
Ini hari minggu. Aku bersyukur atas adanya hari Minggu. Terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur. Hari Minggu ini aku tidak keluar rumah. Aku masih menunggu. Menunggu Papa keluar dari kamarnya. Semalaman dia mengunci pintu di kamar. Semoga saja dia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.
Aku tahu betapa remuknya dia ketika menyadari bahwa sekarang dia tidak memiliki kekuatan. Sampai harus anak kecil ini yang menanggung semuanya. Aku tahu betapa terkoyaknya hatinya. Tapi dia juga harus sadar. Bahwa diantar kami harus bekerja. Dan yang sehatlah yang harus melakukan itu. Dia tidak perlu mempertahankan gengsinya.
Aku duduk di lantai. Tepat di seberang kamar Papa. Aku tak berani lagi menggedor pintunya. Semalaman aku pun tidak bisa tidur nyenyak. Aku tidur di sofa depan kamar Papa. Aku hanya memastikan tidak ada yang terjadi di kamar Papa. Itu saja.
Kreeek....Papa membuka pintu. Aku berdiri memandangnya. Dia ada di tengah-tengah pintu. Kedua tangannya membuka. Sebagai tanda menyuruhku memeluknya. Aku segera menghambur padanya. Kutumpahkan segala tangisku di sana. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku begitu khawatir jika Papa sakit lebih parah lagi karena ucapanku semalam. Lebih khawatir lagi jika Papa melakukan hal bodoh karena putus asa. Aku menangis haru. Aku bersyukur Papa masih mampu berpikir jernih.
"Maafin Rosa Pa ..Maafin Rosa " Kataku sambil terus menangis. Aku tidak bisa mengucapkan kalimat lain selain maaf.
"Tidak Nak. Papa yang minta maaf. Papa terlalu sensitif tadi malam. Papa terlalu dalam mikirnya Nak... Kapan kamu mulai kerja?"
Aku mengangkat kepalaku. Apakah ini artinya Papa setuju jika aku bekerja?
"Rosa boleh kerja?" Aku memastikan.
"Ya, Papa sadar, saat ini Papa butuh kamu. Kita memang butuh biaya untuk tetap hidup. Maaf, Papa merasa begitu lemah, sampai harus mengorbankan waktumu. Kita harus bangkit seperti yang selalu kamu bilang ke Papa"
Aku membenamkan kepala di pangkuannya. Aku berterima kasih sedalam-dalamnya. Bagaimanapun ijinnya begitu berharga demi kelancaran tujuanku.
"Jika Papa sudah kerja nanti kamu bisa kembali ke panti"
"Tidak Papa....tidak....jangan kembalikan Rosa ke panti...Rosa akan menemani Papa terus...sampai Rosa dewasa nanti...ya!"
"Kamu seharusnya belajar Nak, bukannya ngurusin orang lumpuh"
"Tapi aku senang melakukannya Pa. Aku senang merawat Papa...siapa tahu justru itulah yang memberikan hikmah terbaik buat Rosa"
"Maafin Papa ya Nak..."
Aku tidak menjawab. Hanya membenamkan wajahku di kedua tangannya.
"Kalau bisa, bekerjalah setelah ujian selesai"
Aku hampir lupa bahwa seminggu lagi aku ujian kenaikan kelas. Nilai ujian ini akan sangat menentukan pendidikanku tahun depan. Nilaiku mungkin bisa kuajukan untuk mendapat beasiswa atau keringanan lainnya. Aku tidak boleh terlalu sombong meski dalam semester sebelumnya aku memperoleh nilai tertinggi di kelas bahkan peringkat kedua secara paralel. Alu tetap harus belajar. Menghafal rumus, menghafal materi, menyelesaikan soal, tidak boleh ditinggalkan. Aku harus bersungguh-sungguh.
