My Name Is Rose

My Name Is Rose
Masa Lalu Kelam



"Re...mau berangkat bareng?" Tanyaku pada Rebecca yang sudah membawa tasnya.


"Muat?" Rebecca ragu-ragu.


"Muat. Ayo" Ajakku.


"Aku gendut" Rebecca masih ragu.


"Ayo. I'm strong" Kataku yang membuat dia tertawa.


Wah benar juga. Rebecca memang tidak gendut, hanya montok. Tapi cukup berat juga. Ah ini seperti masalah yang harus aku taklukkan. Berat tapi harus kukalahkan. Angin menyibak rambutku persis ketika bersepeda dengan Alanta di Malang. Jalanan yang menurun membuatku sedikit lega karena kakiku berhenti mengayuh untuk sementara.


Rebecca tertawa. Jarang sekali ia naik sepeda. Sensasinya luar biasa katanya. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk menerima beasiswa itu dan memutuskan diri dari First. Kini aku bukan lagi utusan First University, tapi kampus baru. Satya Perdana. Kampus swasta yang cukup bergengsi di Jakarta. Rupanya Panji kuliah di sana sebelum dikirim ke sini.


Panji benar. Menyerah adalah cara terbodoh untuk menunjukkan kekalahan. Dan cara terbaik balas dendam adalah dengan kesuksesan. Aku tidak tahu siapa dalang di baik semua ini. Apakah benar Bu Mariana menipuku, atau Miss Rachel yang mengganti surat beasiswa itu, atau ada pihak lain. Aku tidak tahu. Yang jelas, siapapun itu, dia tidak menyukai aku sukses. Maka itulah senjata untuk membuatnya berhenti mengusikku.


Beasiswa dari Satya Perdana memang hanya berlaku dua tahun, tapi bisa diperpanjang jika nilaiku cukup. Masih bisa kuusahakan. Meski mendapat beasiswa bukan berarti aku bisa terbebas dari segala macam biaya. Aku hidup di negeri orang, tanpa keluarga dan saudara. Jadi aku harus memperkuat kakiku sendiri. Aku bekerja. Pekerjaan yang bisa kulakukan adalah menjadi pelayan. Ya, aku bekerja sebagai kasir di sebuah kedai katakanlah. Dari sinilah justru aku menemukan banyak kosakata baru. Sambil menyelam minum air lah.


Waktuku benar-benar terkuras demi menyambung hidup. Pagi kuliah, malam bekerja, pulangnya mengerjakan tugaa-tugas. Hari libur aku tetap bekerja supaya mendapat bonus lebih besar. Waktuku begitu padat sampai jarang bertemu dengan Rebecca yang tinggal sekamar denganku. Ketika aku pulang bekerja, Rebecca sudah tidur. Ketika pagi berangkat, aku terburu-buru, bahkan hampir tidak pernah sarapan di rumah. Karena itu, begitu ada kesempatan, aku pasti menyempatkan membersamainya. Yah, hidupku memang masih begini. Masih dalam tahap perjuangan.


"Sarapan dulu. Tadi kamu belum sarapan" Lata Rebecca sambil menunjukkan kantong plastik berisi roti basah. Entah kapan ia membuatnya.


Kami duduk di kursi kecil di parkiran. Rebecca satu kampus denganku hanya saja berbeda jurusan. Ia mengambil jurusan Theology sesuai dengan dirinya saat ini.


Menikmati sandwich sayur dan telur pagi ini sungguh lezat. Rebecca juga membawakanku sebotol air mineral.


"Kamu kenapa tidak tinggal di gereja?" Tanyaku iseng.


"Belum. Aku belum benar-benar menjadi biarawati. Tapi akan menuju kesana"


Aku yang memang tidak tahu apa-apa mengenai agama itu hanya mengangguk dan mengiyakan.


"Laki-laki itu. Yang badannya kekar. Siapa?" Tanya Rebecca.


Aku mengingat-ingat siapa yang dimaksud.


"Yang pinjamkan sepeda" Lanjutnya.


"Oh...namanya Panji. Mahasiswa Indonesia. Temanku sewaktu sekolah" Jawabku.


"Kupikir pacarmu" Kelakar Rebecca.


Aku tersenyum. Bukankah dia sudah tahu ada pria lain di Indonesia yang memang adalah pacarku. Dari sini setidaknya aku tahu sikap Panji memang tak biasa jika disebut teman saja. Kami cukup dekat sampai Rebecca berpikir kaki menjalin hubungan asmara. Atau memang Panji menyukaiku?


"Kamu.... Apakah juga tertarik dengan..." Aku ragu menanyakan ini.


