
Sebentar lagi bel masuk. Masih ada waktu sepuluh menit. Aku harus bergegas ke ruang administrasi. Aku bahkan tidak mempedulikan Dinda yang memanggilku dari kejauhan.
"Cari siapa ya?" Salah seorang petugas administrasi menanyaiku saat bertemu di pintu.
"Bu Ana Bu" Jawabku.
"Belum datang. Sebentar lagi mungkin"
Huft. Bu Ana belum datang lagi. Pilih nungguin Bu Ana atau masuk kelas. Jika nungguin Bu Ana, maka aku akan telat masuk ke kelas. Dan ini bisa menjadi catatan. Jika aku masuk kelas, maka urusan registrasiku bisa kacau.
"Cari siapa?" Seorang petugas yang lain lagi menanyaiku.
"Bu Ana Bu" Jawabku.
"Masuk" Katanya.
Aku menuruti petugas itu. Oh, mungkin Bu Ana sudah di dalam. Lalu kenapa petugas yang tadi bilang Bu Ana belum datang? Payah.
"Duduk" Kata petugas itu.
Di mejanya tertera nama Ana Sulistyani, S.E . Ups, rupanya itulah Bu Ana. Murid macam apa aku ini sampai tidak mengenali karyawan di sekolah ini.
"Kamu ini bagaimana. Kemarin Bu Feni memberimu waktu tiga hari untuk menyelesaikan registrasi. Kenapa kemarin tidak dipenuhi?" Tanya Bu Ana.
"Maaf Bu, saya pikir Ibu sudah tahu tentang apa yang menimpa keluarga saya"
"Oh maaf Ibu tidak paham. Apa yang sudah terjadi?"
"Papa saya mengalami kecelakaan Bu. Kakinya lumpuh. Kemarin dia menjalani operasi ke sekian kali"
"Oh, astaga. Maaf Ibu tidak tahu. Ibu prihatin dengan apa yang bilang tadi. Tapi seharusnya kamu ijin ke kami dengan keterangan yang sesungguhnya supaya kami paham"
"Saya minta maaf Bu. Saya sudah membuat surat ijin tetapi memang keterangannya hanya ijin saja"
"Hmm"
"Ini formulirnya Bu"
"Tidak perlu. Kami hampir saja mencoret nama kamu dari sekolah ini, kalau saja Clara tidak mengisinya"
"Clara?"
"Loh saya pikir itu memang suruhan kamu"
"Oh iya Bu"
"Clara sudah memintakan tanda tangan sama Mama kamu. Dan sudah membayarkan uang registrasinya"
"Oh iya untung Clara tepat waktu ya Bu. Saya belum ketemu dia soalnya"
"Jangan diulangi lagi ya. Untung kamu punya teman yang bisa diandalkan seperti Clara"
Clara? Dia mengurus registrasiku? Membayarnya pula? Aneh. Anak itu benar-benar aneh. Apa sebenarnya maunya. Kadang dia marah padaku. Memperlihatkan bencinya. Kadang juga dia baik padaku. Tetapi dia tidak pernah menampakkan ini secara langsung. Apa sebenarnya yang dia rencanakan.
Aku tidak fokus hari ini. Untung saja pelajaran hari ini hanya mencatat dan diminta membaca. Ada jam kosong juga tetapi diberi tugas merangkum. Aku lebih banyak melamun di kelas. Pikiranku tak karuan. Pertama aku memikirkan kondisi Papa di rumah sakit, kedua memikirkan bagaimana berkecamuknya hati Mama, dan ketiga tentang Clara. Semua seperti berperang dalam otakku. Aku tidak bisa mengurainya satu persatu. Semua bercampur begitu saja.
Sampai waktu istirahatpun aku masih belum bisa fokus. Terkadang Dinda bertanya padaku namun tak kujawab sampai dia harus menyenggolku dulu baru aku menanggapi.
"Ros, lo mau makan apa? Kalo gue batagor ajah. Lo?" Dinda kembali bertanya padaku, dan lagi-lagi aku tidka menjawab.
"Ros...Ros!!" Dinda setengah berteriak sembari menyenggol, barulah aku tersadar dari lamunanku.
"Oh apa Din?"
"Lo mikirin Papa lo ya? Sabar ya Ros. Kamu harus kuat" Komentar Dinda.
"Iya nih Din. Harapan Papa untuk sembuh total tipis banget" Kataku.
"Thanks ya Din"
"Ya udah lo mau makan apa. Gue mau beli batagor. Kalo lo? Biar aku pesenin"
"Sama kayak lo aja" Jawabku.