"Mamamu...Papa ikhlas jika dia tidak kembali. Semoga mereka berdua baik-baik saja. Papa tidak ingin terlalu bergantung dengan Mamamu. Biarlah kita bertahan sekuat tenaga. Papa juga akan mencari cara untuk bisa kerja"
Kembali kupeluk Papa. Aku bangga padanya. Dia bisa berpikir sebijak itu dalam keadaan sakit begini. Dia begitu sabar menghadapi ujian hidup ini. Orang seperti ini yang kubutuhkan untuk membangkitkan kembali semangatku yang naik turun. Pahlawanku, semangatku, separuh jiwaku.
Pagi ini burung berkicau dengan indahnya. Burung itu bertengger di pohon belakang rumah. Seolah dia tahu bunga yang sedang mekar di dalam rumah. Nyanyiannya seperti simfoni lagu yang indah.
***
Kembali kulihat Clara sendirian. Di telinganya terpasang headset. Rambut hitamnya terurai panjang bergoyang-goyang oleh hembusan angin. Dia masih cantik. Bahkan semakin cantik karena terawat. Dia sedang membaca sesuatu. Mumpung dia sedang sendiri, aku menghampirinya. Kukumpulkan segala keberanianku untuk menemuinya. Hal yang selalu ingin kulakukan dari dulu, namun aku tak berani melakukannya.
"Hai" Sapaku.
Clara melirik ke arahku. Dia mungkin heran karena aku berani menghadapinya. Dan tanpa meminta ijin, aku duduk di depannya.
"Kenapa?" Clara bertanya dengan datar. Tak apa. Aku bisa menahan diri.
"Gimana ujiannya? Lancar?"
"Nggak usah basa basi. Ngomong aja mau apa?" Clara masih belum melihatku. Dia masih sibuk membolak balikkan buku di tangannya.
"Aku mau ngucapin makasih soal...."
Belum selesai aku bicara, Clara menyahut.
"Aku nggak ngelakuin itu karena tulus kok. Aku cuma balas budi soal ujian waktu itu" Kata Clara tetap tidak melihatku.
"Iya, bagaimanapun aku berterima kasih ke kamu karena tanpa kamu bantu aku mungkin tidak lagi sekolah di sini"
"Bagus lah kalo kamu nyadar. Hati-hati, bisa jadi aku membuat kamu tidak bisa sekolah lagi. Jadi jangan terlalu pede" Kali ini Clara melirikku.
Aku masih mencerna kalimat itu. Aku belum paham maksudnya. Tapi tentu hal yang tidak baik.
"Jangan sok bantuin aku lagi. Aku bisa tanpa kamu bantu" Clara meninggalkanku sendirian.
Dia masih sama. Kupikir dia sudah menyadari persaudaraan kami. Ternyata tetap sama. Dia tetap Clara yang terdoktrin oleh keluarganya. Dia adalah Clara dan bukan lagi Rania. Kenapa Ran? Kenapa kamu begitu? Jangan gantung aku dengan hutang budi sebesar itu. Itu sungguh menyiksaku.
Tak terasa titik-tirik air menetes di pipiku. Aku menitikkan air mata namun cepat-cepat kuhapus. Aku tidak ingin menimbulkan pertanyaan besar bagi siapa saja yang melihatku, terutama Dinda. Aku tak ingin Dinda tahu yang sebenarnya. Sejauh ini Dinda belum tahu bahwa Clara juga adalah anak angkat yang diadopsi dari panti asuhan yang sama denganku. Bahwa nama aslinya adalah Rania. Bahwa dulu dia selalu berlindung di balik punggungku. Dan sekarang berubah.
Bagaimanapun aku dekat dengan Dinda, aku tak ingin menghapus setitikpun kenanganku dengan Rania. Aku menghargai Dinda. Tapi aku menyayangi saudaraku Rania. Aku membantu Dinda sekuat tenaga, tapi aku ingin Rania juga mendapat kesuksesan yang sama.
Bress..hujan turun dengan tiba-tiba sampai aku harus segera berlindung di teras. Hujan datang seperti anak kecil yang menangis karena mainannya rusak. Seolah dia tahu, ada hati yang tergores tercabik-cabik. Seolah dia ingin melindungi gadis kecil yang sedang menangis. Agar air matanya bercampur dengan air hujan dan mengalir membawa gundah pergi mengikuti aliran air hujan di genangan tanah.
***