My Name Is Rose

My Name Is Rose
Bogen Mentah



"Mas, boleh nanya gak?" Aku membuka obrolan.


"Boleh asal jangan banyak-banyak ya"


Aku mengaduk aduk minuman sebelum aku memutuskan bertanya. Pasalnya ini bukan urusanku dan bisa jadi Afrizal tidak menyukai pertanyaanku.


"Kayaknya tiap hari di mejanya Mas Rizal ada makanan" Kataku akhirnya.


"Hm, trus?"


"Mas Rizal tahu? Siapa yang ngasih?"


Iseng-iseng aku membantu Juwi.


"Ehm....tahu" Jawabnya ragu-ragu.


"Who?"


"Ehm....Juwi? Soalnya aku pernah sekali, mergokin dia yang naruh di mejaku" Betapa dia menjawab dengan santai.


"Trus Mas Rizal diam saja?"


"Trus aku mesti ngapain?"


"Maksudku, Mas Rizal tidak pengen bertanya kenapa Juwi melakukan itu?" Aku sedang memancing sebuah jawaban darinya.


"Gini ya Rosa, tidak semua hal harus diperjelas. Aku tahu Juwi mungkin menyimpan perasaan ke aku, mungkin dia akan sangat malu kalau sampai aku tahu hal itu. Jadi biarkan saja dia melakukan itu karena itu membuat dia nyaman"


Masuk akal juga. Gak kebayang jika perasaan Juwi terbongkar sementara dia belum siap. Sedangkan Juwi adalah perempuan yang tak memiliki keberanian yang cukup.


"Kalo Mas Rizal sendiri? Gimana......ke Juwi?" Aku sedang mencoba menggeledah.


Sejenak Afrizal berpikir, menunduk, kemudian dia tersenyum.


"Rosa...aku lagi gak pengen ngomongin apa-apa, apalagi Juwi. Kamu tahu kan kita baru saja dipuyengkan untuk menangkap berbagai materi tadi?"


Aku tercengang. Beberapa detik hanya melongo dan kemudian sadar diri. Aku mengangguk ringan.


"Sorry...sebenarnya bukan itu alasannya" Afrizal meraih tanganku dengan lembut. Aku segera menarik kembali tanganku. Aku tahu ke arah mana Afrizal berbuat.


"Ehm...maaf, aku....aku tahu kamu tidak sendiri. Kamu dan Alanta.... Tapi aku perlu kasih tau ke kamu soal Alanta" Lanjutnya


"Maaf Mas, ini udah malam banget, kita harus pulang" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu dulu Ros..." Kali ini Afrizal memegang lenganku. Sesegera mungkin kulepaskan dengan halus, aku masih sadar bahwa dia atasanku.


"Saya akan dengarkan, lima menit" Kataku.


"Oke" Afrizal yang tadinya berdiri, kini duduk di depanku, di posisi semula.


Aku sedikit takut karena Afrizal menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya padaku.


"Ros, banyak hal yang kamu nggak tahu soal Alanta"


"Misalnya?"


"Dia itu anak orang kaya. Semua hal bisa dia dapetin dengan uang. Dia itu menganggap semua hal di dunia ini adalah mainan. Termasuk perempuan"


"Mas!!" Kali ini aku meninggikan suaraku.


Suaraku yang cukup tinggi sukses membuat Afrizal terdiam.


"Alanta itu sepupu kamu, kenapa kamu malah ngejelek jelekin dia?" Tanyaku.


"Dia memang sepupuku tapi aku gak mau ada korban lagi"


"Korban apa?"


"Ros, percaya sama aku, kamu itu cuma mainan untuk dia. Setelah dia bosan, kamu akan dia tinggalin" Katanya menggebu-gebu


"Alah, orang tuanya sama aja. Mereka menipu Eyang kami, sampai Papa Mamaku di usir dari rumah, Yayasan, perusahaan yang seharusnya jadi milik Papa Mamaku, mereka kuasai sendiri!!"


Aku tidak menyangka akan masuk terlalu jauh dalan keluarga Alanta. Apakah benar apa yang dikatakan Afrizal. Terlepas dari benar atau salah, apakah pantas membicarakan itu di depan orang lain?


"Mas, sudah lima menit" Kataku menegaskan sembari berdiri.


"Tunggu...tunggu..sebentar lagi saja...." Afrizal kembali memegang lenganku. Bahkan sekarang dia berjongkok di hadapanku.


Aku terpaksa duduk kembali demi meredam perhatian pengunjung yang lain.


