ada saja.
Sekian lama berkeliling mataku tertuju pada satu replika. Replika tulang dan otot. Ada keterangan yang menggambarkan bagaimana bisa seseorang dikatakan lumpuh. Aku teringat peristiwa lampau yang membuatku terbang ke Jerman. Peristiwa yang membuat seseorang harus ditopang oleh penyangga hanya untuk berdiri.
Aku tertunduk lesu saat Panji datang menghampiriku.
"Kenapa? Kamu tertarik? Ini salah satu penyebab orang lumpuh. Kadang bukan karena tulang patah, tapi bisa juga karena ototnya cedera. Karena tembakan misalnya"
Tembakan. Mendengar satu kata itu sudah meremukkan nadiku. Masih sangat jelas suara tembakan itu. Suaranya keras memekakkan telinga. Meski tembakan itu bukan tembakan yang mengenai kaki Alanta, tapi peristiwa itu menyertai kejadian Alanta tertembak.
Aku lemas, badanku sempoyongan dan hampir ambruk.
"Rose ...kamu kenapa? Pusing? Kita ke klinik dulu gimana?" Tanya Panji panik.
Panji pun berlari meninggalkanku dan kembali dengan sebotol air putih. Aku meminum sepuasnya sampai tenggorokanku yang kering sudah segar kembali.
"Kamu keringetan" Kata Panji.
Ya, jiwaku seakan terseret pada peristiwa itu. Sehingga keringat bermunculan di dahi dan pipi. Ketika Panji hendak mengelap keringatku, aku justru menangkisnya. Mungkin aku tidak sadar kala itu. Kulihat Panji terkejut dengan perlakuanku.
"Maaf kak, aku...pusing" Kataku.
***
Foto itu masih kupegang sedari tadi. Sepulang dari museum aku tak henti-hentinya memikirkan seseorang di negeri seberang. Alanta. Apakah dia sudah menyadari bahwa kami benar-benar terpisah tidak hanya oleh posisi tapi benar-benar tidak bisa berkomunikasi. Apa yang ia pikirkan sekarang. Apa ia menyadari juga bahwa ada yang tidak beres?
Aku merindukannya. Rasanya leherku tercekat dan dadaku sesak. Rasanya seperti sulit bernafas. Seperti inikah rindu yang sebenarnya. Aku pernah mengalaminya ketika terpisah dengan Rania. Sekarang ku alami ketika terpisah dengan Alanta.
Ada suara pintu terbuka di tengah aku melamun. Rebecca baru pulang dari kegiatan gerejanya. Awalnya dia tidak mempedulikanku karena sibuk dengan buki-buku barunya. Sesaat kemudian ia menghampiriku.
"Sudah makan?" Tanya Rebecca.
Aku mengangguk. Tampaknya Rebecca memahami situasiku. Rebecca duduk di sampingku seperti waktu itu. Salju masih turun namun tidak setebal waktu itu. Ia pun menyedihkan kopi untukku.
"Thanks" Ucapku.
Kami terdiam beberapa saat.
"Merindukan dia?" Tanya Rebecca seolah tahu lebih banyak.
Aku heran dia siapa yang dimaksud. Dan darimana dia tahu. Dia begitu peka terhadap orang lain. Rebecca menunjuk ke arah foto yang kupegang.
"Oh" Aku tersipu.
"Pacarmu?"
Aku mengangguk. Ketika dia mengucapkan kata 'pacar', hatiku berdesir. Apakah status itu masih berlaku saat ini. Sejak aku bertolak ke Jerman, bukankah hubungan kami sudah dihentikan oleh Bu Mariana. Pantaskah jika aku masih menganggap dia pacarku.
"Dimana dia sekarang?"
"Di Indonesia, negara asalku"
"Kami rindu? Ditelepon saja" Kata Rebecca dengan memberi kode.
Aku tidak menjawab. Bagaimana aku akan meneleponnya? Nomerku sidah berganti dan Bu Mariana sudah memblokir ahar kami tidak bisa berhubungan lagi dengan cara apapun. Bukan hanya itu saja, jika aku nekat menghubungi Alanta, maka aku melanggar kesepakatan yang tela kubuat bersama Bu Mariana. Aku menunduk. Perlahan air mataku menetes. Tetesan pertama di Jerman. Hal yang kutahan dalam-dalam.
"Menangis saja. Supaya lega. Menangis. Jangan ditahan" Kata Rebecca dengan mengelus bahuku.
Seperti mendapat tempat, aku menumpahkan segala yang ku tahan selama ini. Sudah sekuat tenaga kutahan, tapi sekarang tak kuat lagi. Aku menangis sesenggukan. Kubiarkan amarahku menyeruak dalam tangis. Kubenamkan wajahku di antara kedua lututku.
Ini bukan semata soal rindu. Bukan juga masalah jarak yang terpisahkan jauh. Tapi karena alasan di balik itu. Karena terjadi kesalahan. Karena aku bersalah. Karena aku yang menyebabkan dia terluka. Karena mungkin aku yang membawa sial. Kesalahanku, nyawa Alanta, nasib, dan hubungan kami, semua menggantung di langit-langit kamarku seakan membuatku semakin berat untuk move on.
Aku menangis, seakan memeras habis segala gundah yang kubawa. Seakan semua akan kembali normal seusai aku menumpahkan semuanya.
***