
"Jam tangan itu...."
"Kenapa? Bingung kenapa ada rekaman itu di jam tangan aku?" Tanya Dinda
Aku mengangguk. Apa mungkin busa mengirim suara ke jam tangan dengan tipe yang sama?
"Kamu ingat waktu kamu kehilangan jam tangan di kafe? Aku menukarnya dengan punyaku. Karena aku nggak sengaja mencet tombol di jam tangan kamu waktu nemuinnya di toilet. Dan kamu cerita kan, kalau kamu udah nunjukin bukti ke mereka. Jadi aku yakin banget mereka pasti berupaya menghilangkan jejak dengan cara apapun. Makanya aku tukar jam tangan aku dengan jam kamu"
"Oh jadi..."
"Jam tangan kamu rusak kan? Itu punya aku. Nanti biar aku coba bawa ke tukang jam"
"Emang bisa diperbaiki?"
"Nggak tahu juga makanya dicoba"
"Wuih....gua gak nyangka loh, elo punya pikiran segesit itu?" Aku heran.
"Wuih....ngeledek lo, gue ini sebenernya cerdas...hanya aja males hehehe"
Kali ini aku diselamatkan oleh the real friend. Sosok yang tak begitu utama di hatiku nyatanya dia begitu spesial. Dua orang di hadapanku ini benar-benar dikirim Tuhan untuk melindungiku. Namun apa yang bisa kuberikan untuk keduanya? Dengan cara bagaimana aku harus membalasnya?
"By the way thanks a lot buat Alanta. Dia yang mendorong aku untuk berani seperti ini. Eh tapi, lo kok bisa tiba-tiba muncul. Bukannya lo di Malaysia?" Kata Dinda.
"Sejam setelah ujian gue pulang"
"Khusus buat ngurusin ini?"
Alanta mengangguk.
"Ckckck...ya gitu lah orang kaya. Kayak punya pintu Doraemon saja" Kata Dinda yang kemudian menggelakkan tawa kami.
Namun, meski hari ini aku selamat, aku yakin keluarga Clara tidak akan diam saja. Hari ini mereka kena malu, seakan kami mempermalukannya di depan umum. Mereka tidak akan berhenti begitu saja. Harga diri mereka seakan kami injak. Maka pasti mereka akan membalasnya.
***
Sebuah mobil hitam sudah di depan rumahku. Mobil itu akan menjemputku. Tadi malam Nyonya Hamdani meneleponku, hal yang tak pernah kusangka akan terjadi. Dia meminta bertemu denganku di suatu tempat yang Ia tentukan. Seorang sopir membukakan pintu untukku begitu aku siap di depan rumah. Aku tak tahu kemana mobil ini akan membawaku. Yang jelas menuju pusat kota. Benar saja. Mobil berhenti di depan sebuah gedung. Kurasa inilah kantor keluarga Hamdani. Jadi, Papa dulu bekerja di sini?
"Lantai 31" Kata sopir mobil itu sambil menunjukkan sebuah kartu dengan ukuran tebal semacam undangan namun tidak serta merta seperti undangan.
Aku pura-pura mengerti meski sebenarnya masih bingung. Aku mencoba masuk ke dalam dan melihat sekeliling. Benar, ini sebuah perkantoran dilihat dari busana yang dikenakan orang-orang yang lalu lalang. Kutunjukkan kartu tebal yang diberikan oleh sopir itu pada resepsionis. Tampaknya jalanku benar. Resepsionis itu memahami dan segera mengantarku pada tempat semestinya.
Lantai 31.
Ruangan ini bukan seperti perkantoran, namun mirip dengan apartemen. Ada sofa, rak buku, dan beberapa kursi kayu. Ruangan ini menghadap ke luar sehingga hanya dari pintu saja sudah terlihat pemandangan kota di luar sana.
Tampak seorang perempuan berdiri menghadap ke luar. Tak seperti biasanya, kali ini ia berpenampilan santai. Dengan celana kulot warna taro, dan atasan putih dengan dada rumbai, ditambah lagi rambut yang terurai lembut di bawah bahu. Ia berdiri mematung menghadap jendela kaca yang amat besar.
"Kamu sudah datang?" Tanya beliau begitu menyadari pintu terbuka.
"Iya ..Nyonya" Jawabku lirih.
