
Lomba Karya Ilmiah Remaja tinggal seminggu lagi. Naskah sudah siap untuk dipresentasikan. Tugasku cukup sampai di sini. Untuk selanjutnya, Kak Panji dan dua anak lain yang harus mempersiapkan diri untuk presentasi dan menjawab semua pertanyaan dari juri.
Aku bermaksud segera pulang setelah sekolah. Pertama karena tugasku sudah selesai, kedua karena aku takut mendapat hukuman seperti semalam. Masih kuingat panasnya cambukan tongkat Mama biarpun ukurannya kecil.
"Ros!!" Seseorang memanggilku dari belakang. Kak Panji.
Aku terus melangkah walau kupelankan langkahku. Kak Panji setengah berlari ke arahku.
"Mau kemana?" Tanya Kak Panji.
"Pulang Kak"
"Loh, koordinasi dulu di ruang KIR, ditunggu anak-anak" Kata Kak Panji.
"Lah kok tidak ada pemberitahuan sebelumnya"
"Gak semua kok Ros, cuma tim utama ditambah kamu sama Dio"
"Agendanya?"
"Persiapan penilaian sama pematangan"
Aku berpikir sejenak tentang baik dan buruknya, penting dan tidaknya, serta konsekuensinya.
"Maaf Kak, untuk kali ini aku gak bisa. Kemarin-kemarin udah pulang sore. Bahkan pas yang lain udah pulang, aku masih nemenin kalian kan nyusun laporannya" Kataku.
"Iya, tapi ini kita tinggal seminggu lagi loh, udah harus mateng persiapannya"
"Coba ajak yang lain aja, aku beneran gak bisa" Aku hendak melangkah tapi buru-buru Kak panji memegang lenganku untuk mencegahku pergi.
"Auuu!!" Aku meringis kesakitan sebab Kak Panji memegang tepat di lengan yang terkena cambukan Mama.
"Eh kenapa Ros?" Tanya Kak Panji terkejut.
"Eh gak, gak papa" Aku berbalik badan dan berjalan meninggalkan Kak Panji, tapi ternyata dia tetap mengikuti.
"Aku terlalu keras pegang lengan kamu?? Ros...Ros..." Kak Panji berusaha mencari jawaban.
"Gak papa Kak, aku buru-buru mau pulang" Kataku sambil berlalu.
"Bener gak papa? Atau kamu jatuh?" Kak Panji berusaha menyejajarkan posisi kami.
"Nggak Kak....aku buru-buru"
Tampaknya Kak Panji mulai lelah bertanya. Dia berhenti sejenak, tapi aku yakin dia belum pergi dari tempatnya semula. Dia masih memandangku. Masih memperhatikanku dari jauh. Tapi aku tetap melangkah pergi.
Aku sampai di rumah tepat waktu. Ayo kerja Rosa, jangan cari masalah, batinku. Aku mengangkat jemuran di luar sebelum masuk ke dalam rumah. Begitu masuk ke dalam pintu belakang, aku melihat motor Papa di garasi belakang. Papa pulang padahal bukan hari Minggu. Ada semacam angin segar merasuk ke tubuhku. Pelindungku sudah datang.
Kulihat Papa sedang bermain dengan Monica. Terdengar tawa riuh Monica yang girang. Mereka terlihat bahagia. Inilah kiranya kata orang, seorang anak selalu mempu meredam letih orang tuanya. Aku tak tahu dimana Mama. Yah, pasti tidur atau sedang rebahan. Apa lagi.
"Pa .. sudah lama?" Tanyaku menyambut kedatangannya.
"Eh, Ros, baru pulang?" Tanya Papa balik.
"Makan dulu, baru lipat baju" Kata Papa.
Aku mengangguk. Segelas teh sudah ada di meja makan. Dari wadahnya, itu bukan milik Papa. Biasanya Papa menggunakan gelas alumunium dengan ukuran besar. Yang kulihat ini menggunakan gelas susu yang biasa kuminum.
"Ros!! Papa buatkan teh hangat, minum sebelum dingin ya!!" Teriak Papa dari ruang tengah.
Aku tersenyum. Papa baru pulang sudah membuatkan teh untukku. Kuseruput teh manis buatan Papa. Hangat dan nikmat menerobos dadaku. Kepalaku serasa terangkat. Kuhabiskan semuanya tanpa sisa. Sebab tidak terlalu panas. Mungkin sudah dari tadi Papa membuat teh ini.
