
"Semua aturannya ada di sini. Ngerti ya?"
"Ya Mbak, ngerti"
Hari ini aku mulai bekerja. Setelah ujian selesai, aku langsung menghubungi nomer hape yang diberikan si Abang tukang ojek kala itu. Aku bekerja di sebuah outlet produk susu. Ada minuman susu, biskuit, susu siap minum dan cemilan. Produk ini cukup ramai di pasaran jadi aku yakin akan mampu menjalankan dengan lancar.
"Mari Mas...Mbak...susunya...ada biskuit cokelat juga. Fresh milk juga ada ..mari silahkan. Lihat-lihat dulu boleh" Aku menawarkan pada orang-orang yang lewat.
Beberapa orang mulai tertarik dengan outlet ini. Beberapa justru membeli dalam jumlah yang banyak. Aku berinisiatif menggelar tikar kecil untuk para pelanggan yang ingin minum di tempat. Dari pagi sampai sore aku menjaga outlet. Cukup membuat capek. Tapi aku suka. Untuk mampu memenuhi kebutuhan keluarga memang harus begini. Aku harus semangat.
Fix, selama liburan kuhabiskan untuk berjualan. Bahkan aku menolak ajakan Dinda untuk sekedar main di rumahnya. Jika aku mampu menjual banyak produk, maka aku akan mendapat bonus. Aku harus semangat, sekali lagi, harus.
"Capek Ros? Teh anget dulu" Kata Papa begitu aku pulang kerja.
Senangnya hatiku melihat Papa membawakan teh hangat dengan satu tangan.
"Papa bisa buatin teh buat aku?" Tanyaku.
"Ya sedikit-sedikit bisa lah" Kata Papa dengan bangganya.
"Makan dulu Pa, nih Rosa bawakan nasi goreng"
Kami menikmati nasi goreng berdua, di teras yang sejuk ini. Sebentar lagi petang, kami menyempatkan waktu menikmati sore hari ini. Tentunya sambil ngobrol ringan. Akhirnya, hidup kami berjalan normal. Dengan kondisi Papa yang seperti itu, tidak mempengaruhi kehidupan kami. Semua tampak biasa saja. Normal.
Ketika liburan berakhir, aku harus mengatur jadwal lagi. Tak kusangka ternyata Dinda masih membutuhkan bimbinganku. Jujur saja, Mamanya Dinda memberiku upah yang lumayan. Jadi pekerjaan ini sulit untuk kutinggalkan. Tapi aku juga harus mengatur waktu agar tetap bisa bekerja di outlet susu. Untunglah pemilik outlet masih menerima alasanku. Lagipun, selama liburan aku sudah memberikan laba yang cukup banyak baginya. Banyak produk yang terjual. Bahkan sering kehabisan. Entah apakah aku yang membawa hoki, atau tempat itu yang memang ramai. Apapun itu,ini awal hidupku yang baru.
Memasuki kelas tiga SMP membuatku semakin dewasa. Entahlah, mungkin karena tempaan hidup yang cukup dalam, hingga membuatku harus lebih dewasa dari umurku yang sesungguhnya. Hidup berdua dengan Papa membuatku serasa sempurna. Aku tak perlu lagi khawatir ketika pulang ke rumah. Aku tak perlu lagi menahan sakit karena umpatan yang Mama berikan. Juga taj perlu mencari-cari alasan jika pulang telat. Karena toh semua alasan itu tetaplah salah di mata Mama. Tapi aku merindukan Monica. Anak itu, bagaimana kabarnya. Dia masih sangat polos. Dia begitu tulus menyayangiku, seperti aku menyayanginya.
Aku meletakkan tasku di kursi sambil merebahkan punggung saat kulihat Papa sedang menyiram bunga di taman belakang rumah. Aku melihatnya dari sela-sela jendela ruang tengah. Aku berdiri menghampirinya. Dia sudah bisa melakukannya sendiri. Kudengar dia bernyanyi ringan. Aku senang melihat dia seperti itu. Damai, tenang, dan menerima hidupnya dengan bijak.
"Ros, sudah pulang?" Tanya Papa sambil terus menyirami bunga.
"Papa banyak kemajuan ya sekarang" Komentarku.
"Iya dong...anak Papa semangat kerjanya, Papa juga harus semangat sembuhnya"
Aku tersenyum.
