My Name Is Rose

My Name Is Rose
Semarang



Semarang.


Apa yang kau pikirkan tentang Semarang? Lawang Sewu? Jawa Tengah? Blangkon? Kebaya kutubaru? Aku terpikirkan akan perilaku yang halus. Tutur bahasa yang sopan dan halus. Jowo kromo yang selalu digunakan. Sampai-sampai kosakatanya seringkali sulit diartikan karena tergolong bahasa Jawa kuno.


Perjalanan kami tanpa warna. Sebab sepanjang perjalanan aku dan Mama saling diam. Mama hanya bicara seperlunya dengan Papa. Itupun hanya yang berkaitan dengan Monica. Kami menyewa mobil charteran untuk perjalanan ini. Papa menikmati perjalanan dengan ngobrol bareng pak sopir. Sementara di bagian belakang, aku dan Mama membisu. Aku lebih senang mengalihkan pandanganku ke arah luar, menikmati setiap hal yang tersuguhkan di luar. Sejujurnya aku kasihan dengan Monica. Dia terlalu kecil untuk perjalanan panjang ini. Seringkali kulihat dia tidak nyaman. Tubuhnya selalu bergerak tak tentu arah.


Sampai di tujuan. Rumah Nenek berada di Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Rumah Nenek masih tergolong model rumah joglo. Hanya saja lebih modern. Pelatarannya luas, rumput hijau masih terhampar luas. Persis seperti balai desa yang sering kulihat. Sebab tidak memiliki pintu utama. Ruang tamu dibiarkan terbuka tanpa dinding. Inilah yang kumaksud mirip dengan balai desa.


Seperti saat perjalanan, di sini pun kami diam membisu. Nenek, Kakek, aku dan Mama diam seribu bahasa. Tapi aku bisa menerjemahkan ekspresi wajah Nenek. Dia begitu kecewa dengan kedatangan kami yang membawa seluruh barang kami. Yang artinya kami akan menumpang hidup di sini.


Sementara Papa, sedang mencoba berorasi di depan kedua mertuanya. Segala macam alasan diutarakannya. Mulai dari bangkrutnya perusahaannya, alasan kenapa aku ikut serta sampai kenapa harus pindah ke Semarang. Papa sedang berjibaku. Dan kami menjadi penontonnya.


"Bener to Pak e? Lelaki macam apa yang sekarang jadi mantumu? Kalau Arini kita kawinkan dengan pegawai negeri gak seperti ini ceritanya" Nenek berbicara dengan Kakek namun menyindir Papa.


Kulihat Papa menunduk. Hatinya pasti hancur dengan ucapan ini. Yang paling memalukan adalah, dia mengalami ini di depan anak kecil seperti aku.


"Bu, sudahlah" Pinta Mama


"Hmmm, Hartono, dari awal kamu melamar anak saya, kamu janji akan memenuhi semua kebutuhannya. Dari awal kamu juga tahu bahwa Arini sudah kami jodohkan. Lalu kamu berupaya meyakinkan kami, sampai akhirnya kami luluh. Lah sekarang bagaimana bisa seperti ini. Yaaa saya tahu semua mungkin sudah nasib, tapi sebagai laki-laki sejati kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. Usaha, bangkit, jangan diam saja" Kata Kakek, halus tapi cukup menyakitkan.


Dari apa yang dikatakan Kakek, sekarang aku tahu, posisi Papa semakin terjepit. Ternyata dulu cinta Papa tidak direstui, itulah kenapa Papa tidak bisa sedikitpun membantah ucapan keluarga Mama.


"Saya sedang berusaha Pak, saya mendapat panggilan interview di Jakarta, tetapi selama belum ada pengumuman, kami memohon untuk tinggal di sini sementara" Bujuk Papa.


"Hm, interview, interview opo? Perusahaan mana yang mau nerima kamu?" Kata Nenek.


Kakek menyenggol Nenek sebagai tanda untuk menghentikan ucapannya.


"Bu, Pak, berikan kesempatan untuk Mas Har. Saya yakin dengan pengalaman kerjanya, dia bisa diterima di perusahaan yang bagus. Dulu kami hidup kecukupan dengan pekerjaan Mas Har" Kata Mama.


