My Name Is Rose

My Name Is Rose
Ditinggal



Papa akhirnya pulang setelah hampir seminggu di rumah sakit menjalani operasi di bagian kaki. Papa ditempatkan di kamar sendiri agar lebih nyaman. Papa membutuhkan ruang gerak yang lebih luas. Di saat Papa pulang, kamarnya sudah bersih dan rapi. Bik Sul dan Monica yang melakukannya. Anak itu begitu bersemangat melakukan sesuatu demi Papanya.


Kamar yang baru membawa suasana baru untuk Papa. Tampak betapa bahagianya Papa menerima kejutan dari putri kecilnya. Tak hentinya dia menciumi Monica.


"Biar Papa senang" Kata Monica.


Kamar mandi di dalam kamar juga sudah bersih. Lengkap dengan kursi yang dilubangi tengahnya agar papa bisa buang air sendiri dengan mudah. Meskipun kami anggota keluarganya juga pasti membantunya di saat apapun. Ada jendela yang akan mengganti udara setiap hari. Dari jendela itu Papa bisa melihat pemandangan luar. Hal ini supaya dia tidak jenuh. Televisi juga tersedia di kamarnya untuk menghiburnya setiap saat. Semua ini, Bik Sul dan Monica yang mengatur. Entah siapa yang menguras bak mandi. Siapa juga yang membuat kursi berlubang itu. Yang pasti bukan mereka berdua.


Dua bulan lamanya Papa dirawat di rumah. Semua tampak biasa saja. Papa bisa menerima kondisinya di atas kursi roda. Tempo hari bahkan kami mencoba membawanya ke pengobatan alternatif. Dinda yang merekomendasikannya. Ada seorang tabib yang biasa menangani patah tulang. Dengan ramuan tradisional dan tenaga dalam, banyak uang bisa berjalan normal bahkan tanpa operasi. Kami sudah membawa Papa ke sana. Papa begitu bersemangat untuk sembuh. Segala macam cara kami coba. Semua tampak baik saja. Keluarga kami tampak kompak satu sama lain. Saling menguatkan, saling mendukung.


Sampai kemudian Mama mendapat telepon. Mama berbicara cukup lama di telepon. Setelah menerima telepon itu, raut muka Mama tampak sedang gusar. Dia sering melamun sendiri. Sampai aku pun memberanikan diri bertanya.


"Nenek menelepon Ros, dia minta Mama ke Semarang sementara waktu" Jawab Mama.


"Berapa lama Ma?" Tanyaku.


"Seminggu mungkin"


"Gak papa Ma, biar Papa Rosa sama Bik Sul yang urus"


"Kamu yakin? Sekolah kamu gimana?"


Tumben Mama memikirkan sekolahku.


"Nanti aku gantian sama Bik Sul Ma"


Mama tampak manggut-manggut. Begitulah. Mama dan Monica akhirnya berangkat ke Semarang keesokan harinya. Selama seminggu mereka akan di sana. Papa melepas kepergian Mama dengan sesenggukan. Aku bisa merasakan rasa nelangsa yang Papa rasakan. Di saat sakit begini, istrinya tidak di sampingnya untuk beberapa waktu.


Tinggallah aku, Papa dan Bik Sul di rumah. Aku dan Bik Sul bergantian menjaga Papa. Saat aku sekolah, Bik Sul yang merawat Papa. Pagi hari Papa berjemur di taman belakang rumah. Sore hari aku membawanya jalan-jalan sekitar kompleks. Malam hari aku menemaninya menonton televisi. Semua berjalan normal.


Namun, yang dikatakan hanya seminggu, sampai sebulan ternyata belum juga pulang. Nomer hapenya juga tidak bisa kuhubungi. Apakah mereka sedang mencoba meninggalkan kami dalam keadaan terpuruk seperti ini. Jika memang ada urusan yang sangat penting mengapa tidak memberi kabar. Apa susahnya menelepon kami. Kapan aku pernah memprotes apapun yang Mama katakan.


Brakk.....ada suara benda jatuh dari arah kamar Papa. Aku dan Bik Sul segera berlari ke kamar Papa. Betapa terkejutnya aku melihat apa yang ada di depanku. Kursi roda Papa sudah ambruk. Dan Papa sudah terbaring di depannya. Sambil sesenggukan tentunya.


"Papa!!!!" Aku segera menghambur ke Papa. Kutolong dia untuk kembali bangun dan berbaring di kasur. Dibantu Bik Sul, kami menolong Papa yang masih sesenggukan.


"Papa mau apa? Kenapa tidak panggil kita?" Tanyaku.


