
Semua sudah normal kembali. Perlu waktu lebih dari seminggu untuk meredam berita hanyutnya seorang siswi saat kegiatan camping di Bogor. Untuk sementara pun bumi perkemahan itu ditutup.
Aku berangkat bersama Alanta seperti dulu. Aku tidak ingin lagi menjaga perasaan siapapun. Menjadi egois terkadang memang perlu. Karena belum tentu orang yang kita jaga perasaannya melakukan hal yang sama dengan kita.
Aku berjalan bersama Alanta, tanpa peduli bagaimana pandangan orang yang melihat, termasuk Clara. Aku yak sungkan menggandeng lengan Alanta sesekali. Kadang juga bergurau dengan santainya.
Tepat seperti dugaanku, saat sudah berpisah dengan Alanta, aku bertemu dengan Clara dan teman-temannya. Sepertinya mereka memang menanti saat ini. Keempat gadis cantik itu melipat kedua tangannya di dada. Tampak sekali mereka akan memulai bulliannya. Aku menghadapi ini dengan santai. Aku tidak takut lagi. Meski mereka punya orang-orang dalam yang setia membela mereka, aku juga punya meski hanya seorang remaja tapi pengaruhnya kuat. Alanta tentu saja.
"Belum kapok juga nih anak?" Kata Hana.
Aku tidak menjawab, hanya memandang sinis pada keempatnya.
"Kayak kucing nyawa sembilan aja sih dia" Sahut Jessie.
Keempatnya kemudian mendekat perlahan. Mereka seakan mengeroyokku. Aku tetap tenang menghadapi ini.
"Mau main keroyokan? Jangan sampa ada yang bocor kepalanya trus ngadu sama ortu ya!" Kataku tenang.
"Ih kurang ajar banget!" Komentar Jessie yang kena sindir.
Clara mendekat padaku dan berbisik.
"Gimana caranya lo bisa selamat?"
Aku tersenyum. Sudah kuduga kalimat itu yang akan muncul darinya. Aku pun berbisik lembut ditelinganya.
"Jangan sampai aku serahkan bukti ke kepolisian" Kataku.
Clara memandangku dengan tajam. Dia seakan tidak percaya jika aku punya bukti. Aku memang punya. Dan hanya aku yang tahu. Bukti itu akan menjadi joker dalam permainan ini. Aku tidak bisa sembarang menggunakannya. Karti jokerku akan kugunakan di saat yang paling tepat. Clara berlalu begitu saja tanpa memberi kode pada teman-temannya. Sehingga tentu saja tiga temannya yang lain kelabaan. Sesekali mereka memandangku dengan pandangan meledek seperti anak kecil.
Aku tahu Clara sudah kalah. Setelah kubisikkan bahwa aku punya bukti usahanya mendorongku sampai aku hanyut, sikapnya berubah. Terlihat sekali dia takut jika aku membeberkan bukti itu pada polisi atau pihak sekolah. Pernah waktu aku mau mengumpulkan tugas ke depan, aku berpapasan dengan Clara, dan dia segera menunduk. Saat istirahat, biasanya dia akan menyindirku dengan segala sindiran pedas tak masuk akal. Kali ini dia diam seribu bahasa. Meski teman-temannya mengajak berhenti sejenak untuk membully, Clara justru memilih pergi tanpa satu katapun.
Semua tampak normal selama beberapa hari. Sampai kemudian Bu Sarah memanggilku.
"Ibu mencari saya?" Tanyaku.
"Iya, sengaja ibu menunggu Bu Yuni dan para senior lain bertugas ke luar kota" Kata Bu Sarah.
"Ada apa Ibu mencari saya?" Tanyaku sambil menata tempat duduk.
"Ini penting, makanya ibu harus berbicara empat mata"
Bu Sarah kemudian menggenggam tanganku. Dia duduk di sebelahku,. Bukan lagi di hadapanku.
"Rosa, saya tahu ada yang kamu sembunyikan dari semua orang" Kata Bu Sarah mengawali.
"Maksud Ibu?"
"Tentang peristiwa di Bumi Perkemahan Bogor. Saya tahu kamu tidak terperosok sendiri"
Deg, Bu Sarah sungguh jeli menilai sebuah kasus. Bagaimana aku harus menjawab. Aku menunduk.
"Ada seseorang yang sengaja melakukannya bukan?" Tanya Bu Sarah lagi.
Aku masih menunduk.
