My Name Is Rose

My Name Is Rose
Clara



Angin berhembus menerpa rambutku. Hawa dingin merasuk hingga ke tulang. Jantungku berdegup kencang. Nadiku seakan berhenti sejenak. Aku melihatnya. Di sini. Tempat yang tak kusangka-sangka. Begitu dekat Tuhan mempertemukan kami.


"Ra....Rania..." Ucapku lirih.


Dia begitu cantik. Kulitnya semakin putih cerah, rambutnya masih lurus panjang sedari dulu, alisnya tebal alami, bibirnya tipis. Masih sama seperti dulu, namun setingkat lebih cantik. Gaunnya tak kalah cantik. Warna biru kombinasi ungu. Simpel namun elegan. Sepatu berhak tinggi yang membuat bunyi, warnanya hitam, bertali hingga di bawah lutut. Sangat cantik.


"Clara!!!" Suara perempuan dari kejauhan memanggil.


Belum sempat ada jawaban, si pemanggil sudah sampai pada kami. Yang memanggil itu adalah Nyonya Hamdani. Clara???


"Sayang, semua sudah nunggu di luar. Kamu dandannya lama banget" Lanjut Nyonya Hamdani.


Aku masih belum mengerti. Apakah telingaku salah dengar atau mataku yang salah lihat. Gadis di depanku benar-benar mirip Rania. Tapi Nyonya Hamdani menyebutnya Clara.


"Kamu...yang tadi..." Nyonya Hamdani menyadari keberadaanku.


"Oh Maaf Tante, adik saya berlari ke sini melihat aquarium" Jawabku.


"Oh...nggak Papa. Biarin adik kamu menikmati aquarium, ikannya lucu-lucu loh. Nanti kalau sudah selesai, gabung ya di luar, acaranya mau mulai" Kata Nyonya Hamdani.


"I...iya Tante" Jawabku.


Perempuan yang bernama Clara itu memandangku dengan perasaan aneh. Seolah kami telah mengenal lama. Apakah aku sudah begitu merindukan Rania sampai menyangka orang lain adalah Rania.


Semua orang sudah berkumpul di satu titik. Mereka semua orang kaya. Terlihat dari cara mereka berpakaian. Aku menggendong Monica menuju mereka. Aku menghampiri Mama, dan Mama segera meraih Monica. Kulihat pemandangan di depan sana. Nyonya Hamdani peserta suami, dan ditengah-tengah mereka adalah gadis yang mirip dengan Rania.


"Bapak Ibu yang kami hormati, selain merayakan pembukaan cabang baru di Surabaya, kami juga sedang merayakan ulang tahun putri semata wayang kami, Clara Hamdani" Ucap Pak Hamdani.


Mendengar ucapan Pak Hamdani, semua hadirin bertepuk tangan. Dan disaat itu pula, gadis bernama Clara itu menganggukkan kepala tanda terima kasih. Dia begitu mirip dengan Rania. Atau apakah dia memang Rania. Kenapa dia tidak mengenaliku saat berhadapan di depan tangga. Siapa sebenarnya gadis itu. Rania atau bukan?


Semua hadirin menyanyikan lagu happy birthday. Disusul dengan sesi tiup lilin yang kemudian disambut dengan tepuk tangan. Sejenak mata kami bertatapan. Namun cepat-cepat Clara mengalihkan pandangan. Aku pun tak ingin membuat yang lain curiga. Sebab belum tentu dia Rania.


"Satu unit mobil untuk Clara yang cantik" Ucap salah seorang tamu.


Tampaknya orang itu sudah tahu kalau hari ini ada yang ulang tahun. Tunggu sebentar, ini masih bulan April, sedang ulang tahun Rania adalah bulan Oktober. Jadi jelas anak itu bukanlah Rania.


"Aduh, terima kasih lo Bapak Ibu, Clara masih sangat muda untuk bawa mobil sendiri, tapi pastinya mobil ini akan sangat berguna untuk Clara" Kata Nyonya Hamdani dengan malu-malu.


Para tamu satu persatu memberikan ucapan selamat dan juga kado. Sepertinya hanya kami yang tidak membawa kado hari ini. Kami memang tidak tahu sebelumnya tentang ulang tahun ini.


Giliran kami yang mendapat kesempatan mengucapkan ulang tahun pada Clara. Dan inilah saatnya aku berhadapan dengannya lagi. Gadis yang mirip dengan Clara. Aku ingin memastikan bahwa gadis itu Clara. Bukan Rania.


Jantungku kembali berdegup kencang. Kami kembali berhadapan. Bahkan saling bertatapan. Mata kami berpadu. Dia memandangku seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tertekan oleh sesuatu. Sesekali dia menunduk untuk sekedar mencari ruang, namun kemudian kembali menatapku.


"Selamat ulang tahun, Clara..." Ucapku sembari kujabat tangannya. Aku tak sekedar menjabat tangannya, tapi ada sesuatu yang kuselipkan di antara tangan kami. Sepucuk surat, oh bukan. Hanya selembar tisu, dengan sedikit kalimat. Aku harap dia mau membacanya.


