My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pria Itu



Hari ini outlet sangat ramai. Mungkin karena efek malam minggu, mungkin juga karena promo minggu ini. Banyak remaja yang datang sekedar nongkrong, ada pulang yang datang bersama pasangannya. Namun ada juga yang datang untuk mengadakan musyawarah kecil-kecilan. Kulihat beberapa temanku lalu lalang saking sibuknya. Sampai kami pun harus restok produk.


"Rosa, customer di pojok sana minta kamu yang layanin" Kata salah satu temanku.


"Yang mana sih?" Aku penasaran.


"Di pojok sebelah kanan" Katanya sambil menunjuk ke suatu tempat.


Betapa terkejutnya aku melihat siapa customer yang meminta pelayananku secara khusus, padahal di sini aku memegang posisi kasir. Clara and the gank ada di sana. Sejak kapan mereka tahu aku kerja di sini? Apakah memang mereka mencari tahu tentang aku, atau mereka sengaja membuntutiku?


Aku datang memenuhi panggilan mereka. Betapapun tidak sukanya aku dengan permintaan mereka, tapi aku tetaplah seorang pekerja. Mereka adalah tamu, mereka raja untuk posisi sekarang ini. Kini aku hadir di hadapan mereka.


"Hai Ros, ketemu lagi, cantik banget deh pakek seragam itu. Cute!" Kata Stella.


Aku yakin itu bukan pujian, tapi ledekan.


"Mau pesan apa?" Tanyaku datar.


"Wait...wait....buru-buru amat. Santai dulu di sini" Jessie menimpali.


"Eh foto dulu yuk!!" Sahut Hana.


"Sorry, banyak pengunjung yang minta dilayani. Jadi kalian mau pesan apa?" Aku memotong pembicaraan.


"Ehm.....pesan apa ya??? Pesan kamu pindah ke kelas lain bisa gak?" Ledek Jessie.


"Ini aja, pesan ini dong, manager kamu yang ganteng, atau anaknya deh yang masih jomblo" Sahut Hana.


"Ck, mana ada pesanan kayak gitu" Aku menggerutu dengan diriku sendiri.


Kulirik Clara yang hanya diam membaca tabloid remaja, tapi jelas dia mendengarkan obrolan kami. Sementara yang lain sedang asyik mempermainkanku, Clara justru terlihat tidak suka. Aku harap dia tidak suka ada yang menjahiliku. Kuharap dia masih menyimpan rasa sayangnya padaku.


"Udah yuk, kota pindah aja, menunya gak cocok kayaknya" Kata Clara tiba-tiba sambil berdiri


"Loh, Cla, serius?" Tanya Hana.


"Iya, menunya di cafeku juga ada. Mending cari yang beda" Kata Clara sambil berlalu.


Oh ya, aku lupa, aku adalah seorang pelayan outlet. Sementara Clara adalah pemilik sebuah cafe. Lalu kenapa dia repot-repot ke tempat nongkrong yang lain jika dia sendiri punya.


"Siap sih mereka, sombong banget" Salah satu temanku mengumpat ketika tahu mereka tidak jadi memesan makanan di sini.


"Biasa lah Mbak, anak orang kaya" Jawabku asal.


"Anak orang kaya nggak tahu diuntung. Nggak pernah ngerasain susahnya cari duit!" Katanya.


Temanku itu terus mengumpat meski mereka sudah pergi. Aku bisa memahami perasaan temanku, tentu saja aku mengalami sendiri apa yang dikatakan temanku itu. Dia juga punya latar belakang nasib yang kurang beruntung. Orang tuanya sudah meninggal dalam kecelakaan. Dia hidup bersama kakek neneknya yang sudah tua. Sudah untung dia masih punya keluarga, masih punya tempat tinggal. Sejak masih SD dia sudah bekerja membantu perekonomian kakek dan neneknya. Jadi wajar jika dia begitu kesal dengan perbuatan Clara dan teman-temannya.


Pulang kerja.


Jam sudah menunjukkan waktu yang begitu larut. Jam 10 malam sudah sangat larut bagi remaja sepertiku. Monica meneleponku sejam yang lalu. Hari ini aku pulang terlambat karena harus beres-beres seusai outlet ramai pengunjung. Monica tidak bisa tidur karena tak ada yang menemani. Jelas Mama belum pulang.