"Huhuhu....aku laki-laki tak berguna!! Aku sudah tidak bisa menafkahi keluargaku!!!"


Kenapa tiba-tiba Papa pesimis seperti ini. Padahal sebelumnya dia begitu yakin akan sembuh.


"Papa kenapa ngomong begitu Pa"


"Pergi!!! Kamu bohong sama Papa..pergi... Kamu bilang aku hanya perlu waktu. Tapi nyatanya aku dinyatakan lumpuh seumur hidup. Aku bahkan di PHK dari kantor huhuhu"


Dari mana Papa tahu tentang ini. Aku tidak bisa lagi mengelak. Aku tidak bisa lagi menghibur dengan kata-kata harapan lagi. Aku menoleh ke lantai. Lembar-lembar kertas berserakan di lantai. Itu adalah surat dari kantor dan dari rumah sakit. Papa sudah tahu semuanya. Sekarang dia kehilangan harapan. Dia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Aku memeluknya erat meski dia meronta menyuruhku pergi. Aku tetap memeluknya tak peduli sekuat apa dia mendorongku agar menjauh darinya.


***


Uang yang kupegang sudah menipis. Sementara Mama belum pulang dari Semarang. Bulan ini Bik Sul juga belum digaji. Jujur saja aku jadi gak enak dengan Bik Sul. Keluarga di kampung pasti sudah menunggu kiriman.


Aku duduk sendiri di bawah pohon trembesi di pinggir jalan. Aku berpikir keras-keras. Aku mencari cara agar bisa menggaji Bik Sul. Juga bagaimana agar bisa memenuhi kebutuhan keluarga kami. Papa masih sangat membutuhkan perawatan medis. Seminggu sekali dia masih harus kontrol ke rumah sakit. Sementara uangku sudah sangat menipis.


"Eh kamu yang kemarin ngojek bapak ke sekolah kan?" Kata seorang bapak-bapak yang jenggotnya sedikit beruban.


"Iya Bang. Numpang istirahat sebentar ya Bang" Kataku.


"Kamu bukannya yang tinggal di perumahan elit itu ya..." Kata Abang tukang ojek.


"Kok Abang tahu?"


"Biasa nganter pelanggan ke sana"


"Oh iya, Abang juga pernah ngantar saya kan?"


"Hooh.."


Ya aku ingat dengan Abang tukang ojek itu. Beberapa kali dai mengantarku pulang sekolah. Rupanya mangkalnya di sini.


"Gak sekolah neng?" Tanya Abang.


"Sudah pulang Bang"


"Gak pulang ke rumah, yuk Abang anterin"


"Gak dulu Bang. Makasih. Lagi pengen jalan kaki"


"Lah...rumah lu kan jauh neng. Masak jalan kaki"


"Gak papa Bang biar sehat"


"Duitnya habis ya buat jajan? Gak papa ntar Bapaknya deh yang bayarin di rumah"


Aku tidak menjawab. Rasanya terlalu tidak berguna menjawab terus pertanyaan orang lain yang hanya basa-basi.


"Abang salah ngomong ya?" Kali ini nada bicara Abang tukang ojek terasa berbeda. Dia seperti merasa bersalah atas apa yang dia tanyakan tadi.


"Nggak papa Bang. Cuma, iya...lagi gak punya duit Bang" Jawabku


"Oh...iye...pantes...mukanya murung. Ayok dah, Abang anterin. Gratis dah!"


Aku melongo dengan apa yang dia katakan.


"Ayok!!" Ulang Abang tukang ojek.


"Beneran Bang? Jauh lo Bang. Abang gak rugi?"


"Gak papa. Ayok!!"


Sebenarnya aku belum ingin pulang. Tp jika aku menolak tawaran Abang tukang ojek, maka aku akan benar-benar jalan kaki. Uang yang kumiliki benar-benar menipis. Daripada aku gunakan naik ojek, lebih baik untuk persiapan kontrol Papa ke rumah sakit.


Abang tukang ojek mengantarku tepat di depan rumah. Dia masih sangat ingat yang mana rumahku.


"Makasih ya Bang, besok kalo aku punya uang, Abang aku traktir deh" Kataku.


"Yaelah emang punya duit??? Oke!!!"


Entah kenapa suasana bertemu dengan Abang tukang ojek serasa bertemu dengan tetangga kampung halaman. Akrab, menyenangkan, dan bersahabat. Suatu saat jika aku punya penghasilan, jika Mama sudah pulang, ekonomi keluarga sudah membaik, aku akan membalas budi.


***