
"Ayo...sedikit lagi....yess"
Alanta sudah cukup lancar melangkahkan kaki meski masih mencari pegangan sesekali. Hampir dua bulan lamanya, oh tidak, lebih dari dua bulan ia dirawat di rumah sakit. Sebenarnya ia bisa menjalani rawat jalan saja, namun orang tuanya menghendaki ia tetap rawat inap demi menjalani terapi secara maksimal.
"Payah... Belum bisa nyampek sana" Keluh Alanta sambil menunjuk ke sebuah arah.
"Sabar dong...ini udah jauh...lihat tuh" Kini aku menunjuk ke arah asla demi menunjukkan betapa dia sudah sangat hebat hari ini.
Bersama Vania dan Om Ibra, aku membantu Alanta kembali ke ranjang. Sudah tidak terpasang selang infus di tangan Alanta, obat-obatan yang dulunya dimasukkan melalui selang, kini sudah bisa diminum dengan air. Dosisnya pun sudah berkurang. Alanta secara fisik sudah normal, hanya perlu terapi lebih giat lagi agar mampu berjalan normal, bahkan berlari.
"Apa tidak bisa dipercepat dok?" Tanya Bu Mariana sewaktu dokter berkunjung.
"Paling cepat tiga hari. Kenapa terburu-buru Bu? Biar Mas Alan sembuh benar-benar" Jawab dokter.
Bu Mariana tampak tersenyum. Namun itu bukan senyum malu atau terpuji, tapi karena menutupi rasa gelisahnya.
"Dia sudah banyak ketinggalan kuliahnya"
Setelah itu aku tidak mendengar lagi. Aku sedang mengobrol dengan Om Ibra, Vania dan Alanta. Aku dengar memang Alanta berkenan cepat pulang, sebab ia sudah merasakan perkembangan yang maksimal. Kalau sudah begitu, biasanya pasien akan jenuh di rumah sakit.
Kuseruput kopi susu di cangkir di hadapanku. Dengan wajah menunduk aku berhadapan dengan Bu Mariana seorang diri. Aku tahu dia sedang menagih janji seperti Sabda Palon menagih janji lima ratus tahun silam. Aku menunduk seakan sedang ditagih hutang.
"Saya beri waktu seminggu" Kata Bu Mariana sembari menyodorkan amplop cokelat.
Kuterima amplop cokelat itu dengan ragu-ragu. Tapi ini adalah keputusan yg kuambil kala itu. Dan aku harus siap ketika saat ini tiba.
"Temui Miss Rachel, dia yang akan urus semua keperluan keberangkatanmu. Satu minggu untuk siap-siap, dan...ngomong ke Alanta"
Alanta akan segera pulang. Ia akan menjalani rawat jalan. Artinya, misiku menyembuhkan dia sudah selesa, dan aku harus menepati kesepakatan yang telah kubuat sebelumnya. Semua sud diatur secara rapi oleh Bu Mariana. Aku hanya mengikuti alur. Pertanyaan yang masih membekas adalah, apakah Alanta akan baik-baik saja setelah ini? Apakah usahaku merawatnya sampai membaik akan sia-sia karena dia akan kembali layu?
***
Bu Mariana sedang mengurus administrasi saat kami semua sedang mengemasi barang-barang. Ya, hari ini Alanta pulang, selanjutnya ia akan menjalani terapi mandiri di rumah, dan kontrol seminggu sekali.
"Mobil sudah siap Om" Kata Afrizal.
"Tantemu belum balik dari ruang perawat" Jawab Om Ibra.
Sambil menunggu Bu Mariana, Afrizal dibantu Vania membawa barang-barang Alanta ke mobil. Saat itulah Om Ibra mendekatiku.
"Rosa, Om terima kasih sama kamu. Tanpa kamu, waduh gak tahu lagi berapa lama lagi Alan harus dirawat" Katanya.
"Iya Om"
"Nanti jika Alan jadi pindah kuliah ke First, saya harap kamu bisa bantu" Lanjutnya.
Pindah? First? Bu Mariana tidak mengatakan jika Alanta akan pindah ke Indonesia. Tampaknya Om Ibra pun belum tahu tentang perjanjian antara aku dan Bu Mariana.
