My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kantor Polisi #2



Untuk ke sekian kalinya aku memberikan keterangan di kantor polisi. Kasus ini belum tuntas karena akar dan dalang dari kasus ini belum tertangkap. Kali ini aku sendiri tanpa Alanta. Entahlah sejak malam itu Bundanya menjemputnya di kantor polisi, Alanta tidak muncul. Feelingku mengatakan, Bundanya mencegah agar Alanta tidak terlibat terlalu jauh dala kasus ini.


Kulihat seseorang baru datang. Dengan mengenakan jaket kulit warna kuning dan tas selempang kecil, dia terlihat berbeda dari biasanya. Wajahnya muram. Tentu saja. Siapa yang tak terkejut dengan kenyataan mengenai kelurganya. Seorang Ayah yang begitu dia banggakan rupanya memiliki bisnis gelap yang merugikan banyak orang. Ditambah lagi kasus perselingkuhan yang bisa saja menghancurkan keluarganya sewaktu-waktu.


"Saya....datang untuk melapor" Kata Silvi lirih.


Aku duduk di sampingnya. Kami berhadapan dengan Kapolres langsung. Kami berada di ruangan sendiri. Menurutnya pembicaraan kami ini rahasia. Tidak semua orang boleh mendengar.


"Bagaimana?" Tanya Kapolres.


"Papa mengubungi saya semalam" Jawab Silvi.


"Baik. Apa yang kalian bicarakan?"


"Tidak ada. Hanya....kangen" Jawab Silvi ragu-ragu.


"Apa Papanya mengatakan dimana dia sekarang?"


Silvi menggeleng.


"Bagaimana dengan Ibu Saudara?"


"Mama juga tidak tahu Pak"


Kemudian Kapolres menerima telepon dari seseorang. Beliau kemudian keluar ruangan. Jadilah kami hanya berdua di dalam ruangan ini. Silvi menunduk. Dia tak seceria biasanya.


"Apa kamu tahu sebelumnya?" Tanya Silvi.


"Tentang apa?" Aku berbalik tanya.


"Papaku ...Mamamu..."


Aku mengangguk.


"Kenapa kamu tidak bilang?"


"Silvi...aku..."


"Kamu tahu apa yang kamu sembunyikan dari aku?" Silvi meninggikan suaranya.


Aku tidak bisa berkata. Baru kali ini Silvi meninggikan suaranya padaku.


"Mama kamu selingkuh dengan Papa aku dan kamu diam saja??"


"Silvi ... Aku gak mau hubungan mereka merusak persahabatan kita" Kataku.


"Tapi pada akhirnya merusak rumah tangga Mamaku!!"


Aku tidak mampu menjawab lagi. Dia benar. Hubungan itu pada akhirnya menghancurkan rumah tangga orang. Tapi apa dayaku. Apakah aku bisa menghentikan mereka.


"Kenapa kamu diam saja Ros? Kenapa kamu gak bilang dari awal? Kamu telah menyembunyikan bangkai tahu gak? Jika kamu ngomong dari awal, paling gak aku bisa hentikan itu. Kenapa Ros??" Silvi menangis namun buru-buru ia hapus air matanya.


"Aku....aku tidak punya kekuatan sebesar kamu. Karena dia bukan Mama kandungku. Hubungan kami tidak baik. Jadi ..." Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku. Aku hanya mampu menunduk dan menyesal. Menyesali segala yang kuketahui. Menyesali ketidakberdayaan ini.


Kapolres kembali masuk ruangan dan duduk di hadapan kami. Seketika itu Silvi menghapus air matanya kembali sehingga nyaris tak terlihat.


"Ditemukan fakta baru, bahwa ada korban lagi di tempat lain dan sekarang sedang dibawa ke sini" Kata Kapolres.


Silvi menunduk lesu. Aku tahu perasaannya. Dia seperti daging yang dicincang-cincang tanpa bisa melawan. Dia tidak melakukan kesalahan tapi dia merasakan sakitnya. Kekecewaanya pada seorang ayah tak bisa dipungkiri. Sorot matanya menunjukan betapa dia sedang terpuruk.


Sesaat kemudian hape Silvi berdering.


"Pak...Papa menelepon" Katanya.


Tentu kami semua terkejut dan segera bersiap. Kapolres memberi kode pada anak buahnya untuk segera datang. Beberapa intel mendekati kami.


"Jangan tanya di mana dia ya, cukup ajak dia ketemu" Kata seorang intel.


Silvi mengangguk namun sorot matanya menunjukkan rasa takut.


"Halo...Papa" Sapa Silvi.


"Silvi...Papa minta maaf" Suara Om Banu.


