
"Sebelumnya saya ingin tahu, siapa yang membuat aturan penonton memiliki kesempatan untuk menjawab?" Tanya Ketua Yayasan.
"Bu Sarah"
"Bu Sarah"
"Bu Sarah"
Sebagian besar hadirin menjawab sama.
"Benar Bu Sarah?" Tanya Ketua Yayasan.
"Tidak benar Bu, yang benar, itu adalah kesepakatan semua yang hadir di sini. Biar saya tunjukkan buktinya"
Bu Sarah kemudian mengeluarkan berkas dan menyodorkan pada Ketua Yayasan yang merupakan Ibu dari Alanta. Aku? Aku hanyalah penonton di sini. Aku juga masih bingung kenapa aku dihadirkan di sini seolah aku akan menerima suatu putusan peradilan.
"Semua yang hadir turut menyetujui dnegan memberikan tanda tangan. Ibu bisa menkonfirmasi kepada semua yang hadir di sini, apakah benar tanda tangan yang tertera dalam berkas itu adalah tanda tangan beliau" Kata Bu Sarah.
Berkas kemudian diperiksa oleh mereka uang hadir. Butuh waktu cukup lama bagi para petinggi untuk meneliti isi berkas tersebut.
"Tapi kami tidak mengetahui jika isinya demikian Bu" Kata salah seorang.
"Itu bukan tanggung jawab saya, ketika saya menunjukkan berkas ini untuk Bapak tanda tangani, saya sudah menyarankan Bapak dan semua yang hadir di sini untuk membaca dan memeriksa kembali isi berkas itu, saya juga mengatakan bahwa ada perubahan dalam proses seleksi ini, dan semua setuju-setuju saja" Jelas Bu Sarah.
Tentu saja semua hadirin saling pandang. Mereka mungkin tidak teliti dalam menandatangani berkas itu.
"Perubahan yang tiba-tiba" Kata salah seorang yang lain.
"Tiba-tiba bagaimana maksud Ibu? Proses seleksi dengan memberi kesempatan penonton menjawab, dan dengan menjawab maka berhak menjadi peserta tambahan sudah ada tujuh tahun yang lalu, saat sekolah ini belum lama berdiri. Saat itu kita tahu potensi anak-anak yang sebenarnya. Saya hanya mengembalikan pada proses itu" Sahut Bu Sarah.
Kembali semua hadirin salin pandang dan mendadak suasana me jadi riuh.
"Apa alasan Bu Sarah memilih proses seleksi dengan cara seperti itu?" Tanya Ketua Yayasan.
"Alasan saya mungkin banyak disangkal. Alasan saya adalah, anak ini sudah mengalami kecurangan di kelasnya"
Tentu saja banyak yang bernada sinis pada ucapan Bu Sarah. Merubah banyak hal ini hanya untuk seorang anak. Tentu saja, satu anak bisa merugikan banyak anak lainnya, begitu pandangan mereka.
"Tampaknya soal yang kita buat sebelumnya mengalami kebocoran. Sehingga ada satu anak atau mungkin lebih, menerima bocoran soal berikut jawabannya"
"Baik, apa ruginya bagi anak ini?" Tanya Ketua Yayasan.
"Anak ini tahu kesalahan dari jawaban uang kita buat, dia bisa menjelaskan, namun itu tidak diterima oleh guru penguji" Kata Bu Sarah.
"Siapa guru penguji saat itu?" Tanya hadirin yang lain
"Saya tidak tahu" Jawab Bu Sarah.
"Siapa Rosa?"
"Bu Yuni" Jawabku dengan ragu.
Bu Yuni tampak gugup, wajahnya berkeringat, tapi beliau berusaha tenang. Menurutku masalah ini sudah dibahas sebelumnya dan Bu Yuni sudah tahu jika beliau melakukan kesalahan, namun demi menutupi satu kesalahannya, beliau mengorbankanku. Jujur aku tidak ingin masalahku menjadi lebih panjang seperti ini. Biarlah aku tidak masuk dalam kandidat olimpiade, tak masalah.
"Saya....hanya ingin menghargai usaha dari peserta yang lain yang sudah menjawab sampai akhir" Bu Yuni membela diri.
"Rosa juga menjawab sampai akhir bukan Bu Yuni?"
Bu Yuni terdiam.
"Ada kecurangan kebocoran soal dan menurut saya tidak hanya pada satu siswa saja. Mungkin ada beberapa siswa yang mendapatkan bocoran itu. Itulah kenapa soal-soal saya rombak dan proses seleksi saya beri perubahan" Jelas Bu Sarah.
"Maaf, saya rasa saya tidak dibutuhkan dalam rapat ini, saya undur diri" Kata Nyonya Hamdani.
Pengunduran diri Nyonya Hamdani diikuti oleh beberapa orang termasuk Mama Jessie. Berkuranglah peserta rapat ini. Keputusan ada pada Ketua Yayasan. Semua sudah menunjukkan pembelaan maupun bukti-bukti yang dimiliki. Kini saatnya menyerahkan pada Ketua Yayasan.
