My Name Is Rose

My Name Is Rose
Mama



Dua tahun berlalu.


Kini aku kelas 5, dan Alanta kelas 6. Aku begitu bersemangat di sekolah ini. Semua karena sahabatku, Alanta. Aku memang bukan tipe orang yang suka pilih-pilih teman. Aku punya banyak teman perempuan tapi hanya seorang anak laki-laki bernama Alanta yang kupilih sebagai sahabat. Hatiku lah yang memilihnya. Sama seperti Rania. Hatiku yang memilihnya menjadi saudaraku. Setingkat lebih tinggi dari sekedar sahabat.


Pagi ini. Seperti rutinitas biasanya, kami siap di meja makan untuk sarapan. Merupakan kegiatan wajib di rumah ini untuk selalu sarapan. Papa bilang agara aktivitas bisa dijalani dengan maksimal. Papa begitu takut dengan penyakit Gerd yang bisa menimpa siapa saja bahkan pecinta olahraga sekalipun. Tidak sarapan adalah salah satu pemicu timbulnya Gerd. Itulah kenapa Papa selalu menekankan padaku untuk sarapan setiap hari meski hanya dengan selembar roti.


Huek... Huek....huek.... uhuk ..


Aku mendengar suara Mama muntah-muntah di toilet sekitar dapur. ini bukan pertama kalinya. aku sudah beberapa kali memergy mama muntah-muntah seperti itu. Kuberanikan diri mendekat.


"Ma....Mama kenapa?" Tanyaku setengah berteriak.


Tak ada jawaban. Hanya suara muntah-muntah yang terdengar di dalam. Tak lama Mama keluar.


"Mama gak papa?" Tanyaju khawatir.


"Gak tau nih rasanya mual terus ada bau telur" Kata Mama.


Aku membantu Mama berjalan menuju meja makan. Begitu sampai di kursinya,. mam menutup hidungnya rapat-rapat sambil mengambil sepiring telur dan memindahkannya ke tempat yang agak jauh.


"Yanti......!!!" Panggil Mama.


Mbak Yanti tergopoh-gopoh muncul.


"Iya Bu?"


"Taruh ini di dapur ajah. Gak ada yang lainnya apa, kok tiap hari telur mulu. Mual aku cium baunya" Kata Mama.


"Kamu ini kenapa sih Ma, ya itulah akibatnya kalau makan tak teratur, tadi malam gak makan kan?" Tanya Papa sambil mengelus pundak Mama dengan maksud meringankan mualnya.


Mama menyodorkan minyak kayu outih padaku agar kuoleskan di punggung dan perut Mama. Kulakukan yang Mama minta.


"Gimana Ma?" Tanya Papa.


"Udah.. udah..udah mendingan" Jawab Mama.


Sebenarnya Papa agak tidak tega meninggalkan Mama. Tapi ia memikirkan sekolahku. Jika tidak diantar Papa aku mau ke sekolah naik apa. Kami pun memutuskan untuk tetap berangkat.


Sampai di sekolah.


Aku masih kepikiran Mama. Kenapa tiba-tiba dia mual seperti itu. Mualnya itu cukup mengerikan menurutku. Apalagi setelah muntah banyak Mama kelihatan lemah. Semoga saja Mbak Yanti bisa ngurus Mama.


Jam istirahat. Siapapun pasti mengakui jam istirahat adalah waktu yang paling difavoritkan oleh semua siswa. Demikian pula denganku. Aku sedang duduk di bawah pohon Angsana yang rimbun di depan kelasku. Cilok pedas dari kantin menemani istirahatku hari ini.


"Rosa...." Panggil Alanta.


"Ada apa? Aku lagi gak mood cerita" Kataku.


Sudah kutebak dia ingin aku menceritakan tentang Raja-raja jaman dulu. Jayabaya, Ken Arok Ken Dedes yang sebenarnya cerita dari Malang malah Alanta tidak tahu, Hayam Wuruk dan masih banyak lagi.


Alanta bersiap mendengarkan keluh kesah ku. Tanpa bertanya, tanpa menebak.


"Mamaku aneh, Papaku lebih aneh" Kataku mengawali dengan pandangan kosong ke depan.


"Aneh kenapa?"


"Alu sering mergoki Papa marah-marah di telepon. Kadang juga di mobil pas mau berangkat. Kadang dia melamun sendirian. Kurasa Papa mendapat masalah di kantor"


"Sejak kapan?"


"Sudah lama, hampir dua tahun begini sejak aku kelas 3. Katanya libura mai ngajakin ke Jakarta juga gak ada buktinya"


"Kamu sudah tanya?"


Aku menggeleng.


"Gak berani"


"Mama kamu?"


