
"Okay guys...foto-fotonya sudah dulu....nanti kalian boleh keliling kalo administrasi kita sudah clear okay" Kata Miss Rachel sambil menepuk tangan.
Aku tidak sendiri. Ada delapan orang yang dikirim untuk kuliah di Jerman ini. Semua dibawah penanganan Miss Rachel. Kami semua adalah mahasiswa yang dikirim oleh First ke luar negeri atas dasar kerjasama. Ketujuh temanku yang lain sudah memperoleh gelar S-1 dan sedang menempuh S-2 di Jerman. Selepas mendapat gelar S-2, mereka akan dipekerjakan oleh First di tempat yang sudah ditentukan. Dan diantara delapan orang ini, hanya aku yang masih kuliah S-1.
Munich atau sering dinamai Munchen. Di sinilah aku akan tinggal beberapa tahun ke depan. Kota megah dengan bangunan-bangunan tinggi yang khas, sama sekali penampakannya berbeda dengan bangunan di Indonesia. Munchen adalah kota terbesar di Jerman dengan penduduk terbanyak ketiga setelah Berlin dan Hamburg. Begitu yang Miss Rachel jelaskan.
Di kanan kiri jalan tampak bangunan gedung dengan polesan bak sekolah Hogwarts, ditambah banyak orang berpakaian tebal bahkan ada yang memakai syal. Suhu di Munich memang dingin. Sekitar 18 - 20 derajat celcius. Berbeda dengan Indonesia yang beriklim tropis dengan suhu 35-37 derajat celcius. Pantas banyak orang berkulit cerah di daerah ini. Ah, bukankah aku tahu bahwa kulit cerah adalah ras. Aku hanya berkelakar pada diriku sendiri.
Tepat seperti ekspektasiku, banyak burung merpati yang berkeliaran di sekitar kota. Burung-burung itu seakan menyambut kedatangan kami. Inilah keindahannya. Kota yang megah dan ramai namun masih bersahabat dengan binatang. Di sebelah kanan kulihat ada sungai di sepanjang kota.
"Sungai Isar" Kata Miss Rachel seakan membaca pikiranku.
"Jernih" Komentarku.
"Sungai Isar digunakan untuk pembangkit listrik. Merupakan sungai terpanjang dengan panjang sekitar 300 km. Sekarang sudah tidak boleh dibangun, dia dibiarkan agar tetap alami"
"Wah, Miss Rachel tahu banyak ya tentang Jerman" Sahutku.
Miss Rachel tersenyum dengan pujianku.
"Belasan saya ditugaskan mengurus mahasiswa di Jerman. Ya, sekalian jalan-jalan dan menikmati indahnya Munchen"
"Bagaimana dengan Berlin?" Tanyaku begitu saja.
"Berlin? Kamu penasaran?"
Aku mengangguk. Berlin adalah satu-satunya tempat yang aku tahu tentang Jerman. Dan tembok berlin pemisah antara Jerman barat dan Jerman timur satu-satunya ikon yang aku tahu.
"Sebaiknya tidak usah saya ceritakan. Belajarlah dengan tekun, kelilingilah seluruh Jerman. Lihatlah sendiri apa yang ingin kamu ketahui" Kata Miss Rachel meninggalkan senyum.
Setelah perjalanan hampir satu jam, tibalah kami di kantor Imigrasi. Tidak terlalu lama menunggu, urusan administrasi bagi imigran sudah selesai. Baru saja kami menikmati foto-foto lawas kota Munchen, Miss Rachel sudah keluar dari ruangan.
"Okay, kalian siap-siap, kita ke Hamburg sekarang juga"
Hamburg? Kalau memang kami akan ditempatkan di Hamburg kenapa harus ke Munchen dulu? Tapi aku orang baru di negeri orang, aku tidak tahu menahu mengenai administrasi imigrasi. Mungkin saja memang harus kesini untuk urusan administrasi, baru ke Hamburg. Aku mengekor di belakang Miss Rachel.
"Oh sorry, Rose... Oh aku melupakan sesuatu. Rose, kamu akan ditemani Miss Gritte menuju hunian kamu. Oh iya aku lupa lagi. Jadi kalian ini beda-beda kampusnya. Yang tujuh ini di Hamburg, dan kamu di Munchen" Kata Miss Rachel menjelaskan.
