
"Itu kamu ya?" Tanyaku selepas acara usai.
"Hm?"
"Yang membuat Clara kelabaan menjawab soal?" Aku mengulangi.
"Oh, itu. Kamu benar. Ada yang aneh dalam lomba itu. Aku heran, mereka masih saja memanipulasi keadaan. Padahal ini organisasi independen. Masih saja bisa mereka manipulasi"
"Trus gimana caranya Clara bisa salah salah jawab gitu?" Tanyaku sambil sesekali menggandeng lengannya.
"Jadi, aku lihat Clara kayak ngapalin script gitu di depan toilet. Waktu dia masuk ke toilet, aku geledah tas ya, dan ternyata benar, itu adalah bocoran soal dan sudah ada jawabannya. Mereka juga sudah menggaris bawahi kata kuncinya dengan spidol. Ya udah aku ganti saja jawabannya. Makanya dia jawabnya kebalik-kebalik kan?"
Cerdik juga pacarku ini. Kecurangan dibalas kecurangan. Tuhan selalu memberikan jalan kepada pihak yang benar. Aku sadar betapa besar kekuatan orang-orang di belakang Clara sampai sejauh ini kekuasaan mereka.
"Kurasa aku harus ngomong soal itu sama Bunda" Kata Alanta kemudian.
"Yang mana?"
"Sistem di First ada yang merongrong. Lihat saja sekarang, First kalah dengan sekolah yang sangat biasa saja. Ini bukan karena mereka lemah, namun karena sistem yang tidak sehat"
Aku setuju dengan itu. Seperti yang kuduga, jika sistem seperti itu masih berlaku di First, maka lambat laun lembaga itu akan menjadi sekolah yang mahal dengan kualitas minim. Kejujuran saja tidak mampu mereka tanamkan, bagaimana mereka mengaku sebagai lembaga pendidikan yang mendidik anak bangsa.
Malam semakin larut, penjual nasi gireng sudah ramai pengunjung, penjual kopi sudah penuh oleh bapak-bapak yang nongkrong. Suasana malam membuat udara semakin dingin. Kulipat kedua tanganku di depan dada. Mungkin karena itulah Alanta tahu aku kedinginan. Dilepasnya jaketnya dan diselimutkan di tubuhku. Romantisnya, persis seperti adegan drama percintaan di televisi.
***
Acara kelulusan SMA Bintang Harapan. Tidak ada hingar bingar, tidak ada pentas seni atau bazaar, tidak ada pesta promnight. Kelulusan hanyalah soal pembagian ijazah dan pengembalian anak kepada orang tua. Karena itulah wali murid kelas tiga berkumpul di aula yang luasnya tak seberapa. Satu lagi yang belum kusebutkan, tidak ada corat coret seragam sekolah. Tradisi yang menjadi khas kelulusan tidak ada di sekolah ini. Sebab, seragam yang sudah tidak dipakai itu akan dilungsurkan kepada adik kelas yang membutuhkan atau siswa baru yang tidak menghendaki beli seragam baru.
Sementara itu, kami kelas satu dan dua, tidak ada pelajaran alias jam kosong. Karena itulah kelasku riuh oleh suara gitar yang dimainkan oleh Adun.
Dari celah jendela kulihat Alanta menelepon seseorang dengan tangan berkacak pinggang. Namun raut mukanya menunjukkan mimik serius. Ada apa sebenarnya. Aku keluar kelas untuk menyapa. Namun aku tak berani mendekat sebelum teleponnya berhenti. Aku duduk di teras sambil menunggunya selesai.
"Ada apa Alan?" Tanyaku begitu dia selesai menelepon.
Alan menggeleng. Tapi aku tahu dia sedang tidak baik-baik saja. Kupegang lengannya. Dia memandangku lalu tersenyum.
"Bukan masalah serius. Itu, Bunda gak bisa hadir" Katanya lemah.
"Tapi ijazahnya bisa diambil kan?" Tanyaku memastikan.
"Gak tahu juga"
Kami duduk di bawah pohon mangga tepat di depan kelasku. Aku tidak bisa menenangkannya seperti yang ia lakukan padaku setiap kali aku ada masalah.