"Pa ..Silvi kangen"


Hari ini Silvi ulang tahun. Itulah kenapa Papanya menelepon.


"Papa, Silvi kangen"


"Papa tahu, tapi untuk sementara kita tidak bisa bertemu ya"


"Kenapa?"


"Papa sedang dalam masalah"


"Masalah apa Pa?"


"Papa dijebak"


Kami semua kembali dibuat terkejut. Om Banu dijebak? Oleh siapa? Karena apa? Atau ini hanya alasan saja?


"Siapa Pa?" Tanya Silvi.


"Tenanglah sayang, biar Papa selesaikan urusan Papa ya. Kamu jangan khawatir"


Lalu telepon ditutup. Salah satu intel kemudian melacak nomer hape yang digunakan menelepon Silvi. Terlihat sekali wajah Silvi panik. Satu sisi dia tidak ingin Papanya tertangkap, sisi lain dia menyadari bahwa Papanya telah melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan.


"Berhasil!!" Kata salah satu polisi.


"Baik segera bentuk tim, dan seger meluncur" Perintah Kapolres.


"Siap!!"


Polisi segera bergegas menuju lokasi Om Banu.


"Kalian berdua akan diantar pulang oleh polisi demi menjamin keamanan" Kata Kapolres.


Kami berdua keluar ruangan dengan diam seribu bahasa. Banyak hal yang membungkam mulut kami. Hubungan orang tua kami pada akhirnya merusak segalanya, termasuk persahabatan kami.


"Rosa !!!!" Teriak Dinda dari kejauhan.


Dinda lantas menghambur ke pelukanku.


"Sorry banget ya, aku baru denger beritanya tadi pagi" Kata Dinda.


Aku mengangguk.


"Tapi kamu gak papa kan?" Tanya Dinda khawatir.


"Gak papa kok" Jawabku.


"Kok diperban tangannya?" Dinda melihat tanganku yang masih dibalut perban.


"Tergores sedikit saja" Kataku.


"Tunggu deh, kok ada Silvi di sini"


Aku bersyukur dunia belum tahu siapa pelaku penculikan ini yang ternyata adalah seorang mafia. Polisi juga tidak membeberkan ini. Setidaknya identitas Silvi tidak disangkut pautkan dengan kasus ini. Bagaimanapun, Silvi tidak bersalah.


"Lo lupa ya? Silvi kan jurnalis, ya pasti cari berita lah" Aku berusaha menutupi.


"Oh, gercep juga kamu ya" Gurau Dinda.


Sesaat kemudian Mamanya Silvi datang untuk menjemput anaknya. Kami tidak banyak bicara. Hanya menyapa basa basi saja. Silvi kemudian pulang bersama Mamanya. Mereka terlihat terburu-buru seakan tak ingin bertatap muka dengan siapapun.


Tinggallah aku dengan Dinda. Dinda menceritakan betapa hebohnya berita ini di televisi. Mereka menyebutkan namaku sebagai korban percobaan trafficking oleh seorang mafia. Media juga menyebutkan sosok pahlawan remaja bernama Alanta. Di sinilah kemudian para siswi ramai membicarakan Alanta. Rasa kagum mereka tak terhindarkan. Sebelum peristiwa ini pun Alanta sudah menjadi idola. Maka setelah peristiwa ini, Alanta akan semakin dipuja.


Satu yang mengganjal di hatiku. Clara. Tentu dia melihat berita ini di televisi. Dia pasti akan segera tahu bahwa Alanta berupaya menolongku dalam kasus ini. Apa lagi yang akan ia lakukan. Dia pasti sangat marah sekarang. Sementara aku sudah tidak bisa menjauh lagi dari Alanta. Kenyataannya aku sangat membutuhkan dia. Dia pun tidak bisa lepas dariku.


"Din, nyokap lo gak marah, lo nemuin gue." Tanyaku.


"Dia nggak tahu. Tenang" Jawabnya.


"Cepetan pulang ntar masalah lagi" Kataku.


Awalnya Dinda tidak mau karena masih kangen denganku. Namun setelah kubujuk akhirnya ia pun bersedia. Aku sedang ingin sendiri. Bukan karena aku tak mau dekat dengan Dinda. Tetapi saat ini perasaanku campur aduk. Dan aku tak ingin melibatkan dia dalam masalah ini. Dinda tidka perlu tahu yang sebenarnya. Bukan tidak perlu, tetapi belum perlu. Suatu ketika dia pasti akan tahu semuanya. Aku akan menceritakan itu pelan-pelan. Suatu ketika nanti. Tapi bukan sekarang.