"Aku? Oh hahaha...aku perempuan normal. Sedikit banyak aku tertarik dengan lawan jenis. Tapi....aku menahannya. Karena ini" Rebecca menunjukkan kalung salib miliknya. Ini kali pertama dia menunjukkan itu padaku.


"Aku hidup dengan ayahku. Aku tidak tahu apakah dia ayah kandungku atau bukan. Sebab dia sangat kasar padaku. Waktu kecil aku dipaksa menjadi pengemis di Munchen. Dan dia tidak bekerja sama sekali"


"Ibumu?" Tanyaku.


"Aku belum pernah melihatnya. Katanya dia meninggal saat melahirkanku. Dan itu dijadikan ayahku untuk membenciku. Sampai suatu ketika...."


Air matanya semakin deras mengucur sebelum ia melanjutkan.


"Ayahku pulang dalam keadaan mabuk, ia marah karena kalah berjudi. Ia menghajarku karena tidak ada makanan tersisa di dapur. Aku kabur...dan berlindung di sebuah gereja. Di sanalah seorang biarawati menemukanku dan merawatku hingga sekarang"


Mengingat masa lalu yang kelam adalah hal yang sangat memilukan sekaligus membuat manusia bersyukur. Mas lalu itu benar-benar adalah masa lalu. Masa yang sudah terlewati. Saatnya menatap masa depan yang cerah. Cerahnya masa depan, kita sendiri yang menentukan.


Tak kusangka masa lalu Rebecca jauh lebih kelam dibandingkan denganku. Meski aku telah mengalami banyak hal, setidaknya aku pernah merasakan memiliki seorang ayah yang penyayang. Ayah yang berperan sebagai orang tua sekaligus pelindungku. Aku memiliki kekasih yang sempurna. Jika mengingat tentang Alanta membuat dadaku sesak. Ingin rasanya aku mendengar kabarnya, mendengar suaranya, membaca tulisannya, melihat fotonya.


***


TIGA TAHUN KEMUDIAN


"Americano" Seseorang memesan minuman di kafe tempatku bekerja.


"Bilang aja kopi item hehehe" Candaku.


Seseorang itu adalah Panji. Jarang dia datang ke kafe. Sebagai perantau dia cukup berhemat. Ia tidak suka menghabiskan malam dengan nongkrong seperti anak-anak yang lain. Dia lebih suka mencari perpustakaan untuk menghabiskan waktu. Ya, itu yang aku tahu. Sejak SMP begitulah sifatnya. Dan hari ini tumben sekali dia datang ke kafe.


"Bedanya americano tidak membuat candu. Kalo kopi di Indonesia, baunya aja udah wangi banget. Bisa habis bergelas-gelas kalo itu mah"


Aku segera menghentikan tawa begitu sadar menjadi perhatian. Panji pun segera tahu diri.


"Ntar ada yang mau aku omongin" Katanya sambil mengambil pesanannya kemudian mengambil tempat di pojokan.


Pekerjaanku ringan. Hanya melayani pemesanan dan pembayaran. Selebihnya sudah ada tugasnya sendiri. Banyak mahasiswa sepertiku yang bekerja sambilan. Sekalipun mereka anak orang berkecukupan, tetapi nyatanya keuangan kami tidak cukup untuk sekedar bertahan hidup di negeri orang.


Aku menemui Panji ketika kafe sudah mulai sepi. Katanya ada sesuatu yang penting yang mau ia bahas.


"Ada apa?" Tanyaku


Panji membungkukkan sedikit badannya ke meja agar kami saling berdekatan.


"Ada lowongan magang di rumah sakit. Sebenarnya eventnya adalah relawan yang mengabdi di rumah sakit. Tapi pada akhirnya sembilan puluh persen diterima magang. Magang di sana tetap dapat gaji namun tidak banyak. Gimana? Kamu tertarik?" Kata Panji.


"Kamu gimana?" Aku bertanya.


"Aku ikut"


Sebenarnya aku ingin bertanya berapa gaji uang kudapatkan. Lebih besar atau kurang dari gaji yabg kuterima di kafe? Tapi jika melihat pada kebermanfaatan, tentu lebih manfaat di rumah sakit. Aku akan mendapatkan pengalaman secara langsung di sana.


Panji pamitan pulang tepat saat perempuan itu menatapku. Aku tidak tahu siapa perempuan itu dan sejak kapan ada di meja itu. Dia menatap dengan pandangan aneh yang tidak dapat kuterjemahkan. Tapi yang jelas pandangan itu ditujukan padaku.


***