My Name Is Rose

My Name Is Rose
Haruma Medina



Malam semakin pekat. Kira-kira pukul sebelas malam. Kami masih menunggu. Dua teman Alanta tampak sudah lelah, tapi tak sedetikpun mereka berniat untuk memejamkan mata. Siapa yang bisa tenang dengan kondisi seperti ini.


Lampu senter polisi menyorot suatu posisi. Mereka akhirnya kembali. Semua orang pun berbondong-bondong mendekat. Alu segera berlari memastikan Alanta kembali dengan selamat.


"Bantuan!!" Teriak salah seorang polisi.


Mereka berkerumun sampai tak terlihat apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian mereka sampai di atas. Empat orang menggotong kantong jenazah. Alanta.


"Alanta!!!" Aku berteriak.


Secepat mungkin polwan menahanku agar tidak terlalu dekat.


"Lepaskan saya, itu teman saya...yang tadi saya bilang..." Aku tak mampu menahan air mataku. Jantungku lemas melihat kantong jenazah yang mereka bawa dari jurang.


Tampak darah menetes di bagian kepala, aku melihat dari kejauhan. Apakah polisi salah tembak atau Jacob yang menembak? Aku berlari menghampiri kantong jenazah itu meski polwan berusaha mencegahku.


"Bangun...Bangun Alan....jangan mati karena aku!!!" Aku menggoyang-goyang kantong jenazah itu.


Tampaknya polisi terlalu lelah dari jurang sehingga membiarkanku menyentuh kantong jenazah. Apa yang harus kukatakan pada Bu Mariana maupun Om Ibra. Alanta, lelaki yang selama ini menolongku, pahlawanku, cintaku, terbujur kaku di hadapanku. Semua orang akan menghujatku. Mereka akan menyalahkanku. Dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, dia meninggal karena membantuku. Dia mengorbankan nyawa demi aku. Kenapa dia tidak ikut pergi bersamaku tadi. Kenapa?


Tidak. Aku yang bodoh. Seharusnya tidak kubiarkan dia sendiri menghadang Jacob. Dia masih terlalu muda untuk menghadapi kawanan mafia. Lagipula Jacob pasti tidak sendiri. Klompotannya pasti sudah bergerak maju dan mungkin jauh lebih kuat dari polisi gabungan sekalipun. Menghadapi mafia tentu dibutuhkan persiapan yang matang. Menghadang seorang diri sama halnya dengan bunuh diri.


"Buka...buka...Pak...ini gimana bukanya" Terlalu panik sampai aku lupa cara membuka kantong jenazah yang cukup menarik resleting.


Polisi membuka kantong jenazah itu dan tampaklah seseorang. Itu bukan Alanta. Wajahnya bersimbah darah tapi itu bukan Alanta. Kuperhatikan betul-betul wajah itu meski sedikit bergidik. Jacob. Aku mundur beberapa langkah.


"Itu teman saudara?" Tanya seorang polisi.


"Bukan Pak. Dia yang menyandera saya" Jawabku.


"Bantuan!!" Terdengar suara teriakan dari bawah.


Polisi segera memeriksa arah suara. Ada beberapa polisi sedang membatu seseorang naik ke jalan. Aku terpaku melihatnya. Ia meringis kesakitan, satu kakinya diangkat setengah. Tampak darah mengalir dari sana. Aku berdiri mematung. Aku tercengang dengan apa yang kulihat.


"Ros!!" Panggilnya. Dengan senyum puas.


Aku menghambur ke arahnya. Aku tak peduli banyaknya polisi memperhatikan kami. Dia selamat. Terima kasih Tuhan. Dua teman Alanta pun melakukan hal yang sama. Mereka bertiga sungguh edan. Berani-beraninya mengambil resiko sebesar ini.


"Dasar bego!!" Umpatku lirih.


Alanta tersenyum lebih puas lagi dari sebelumnya. Dan kemudian dia ambruk.


***


Rumah Sakit Haruma Medina.


"Kamu aku anter pulang ya, Alanta sudah ditangani" Kata salah satu teman Alanta.


Aku memggeleng.


"Orang tuanya sudah datang" Katanya lagi.


Aku berdiri dan mencari keberadaan Bu Mariana. Dia sedang berbicara dengan dokter. Raut wajahnya sangat serius. Dia sendirian. Om Ibra tak ikut serta, atau mungkin sedang tidak di Jakarta.


Tapi apa yang terjadi? Dia hanya melihat sebentar kemudian berlalu. Apakah wajahku tidak ia kenali sampai ia tidak membalas sapaanku. Ah, bisa jadi dia terlalu panik dengan kejadian yang menimpa puteranya sehingga tidak ngeh ada aku di sini. Pikirannya sedang kalut.


