
Sunyi. Aku sendiri mengarungi gelapnya dunia. Ini sudah kembali malam. Bahkan sinar matahari pun belum kulihat sama sekali. Entah ini hari ke berapa aku di sini. Rasanya sudah seratus tahun. Aku berbaring, merasakan lemahnya tubuhku sendiri mencari hangat disela-sela kardus bekas.
Tubuhku terlalu lemah untuk sekedar membuka mata. Aku terpejam. Namun memasang telinga lebar-lebar. Berharap seseorang membuka pintu untuk sekedar memberi hawa segar dari luar, sukur-sukur menyelamatkanku dari sini. Aku masih terpejam hingga berada di antara tidur dan terjaga.
Seseorang membelaiku. Apakah Mama? Kenapa dia membelaiku? Bukankah dia membenciku seperti membenci bangkai tikus? Ah tidak. Ini bukan Mama. Orang lain yang simpati denganku. Ia membelaiku dan sesekali mencium rambutku. Apakah Papa? Tangannya tidak seperti tangan laki-laki. Seorang perempuan membelaiku.
"Sabar...kuat..." Bisiknya.
Siapa yang berbisik? Suaranya lembut. Jelas bukan Mama yang tidak bisa berkata lembut. Tapi siapa? Dia memberiku semangat dan seolah janji bahwa semua ini akan berakhir dalam waktu dekat. Ya, sebentar lagi aku akan selamat. Apakah bisa kupercaya? Atau hanyalah bisikan hatiku sendiri?
Aku tidka bisa lagi merasakan lapar haus lelah ngantuk. Rasanya tubuhku kosong tanpa ruh. Ringan, terlalu ringan. Aku bahkan tidak merasakan gerakan kakiku sendiri, atau sekedar nafasku sendiri. Aku masih terpejam, sebab kelopak mataku sudah berani menentangku. Ia tak mau melakukan perintah dari otakku.
Keringatku mengucur, dari dahi hingga leher. Entah karena hawa panas atau karena menahan sakit. Tapi sakit yang mana? Aku bahkan tidak bisa merasakan sakit apapun. Hanya lemas dan lemas. Bernapaspun terasa berat. Apakah ini namanya ambang kematian.
Dari kejauhan kulihat sinar yang begitu terang. Seperti senter besar yang diarahkan langsung ke wajahku. Dan dari sanalah muncul seseorang. Seorang perempuan yang postur tubuhnya mirip dengan Bulik Farida. Apakah dia kesini? Menjengukku? Sosok itu mendekati ku. Suaranya persis seperti sosok yang membelaiku tadi. Lembut. Dia hanya berkata 'sabar' berulang-ulang. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Terlalu terang cahaya yang menyertainya. Dalam keadaan lemah aku bangkit dan mencoba duduk. Lalu bertanya siapakah dia.
"Si....sia...pa?" Tanyaku
Dia tersenyum dan menjawab "Mama ..."
Mama? Benarkah Mama menyelamatkanku? Dia menyesal telah mengurungku? Secepat ini? Rasanya mustahil. Bagaimana seseorang bisa berubah secepat ini. Dari benci yang luar biasa menjadi lembut. Ah tidak. Ini bukan Mama. Oh, tidak, Mama kandung??? Ibu yang melahirkanku? Rahim yang mengandungku? Mama???
Lantas dia pergi, bersama dengan cahaya terang yang sedari tadi menyertai. Cahaya itu menghilang seiring perginya sosok itu. Dan disaat yang bersamaan, cahya lain muncul dan menyilaukan mata. Tidak seperti cahaya pertama yang begitu hangat dan indah. Cahaya ini membuat keningku pusing dan mataku harus membuka dengan terpaksa.
"Astaga Ros!!!!" Suara Papa.
Papa lantas memelukku yang masih lemas. Dia akhirnya datang. Entah di hari ke berapa.
"Ros....kamu bisa dengar Papa??Ros..Ros!!" Papa menepuk-nepuk pipiku agar aku tersadar. Aku bisa mendengar suaranya tapi tak kuat untuk menjawab.
Lantas gelap.
***
Kubuka mataku perlahan. Dia sudah kuat menuruti perintahku. Entah kekuatan darimana. Aku melihat sekeliling. Suasana yang baru kali ini kulihat. Aku sedang tidak di kamarku sendiri. Atau sudut-sudut di rumahku. Ini bukan rumahku.
Kulihat sebelah kiri, seorang perawat sedang menyiapkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Aku beralih ke arah kanan. Papa sedang tidur di ranjang lain di sisiku. Oh, aku sedang di rumah sakit. Dan akulah pasiennya. Selang infus terpasang di tangan kiriku. Bajuku pun sudah berganti dengan seragam rumah sakit.
