
"Ayo cepet, udah ditunggu dari tadi" Kata Alanta sambil menggelandang pergelangan tanganku. Secara otomatis aku pun ikut sedikit berlari. Hari ini aku ada janji dengan Alanta sepulang sekolah selama satu jam bertemu dengan peserta olimpiade lainnya. Tetapi aku terlambat karena harus membantu guru menata buku di kelas.
Dengan nafas masih terengah-engah, kami sampai di ruang kelas Alanta yang kami gunakan hari ini.
"Oke semuanya, seperti yang saya janjikan kemarin, hari ini kita akan mengatur strategi kita menghadapi Olimpiade. Waktu kita nggak banyak. Satu bulan lebih sedikit. Itu bukan waktu yang banyak. Kita harus bergegas. Dan, dalam hal ini kita butuh tutor yang kemarin disebut sebagai anak jenius oleh nyokap gue"
Firmansyah tampak manggut-manggut menyetujui. Tapi Clara justru terlihat cemberut dengan kehadiranku. Clara menggebrak meja lalu keluar kelas begitu saja.
"Dia ngapain sih?" Tanya Alanta pada Firman.
Firman mengangkat bahu tanda tak tahu. Aku tahu, alasan kenapa Clara begitu. Tentu saja karena aku. Dia tidak mau berada di bawahku. Melihatkupun jijik apalagi menjadi muridku katakanlah.
Jadilah pertemuan siang itu tanpa Clara. Alanta sudah membawa sejumlah soal yang menurutnya sangat sulit. Lalu mereka berdua mencoba mengerjakan dengan waktu yang ditentukan. Hasilnya akan kuperiksa.
Selama satu jam kami berdiskusi, Alanta dan Firman tampak puas dengan diskusi kali ini. Mereka bahkan meminta jadwal kembali. Namun aku harus pikir-pikir, mungkinkah akan seperti ini terus. Mereka bertanding bersama Clara, bukan aku. Sekalipun diskusi berjalan lancar, tapi Clara tidak ikut serta. Bagaimana mungkin akan berhasil.
***
Tas Dinda sudah di dalam laci di bangkunya, tapi anaknya tidak ada. Mungkin sedang ke kamar mandi. Sampai guru masuk Dinda masih belum masuk ke dalam kelas juga. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya.
Pelajaran sudah berjalan sekitar tiga puluh menit tapi Dinda belum juga muncul. Aku hendak keluar mencarinya, alih-alih ke kamar mandi, tapi ternyata dia muncul dari balik pintu dengan muka berbinar-binar. Dinda memberi salam pada guru, lalu duduk di bangkunya, di sampingku.
"Dari mana aja sih?" Tanyaku kesal, tak tahukah dia aku begitu mencemaskannya.
"Ssst.....ntar gue ceritain pas istirahat" Jawab Dinda.
Benar saja, waktu bel berbunyi, aku sudah mendesak Dinda untuk cerita. Dinda justru mengulur waktu dengan muka menggelitik. Dasar Dinda. Dia kemudian menunjukkan sebuah brosur.
"Taraaa" Kata Dinda
"Apaan itu?"
"Brosur Komunitas Seni Rupa. Jadi ada semacam kursus pembuatan komik, tidak hanya lewat gambar tapi juga lewat komputer, katanya banyak seniman lahir dari sana. Banyak juga komikus yang sudah sukses bahkan menciptakan film kartun" Jelas Dinda
"Wuih mantab" Komentarku.
"Gimana menurut lo?"
"Sikat. Itu kan impian lo" Jawabku.
"Tapi...nyokap gue gimana?" Wajahnya yang berbinar seketika berubah muram.
"Kenapa?"
"Lo kan tahu nyokap gue melarang keras gue ngembangin bakat ini"
"Fighting Din, kamu harus berjuang. Apa yang lo lakuin ini bukan hal yang negatif. Sabar dan yakin, orang tua lo pasti memahami" Kataku.
Dinda mengangguk, namun aku paham, masih ada hal yang mengganjal di hatinya tentang ini.
Esok hari, aku melihat Tante Santi, Mama Dinda sedang berada di sekolah. Mungkin sedang mengurus administrasi Dinda. Atau mungkin Dinda sakit sehingga Mamanya memintakan ijin. Kenapa Dinda tidak menyuruhku membuat surat ijin seperti biasanya. Ada apa dengan Dinda.
