My Name Is Rose

My Name Is Rose
Hanyut



Matahari kembali bersinar setelah sekian jam aku menunggu dalam gelap. Kubuka mataku pelan-pelan, benar saja, langit sudah membiru. Hari sudah berganti dengan pagi. Kepalaku masih sedikit pusing, tetapi tidak selemas kemarin. Kulihat sekeliling, posisiku sudah berubah. Aku sudah berada di tempat uang sama sekali berbeda dari sebelumnya..batuan di sini lebih besar dan lebih banyak.


"Di situ .... Itu Mak!!!" Suara anak kecil. Aku melengok kesana kemari mencari arah suara.


"Masih hidup? Apa sudah mati?" Suara seorang perempuan dewasa.


"Mana...mana....??" Suara seorang laki-laki dewasa.


"Astaghfirullah...ada mayat!!!! Ada mayat!!!!" Suara yang lain.


Aku masih mencari-cari sumber suara.


"Masih hidup, gerak-gerak....ayo cepat!!" Suara yang lain.


Oh Tuhan aku bersyukur ada yang menemukanku di tempat sepi seperti ini. Aku berusaha menggerakkan badanku sebisaku agar mereka tahu aku masih hidup dan butuh pertolongan.


Beberapa orang kemudian turun ke sungai menghampiriku. Sebagian bahkan membawa tandu. Beberapa ada yang berseragam tim SAR dan ada yang berseragam polisi. Sekuat tenaga aku bangun dari posisiku. Mereka dengan sigap membantuku.


"Bisa jalan?" Tanya salah seorang polisi.


Aku menggeleng. Karena memang badanku lemas.


"Tandu!!" Dia kemudian memerintahkan membawa tandu.


Dan dalam beberapa saat tandu sudah datang menopangku. Tubuhku dibawa oleh tandu menuju atas. Di sana banyak orang menyaksikan proses evakuasi ini. Ekspresi mereka menunjukkan rasa kasihan. Sebagian ada yang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Sebagian lagi menutup telinganya. Baru kusadari bahwa salah satu kakiku terluka oleh sayatan bambu dan semacamnya sewaktu terseret arus sungai. Pantas saja rasanya perih sejak kemarin.


Mereka membawaku ke kantor desa. Rupanya berita ini sudah menyebar ke segala penjuru desa. Faktanya banyak orang uang menyambutku datang. Sebagian besar mengucap syukur karena ternyata aku masih hidup. Dari bisik-bisik orang-orang di sekelilingku, beredar jabar bahwa aku korban pembunuhan dan sudah meninggal. Namun mereka melihat kenyataan bahwa aku masih hidup, mereka pun mengucap syukur.


Melihat kondisiku yang lemas dan berdarah di area kaki, aku dibawa ke klinik tak jauh dari kantor desa. Di sanalah aku mendapatkan perawatan medis. Polisi masih menjaga bersama dengan tim SAR. Mereka sedang sibuk memberikan keterangan pada wartawan. Akankah berita ini sampai pada Alanta?


Menjelang sore, seorang pamong desa mendatangiku di klinik.


"Bagaimana kondisinya Mbak? Sudah membaik?" Tanya pamong desa yang merupakan seorang perempuan.


"Alhamdulillah jauh lebih baik dari kemarin Bu" Jawabku dengan lirih karena memang tenagaku belum pulih benar.


"Syukurlah. Mbak ini darimana, apa ada nomor yang bisa kami hubungi? Keluarga Mbak?"


"Hape saya ketinggalan di tenda Bu, saya tidak hafal nomor teman-teman saya" Jawabku.


"Tenda? Memangnya Mbak sedang apa kok bisa hanyut"


"Saya sedang kegiatan sekolah Bu, sewaktu saya mau kembali ke tenda, saya terperosok" Aku tidak ingin memperkeruh suasana dengan mengatakan kejadian yang sebenarnya. Apalagi Ibu ini bukan pihak berwajib dan bukan orang yang perlu tahu.


"Oh kegiatan sekolah"


Beberapa orang yang ikut membesuk saya saling pandang dan manggut-manggut.


"Kegiatan apa Mbak?"


"Camping Bu, di Bumi Perkemahan Gentaloka"


Mendengar kalimatku, ibu-ibu ini cukup terkejut.


"Gentaloka itu lumayan jauh dari sini, jadi Mbak ini hanyut sampai enam kiloan lo" Kata salah satu Ibu.


