My Name Is Rose

My Name Is Rose
Pembicaraan



Mobil membawaku menuju Jakarta. Kondisiku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Hanya saja mungkin aku perlu banyak istirahat dan banyak makan. Pertama-tama mobil membawaku ke klinik milik First University untuk diperiksa lebih lanjut. Di sini saja sudah banyak yang menyaksikan. Mereka semua rata-rata penasaran dengan peristiwa yang menimpaku.


Wartawan tak melewatkan kesempatan ini. Mereka hadir bahkan sebelum aku datang. Tentu saja aku dihadirkan dalam konferensi pers yang diadakan oleh First School. Namun hany sebentar. Mereka hanya ingin mengambil gambarku dan memberikan sedikit pertanyaan. Selebihnya ditangani oleh ketua yayasan dan jajaran pengurus sekolah.


Cukup lama aku di klinik First. Tentu saja ditemani oleh Alanta. Kami tidak hanya berdua. Teman-teman Alanta yang respect turut hadir. Kepala Sekolah kemudian mendatangiku setelah sesi konferensi pers selesai.


"Apa kamu sudah bisa cerita?" Tanya Kepala Sekolah.


Aku mengangguk.


"Sebelum yang lain bertanya, ceritakan dulu pada Ibu, bagaimana kamu bisa hanyut seperti itu. Apakah tidak ada pengawasan dari panitia?" Tanya Kepala Sekolah.


"Aku terperosok sewaktu akan kembali ke tenda Bu" Jawabku.


Aku sengaja tidak membeberkan tentang Clara. Kupikir menyebut namanya bukan mengentaskan masalahku. Tetapi justru memperkeruh. Buka karena aku terlalu baik, tapi aku tahu konsekuensinya. Bahwa orang tua Clara tidak akan tinggal diam. Mereka terlalu kuat untuk kulawan. Maka aku akan menggunakan cara lain.


"Kembali ke tenda? Untuk apa?"


Aku bingung menjawab. Tapi aku harus pandai menutupi agar tidak terlihat sedang berbohong.


"Sakit perut Bu, saya mau ambil obat di tenda"


"Kenapa tidak minta bantuan panitia?"


Kepala sekolah mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.


"Tidak kepikiran Bu" Menurutku itulah alasan yang paling tepat.


Ibu Kepala Sekolah menghela nafas berat.


"Jadi, bukan kesalahan panitia dan bukan kesalahan pihak sekolah?"


Aku mengangguk.


"Baik, jadi jelaskan itu pada wartawan dan yayasan jika ditanya, jangan sampai ada anggapan karena kelalaian sekolah"


Aku mengerti. Kejadian seperti ini akan menyeret nama sekolah. Apalagi dilaksanakan pada saat kegiatan sekolah. Kejadian penculikan yang menimpaku sudah cukup menjadi sorotan untuk sekolah. Kejadian seperti ini bisa saja mempersurut kepercayaan masyarakat terhadap kualitas sekolah. Kredibilitas sekolah juga akan dipertanyakan.


Setelah Kepala Sekolah, Ketua Yayasan bersama jajaran pengurus datang menemuiku. Bu Mariana, Ibu Alanta yang juga ketua Yayasan, memandang kesal pada anaknya. Tentu saja. Orang tia mana yang rela anaknya selalu dekat dengan masalah, dan mempedulikan teman gadisnya sebegitu dalamnya.


"Selamat siang Rosa, bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Ketua Yayasa


"Sangat baik Bu, saya bisa pulang sekarang Bu?"


"Tentu saja. Tetapi kita perlu bicara"


Mendengar kalimat itu aku gugup. Apa yang akan beliau bicarakan, kurasa hal yang tidak mengenakkan.


"Bagaimana kejadian itu bisa terjadi?"


"Semua murni karena kesalahan saya Bu, saya kembali ke tenda tanpa ijin ke panitia. Saya tidak tahu arah dan saya terperosok" Jawabku singkat.


"Benar begitu? Tidak ada yang kamu sembunyikan?"


Aku menggeleng.