"Silahkan"
Kali ini aku membawa ke area belakang. Di sana banyak anak-anak yang juga sedang di rawat di Haruma Medina. Aku membawanya ke sini agar ia terhibur dengan tingkah polah anak-anak yang lucu itu. Benar saja. Ia tersenyum setiap kali melihat anak-anak yang menggemaskan. Ada seorang anak perempuan yang membawa balon karater minnie mouse. Lalu dari arah samping seorang anak laki-laki berlari dan menabraknya, tentu saja balonnya terlepas dari genggaman. Menangislah anak perempuan itu. Demi menghibur anak itu, anak laki-laki itu menawarkan banyak barang agar si anak perempuan berhenti menangis. Roti, snack, minum, bahkan mainan mobil-mobilannya pun rela ia berikan. Tapi sayangnya si anak perempuan tetap menolak. Kedua orang tua anak-anak itu ikut tertawa melihatnya.
"Oh ya Alan, aku punya surprise" Kataku mengawali.
"Oh ya?"
Jantungku berdesir saat melihat dia menantikan penuh harap. Dia berharap surprise yang kuberikan adalah hal yang menyenangkan. Dia tidak tahu bahwa ini adalah akhir dari hubungan kami. Namun aku harus membuat beritanya seakan-akan masa depan untuk kami berdua.
"Taraaa..." Sebuah brosur kutunjukkan padanya.
"Apa ini?"
"Aku diterima kuliah di Singapore" Kataku antusias, semoga saja Alan tidak menyadari kepura-puraanku.
"Kok bisa?"
"Awalnya cuma iseng aja daftar, ikut tes, eh keterima" Aku masih berpura-pura.
"Wow... Trus beasiswa di First?"
"Aku telat daftar, jadi pas kamu sakit, ada heregistrasi yang harus diurus, tapi aku gak ngeh sama infonya. Ya udah, trus pihak kampus merekomendasikan tes di Singapore ini" Aku menjelaskan seolah benar adanya.
Singapore. Kampus fiktif yang sudah direncanakan. Kenapa Singapore? Karena negara itu yang paling dekat dengan Malaysia. Sengaja tidak dipilih Malaysia karena bisa terlalu cepat ketahuan. Tujuannya, Alanta akan semakin bersemangat untuk cepat sembuh dan segera balik ke Malaysia. Karena Malaysia dan Singapore dekat, ia berharap jarak kami akan semakin dekat. Tapi bagaimana jika ia benar-benar mencariku di Singapore? Dan bagaimana jika tidak menemukanku? Akankah ia sadar bahwa semua ini adalah bohong?
"Aku akan pindah ke Singapore" Semudah itu ia berkata. Bagi orang miskin yang hidupnya pas-pasan, bisa kuliah saja sudah untung berlipat-lipat, dia dengan mudahnya akan pindah kuliah. Baginya pindah kuliah semudah pindah kos-kosan.
"Alan come on...kita udah gede. Kamu udah cukup konyol dengan pindah dari First ke Bintang Harapan. Please jangan ulangi lagi ide gila itu"
Alanta justru tertawa mendengar ucapanku.
"Okay okay... Sorry. Bagiku kuliah, sekolah hanya sebatas memperoleh selembar kerta yang berisi pengakuan. Tapi yang aku butuhkan justru ilmunya. Dimanapun tempatnya. Jadi, kalau aku bisa jagain calon istriku sambil cai ilmu, kenapa enggak"
Seenteng itu juga dia menyebutku sebagai calon istri. Jantungku rasanya ditarik begitu keras lalu dilepaskan tiba-tiba persis ketapel. Harapannya terlalu tinggi. Padahal ini adalah upaya Ibunya untuk memisahkannya denganku.
"Oh ya, ntar aku masuk ke asrama dengan kegiatan yang cukup ketat, so, aku harap kamu membiasakan diri untuk tidak berkomunikasi terlalu sering denganku" Kataku.
Mendengar itu, raut muka Alanta pun berubah. Dia tampak tidak senang dengan berita yang satu ini.
"Kalo tinggal di asrama itu biayanya murah. Beda kalo cari home stay atau kontrakan"
Tampaknya Alanta mulai mengerti dengan anggukan kepalanya. Aku harus bertahan dengan pura-pura senang. Pura-pura memiliki masa depan dengannya. Meski dalam hati kecilku aku masih berharap besar untuk bisa bersamanya.
***