Sepanjang pelajaran aku tidak bisa fokus. Pikiranku jauh kepada Dinda sahabatku. Apakah dia sakit? Aku berpikir mungkin menjenguknya setelah pulang sekolah adalah ide bagus.
Seperti yang kurencanakan, aku akan mengunjungi Dinda ke rumahnya. Lagipula sudah lama sekali aku tidak main ke rumahnya. Aku membawakan beberapa buah pear kesukaanya. Juga juz jambu favoritnya.
"Ros...anak-anak sudah menunggu di ruang osis" Kata Alanta ketika bertemu denganku di depan kelas.
"Aduh maaf Alan, aku buru-buru, besok lagi aja ya" Jawabku
"Buru-buru? Kemana?"Tanya Alanta.
"Ke rumah Dinda. Kayaknya dia sakit deh, soalnya dia gak masuk, plus tadi aku lihat Mamanya ke sekolah, mungkin mintain ijin Dinda"
"Eh jangan, gak usah"
"Ntar lo telat lo ke outlet"
Aku tak punya pilihan. Rasanya tak enak terus terusan mendapat bantuan Alanta, sementara aku belum pernah sekalipun memberinya bantuan apapun. Ditambah lagi dia harus meninggalkan teman-temannya, termasuk Clara. Apa yang akan terjadi setelah ini, Clara pasti marah hebat jika tahu alasan Alanta tidak hadir hari ini.
Aku baru saja mau naik ke motor Alanta yang tinggi itu. Namun terhenti karena Clara datang.
"Alan!!" Panggil Clara.
"Ya?"
"Kamu gak bisa dong kayak gitu. Masak main tinggal gitu aja. Apalagi cuma buat jalan sama cewek. Olimpiade kita gimana?" Kata Clara protes.
"Sorry ini penting banget. Aku dah ngomong ke Firman, nanti ada Oki juga yang bantu" Jawab Alanta.
"Kamu gak profesional banget sih"
"Oke. Gini ya, kalo lo ngomong soal profesionalisme, gimana kemarin waktu Rosa gabung dengan kita. Lo kemana?? Kabur kan? Apa gue protes? Nggak kan?"
Alan memacu motornya sekencang mungkin. Dia membelaku. Dia mementingkanku daripada tim nya. Dia lebih mendahulukanku ketimbang kepentingan olimpiade nya. Seharusnya dia tak perlu melakukan ini. Dia membuatku semakin tidak enak.
Sekitar tiga puluh menit kami sampai di rumah Dinda. Rumahnya tutup. Mobilnya tidak ada di rumah. Mungkin dia sedang keluar. Atau jangan-jangan dia dirawat di rumah sakit. Aku mencoba menelepon. Teleponnya berdering tapi tidak diangkat meski sudah berkali-kali.
"Gimana?" Tanya Alanta.
"Gak diangkat"
Dalam hati aku bersyukur. Untung saja ada Alanta yang menemaniku, jika tidak, aku sendirian di sini tanpa tujuan.
"Itu ada orang" Kata Alanta.
Seorang pembantu rumah tangga muncul membuang sampah.
"Eh Mbak, maaf Dinda ada di rumah? Apa dia sakit?" Tanyaku.
"Eh anu Non...eh... Mari masuk dulu" Kata pembantu rumah tangga Dinda.
Aku dan Alanta saling pandang. Kami merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Dinda. Kami dipersilahkan masuk. Dua gelas es jeruk disuguhkan untuk kami. Namun sudah lama tapi Dinda belum juga keluar. Tampak pembantu rumah tangga menelepon seseorang.
Tak berapa lama, Mama Dinda pulang entah dari mana.
"Oh...ada tamu" Sapa Tante Santi.
"Iya Tante, maaf Rinda hari ini tidak masuk, kenapa ya?" Tanyaku.
"Tidak apa-apa, dia hanya kurang enak badan" Jawab Tante Santi tampak tak terjadi sesuatu yang aneh.
"Kalo gitu, boleh kita jenguk dia Tante?" Aku meminta ijin.
"Oh dia harus istirahat total, jangan khawatir Dinda mungkin besok sudah sekolah" Jawab Tante Santi.
Aku tidak pernah ditolak seperti ini sebelumnya. Dulu aku sering kesini, bahkan mereka sendiri yang memintaku untuk datang. Tapi aku tidak bisa memprediksi apa yang terjadi.
"Ya udah kalo gitu Tante, Rosa nitip ini ya buat Dinda" Kataku sambil memberikan juz buah kesukaannya.
"Oke"
Kami pun pamit pulang.
***