My Name Is Rose

My Name Is Rose
Dia



Suatu siang.


Aku melihat Papa merapikan baju-baju Monica. Artinya, Monica yang masih berusia 3 tahun akan pergi ke suatu tempat entah kemana.


"Eh Ros, sini bantu Papa" Kata Papa saat mengetahui keberadaanku.


"Mau kemana Pa? Monica gak papa kan?" Tanyaku khawatir, sebab kondisi seperti ini seolah-olah Monica akan dibawa ke rumah sakit.


"Ngomong apa sih kamu, kita kan ke Jakarta" Jawab Papa.


"Ha?"


"Kok ha, kok gak seneng, katanya pengen lihat Monas"


"Jakarta? Serius Pa?"


"Iya dong, sini dengerin Papa"


Aku duduk di sampingnya tepat di samping tas bayi milik Monica.


"Papa dapat rekomendasi mengisi posisi perusahaan di Jakarta. Orang yang mengisi posisi itu sudah meninggal, jadi Papa gantikan posisinya" Lanjut Papa.


"Selamat ya Pa" Ucapku.


"Nanti kita di sana dua hari. Hari pertama kita ke rumah atasan Papa. Ada acara kecil-kecilan di sana. Lalu besoknya kita keliling, kita cari teman kamu siapa namanya?"


"Rania"


"Ya itu, Rania. Siapa tahu atasan Papa pernah melihat, atau bahkan kenal"


Rania, Papa masih mengingatnya. Papa masih menyimpan keinginanku yang waktu itu belum terpenuhi. Kami pernah akan bertandang ke Jakarta, namun akhirnya kami terdampar di Semarang. Tapi dia tidak mengesampingkan keinginanku itu. Keinginanku tetap menjadi cita-citanya yang akan ia wujudkan suatu hari nanti. Jika tak mampu saat ini, akan dicoba lagi lain hari.


Aku berhambur ke pelukannya. Aku tak mampu berkata. Aku tak bisa memilih kata yang tempat untuk meluapkan bahagiaku. Aku bahagia. Aku terharu. Rania, semoga benar kamu ada di Jakarta. Seperti informasi yang kutahu sejak awal.


***


Jakarta.


Ternyata benar berita yang kerap kudengar. Jakarta tak pernah lengang. Selau penuh sesak. Udara panas, macet, padat merayap adalah hal yang lumrah. Meski tenga malam kami berangkat, tetap saja terjebak macet. Jakarta tak pernah tidur. Begitu kata orang.


Subuh kami sampai di sebuah penginapan yang tidak terlalu ramai, sebab Monica harus bisa tidur nyenyak. Sepanjang jalan anak itu tertidur di pangkuanku. Semakin besar dia semakin menggemaskan. Monica sering menyambutku saat pulang sekolah, terkadang juga mencorat coret bukuku. Polah tingkahnya selalu mampu meredam emosiku. Dia yang belum fasih dalam berbicara, memanggilku dengan sebutan 'Aca'. Biarlah. Aku suka dipanggil begitu. Kami punya waktu sampai jam 8 pagi untuk istirahat. Sebab kami harus ke rumah atasan Papa jam 9 pagi.


Jakarta, begini udaranya waktu pagi. Sama segarnya dengan udara Semarang. Mungkin karena penginapan ini bukan di jantung kota. Kami harus berterima kasih pada Pak Arif, rekan kerja Papa yang membawa kami kemari sekaligus memberikan tumpangan kendaraan. Ya, tentu saja karena kami belum punya mobil. Pak Arif juga yang merekomendasikan Papa untuk menduduki jabatan di Jakarta ini.


"Ros, jaga Monica, ingat tugasmu menjaga Monica, jangan macam-macam apalagi bikin malu. Kalau bukan karena jaga Monica, kamu tidak akan di sini" Bisik Mama sebelum kami masuk mobil.


Ya ya, aku sadar, aku bukan bagian dari keluarga ini menurut Mama. Aku hanyalah sekelas pembantu rumah tangga. Tidak seharusnya aku menikmati pesta bersama mereka.