"Sudah bangun?" Tanya perawat yang sedari tadi menata mejaku.
"Suster, saya kenapa? Kok bisa di sini?" Tanyaku lirih.
"Kamu pingsan, lambungmu bermasalah. Sepertinya makanmu tidak teratur" Jawab perawat dengan senyum.
Bukan makanku yang tidak teratur. Aku memang dipaksa tidak makan selama beberapa hari.
"Untuk sementara makannya bubur dulu. Lambungmu masih belum mampu menggiling makanan kasar" Kata perawat lagi.
Perawat lantas membangunkan Papa untuk mengabarkan bahwa anaknya sudah bangun dari tidur panjangnya.
"Alhamdulillah....gimana rasanya Ros? Pusing?" Tanya Papa sambil membenahi posisinya.
"Sedikit Pa" Jawabku.
Aku memang sangat lapar. Infus yang dipasang hanya mampu menopang kekuatanku agar tetap hidup. Tapi tidak memberi rasa kenyang.
Aku mengangguk. Bubur ayam yang disediakan rumah sakit terlihat enak. Namun ternyata hambar. Apakah memang lidahku yang sedang sakit atau memang begitu rasanya. Empat sendok bubur ayam berhasil masuk ke tubuhku. Tapi selebihnya sudah tidak. Sebab aku mual. Lambung memang seringkali memberi sinyal dengan rasa mual. Pertanda lambung sedang dalam masalah.
"Ros, maafkan Papa" Kata Papa lirih.
Aku hanya melihatnya dengan nanar. Kenapa dia minta maaf.
"Papa tidak bisa menjagamu. Papa terlalu lemah. Papa terlalu lembek dengan Mama" Katanya kemudian.
Aku hanya terdiam beberapa saat. Sebab kekuatanku masih kembali separuh. Aku belum mampu berbicara banyak.
"Ros, apa memang sebaiknya, kamu kembali ke.....Kediri" Kata Papa.
"Mak...sud Papa?" Tanyaku penasaran.
"Ke panti. Sepertinya kamu lebih aman di sana daripada serumah dengan Mama" Lanjut Papa.
Oh tidak. Susah payah aku menemukan Rania dan sekarang aku harus kembali ke panti? Tempat yang tentunya membuatku lebih jauh dari Rania. Tidak. Selangkah lagi aku bisa bersama Rania kembali. Aku juga masih ingin menemukan Alanta.
Aku menggeleng.
"Kenapa Nak?"
"Aku ingin tetap di sini. Dengan Papa, dengan Monica, dengan Mama"
"Tapi Mamamu tidak sebaik ibu pada umumnya Ros"
"Rosa yang salah Pa, Rosa tidak menurut sama Mama, makanya Rosa dihukum" Kataku sebisa mungkin.
"Kamu ini Ros..Ros...apa sih yang membuat kamu selalu ngalah seperti ini, kamu sudah remuk begini masih saja belain Mama"
Aku tersenyum.
"Masih banyak cita-citaku di luar sana yang tidak mungkin bisa kuraih kalau aku masih di panti Pa"
"Jangan khawatir Ros, panti asuhan sekarang ini dibina oleh dinas sosial, jadi justru pendidikanmu akan terjamin di sana"
"Bukan Pa. Bukan itu cita-citaku"
"Rania?"
Aku mengangguk.
"Ya..ya...yang penting kamu harus bisa menjaga diri kamu sendiri selama tidak di samping Papa"
Aku tersenyum. Sekali lagi dia menunjukkan tanggung jawabnya padaku. Dia hampir menyerah dengan berniat mengembalikanku ke panti. Terkadang aku berpikir, mungkin aku merepotkan hidupnya. Ya, aku tahu itu. Tapi aku masih harus mencari orang tua kandungku, jalanku tidak boleh berhenti sampai di sini. Aku berjanji dengan diriku sendiri, peristiwa seperti ini, tidak akan terjadi lagi.
Dokter datang untuk memeriksaku. Tensi, lambung, mata, suhu badan hingga lidah. Semuanya. Dan suster di sampingnya mencatat dengan teliti. Seperti inilah rasanya menjadi pasien rumah sakit. Memang sangat diperhatikan dan bahkan dimanja. Tapi siapa yang mau menerima tawaran sakit. Dan satu hal yang kupikirkan. Aku pingsan saat dibawa kesini. Artinya pengurungan itu tidak berlangsung hanya sehari, tapi lebih dari itu.