
Daun-daun kering berguguran membuat tanah yang rata dengan paving uni tertutup daun-daun kering yang berserakan. Angin sering kali berhembus cukup kencang menerpa banyak sekali daun kering, juga menerpa rambutku.
"Claire? Sebentar aku inget-inget dulu" Kata Panji ketika kukonfirmasi soal Claire.
"Dia sekarang tinggal sekamar sama aku Kak" Kataku.
"Oh iya aku inget. Kenal sih tapi gak terlalu deket. Jurusan ekonomi dan bisnis kalo gak salah" Kata Panji kemudian.
Aku duduk di batu besar, Panji menyusul kemudian. Kami sama-sama berpikir dengan pikiran masing-masing. Untuk sesaat kami terdiam satu sama lain.
"Kakak ngerasa ada yang aneh gak sama Claire?" Tanyaku.
"Kenapa?"
"Perempuan yang aku bilang natap aku tajem banget itu dia. Kok bisa gitu kemudian dia sekamar sama aku, trus lagi dia tahu Kakak, dan dia punya kopi Indonesia. Katanya dari Kakak"
"Kopi?" Panji tampak mengingat-ingat.
"Tadi pagi dia buatkan kopi untuk aku. Kopi Indonesia. Katanya dari Kakak"
Belum sempat Panji menjawab, seorang teman menghampirinya dan perbincangan ini harus diakhiri. Tampaknya Panji kurang fokus dengan pembicaraan ini. Terlepas dari pernyataan Claire yang janggal, masih
L PP ada pertanyaan yang mengganjal di benakku. Apakah Claire merencanakan sesuatu yang buruk untukku?
Pulang kuliah aku langsung ke kafe. Hari ini sejumlah sekolah libur sehingga dapat dipastikan kafe akan lebih ramai dari biasanya. Dan yang paling aku suka adalah bonusnya. Benar saja. Kafe dua kali lipat lebih ramai dari biasanya. Sibuk sekali hari ini.
Aku pulang lebih malam dari biasanya. Saat aku membuka pintu kamar, aku terkejut dengan kondisi kamar ini. Semuanya berantakan seperti baru dimasuki perampok atau berandalan. Kursi-kursi terguling. Vas bunga pecah, bunganya berserakan bahkan ada yang terlepas dari dahannya. Ada serpihan kaca berserakan di sana sini. Ada apa ini.
"Claire!!!" Aku berteriak memanggil Claire. Dugaanku dia yang melakukan ini. Tapi aku takut, kenapa dia melakukan ini. Apakah dia ada masalah lalu marah lalu mengamuk? Aku bergidik membayangkan itu.
"Claire!!?" Aku kembali memanggilnya sambil melangkah satu per satu.
Samar-samar kudengar suara isak tangis. Arahnya dari dapur. Pelan-pelan aku mendekat ke arah suara. Aku takut. Pa mungkin hantu menangis? Atau benar Claire?
"Claire?" Aku mencoba memanggilnya namun kali ini lebih pelan.
Kulihat Clair terduduk dengan kepala menunduk. Ia menangis. Jadi suara isak tangis itu adalah benar suara Claire.
"Claire? Are you okay?" Aku mencoba menghiburnya.
Kembali aku terkejut ketika Claire mengangkat wajahnya. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. Mata kirinya lebam seperti terkena tonjokan. Rambutnya yang ikal berantakan lebih kusut lagi. Baju bagian belakang robek meski tak banyak. Apa yang terjadi padanya?
"Claire? Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" Tanyaku.
Sungguh aku tak tega melihat kulit cokelat tuanya bersimbah darah yang keluar dari hidungnya. Dia tampak kacau.
"Kevin. Dia menemukanku" Jawabnya lirih.
"Kevin? Siapa Kevin?"
"Pacarku. Dia menemukan tempat tinggalku" Katanya
"Pacarmu. Kenapa dia melakukan ini padamu? Memangnya kamu salah apa?" Aku terkejut.
Aku kemudian membawanya ke kamarnya, membersihkan lukanya dengan air hangat, dan mengompres bagian lebam di matanya dengan air es. Claire masih menangis sesenggukan namun ia mencoba menahannya. Aku benar-benar tidak menyangka gadis misterius yang tingkahnya aneh ini bisa menangis seperti ini, dan tidak menyangka jika dia mengalami kekerasan fisik seperti ini. Kupikir tidak ada yang berani menyentuhnya.