"Ayo Ros" Kata teman Alanta.


Aku pulang meski terpaksa. Entahlah apakah aku bisa tidur dengan tenang sementara Alanta masih berjuang di dalam sana. Tapi teman Alanta benar. Aku harus pulang. Memulihkan tenaga secukupnya untuk kembali mendukung Alanta.


"Ros.....jadi beneran itu teh yang di tipi itu kamu ya??" Tanya seorang tetangga asal Jawa Barat yang melihat kepulanganku.


Dunia sekarang ini sudah semakin canggih. Peristiwa baru saja terjadi bahkan aku baru saja pulang, tapi mereka sudah mendengar berita dari televisi. Begitu cepat berita tersebar.


"Iya teh, saya masuk dulu ya" Kataku.


Selarut ini mereka masih ngrumpi membahas peristiwa yang melibatkanku. Ini bukan yang pertama. Dua kali aku mengalami ini namun yang pertama ketika aku masih di rumah Mama. Beberapa warga berjaga di depan rumah sambil main kartu. Inilah alasan kenapa aku tidak pindah kontrakan meski sudah bekerja di kantoran. Mereka sangat peduli padaku.engingat aku anak sebatang kara di Jakarta.


Sudah kuduga berita itu akan meledak dari sebelumnya karena melibatkan putera tunggal ketua Yayasan First. Sekolah bergengsi yang sedang naik daun. Semua orang ramai membicarakan itu. Pro dan kontra tentu saja terjadi. Dan aku, sebagai pokok utama peristiwa itu tentu mendapat banyak hujatan. Aku harus siap dengan itu.


Aku kembali ke rumah sakit pagi-pagi supaya tidak terjebak macet di jalan. Beberapa polisi berjaga-jaga di rumah sakit. Banyak keluarga Alanta yang turut menjenguk meski mereka tahu Alanta belum bisa dijenguk.


"Ros...." Afrizal memanggilku ketika rahu aku ada di sini.


"Mas....gimana Alanta?"


"Masih belum sadar. Nanti saja kalau keadaan Alanta sudah membaik aku kabarin" Katanya.


"Aku mau lihat Alanta Mas, tapi sepertinya keluarga besar sedang ngumpul ya, aku bisa kesana gak ya"


"Lebih baik jangan dulu. Nanti aku kabarin" Selepas bicara Afrizal berlalu.


Memang sepertinya tidak pas jika aku berada di tengah-tengah keluarga yang sedang bersedih. Tapi jika aku tidak menampakkan diri, bagaimana anggapan keluarganya? Pacar macam apa yang tidak ada di samping pacarnya yang sedang terkena musibah.


Kakiku sudah melangkah beberapa jengkal, tetapi polisi menghentikanku.


"Saudari Rosa, saya memerlukan keterangan anda. Bisa ikut saya?" Kata polisi.


Sebagai warga negara yang baik aku harus mengikuti proses penanganan oleh polisi. Lagipula, di sini akulah kuncinya. Meski hatiku belum tenang meninggalkan Alanta yang sedang berjuang untuk hidup.


Di kantor polisi, sudah ada beberapa orang sebagai saksi. Dan kulihat salah satunya, Nyonya Hamdani. Beliau dipanggil sebagai saksi karena beliau yang memerintahkanku untuk berkunjung ke Pekalongan. Beliau pul yang menyediakan kendaraannya.


"Benar, tapi bukan itu mobilnya, sopirnya juga bukan itu" Kata Nyonya Hamdani memberi kesaksian.


"Saat saya ke rumah Mbak Rosa, sudah gak ada orang Pak. Saya lapor ke Ibu, trus Mbak Rosa nya dihubungi tidak bisa" Kesaksian seorang laki-laki berkulit hitam dan otot-otot tangannya terlihat menonjol.


Polisi menyatakan keduanya tidak ada hubungannya dengan Jacob. Mereka tidak saling mengenal. Menurutku juga demikian.


"Saya tahunya sopir turun untuk kencing, setelah itu berganti orang Pak, ya Jacob itu" Giliran aku memberi keterangan.


Kasus ini dianggap sebagai kasus besar. Seorang gembong mafia yang tidak hanya pengedar narkoba, tapi juga pelaku trafficking pada gadis-gadis remaja, akhirnya tewas di tanga polisi. Berita ini tentu saja mengejutkan. Sebab sejak kematiannya, gudang narkoba yang berada di tengah hutan, tempat di mana aku disandera malam itu, telah terungkap. Rupanya di sana banyak narkoba jenis sabu dan pil-pil yang aku kurang tahu namanya. Mafia itu sudah tewas. Semua anak buahnya kalangkabut.


***