"Saudara sabar dulu, pihak sekolah sudah menghubungi guru pengampu yang ternyata masih di Bogor mencari saudara. Kira-kira besok pagi mereka sampai" Kata seorang polisi memberitahu.


Pihak sekolah tentu lega mendengar bahwa aku sudah ditemukan dalam keadaan hidup. Sehingga mereka tidak buru-buru menjemputku. Lagipula, perangkat dan masyarakat desa ini sangat baik terhadapku. Mereka iba dengan seorang gadis yang menghilang pada saat mengikuti kegiatan sekolah.


Malam sekitar pukul setengah sebelas kira-kira, seseorang datang ke klinik yang sebenarnya sudah tutup. Namun dia berhasil masuk setelah memberitahu satpam siapa dirinya. Dia datang ke kamarku saat aku masih terpejam.


Tangannya lembut menggenggam jemariku. Aku ingat betul tangan ini. Apalagi dia membelaiku dengan lembut pula. Ya, ini adalah Alanta. Aku membuka mata dan benar saja, orang pertama yang kulihat setelah membuka mata adalah Alanta.


"Syukurlah...!!!" Alanta membenamkan wajahnya di tanganku. Dapat kurasakan air matanya keluar.


"Alan...akhirnya kamu datang. Aku teriak panggil kamu...tapi kamu gak dengar" Kataku lirih.


"Maaf ya.....aku gak dengar panggilan kamu...aku gak bisa jaga kamu...aku..." Alanta terisak di tanganku


"Cengeng!!" Ujarku.


Dia tidak menjawab. Malah membenturkan ringan kepalanya di atas tanganku. Sesekali dia memandang wajahku yang pucat. Sorot matanya begitu dalam. Malam-malam begini dia datang menemuiku. Aku tahu dia menyimpan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Jika tidak, maka dia tidak akan bertindak sejauh ini. Tapi apalah dayaku, aku seorang gadis yang tidak mungkin akan bertanya tentang itu.


"Kamu belum pulang ke Jakarta?" Tanyaku.


"Belum"


"Anak-anak yang lain?"


"Setelah ada berita kamu hilang, semua dipulangkan"


"Kamu?"


"Ngapain tanya? Mana bisa aku pulang kalau kamu belum ketemu"


Aku tersenyum. Dia begitu mempedulikanku sampai merelakan dirinya untuk tidak pulang demi mencariku.


"Maaf"


"Bukankah dari dulu aku selalu bilang, jangan jauh dari aku, jangan juga menjauh, aku nyesel banget kita gak jadi satu kelompok. Nggak nyangka kalau bakal kayak gini"


Aku bisa merasakan betapa dia merasa bersalah atas apa yang menimpaku. Meski itu bukan kesalahannya. Betapa bodohnya aku percaya begitu saja dengan Clara dan kawan-kawannya. Kupikir dia sudah berubah, beberapa hari terakhir ini dia banyak membantuku meski sebenarnya aku tidka terlalu membutuhkan tapi paling tidak dia sudah membuktikan perubahan dirinya. Namun nyatanya, karakter seseorang akan sulit dirubah dalam waktu sekejap. Ini kali terakhir, sudah cukup. Aku tidak akan percaya apapun lagi. Tidak akan.


***


Pagi, kulihat Alanta melaksanakan sholat subuh. Begitu damainya melihat pemandangan di hadapanku. Di tengah dunia yang mencekik keimanan seseorang, pria ini masih melaksanakan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan.


"Sudah bangun?" Tanya Alanta begitu melihatku.


"Bisa cariin aku mukena? Aku mau sholat juga. Selama hanyut di sungai aku tidka bisa sholat"


Tanpa menjawab ba bi bu, Alanta segera mencarikan kebutuhanku. Damai kurasakan dalam sholatku meski hanya bisa duduk bersandar ranjang. Bubur kacang hijau hangat diberikannya untukku saat masih pagi. Entah darimana dia mendapatkan itu.


"Tenagamu harus cepat pulih, biar cepat bisa pulang" Katanya.


Ya, tenagaku harus cepat pulih untyk kembali ke Jakarta, akan kutunjukkan pada mereka yang menginginkanku jatuh dan mungkin berharap aku mati. Aku tidak akan menyia-nyiakan usaha Alanta untuk membuatku menjadi manusia yang kuat. Aku akan buktikan pada kalian semua.


***