Oh jadi begitu. Aku tidak mendapatkan penjelasan ini sebelumnya. Tapi sekali lagi aku hanya mahasiswa yang berangkat dengan beasiswa. Dengan uang First lah aku sampai di sini. Maka sepertinya aku tidak layak untuk memprotes apapun.
"Oh tenang Rose, dia bisa berbahasa Indonesia sedikit, atau bahasa Inggris saja kalau bingung" Lanjut Miss Rachel.
"Let's go" Katanya lembut.
Sepanjang perjalanan kami tidak banyak mengobrol. Hanya basa-basi sedikit. Tanya kampus, jurusan dan riwayat pendidikan sebelumnya. Benar kata Miss Rachel, Miss Gritte ini bisa berbahasa Indonesia meski kurang fasih. Mungkin karena seringnya berhubungan dengan mahasiswa asal Indonesia.
"Okay, kita sudah sampai" Kata Miss Gritte yang tidak terlalu lancar.
Sebuah gedung yang tidak terlalu besar. Namun gaya estetikanya sangat kental lengkap dengan ujung atap runcing seperti Hogwarts. Di pintu masuk terdapat jam dinding yang besar hingga dapat dilihat radius 200 meter.
Kami memasuki gedung itu dengan membawa koper-koper besar dari mobil yang kami tumpangi. Miss Gritte bahkan membantuku menyeret salah satu koper. Seorang laki-laki kekar berkulit hitam dan berambut keriting segera membantu kami.
"Nah. This is you home now" Kata Moss Gritte.
"Kamu tinggal dua orang dalam satu ruangan. Masing-masing memiliki kunci. Jadi lebih bebas" Begitu penjelasan Miss Gritte.
Setelah aku menerima kunci dan memasukkan barang-barangku ke dalam rumah baruku, barulah Miss Gritte pulang meninggalkanku sendirian. Sungguh aku seperti tak percaya sampai di titik ini. Seorang pekerja di outlet, pelayan makanan, bisa kuliah di Jerman dengan beasiswa. Dan lihatlah kamarku ini. Mirip dengan apartemen bintang lima. Jendela yang besar itu membuatku mampu melihat panorama kota dengan jelas. Sungai Isar pun tampak jelas kulihat.
Aku mulai merapikan barang-barangku. Ada dua kamar tertutup di ruangan ini. Namun kamar mandi, dapur, dan ruang tamu hanya satu. Dilengkapi dengan kulkas dan televisi. ruangan ini bahkan lebih bagus dari kontrakanku di Jakarta.
Kuhamburkan tubuhku di atas sofa setelah lelah membereskan barang-barangku. Setelah beres-beres masih harus menyapu ruangan lain hingga kinclong, barulah aku bisa beristirahat. Rupanya ruangan ini juga dilengkapi dengan AC. Wah, tidak cocok jika disebut kos mahasiswa. Ini lebih layak disebut sebagai hotel. Aku berdecak kagum dengan bangunan yang kutempati ini. Aku benar-benar dimanja di sini.
Kunyalakan Ac, kuputar televisi. Ah sial, banyak siaran yang menggunakan bahasa Jerman. Aku belum belajar bahasa Jerman sama sekali. Yang kubisa hanya bahasa Indonesia dan Inggris. Sayangnya tidak ada satupun siaran yang berbahasa inggris atau minimal memiliki subtitle bahasa inggris.
Terdengar suara pintu dibuka dari luar. Oh, aku tahu. Itu pasti teman sekamarku. Aku berdiri hendak menyambut kedatangannya. Aku berharap teman sekamarku ini bisa berbahasa inggris. Syukur kalau fia bisa berbahasa Indonesia. Ah harapan yang terlalu tinggi.
Betapa terkejutnya aku melihat sosok yang muncul dari balik pintu. Mataku terbelalak seakan tak percaya. Bagaimana aku akan hidup di negeri orang ini jika teman sekamarku sama sekali tak kuharapkan.
"Hay, Guten Morgen" Katanya menyapa dan aku tidak tahu artinya.
"Who...who are you?" Tanyaku takut.
"Oh...I'm Jack...i live here. Since.....two week ago"
Oh my God. Dia benar-benar teman sekamarku. Jadi ini pasti adalah kesalahan. Mereka yang salah menempatkan aku atau justru laki-laki botak di depanku ini yang sah penempatan.
Katakan. Bagaimana aku bisa tinggal sekamar dengan laki-laki?
***