Rumah atasan Papa ada di Jakarta Utara, begitu Pak Arif menyebutnya. Tidak sampai sejam kami sudah ada di depan rumahnya. Luas, estetik, asri dan mewah. Itu kesan pertama aku melihat rumah ini. Di sana sini ada karangan bunga. Ucapan selamat atas pembukaan perusahaan cabang. Ya, sudah kuduga acara ini bukan untuk menyambut Papa. Tentu saja, Papa hanya bawahan yang sebentar lagi naik pangkat. Banyak makanan dan minuman di rumah ini. Orang-orang memakai pakaian pesta seperti keluarga kami. Yang membuat lebih meriah lagi, live music dari artis Ibukota. Katanya begitu, tapi aku belum pernah melihat penyanyinya di televisi.


Kami sampai kepada sepasang suami istri di sebuah meja. Menurutku mereka tuan rumah, atasan Papa. Pemilik perusahaan di Jakarta yang nanti akan Papa tempati.


"Pak Hamdani, selamat atas pembukaan cabang barunya" Ucap Pak Arif.


"Oh terima kasih Pak Arif, semua tak lepas dari jasa Pak Arif juga" Jawab seorang pria yang disebut Pak Hamdani.


"Oh iya, ini Pak Hartono" Lanjut Pak Arif.


"Oh Pak Hartono. Selamat bergabung dengan perusahaan di Jakarta. Saya sudah dengar kinerja Anda dari Pak Arif. Sebenarnya saya ingin Anda memimpin cabang di Semarang itu, tapi bagaimana lagi, posisi di Jakarta membutuhkan pengganti segera. Saya belum bisa percaya dengan orang baru, jadi saya memilih Anda untuk menduduki posisi itu" Jelas Pak Hamdani.


"Terima kasih atas kepercayaan Bapak. Semoga saya bisa menjalankannya dengan baik" Sambut Papa.


"Tentu saja"


"Oh ini, istri saya, anak saya yang pertama, dan anak saya yang kedua" Papa mengenalkan kami.


Aku bersyukur Mama tidak bereaksi saat Papa mengenalkanku sebagai anak pertamanya. Tentu saja dia harus jaga sikap berada di pesta orang kaya yang merupakan bos dari suaminya.


"Oh cantik sekali. Silahkan duduk" Giliran Nyonya Hamdani yang berbicara.


Kami duduk di kursi yang disetting melingkar dengan alas meja warna putih. Elegan, seperti yang kulihat di televisi.


"Ros, bawa Monica jalan-jalan" Bisik Mama.


Dengan senang hati aku mengangguk. Jauh lebih senang aku membawa Monica pergi ketimbang duduk bersama mereka yang penuh basa basi. Monica yang berusia 3 tahun sudah mampu berkomunikasi meski sederhana. Ia memintaku menemaninya ke sebuah air mancur yang sedari tadi dia perhatikan. Monica menyukai ikan koi di dasar kolam air mancur. Jangankan Monica, aku yang sudah duduk di bangku SMP saja menyukai air mancur ini.


Monica lantas berlari, dan aku harus mengejarnya segera sebab tak jauh dari keberadaan kami ada kolam renang yang menurutku dalamnya seukuran dada orang dewasa. Monica menuju ruangan yang lebih dalam, dan aku segera mengejarnya untuk mencegahnya masuk lebih dalam lagi. Monica berhenti pada aquarium super besar di ruangan itu. Dia memang menyukai ikan. Monica sampai melongo melihat indahnya aquarium itu.


Tok...tok...tok....ada suara langkah kaki bersepatu hak tinggi menuruni tangga yang tak jauh dari aquarium berada. Aku segera membujuk Monica untuk segera keluar, aku takut disangka pencuri. Sayangnya Monica tidak mau. Dan jika aku memaksanya,dia bisa menangis. Kalau sudah menangis masalah akan tambah kacau. Lagipula kalau kami tiba-tiba berlari keluar, tentu akan lebih mencurigakan. Akhirnya kubiarkan Monica menikmati pemandangan di depannya. Dan aku menjaganya di belakangnya.


Suara langkah kaki semakin dekat. Dan aku mendengar begitu dekat dengan posisi kami. Terpaksa aku berdiri dan menghadap pemilik kaki itu untuk meminta maaf atas kelancangan Monica masuk ke ruangan ini. Aku berbalik badan. Seorang perempuan seusiaku berada di tangga paling bawah. Tangannya bahkan masih memegang pagar tangga. Dia ada di sini. Alasan kuatku untuk mengunjungi Monas. Dai di depanku sekarang. Aku terpaku melihatnya. Dia pun demikian. Kami saling memandang. Tak mampu mengeluarkan satu huruf pun. Kami sekarang berhadapan. Dia. Yang kurindukan selama ini.


***