Aku mendongakkan kepala ketika Bu Sarah menyebut nama itu. Bagaimana Bu Sarah bisa langsung menebak dengan tepat.
"Jangan takut Rosa. Rahasia kamu aman dengan saya"
Aku akhirnya mengangguk.
"Sudah Ibu duga. Rosa, ini tidak akan berhenti di sini. Percayalah, mereka pasti akan terus berusaha menyakiti kamu"
"Tapi ini beda Bu, Clara gak bisa berkutik pas tahu saya masih hidup. Dia juga gak berani bully saya lagi Bu" Kataku.
"Siapa bilang? Ini!!" Bu Sarah memberikan sebuah berkas warna kuning.
"Apa ini Bu?"
"Baca saja"
Kubuka berkas itu dan aku terkejut dnegan judulnya. Petisi Mengeluarkan Siswa Atas Nama ROSA NIRWASITA. Apa maksudnya ini. Mana bisa wali murid membuat petisi seperti ini.
"Ini....kenapa bisa begini Bu?" Aku nelangsa.
"Berdasarkan info yang saya peroleh, Nyonya Hamdani dan teman-temannya menggalang pendapat dari ibu-ibu yang lain. Menurut mereka kamu membawa aura negatif bagi sekolah. Terbukti dengan peristiwa Jessie, lalu penculikan, dan sekarang kamu hilang dari acara. Itu yang saya tahu. Baca ini, ini alasan mereka" Jelas Bu Sarah.
Benar seperti kata Bi Sarah, alasan yang tidka masuk akal dan seharusnya sebagai pelaku pendidikan yang mengedepankan dunia modern, tentu tidak perlu percaya dengan hal mistis sekalipun itu sebenarnya ada. Sebagai praktisi pendidikan seharusnya mampu berpikir logis dan tegas. Alasan seperti yang tertera pada berkas warna kuning itu seharusnya tidak dapat diterima.
"Tolong saya Bu, saya tidak bersalah Bu. Apa yang harus saya lakukan Bu?" Aku mengiba.
"Itu kenapa saya memanggil kamu kemari. Sebelum berkas ini sampai ke Yayasan. Kita harus mengambil sikap"
Bu Sarah kemudian mengeluarkan satu berkas lagi. Sebuah map bertuliskan identitas First School. Kembali aku terkejut dengan isinya. Sekolah memindahkanku ke sekolah Negeri.
"Ini apa maksudnya Bu?" Aku terkejut.
"Itu adalah cara yang paling baik untuk kamu saat ini. Di sini tidak aman untuk kamu Ros"
"Tidak Bu. Saya akan berjuang lebih keras lagi untuk tetap menjaga nama baik sekolah"
"Kamu tidak bersalah Rosa, saya tahu itu. Tapi masa depan tidak hanya di tangan First School. Kamu bisa meraih masa depanmu di tempat lain yang lebih menghargai kamu, lebih membuatmu tenang, dan lebih segalanya..."
"Ibu tidak usah khawatir, saya baik-baik saja, apapun yang mereka lakukan saya tetap bisa bertahan kan Bu"
"Iya sekarang, bagaimana nanti? Mereka bisa saja membuat taktik yang lebih matang. Jadi sebelum petisi ini sampai ke Yayasan, kamu sudah harus pindah ke sekolah ini. Kepala sekolahnya adalah teman Ibu. Dia akan memberikan beasiswa penuh seperti yang kamu dapat di sini. Jangan khawatir, beasiswa First University yang diberikan Yayasan masih berlaku setelah kamu lulus"
"Bu...saya..."
"Percayalah Rosa, ini Ibu lakukan karena Ibu peduli padamu. Tempat ini tidak aman untuk kamu. Terlalu berbahaya jika kamu masih di sini. Lakukanlah yang Ibu sarankan. Di sana kamu jauh lebih aman"
Jika aku pindah, berarti aku mengakui kekalahanku. Tapi jika tidak, benar apa kata Bu Sarah, dari awal aku sudah merasa bahwa tempat ini terlalu bahaya untukku. Kejadian demi kejadian buruk aku alami semenjak berada di dekat Clara.
Bu Sarah memberiku waktu satu minggu untuk berpikir sebelum semuanya terlambat. Jauh lebih baik jika pindah daripada dikeluarkan. Meski dampaknya sama, yaitu sama-sama tidak lagi di First School. Apa yang harus kulakukan? Berpindah atau bertahan?
***