Kini kami duduk berhadapan dengan hanya terhalang meja kecil. Di atas meja sudah tersaji minuman dan cemilan. Aku berusaha mengontrol diri. Aku tidak ingin salah dalam bertingkah. Aku menunggu apa yang akan disampaikan beliau.
"Silahkan diminum" Katanya dengan lembut, namun dibalik lembut sikapnya seakan menyimpan kegelisahan.
Aku meminum jus jeruk yang tersaji di hadapanku.
"Aku ingat sebelas tahun yang lalu. Saat kakiku menginjakkan kaki di panti asuhan di Kediri...rupanya banyak sekali anak-anak yang di asuh di sana. Semuanya tampak manis dan sopan. Orang tua manapun pasti akan menyukainya" Tampak Nyonya Hamdani mengingat dengan bahagianya.
Sesekali aku meminum jus jeruk itu.
"Ada satu anak yang begitu menyenangkan. Aku melihatnya dari kejauhan. Dia begitu enerjik dan cerdas. Sebab dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan gesit. Beberapa hari aku melihatnya. Aku dan Mas Hamdani sepakat untuk mengasuhnya....."
Siapa yang beliau maksud? Ah pasti Clara. Dia sedang bernostalgia dengan masa lalu putri angkatnya. Dan aku bernostalgia dengan sakit itu. Sakitnya terpisahkan oleh saudaraku, Rania.
"Tapi begitu kami datang secara resmi untuk mengadopsi anak itu, dia mendadak bertingkah aneh. Seorang anak melaporkan bahwa dia mengompol. Lalu dia melempar barang-barang karena kesal, meludah sembarangan, dan berkata kasar. Sangat jauh berbeda saat kami melihat diam-diam" Nyonya Hamdani tersenyum.
Sekarang aku paham siapa yang dimaksud. Aku.
"Kemudian ada seorang anak sebayanya yang bersembunyi di balik tirai. Aku bertanya padanya apakah dia menginginkan orang tua? Dan dia mengangguk. Kami memutuskan untuk membawanya ke Malang, tempat kai tinggal sebelum kami kembali ke Jakarta"
Ya, aku juga paham siapa dia. Rania. Tapi aku tidak begitu ingat wajah Nyonya Hamdani beserta suaminya.
"Perjalananku untuk mendapatkan Clara begitu panjang. Empat tahun pernikahan tapi belum juga dikaruniai seorang anak. Hm, aku akui keluarga suamiku memang keras. Segalanya harus sempurna. Mana mungkin bisa menerima menantu yang tidak bisa memberikan keturunan"
Nyonya Hamdani kemudian berdiri dan kembali menghadap jendela. Aku masih duduk manis di sofa tanpa berani berkata sekecap pun.
"Tapi berkat kehadiran Clara, suamiku mendapatkan segalanya. Perusahaan ini, sawit, rumah, semua atas nama dia. Dan demi mendapatkan itu semua, tentu ada usaha yang tak mudah. Tujuh tahun aku bersembunyi di Malang, berpura-pura berada di kuar negeri, sedang hamil, punya anak bayi, sampai akhirnya kani tidak bisa menyembunyikan lagi. Kami memutuskan untuk mengadopsi anak seorang anak"
"Dan Nyonya mengganti total identitasnya?" Tebakku.
"Yah...harus begitu untuk tetap bertahan di posisiku sekarang"
"Apa akibatnya jika ada yang tahu dia sebenarnya?"
"Paling buruk adalah perceraian"
Aku menunduk. Tak mampu berkomentar apapun lagi.
"Itulah mengapa, segala hal yang berhubungan dengan masa lalunya harus kuhapus... Termasuk.....kamu"
Aku tersenyum. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku tersenyum mendengar kalimat itu.
"Setelah resmi menjadi anak keluarga Hamdani, aku mencoba membantunya mengejar ketinggalan. Les privat, les renang, bahasa inggris, bahkan aku pernah membawanya ke luar negeri demi membuatnya pantas menjadi bagian dari keluarga besar Mas Hamdani" Nyonya Hamdani mengambil minum dan meneguknya sekali saja.
Itulah yang menjadi penyebab Rania tertekan. Keyakinanku begitu. Rania memiliki batasan sendiri. Dia tak secerdas yang diharapkan oleh keluarga ini. Jika ingin sempurna, maka Rania harus berjuang keras. Sayangnya, aku tidak yakin dia mampu.
***