"Mama gak begitu aneh sih. Beberapa kali aku lihat Mama lemas. Tadi pagi Mama muntah-muntah. Kadang juga marah-marah sama Papa dan Mbak Yanti, pembantuku"


"Sudah periksa ke dokter?"


"Belum. Kata Papa paling cuma masuk angin karena akhir-akhir ini Mama makannya dikit banget. Kurang teratur"


"Kamu pernah kepikiran gak Mama kamu itu sedang hamil?"


"Hamil???"


"Aku sering lihat di tivi sih kayak gitu. Kalau orang lagi hamil pasti sering muntah-muntah"


Tunggu, Alanta benar juga. Bukankah ia selama ini menginginkan keturunan sampai memgadopsiku sebagai pancingan.


"Tapi gimana ngebuktiinnya?"


"Pakek alat, atau ke dokter, eh tidak, ke bidan"


Alanta lagi-lagi tampak berpikir.


"Ah aku punya ide" Katanya kemudian.


Pulang sekolah.


Hari ini pulang agak cepat karena ada kunjungan dari Wakil Wali Kota Batu. Ini benar-benar kesempatan untuk kami melancarkan aksi kami.


Alanta sudah menungguku dari tadi di gerbang sekolah. Aku agak lambat karena ada beberapa tugas yang harus diselesaikan. Saat aku menuju gerbang, kulihat Alanta sudah siap dengan sepedanya.


"Kita naik apa?" Tanyaku.


"Aku bonceng naik ini" Jawab Alanta sambil mengarah pada sepeda federalnya.


"Lah aku naik di mana?" Tahyaku karena kulihat sepeda itu tidak memiliki boncengan. Namanya juga sepeda cowok.


"Kamu naik di sebelah sini, trus berdiri, pegangan aku" Kata Alanta.


Aku masih meneliti sejenak. Teringat olehku akan sepeda biruku di Panti. Siapa yang memakainya kini. Biasanya aku dan Rania bersepeda di sekitar Panti dengan sepeda itu.


"Rose ... Ayo" Kata Alanta.


Wushhhhh sepeda Alanta melaju dengan cepat. Membuat rambutku beterbangan melawan angin. Kupegang erat pundak Alanta agar tak oleng sedikitpun. Ketika melewati jalan turunan, Alanta melepaskan tangan kirinya untuk menikmati udara sejuk yang menerpa tubuhnya.


"Alan... jangan gitu dong. Pegang setirnya" Teriakku.


Tapi Alanta tak menggubris. Ia begitu menikmati suasana ini. Jujur akupun menikmati. Saat jalan berbelok, Alanta berlagak seperti pembalap. Sepeda kami menjadi sedikit miring. Ada sedikit takut di pikiranku. Aku takut jatuh. Tak oernah aku naik sepeda sekencang ini. Namun demikian aku menyukai ini. Betapa serunya perjalanan kami.


Sepeda berhenti di depan sebuah apotek. Kami telah merencanakan ini. Alanta menyandarkan sepedanya pada sebuah pohon karsen.


Apotek ini cukup ramai. Kami menanti sampai sepi pembeli. Karena jika kami menerjalpun, kami tahu kami akan diakhirkan dari orang dewasa. Kami menunggu di bawah pohon karsen dengan sabar.


Sekitar lima belas menit, pembeli tinggal satu orang. Kami maju ke depan. Seorang apoteker menghampiri kami.


"Beli apa dek?" Tanya si apoteker.


"Hmm, Alat tes kehamilan Kak" Kata Alanta dengan lantang.


"Astaghfirullah" Apoteker yang melayani kami terkejut sehingga beristighfar.


Aku dan Alanta saling pandang. Kaki juga heran kenapa si Apoteker itu beristighfar. Apakah yang kami beli ini barang haram sekelas narkoba? Si apoteker itu berbisik-bisik dengan temannya lalu mereka memandang kami sinis.


"Adek, biar Mamanya yang beliin ya dek?" Tanya apoteker satunya lagi.


"Mama saya lagi sakit kak gaj busa beli sendiri" Jawabku polos.


Mereka masih berbisik-bisik seakan tidak mau menjualnya pada kami.


"Eh....Kak, alat itu untuk Mamanya dia" Kata Alanta tegas.


"Oh.....ngomong dong dari tadi" kata salah satu apoteker.


Enak aja, emang dikira aku ini apaan. Jadi mereka mengira aku yang hamil. Hiiii


Alat tes kehamilan sudah ditangan. Nnati aku akan meminta Mama membuktikan kehamilannya. Jika benar Mam hamil dia pasti sangat senang dan mereka akan sangat berterima kasih padaku. Kuharap mereka merasa berhutang budi padaku agar selau menyayangiku sebagai bentuk balas budi. Semoga saja.


Sepeda melaju. Wushhhhhh


***