***
"Selamat siang anak-anak" Pembawa acara membuka acara siang ini.
Masih dibuka saja ramainya sungguh mencengangkan apalagi ketika diumumkan pemenangnya.
"Dan pemenang lomba mading First Internasional High School adalah..... Tim Gayatri.."
Tim Gayatri adalah tim Silvi. Silvi melompat kegirangan. Dia segera bergabung dengan timnya dan siap maju ke podium menerima penghargaan.
"Untuk juara pertama melukis dengan tema Semangat Pelajar, diraih oleh.....wah pendatang baru rupanya...Dinda Melani Putri"
Dinda menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya. Dia tampak tak percaya jika namanya disebut dalam ajang sebesar ini. Aku sudah menduga sebelumnya bahwa juri akan sangat menyukai lukisan Dinda. Menurutku lukisannya begitu nyata dan bermakna.
"Dan selanjutnya pengumuman yang ditunggu-tunggu...pengumuman tiga besar Olimpiade Sains yang kemudian akan mewakili sekolah menuju Olimpiade Kota Jakarta" Teriak pembawa acara.
Tiga? Padahal hari kemarin ada empat nilai tertinggi. Dan sekarang diumumkan hanya tiga. Maka satu peserta akan gugur. Aku. Pasti aku yang gugur. Atau jangan-jangan justru Clara yang gugur.
"Dan dalam hal ini akan diumumkan secara langsung oleh Ibu Ketua Yayasan. Ibu Mariana Hartanti"
Tepuk tangan penonton menyambut kehadiran Ibu Ketua Yayasan. Alanta turut mengantar sang ibu ke podium. Mereka berdua sangat mirip. Menaiki podium, Ibu Mariana tersenyum dan menyapa semua siswa dengan lambaian tangannya.
"Baik anak-anak. Perlu diketahui, bahwa ajang lomba ini adalah wadah untuk kalian menunjukan bakat kalian. Bakat apapun. Maka saya berharap kegiatan seperti ini akan menjadi ajang tahunan sekolah ini"
Penonton bertepuk tangan.
"Ajang lomba ini juga saya harapkan menjadi ajang lomba paling jujur diantara lomba-lomba di Kota Jakarta ini. Karena itu, setiap kecurangan akan menjadi koreksi bagi kami"
Kembali penonton bersorak.
"Dan kami umumkan tiga terbaik lomba olimpiade First Internasional High School... Yang pertama atas nama Firmansyah"
Firman berdiri dan menerima kalung bunga langsung dari Ketua Yayasan.
"Selanjutnya Alanta...wah saya malu menyebut nama ini, saya harap ini tidak ada unsur kecurangan ya...karena ini anak saya sendiri"
Penonton sontak tertawa ringan.
"Dan terakhir....Clara Britania Putri"
Tepuk tangan penonton, ditambah standing aplause dan ciutan siswa putra membuat gedung ini menjadi ramai. Akhirnya disebutkan. Clara lah pemenangnya. Kulihat Clara bersama teman-teman dan Ibunya merayakan kemenangannya. Dinda menepuk pundakku untuk menenangkanku. Memang sebaiknya begitu, Clara memang seharusnya juara. Seharusnya aku yang kalah.
"Namun, ada satu lagi yang belum kami umumkan"
Mendadak suasana menjadi hening. Penonton penasaran, apa yang akan diumumkan Ketua Yayasan, padahal olimpiade adalah lomba puncak yang seharusnya diumumkan paling akhir.
"Sebenarnya ada satu siswa yang menurut kami jenius. Yang memiliki kemampuan lebih dari tiga siswa terbaik yang kita punya. Namun, saya tidak ingin merusak apa yang sudah ditata sedemikian rupa oleh para guru dan panitia lomba. Karena itu secara khusus, saya sebagai ketua Yayasan First Internasional School, memberikan penghargaan khusus untuk anak tersebut"
Penonton kemudian saling pandang. Mereka bertanya-tanya siapakah anak yabg dimaksud. Sebagian sudah bisa menebaknya.
"Rosa Nirwasita, silahkan maju ke podium" Kata Ketua Yayasan.
Kamera dengan cepat mengarah padaku. Wajahku tampak jelas di layar. Aku maju pelan-pelan ke podium. Aku tidak tahu penghargaan seperti apa yang akan diberikannya padaku.
Kini aku berdiri sejajar dengan Ketua Yayasan dan berada di tangga lebih tinggi dari ketiga peserta olimpiade.
"Saya sebagai Ketua Yayasan, bermaksud untuk memfasilitasi anak berprestasi untuk mampu menempuh pendidikan yang layak. Karena itu saya berikan beasiswa penuh Perguruan Tinggi, First Internasional Univercity, jurusan apapun yang dipilih"
Penonton memberikan tepuk tangan, sebab selama ini belum pernah ada hal semacam ini. Sebuah simbol beasiswa berbentuk sterefoam kotak diberikan padaku. Banyak kamera mengambil gambarku sehingga menimbulkan kilatan cahaya berulang kali.
Jadi inilah hadiah uang diberikan padaku. Inilah kiriman Tuhan untukku.
***