Malam begitu cepat tiba. Monica sudah tidur sejak maghrib, Mama sedang keluar belanja bulanan di minimarket. Papa sedang bekerja di balik laptop di ruang tengah. Aku sedang menyetrika baju. Rutinitas setiap malam tanpa libur.
"Gimana sekolahmu Nak?" Tanya Papa sambil mengambil minum di kulkas.
"Lancar. O ya Pa, minggu depan Rosa ikut lomba Karya Ilmiah Remaja di Kota" Kataku sambil terus menyetrika.
"Wih, hebat ya anak Papa. Selamat ya Ros" Kata Papa.
Papa menepuk bahuku. Secara tak sengaja Papa menepuk lenganku sehingga aku mengaduh karena refleks.
"Kenapa Ros?" Papa terkejut, sama terkejutnya dengan Kak Panji.
"Gak Pa, gak papa" Jawabku segera.
Papa tidak percaya begitu saja. Dia menarik lengan bajuku.dan dia melihat garis bekas cambukan itu. Pandangannya berubah tajam. Ia menatap tajam bekas luka di lenganku.
"Ros....Mama yang melakukannya?" Tanya Papa serius.
Aku tidak menjawab. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku takut salah. Menjawab iya, akan kena masalah lebih besar lagi, menjawab tidak pun aku bingung mencari alibi lain.
"Keterlaluan" Papa hendak pergi menjemput Mama untuk menanyakan hal ini.
"Pa..Pa...jangan Pa!!" Aku buru-buru mencegahnya. Aku tidak ingin ada prahara yang lebih besar di rumah ini. Aku tahu maksud Papa melindungiku, Papa ingin memberikan efek jera pada Mama agar tidak melakukan hal serupa. Tapi Papa tidak berpikir panjang. Tidak mungkin Mama jera dan berhenti menyiksaku, yang ada justru lebih dalam bencinya padaku.
"Ros, Mama sudah melakukan kejahatan ke kamu. Ini kejahatan lo Nak, Mama bisa dituntut atas kasus penganiayaan lo" Kata Papa dengan amarahnya.
"Sudah Pa, jangan. Mama baru kali ini pukul Rosa. Lagipula, kalau Papa sampai marahin Mama, bukannya Mama akan berhenti menyakiti Rosa, tapi sebaliknya. Rosa akan semakin dia benci. Mama akan semakin menyiksa Rosa. Sudah cukup, banyak hukuman yang Rosa jalani, Rosa tidak ingin menambah lagi. Rosa tidak ingin menambah ruwetnya hidup kita semua. Papa tolonglah Pa, Rosa bisa jaga diri Rosa. Jangan membuat Mama menganggap Rosa sebagai ancaman, sehingga rasa bencinya akan berkurang" Kataku memelas.
Semua yang kukatakan adalah benar. Aku tidak sedang menutup-nutupi sesuatu. Aku tidak sedang membela Mama atau membela Papa, sebab aku tahu, Papa selalu kalah dari Mama. Aku sedang membela diriku sendiri. Semua kulakukan demi melindungi diriku sendiri.
"Ya...Papa...Papa tidak bisa melindungi kamu Nak. Maafkan Papa" Papa mulai menunduk dengan segala rasa bersalah.
"Papa sudah melakukan banyak hal untuk Rosa" Kataku menenangkan.
"Papa janji, Papa akan lebih sering pulang, menjenguk kalian"
Aku mengangguk. Papa mengelus rambutku. Aku tahu gejolak yang memenuhi dadanya. Rasa bersalah, rada geram dan rasa tak berdaya menyeruak di hatinya. Dia sudah berusaha sangat keras untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik. Nyatanya pasangannya tidak mampu mengimbanginya. Mereka punya tujuan hidup yang berbeda. Mereka punya pandangan yang berbeda. Wajar jika mereka tidak mampu sejalan dalam perbuatannya.
Aku, orang lain di rumah ini. Aku tidak ingin membuat gaduh, membuat onar, membuat kacau apa yang sudah terjalin sebelum aku ada di sini. Andai saja aku punya pilihan, aku memilih untuk tidka diadopsi oleh mereka. Banyak keluarga yang mungkin bisa tulus mengadopsiku. Tapi aku yakin, Tuhan menempatkanku di sini dengan tujuan yang indah. Misalnya, menemukan Rania. Disadari atau tidak, keluarga ini membawaku pada Rania. Itulah yang kusyukuri selama ini.
***