Jika dilihat dari kondisi ruang tamu yang berantakan hebat, pasti pria bernama Kevin itu sudah menghajarnya habis-habisan. Tega sekali. Pria yang tega memukul wanita tidak pantas disebut pria. Dia lebih pantas disebut binatang.
"Aku pindah kos demi menghindari Kevin. Aku mencari yang jauh, yapi ternyata dia juga menemukanku" Katanya.
"Aku mau putus. Tapi dia tidak mau" Ucapnya lirih.
"Betul. Kamu harus putusin dia. Pria seperti itu tidak baik untuk kamu. Bahaya" Komentarku.
"Kalau ada yang cari aku, kamu bilang gak ada ya!" Pinta Claire.
Aku mengangguk.
"Claire, kamu tidak ingin melaporkan ini ke polisi? Bukankah ini sudah termasuk tindakan kriminal?" Aku mengusulkan.
"No" Jawabnya tegas.
"Why?"
"Tidak semudah itu. Urusannya akan panjang kalau aku lapor polisi"
"Dan kamu mau dikejar terus sama dia?"
Claire tidak menjawab. Ia hanya berpindah posisi dan segera tidur dengan membenamkan wajahnya pada selimut. Terkesan dia menutup-nutupi. Menurutku dia terlalu cinta untuk melaporkan pacarnya. Tapi kalau cinta kenapa minta putus. Cinta model apa yang saling menyakiti seperti itu.
Aku menceritakan ini pada Panji. Dan sama denganku, Panji pun merasa aneh. Kupastikan kali ini tidak ada yang memotong pembahasan kami seperti waktu itu. Aku benar-benar ingin membuka tabir. Entah karena rasa penasaran semata atau justru mencari aman. Aku merasa harus tahu tentang teman sekamarku itu.
"Aku akan cari tahu itu ke teman-temanku" Kata Panji.
"Oh ya, tentang kopi. Kamu benar kasih kopi ke Claire?" Aku masih penasaran tentang itu.
"Tidak. Aku sudah mengingat-ingat itu. Aku hanya mengenal Claire sekilas. Dia berasal dari Freiburg. Kuliah mengambil jurusan bisnis karena kudengar keluarganya pengusaha sukses"
Pengusaha sukses? Tapi berbeda sekali dengan penampilan Claire selama ini. Dia terkesan anak jalanan. Dandanannya terkesan urakan. Aku juga tidak melihat barang bermerk yang ia bawa. Aku juga tidak pernah melihat dia berbelanja. Apalagi mentraktir.
"Kalau Kevin? Kakak kenal?" Aku bertanya kembali.
"Siapa Kevin?"
"Pacarnya"
"Claire punya pacar?" Panji tampak terkejut dan terkesan dia menertawakan.
"Kenapa Kak?"
"Kupikir Claire bukan tope cewek bucin. Bukan tipe cewek yang tertarik dengan cowok. Bukan lesbi juga, cuman, tomboy aja" Jelasnya.
Ya, aku awalnya juga berpikir begitu. Tapi nyatanya Kevin datang ke kamarku dan mengobrak abrik tempatku serta memukuli Claire karena ogah diputuskan. Tapi benarkah Kevin datang? Benarkah Kevin yang memukul? Benarkah alasannya karena tidak mau putus?
"Rose!" Seseorang berteriak memanggil namaku. Itu Claire.
Kali ini ia berbeda sama sekali dengan biasanya. Jika biasanya aku melihat dia memakai celana jeans dan kaos atau singlet, sesederhana itu, tapi kali ini ia memakai gaun warna ungu kebiruan dengan panjang selutut. Anggun sekali. Ternyata dia cantik juga jika memakai pakaian yang feminim.
"Malam ini aku pulang agak larut. Kamu tidur dulu saja jangan menungguku" Katanya.
"Oh oke" Jawabku.
Dia kemudian berlalu. Sebelum pergi aku sempat melihat dia memandang Panji dengan pandangan berbeda. Antara lirikan dan rasa kagum. Ah aku tidak tahu apa itu.
***