"Ros, kalau kamu punya uang, Papa mau terapi teknologi, bagaimana"
"Bagus itu Pa, ada kok..."
"Papa coba yang murah dulu, yang penting teratur"
"Tapi obatnya tetap diminum ya Pa"
"Iya... bu dokter"
Kami tertawa terkekeh. Yang seperti ini yang kumau. Keluarga yang seperti ini yang kuimpikan. Sejak dulu.
"Sudah banyak berubah ya" Sosok itu tiba-tiba muncul. Dia berdiri di pintu melihat kami yang sedang tertawa bersama. Aku tidak membayangkan hari ini akan terjadi. Tak kusangka setelah delapan bulan dia kembali. Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Kami sudah membiasakan diri tanpa dia, disaat kami sudah terbiasa, dia kembali.
"Kak Rosa!!!!!" Monica menghambur ke arahku. Aku memeluknya erat. Aku merindukannya. Sampai air mataku tak sanggup kutahan.
"Bik Sul mana? Suruh dia nyiapin air hangat buat Monica mandi" Kata Mama.
"Bik Sul...sudah tidak bekerja di sini Ma" Jawabku ragu-ragu.
Mama menoleh ke arahku.
"Kenapa?"
"Uang kami sudah habis untuk berobat Papa" Jawabku lagi.
"Baguslah. Kita memang tidak perlu mempekerjakan pembantu. Toh kamu bisa melakukannya sendiri"
Apa maksudnya? Apakah ia kembali akan menjadikanku seperti pembantu lagi begitu? Lalu apa tugasnya? Tiduran sambil baca novel? Memangnya dia bisa mengurus Papa sendirian?
Makan malam. Ini untuk pertama kalinya kami makan malam satu keluarga. Untuk menyambut kedatangan Mama kembali, Papa memesan sejumlah makanan dari warung. Monica tampak begitu selera dengan hidangan yang kami sajikan.
"Aku akan mengambil kerja lagi Mas" Kata Mama kepada Papa di tengah-tengah makan malam.
"Oh ya? Dimana?"
"Agensi"
Papa terbatuk-batuk seketika. Aku masih belum paham apa itu agensi. Aku mengambilkan air putih untuk Papa.
"Sebentar, kenapa tangan kirimu Mas? Sepertinya ada yang beda" Mama menyadari sesuatu.
"Papa mengalami gejala stroke Ma. Tangan kirinya tidak berfungsi" Aku menjawab saja.
Mama seketika menghampiri Papa. Dia menyentuh tangan kiri Papa sambil mengelus-elus. Drama apa yang sedang kulihat. Sekarang dia begitu peduli seolah menyesal karena meninggalkan suaminya begitu lama.
Tut tuuut....hape Mama bergetar. Ada telepon dari seseorang sehingga Mama harus menjauh untuk menerimanya. Tak berapa lama Mama kembali dengan wajah berbunga-bunga.
"Pa...mulai besok Mama sudah bisa kerja" Kata Mama setelah kembali dari menerima telepon.
Wajah Mama yang bahagia tak disambut dengan perasaan yang sama oleh Papa. Tampak Papa tidak begitu senang menerima kabar ini.
"Kenapa terburu-buru Ma, Mama kan baru saja datang" Kata Papa.
"Iya Pa, memang sudah ditentukan waktunya"
"Agensi mana Ma? Apa nggak ada lowongan lain?"
"Mas Pram yang memberikan tawaran. Ingat kan Pa, teman SMP Mama, dia mengelola agensi dan menurutnya penampilan Mama masih good looking untuk menjalani photoshoot"
"Pram? Pramudya?" Papa tampak terkejut mendengar nama itu.
"Heem... Bayarannya lumayan. Kita bisa mengembalikan apa yang sudah hilang dari keluarga kita" Kata Mama mengakhiri.
Barulah aku paham. Mama akan menjadi model. Usianya yang sudah kepala empat tapi tubuhnya masih langsing semampai. Tinggal dipoles sedikit, Mama sudah seperti remaja belia usia dua puluhan. Dia masih sangat cantik. Dia memang masih pantas menjadi seorang model. Tapi melihat gelagat Papa yang justru tidak menghendaki, kurasa ada sesuatu yang tidak baik menurut Papa. Ah, aku tidak terlalu peduli dengan itu. Yang ingin kutahu adalah, apakah hasil dari Mama itu juga diperuntukkan untukku? Apakah aku sudah boleh berhenti kerja?
***