Aku tak menyangka Mama akan membela Papa. Bukan hanya diam saja. Syukurlah.


"Hmm yo wes, kami beri kesempatan. Hanya satu bulan. Dalam satu bulan kalian harus segera memiliki tempat tinggal baru" Kata Papa.


"Pak? Bapak mengusir kami kalau sampai..." Belum selesai Mama bicara, Nenek menyela.


"He, Rin, laki-laki tidak pantas menumpang hidup pada mertua. Ngerti??"


Kaidah macam apa itu. Mereka menyudutkan Papa, padahal kami ke sini karena permintaan Mama. Bukankah seharusnya orang tua bahagia jika anaknya bahagia, dan bersedih jika anaknya kesusahan. Sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri, apakah semua karena aku, karena keberadaanku?


***


Pagi pertama di Semarang. Suara burung kacer yang bertengger di dahan pohon adalah bukti asrinya daerah ini. Sejuk, segar, penuh pemandangan hijau. Siapapun pasti betah tinggal di sini. Aku menikmati pagi di teras samping sambil menyandarkan siku di atas pagar. Udara sejuknya hampir sama dengan di Malang. Namun ini lebih segar karena banyaknya pohon di sana-sini.


Sebentar kemudian dia berdiri dan sedikit berlari, lalu badannya membungkuk dan mulailah dia muntah-muntah. Aku segera kembali ke kamar untuk mengambil minyak kayu putih yang kupunya. Dan menemui perempuan itu.


"Minyak kayu putih tante" Kataku.


Perempuan itu menoleh dalam keadaan lunglai. Namun di tanah tidak ada bekas muntahan. Dia menyiapkan punggungnya untuk kuolesi minyak kayu putih. Kulakukan seperti saat dulu Mama hamil. Aku yakin perempuan ini juga hamil.


"Minum dulu Tante" Kataku sambil menyodorkan segelas air putih yang memang tersedia di meja.


"Kamu pasti keponakannya Mas Har" Kata perempuan itu.


Dari mana dia tahu itu? Mereka pasti mengenalkanku sebagai keponakan Papa. Tak apa. Semua demi keamanan.


"Iya Tante" Jawabku.


"Aku Farida, istrinya Mas Puguh, tahu kan?"


Aku mengingat-ingat. Siapa Mas Puguh. Aku belum pernah tahu nama itu.


"Heheheh ndak papa, kami belum pernah ke Malang, jadi mungkin belum pernah ketemu"


Tampaknya perempuan ini baik hati. Beda dengan Kakek dan Nenek. Atau aku yang belum tahu. Tapi dia ramah padaku yang baru dia kenal.


"Mas Puguh itu adiknya Mbak Arini, Bibi kamu. Dia seorang TNI, jadi jarang pulang ke rumah.Kalau kamu namanya siapa?" Tanya perempuan bernama Farida itu


"Rosa Tante" Jawabku.


"Jangan panggil Tante. Kita harus bangga dengan budaya Jawa. Panggil aku Bulik ya" Pinta Bulik Farida.


Aku mengangguk.


"Hm, Rosa, bunga mawar. Ibu kamu suka bunga mawar?"


Bagaimana aku harus menjawab. Haruskah kukatakan bahwa aku tidak tahu di mana Ibuku, apakah masih hidup atau sudah tiada. Aku menggeleng untuk memberi jawaban.


"Kalau begitu, pasti Ibu kamu ingin kamu menjadi seperti bunga mawar. Cantik, tapi tak gampang disentuh. Jika ada yang macam-macam, nanti akan tertusuk durinya. Jadi perempuan memang harus begitu. Harus berlaku anggun, namun juga waspada. Dia harus punya duri sebagai senjata, agar tidak mudah dipetik"


Aku menyukai tutur kata Bulik Farida. Halus, penuh pelajaran dan bijak. Kurasa dia berpendidikan tinggi sehingga pandai menempatkan diri. Aku menyukainya. Aku berharap Ibu kandungku seperti dia. Alu juga berandai-andai Mamaku adalah dia.


Bulik Farida. Maukah engkau menjadi sahabatku?


***