***


Pukul 7 malam. Aku sedang duduk di teras depan seorang diri. Beruntung malam ini Monica tidur lebih cepat. Jika tidak, tentu aku harus menjaganya terlebih dulu. Aku sedang menunggu. Menunggu seseorang menelepon. Aku sudah meminta ijin Papa untuk meminjam hapenya malam ini hanya sampai jam 9 malam. Mama sudah tidur dengan Monica, dan Papa sedang keluar bersama Pak Arif. Hanya aku sendiri di teras malam ini.


Setengah jam berlalu. Aku masih menunggu. Aku menunggu Clara menelepon. Aku hanya ingin mencari tahu. Hanya ingin memastikan sesuatu. Pagi tadi, saat berjabat tangan dengan Clara, aku menyelipkan selembar tisu yang kutuliskan nomer hape Papa. Jika dia memang rania, dia akan menelepon. Tapi jika bukan, dia tidak akan menghubungiku. Kuberi batas sampai jam 9 malam. Jika sampai jam 9 tak ada telepon, berarti fix dia Clara, bukan Rania.


Sudah pukul 20.40 Wib. Belum juga berdering. Ah, mungkin memang dia bukan Rania. Tapi jantungku berdegup kencang saat berhadapan dengannya. Seolah aku yakin bahwa di adalah saudaraku Rania. Aku menunggu. Aku mulai mengantuk. Rania, itu kamu atau bukan?


Tuhan ...tuhan yang maha esa.....nada dering hape Papa. Ada yang menelepon. Nomer baru. Itu pasti Clara.


"Ha..halo...." Ucapku.


"Ha..halo...Ros..." Suara perempuan. Suara yang sudah lama tidak kudengar. Ya, itu suara Rania.


"Rania ...ini benar kamu?" Tanyaku lirih.


"Iya...Ros... Maafkan aku"


"Kamu apa kabar Ran....."


"Sudah sejak kelas 3 SD Ran..."


"Syukurlah...."


"Orang tua asuhmu...kelihatan sayang banget ya sama kamu"


"Iya.... Mamaku tidak bisa hamil. Rahimnya sudah dipotong"


"Jadi kamu anak tunggal?"


"Ya.."


"Ran... Aku kangen banget sama kamu..pengen kayak dulu lagi Ran..."


"Ros...maafin aku....aku minta kamu jangan marah sama aku.." Kata Rania tiba-tiba.


"Kenapa Ran? Kamu aneh tadi pagi. Kenapa nama kamu jadi Clara? Trus ulang tahun? Kamu kan ulang tahunnya Oktober?"


"Kamu...jangan marah ya ... Orang tua asuhku adalah orang yang terpandang. Mereka ingin menghapus masa laluku sebagai anak dari panti asuhan. Akta kelahiran pun bisa mereka ubah. Mama memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan orang-orang dari panti. Supaya tidak ada yang tahu siapa aku dulu"


Mendengar kalimat ini serasa disambar petir. Seolah ada tembok besar yang menghalangi kami.


"It's okay Ran....aku ngerti. Aku tidak akan bilang ke siapa-siapa tentang kamu. Kita bisa berpura-pura berteman sejak acara pesta tadi pagi, ya kan"


"Tapi...aku takut Ros. Jika Mama sampai tahu, bukan hanya aku yang akan mendapat masalah. Kamu juga. Orang tua kamu juga. Papa kamu bekerja di perusahaan Papaku kan"


Deg. Benar. Papa bisa kena masalah karena ideku tadi.


"Lalu bagaimana?" Tanyaku mulai cemas.


"Maaf Ros... Tolong jangan menyangka aku jahat. Percaya sama aku. Aku juga kangen banget sama kamu. Tapi... Kamu tahu sendiri kondisiku. Kita tidak bisa berteman lagi...maaf Ros"


"Jangan begitu Ran...aku sudah berusaha cari kami sejak awal. Bertahun-tahun aku mencari kamu, sekarang kita sudah ketemu...masak kamu mau menyerah gitu aja" Suaraku sedikit meninggi.


Diam. Tak ada suara. Hening. Sayup-sayup kudengar Rania menangis.


"Ran..."


"Maafin aku Ros...." Suara Rania sesenggukan.


"Ran...Ran...tunggu jangan ditutup dulu..."


"Iya Ros?"


"Baik, aku tidak akan meminta ketemu sama kamu ..tapi boleh gak aku telepon kamu...ke nomer ini....?" Kataku lirih.


"Aku takut Ros .... Jangan!!"


"Aku akan mengaku sebagai teman sekolah kamu"


Rania diam beberapa saat, lalu akhirnya ia menjawab.


"Di atas jam 9, dan tidak lebih dari 5 menit"


"Iya,....aku janji, akan jaga rahasia kamu"


"Yang penting kamu tahu, aku tidak punya maksud menghindar dari kamu. Aku masih sangat menyayangimu Ros"


"Iya Ran...aku juga"


Oh ya Tuhan. Rinduku yang membuncah, tangisku yang selalu pecah setiap malam, terbayar sudah. Rania sudah kutemukan meski dalam identitas yang berbeda. Dia tidak pernah melupakanku. Rindunya sama besarnya dengan rinduku. Saudaraku, Rania. Sudah kutemukan.


***