Dinda mengantrikan makanan di kantin. Sementara aku duduk menunggu. Dan saat itulah kulihat Clara di depan sana. Dia pun sedang sendiri. Kemana teman-temannya. Dia melihatku. Jadilah kami saling pandang dari kejauhan. Sorot matanya, meski tak begitu jelas, tapi aku tahu, aku bisa merasakan betapa dia merindukanku. Dalam hati kecilnya, dai masih menyimpan rasa rindu yang luar biasa. Dia masih Rania yang dulu. Terima kasih Rania, untuk setiap rasa rindumu meski hanya secuil di hatimu. Terima kasih Rania, untuk bantuanmu yang tiba-tiba. Meski aku belum mengerti maksud bantuanmu, aku positif thinking bahwa kamu tulus. Terima kasih, Rania.
***
Papa sudah terbangun saat aku masuk ke kamarnya. Kubawakan buah kesukaannya. Kelengkeng. Dia begitu menyukai buah Kelengkeng. Katanya, Kelengkeng tidak pernah masam. Seperti dirinya yang tidak pernah cemberut.
"Mama mana Pa?" Tanyaku.
"Masih konsultasi dengan dokter" Jawabnya.
"Papa gimana sekarang? Apa yang dirasain?"
"Tidak. Papa tidak merasakan apa-apa. Apa ini efek bius ya. Kok kaki Papa rasanya belum bisa digerakkan"
Hampir saja air mataku jatuh, tapi kutahan kuat-kuat. Aku berjanji dalam diriku sendiri, aku tidak akan menangis di depannya. Aku tidak akan merobohkan benteng yang sudah retak. Aku akan menambalnya sekuat tenagaku.
"Karena memang masih dala pemulihan Pa. Tulang Papa patah maka ditambal dan nyambungnya tidak sesingkat itu Pa. Sabar. Memang butuh waktu relatif lama Pa" Kataku menghibur.
"Mamamu sering ninggalin Papa Nak..."
"Hush Papa jangan ngomong gitu"
"Akhir-akhir ini Mama sering konsul dengan dokter. Apa operasinya parah atau gimana Ros"
"Namanya keluarga pasien ya harus aktif konsul Pa. Tandanya Mama mengusahakan kesembuhan Papa betul-betul"
"Iya juga ya Ros"
Syukurlah Papa masih percaya padaku. Aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Papa.
"Ros, sore ini Papa boleh pulang" Kata Mama yang baru saja masuk ke kamar
"Alhamdulillah Ma"
"Kita beres-beres dari sekarang. Habis itu kamu telepon Monica biar dia gak nangis ya. Kayak ya dia kangen sama kamu" Kata Mama.
"Loh Ma, ini kaki Papa belum normal kok sudah boleh pulang"
Mama tidak menjawab. Doa berbalik arah dan segera memeras air matanya. Demi menutupi tangisnya, dia ke toilet untuk membasuh muka.
"Memang begitu Pa. Butuh waktu yang cukup lama untuk menormalkan kembali kaki Papa" Aku berusaha mencairkan suasana.
"Ya sudah kalo begitu" Kata Papa akhirnya.
Aku memulai beres-beres dari baju kotor Papa. Kumasukkan baju kotor Papa fi kantong kresek besar. Baju kotor Mama kemudian. Makanan ringan, alat mandi, sandal, bekakas makan, terakhir obat-obatan.
Mama cukup lama di dalam kamar mandi. Kubiarkan dia di sana untuk menuntaskan tangisnya. Biarlah dia menghapus semua bekas tangisan di wajahnya agar terlihat normal di depan Papa.
"Papa bisa kerja lagi gak ya Ros?" Tiba-tiba saja Papa bertanya demikian.
Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan itu. Betapa terkoyaknya hatinya jika tahu bahwa dia sudah diberhentikan oleh perusahaannya. Dia akan merasa menjadi laki-laki pecundang. Laki-laki yang tidak bisa mencari nafkah. Laki-laki yang hanya bisa mengandalkan istri. Laki-laki yang tak berguna.
"Papa diminta istirahat dulu sampai Papa benar-benar sembuh Pa" Jawabku ngawur.
Mendengar itu Papa terlihat kurang mempercayai. Tapi pada akhirnya dia manggut-manggut memaklumi. Suatu ketika dia harus tahu yang sebenarnya. Hanya butuh waktu yang tepat. Dan aku harus sudah mempersiapkan jawaban atas semua itu.
***