"Baik, jawaban kamu kami simpan. Saya harap kamu tidak melakukan hal bodoh lagi. Lihatlah, First Internasional School yang selama ini adem ayem, dalam dua bulan mendapatkan peristiwa yang mengejutkan"


Aku paham. Sekolah sudah cukup repot mengurus kejadian penculikanku, dan sekarang harus menghadapi kasus dengan korban yang sama.


Sesaat kemudian Ketua Yayasan diikuti oleh jajaran pengurus, meninggalkan kamarku. Aku menunggu Alanta datang dan membawaku pergi dari sini. Tetapi sampai cukup lama Alanta belum juga datang. Hal ini kemudian memaksaku keluar memeriksa.


"Alanta sudah delapan belas tahun, Alanta berhak menentukan jalan Alanta sendiri" Suara Alanta.


"Iya tapi bukan berarti kamu tidak membutuhkan pantauan orang tua. Bunda sudah tua, Bunda pernah mengalami usia kamu tapi kamu belum pernah mengalami usia Bunda. Karena itu Bunda harus mengarahkan hidup kamu agar tetap pada jalan yang benar"


"Bun ..menolong teman apakah jalan yang salah menurut Bunda?"


"Bukan begitu nak. Lihat dong dampaknya. Kamu rela gak pulang demi mencari anak itu. Kemarin kasus yang dulu menyeret kamu dalam masalah besar"


"Trus kenapa? Alan dikenal menjadi anak yang pemberani, bertanggung jawab...."


"Jangan sok jadi pahlawan Alan. Ingat masa depan kamu. Apakah masa muda kamu dihabiskan hanya untuk gadis itu?"


"Gadis itu punya nama Bun"


"Kamu suka sama dia?"


"Apaan sih Bun"


"Kami sudah janji ya sama Bunda gak pacaran sampai lulus"


"Iya ingat"


"Lalu sekarang. Kamu terlalu dekat lo dengan Rosa, hargai dong perasaan Clara"


"Kenapa bawa-bawa Clara sih Bun"


"Mamanya Clara itu deket banget sama Bunda kamu tahu kan?"


"Dan Bunda korbankan Alanta demi hubungan Bunda dengan Tante Hamdani?"


"Bukan begitu Alan...."


Prangg....aku menjatuhkan wadah alumunium dan menimbulkan suara bergemuruh. Aku segara pergi menyembunyikan diri. Sangat tidak etis jika aku ketahuan menguping.


Jadi benar jika keluarga Alanta dan Clara sangat dekat. Dan bisa jadi juga suatu ketika mereka akan dijodohkan seperti yang Clara katakan. Sungguh aku merasa kerdil setelah mendengar pembicaraan itu. Setidaknya aku tahu Bu Mariana tidak terllau menyukaiku. Lantas kenapa aku mempertahankan hubunganku dengan Alanta yang tidak jelas. Sampai sekarang lun statusku masih belum pasti. Siapa aku bagi Alanta.


Dinda datang dari kejauhan membuyarkan lamunanku. Sekonyong-konyong dia mendekatiku. Dia membawakan banyak sekali snack dan buah.


"Kok bisa sih kamu terperosok sampai hanyut gitu. Lo yakin terperosok sendiri gak ada yang nyelakain lo?" Tanya Dinda setelah kami duduk bersama.


Aku tidak menjawab, aku justru sibuk menikmati roti pemberian Dinda.


"Clara? Ah gak mungkin, soalnya pas kejadian itu Clara full di acara"


Bagaimana bisa? Dia sudah mengatur segalanya dengan rapi. Sampai tidak ada yang tahu saat itu dia bersamaku keluar dari kegiatan. Darimana dia belajar menjadi seorang pembunuh.


"Ros, lo yakin? Gak ada orang disana?"


"Aku gak inget apa-apa Din. Kayaknya emang aku terperosok sendiri"


"Kayaknya?"


Aku tahu Dinda tidak akan percaya begitu saja. Dia anak yang teliti. Dia mencurigai sesuatu apalagi ketika aku tidak menjawab apa-apa. Dia tahu aku menyembunyikan sesuatu.


Aku berharap tidak ada lagi yang membahas ini dan bertanya padaku siapa yang melakukan itu padaku. Aku ingin peristiwa ini tenggelam oleh masa. Aku ingin Clara merasa aman sampai aku menemukan cara yang tepat untuk membuatnya jera.


***