"Percaya sama aku, Alanta bukan cowok baik-baik seperti yang kamu kira"


"Mas ini sudah kelewatan, kalau Mas Rizal nggak mau pulang sekarang gak papa, aku bisa naik taksi" Aku mencoba berdiri dan lagi-lagi dia menghentikanku.


"Oke oke, kita ngomong bab lain, bukan tentang Alanta lagi"


Aku sungguh tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang apapun. Aku hanya ingin pulang dan lepas dari situasi seperti ini. Pengunjung mulai melirik kami dan berbisik satu sama lain. Untung saja di area ini cukup sepi tak seramai di dalam.


"Ada seseorang yang memperhatikan kamu sejak awal, yang sudah tertarik sejak awal, yang akan bertekad bahagiakan kamu, yang pasti gak akan ninggalin kamu...." Katanya.


"Mas Rizal stop deh..."


"Ros, aku sayang kamu, dan aku bukan seperti Alanta yang banyak ceweknya..."


Blug!!! Seseorang tiba-tiba muncul dan memberikan bogem mentah tepat di pipi Afrizal. Afrizal tersungkur ke rumput tiruan. Kursipun ikut terjatuh.


"Alanta!!" Panggilku.


Entah bagaimana caranya Alanta tiba-tiba muncul di tempat ini. Tanpa banyak bicara Alanta beberapa kali meninju wajah Afrizal. Darah mengalir di sudut bibir Afrizal. Alanta menarik baju depan Afrizal, memaksanya berdiri lalu mendorongnya dengan kesal.


"Alan...kau ini kenapa?" Tanya Afrizal.


"Jangan pura-pura!!" Jawab Alanta dengan masih mencoba memukul Afrizal.


Tentu saja kami menjadi pusat perhatian para pengunjung beserta para pelayan kafe ini.


"Kamu bilang akan menjaga Rosa untuk aku, pagar makan tanaman!!" Teriak Alanta.


Afrizal berdiri tegak dengan dada menantang.


"Gak malu kamu, permainkan Rosa!! Cowok manja seperti kamu gak pantes buat cewek sebaik Rosa!!" Kata Afrizal.


"Oya? Lalu cowok seperti apa yang pantes buat Rosa? Seperti kamu??" Tanya Alanta.


"Hah, kamu lupa dengan kasus Vania??"


"Kurang ajar!!! Jangan bawa-bawa Vania!!" Alanta kembali memukuli Afrizal. Dan sama sekali Afrizal tidak melawan. Dia hanya melindungi diri dengan kedua lengannya. Alanta pasti akan terus memukulnya jika saja aku tidak menghentikannya.


"Alan sudah Alan....Alan...!!" Aku menarik lengannya sehingga mundur beberapa langkah. Dan di saat bersamaan, dua satpam muncul untuk menghentikan perkelahian dua remaja. Aku segera menarik Alanta untuk keluar dari kafe. Kami meninggalkan Afrizal yang masih tersungkur di atas tanah.


Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam satu sama lain. Nyaris tak ada obrolan selama hampir dua jam perjalanan selain menanyakan keadaan masing-masing. Kami berdua mungkin saja masih syok dengan peristiwa tadi sehingga enggan berbicara. Alanta menggenggam tanganku untuk menenangkan dan aku hanya berdiam tanpa membalas maupun menolak. Kubiarkan tangannya menimpa tanganku.


"Aku jelaskan besok aja ya, sekarang istirahat dulu" Kata Alanta begitu kami sampai di depan rumahku.


"Alan...tunggu dulu" Kataku ketika Alanta hendak masuk kembali ke dalam mobil.


Alanta kembali dan berdiri di hadapanku.


"Darimana kamu tahu aku di situ?" Tanyaku.


Alanta mengeluarkan hapenya, mengutak atik sesuatu, lalu menunjukkannya padaku.


"Ada aplikasi di hape yang bisa memantau seseorang menggunakan nomer hape, aku pernah tautkan ini di hape kamu, maaf bukannya aku mau mata-matai kamu, aku cuma nggak ingin sesuatu terjadi lagi sama kamu seperti yang dulu-dulu, apalagi aku sekarang jauh" Jelas Alanta.


Alan, please. Hidupmu tidak untuk mengurusiku. Kamu punya kehidupan sendiri yang menjadi tanggung jawabmu. Begitupun aku. Oh, apakah aku harus bersyukur atau merasa berdosa karena secara tidak langsung aku telah menjadi bebannya. Tidakkah dia merasa beban dengan kehadiranku.


***