Saat berjalan menuju rumah, aku melihat lagi peristiwa yang belakangan ini sering kulihat. Mama keluar dari mobil hitam. Seorang pria membukakan pintu untuknya. Mereka kembali berciuman. Pria itu membelai rambut Mama dengan mesra. Keduanya saling bertatapan l. Mama tampak mengatakan sesuatu dan pria itu mencium keningnya. Kemudian Mama masuk ke dala rumah.


Langkahku terhenti. Aku sengaja berhantu sampai mobil itu pergi nantinya. Aku berharap pria itu segera masuk ke mobil dan membawa mobilnya pergi jauh. Namun ternyata justru kebalikannya. Pria itu tak kunjung masuk ke dalam mobil, karena dia menyadari kehadiranku dari jauh.


***


Aku sedang menghitung hasil penjualan hari ini sebelum outlet ditutup. Teman-temanku yang lain sedang beres-beres di dapur. Seorang pria datang untuk memesan makanan.


"Maaf Kak, sudah tutup. Silahkan kembali besok" Kataku tanpa melihat customer yang datang dan masih terus merapikan lembaran-lembaran uang di laci.


"Saya ingin minum sambil ngobrol dengan anda" Kata pria itu


Aku menoleh melihat siapa yang datang. Aku kembali dikejutkan dengan pria itu. Dia adalah pria uang mengantar Mama pulang tadi malam maupun sebelum-sebelumnya. Aku takut. Sungguh. Darimana dia tahu aku kerja di sini. Apakah dia memata-mataiku atau Mama yang memberi tahu? Untuk apa? Untuk apa pula pria ini mencariku sampai kesini.


Kami duduk berhadapan. Di sini sudah sangat sepi. Karena memang sudah tutup. Teman-temanku masih beres-beres di belakang. Aku berpesan kepda mereka untuk tidak pulang sampai pria itu pulang. Jujur saja aku takut berhadapan dengannya. Entah apa yang dia inginkan dariku.


"Maaf bikin kamu kaget" Katanya mengawali


"Darimana Om tahu saya kerja di sini?"


Pria itu tertawa ringan mendengar pertanyaanku.


"Semua saya tahu...Rosa. Saya tahu dimana kamu sekolah, saya juga tahu tentang keluarga kamu. Saya juga tahu urusan Arini dengan Jacob"


"Apa yang ingin Om bicarakan?"


"Hanya kenalan saja. Tidak lebih"


Mudah sekali dia mengatakan itu. Memangnya siapa yang ingin berkenalan dengannya.


"On ini sebenarnya ada hubungan apa dengan Mama saya?"


"Pertanyaan yang bagus. Kamu tenang saja. Saya tidak akan pernah mengambil Arini dari Papa kamu" Dia begitu tenang dalam menjawab.


"Maksud Om? Om tidak punya niatan untuk menikahi Mama? Jadi Om hanya mempermainkan Mama?" Aku meninggikan suara.


"Sstt..tenang dulu. Saya ini ..sama Mama kamu hanya bersenang-senang saja. Mama kamu butuh duit, dan saya bisa memberikannya. Itu saja..."


"Jadi status Mama saya itu apa Om?"


"Hahaha....saya semakin yakin kamu bukan anak kandung Arini. Sifat kalian sama sekali berbeda"


Aku tidak berkomentar. Aku geram dengan laki-laki di depanku ini.


"Rosa ..Rosa...saya juga punya keluarga. Saya juga punya anak seusia kamu. Istriku juga masih hidup. Jadi rasanya tidka mungkin saya nambah lagi"


"Bagus kalo gitu. Silahkan Om tinggalkan Mama saya. Biarkan keluarga kami utuh kembali"


"Hahaha tidak semudah itu. Arini terlalu menarik untuk ditinggalkan. Yah, biar aku bosan dulu, baru kutinggalkan"


"Kenapa Om mengatakan ini ke saya. Agar saya memperingatkan Mama? Atau Om berharap saya mengatakan ini ke Papa? Om salah besar. Saya tidak ingin mencampuri urusan Mama. Lagipula siapa yang akan mendengarkan ocehan anak kecil seperti saya?" Aku berbicara seolah punya rencana yang lebih matang, padahal dadaku bergemuruh hebat. Takut, gugup, dan khawatir campur aduk jadi satu.


"Hahaha....tidak ..tidak...saya sudah mengatakan sejak awal. Saya hanya ingin kenalan. Tak lebih"


***