"Bunda kenapa gak bisa hadir katanya?" Aku kembali bertanya.
"Sibuk"
"Itu aja?"
Alanta hanya mengangguk. Memang hal sepele tapi berarti besar bagi seorang Alanta. Apa kabar aku nanti waktu pengambilan ijazah nanti.
"Lan...aku maklum kalau Bu Mariana enggan kesini. Dia adalah ketua yayasan dari suatu sekolah, dan sekarang dia harus datang ke acara kelulusan anaknya di sekolah lain. Kita harus paham bagaimana perasaan dia ketika putranya sendiri sekolah di tempat lain. Untuk memberimu restu saja dia sudah kena mental, apalagi harus menghadiri acara ini"
"Alan!!" Panggilnya.
Alanta melihatku dan tersenyum, seakan ingin menunjukkan padaku bajwa dugaanku salah. Ibunya akan mendukungnya dalam keadaan apapun. Alanta lantas berlari ke arah Bu Mariana. Sesaat Bu Mariana menoleh padaku dan menganggukkan kepala, lalu kubalas dengan hal yang sama. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju aula.
Masih di hari yang sama. Bu Mariana menghampiriku seusai menerima ijazah putranya. Kali ini Alanta tidak ikut serta. Mungkin ia sedang berfoto bersama teman-temannya. Aku gugup ketika Bu Mariana berjalan mendekat ke arahku. Apakah yang akan beliau katakan padaku, mantan muridnya di First Internasional School.
"Rosa..." Panggil Bu Mariana.
"I...iya Bu" Jawabku.
"Nanti malam kami akan mengadakan syukuran kecil kecilan. Bisa kamu datang?" Tanya Bu Mariana.
Ada angin apa beliau mengundangku ke rumahnya. Jantungku semakin kencang berdetak. Ada semacam setrum yang menyengat seluruh tubuhku. Bu Mariana mengundangku pada acara syukuran keluarganya. Pertanda apakah ini? Apakah dia merestui hubungan kami?
"I...iya Bu" Jawabku kemudian.
Bu Mariana berlalu meninggalkanku, kisaksikan tubuhnya berjalan dengan cantik. Dengan usia yang yak muda lagi dia masih seperti remaja, cantik, hampir seperti Mama. Beberapa saat setelahnya barulah Alanta muncul di sampingku.
"Bunda ngomong apa?" Tanya Alanta.
"Ntar malam aku diundang dinner ke rumah kamu" Jawabku malu-malu.
"Oh ya? Serius?"
Aku mengangguk. Alanta memegangi kepalaku saking senangnya. Digoyangnya kepalaku ringan saking gemesnya sampai rambutku berubah posisi.
"Nanti aku jemput, dandan yang cantik" Katanya mengakhiri.
Aku segera mencari tempat sepi selepas Alanta meninggalkanku. Aku segera menelpon teman kerjaku. Pasalnya, ini bukan hari Senin, aku tidak sedang libur kerja.
"Halo, Teh Rina?" Sapaku dalam telepon.
"Iya Rosa?"
"Teh aku mau minta tolong. Hari ini aku gak masuk. Tolong carikan alasan yang las dong" Pintaku.
"Emang kenapa? Kamu gak lagi sakit kan?"
"Enggak tapi ada acara super penting malam ini"
"Acara apa? Bulan lalu kamu udah bolos beberapa kali lo, masak bulan ini juga mau bolos?"
"Nah makanya itu, aku minta tolong carikan alasan yang pas biar aku gak dinilai bolos" Aku meminta dengan sungguh-sungguh dan dengan nada memelas.
"Ya udah ini terakhir ya. Besok - besok Teteh gak mau bantuin lagi"
"Iya Teh makasih banget ya Teh!!"
Aku berjingkrak kegirangan. Baru diundang dinner saja begini senengnya aku, apalagi kalau...ah pikiranku terlalu jauh. Tenang Rosa, tenang, aku harus berpikir keras, busana apa yang akan kupakai nanti. Acara nanti resmi atau santai ya? Kira-kira siapa saja yang akan datang. Atau hanya keluarga intinya saja? Ah pikiranku bergelayut kemana-mana.
***