
"Hah!! Serius???" Dinda tertawa puas mendengar ceritaku
"Wah Din, lo harus lihat gimana ekspresinya mereka. Kayak ada melongonya, kagetnya, marahnya..." Sahutku.
"Sumpah ya aku tuh dapat undangan tapi males mau kesana. Kalo saja aku tahu kalian berdua datang, aku juga ikutan lah"
Kami tertawa cekikikan. Puas rasanya tertawa seperti ini. Kadang terbesit di pikiranku, apakah ini yang namanya tertawa di atas penderitaan orang lain? Mungkin ini juga yang dirasakan mereka ketika menertawakan kegagalanku. Entahlah aku tak peduli. Sekarang biarkan aku menikmati kemenanganku malam ini.
"Trus gimana? Lo ntar lulus mau kuliah atau gimana?" Tanya Dinda sambil mengunyah kentang goreng tepung merah kesukaannya.
"Entahlah gue bingung. Gue punya beasiswa di First University, tapi untuk kuliah di sana, pastinya ketemu mereka lagi kan. Gue gak mau ribet. Tapi kalo kuliah di tempat lain, biayanya lumayan mahal sih?"
"Alah ngapain mikir cecunguk-cecunguk itu. Udah gas pol ajah. Tetep di First ajah" Tukas Dinda.
"Tunggu...tunggu...kalo lo sendiri gimana?" Giliran aku bertanya pada Dinda.
"Nah pinter lo, ngerti banget kalo temen lo ini lagi pengen ditanyain itu....." Kata Rinda setelah menyedot es soda gembiranya.
Aku menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya. Sepertinya ia akan menunjukkan sesuatu.
"Taraaa.....coba lo lihat" Kata Dinda menunjukkan sebuah brosur seukuran kertas folio.
"Kyoto? Jepang?" Aku terkejut
"Sebenarnya Mama pengen aku ke Prancis kalo emang ambil jurusan seni rupa. Tapi seni rupa yang paling aku suka kan anime, nah itu pusatnya di Jepang"
Masuk akal juga pikirku.
"Good luck...gue dukung" Kataku.
"Sebenarnya...gue kalo ngomongin kuliah suka dilema" Kali ini nada bicara Dinda berubah melemah.
"Kenapa?"
"Lo kan tahu gue susah adaptasi buat dapat temen. Trus ntar kita jauh dong"
"Din....ada kalanya kita mesti kembali pada diri kita sendiri. Kita gak selamanya bareng teman SMA. Suatu ketika kita akan punya kehidupan sendiri. Dan lo harus siap dengan itu. Meski pun jauh, toh sekarang jaman modern kita masih bisa berhubungan dengan hape, gadget banyak banget lah pokoknya"
"Udah ah, makin ngomongin itu aku makin sedih tau!!" Protesnya.
"Ooooh!!!" Kami berpelukan . Sudah lama rasanya tidak seperti ini. Kesibukanku membuat kami jarang bertemu. Maka ketika ada kesempatan kami tidak akan menyia-nyiakan waktu. Tentunya tidak berbenturan waktu dengan Alanta. Bagaimanapun juga Alanta juga berhak atas waktu bersamaku.
Prangg...satu gelas es lemon terguling dan membasahi bajuku. Saing asyiknya berpelukan sampai menyenggol benda-benda yang ada di meja. Kai tertawa cekikikan.
"Gue ke toilet dulu ya" Kataku.
"Ganti gue ke toilet ya" Kata Dinda.
Waktu sudah cukup malam untuk dia remaja putri seperti kami. Kami pun memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan dengan mobil Dinda, tak ada yang aneh. Semua tampak biasa saja. Kami bernyanyi sepanjang perjalanan menirukan suara musik yang diputar di dalam mobil sambil sesekali cekikikan kembali.
Begitu sampai di depan rumah, barulah aku sadar, ada sesuatu yang hilang.
"Tunggu deh Din. Jam tangan gue kok gak ada. Padahal tadi jelas aku pakek, ya kan? Lo lihat kan tadi" Kataku kebingungan.
Aku mengobrak abrik isi tasku, barangkali ada di dalamnya. Tapi hasilnya tidak ada. Bukan masalah jam tangannya yang mahal, tapi kenangannya yang luar biasa. Jam tangan iyu dari Papa Dinda sebagai tanda terima kasih karena telah membimbing Dinda sampai mampu melewati semua ujiannya dengan nilai memuaskan. Menghilangkan jam tangan itu berarti membuang kepercayaan Papanya Dinda.
" Nih..." Dengan santainya Dinda memberikan jam tanganku.
" Loh kok bisa di kamu?" Ta yaku kaget.
"Tadi aku nemuin di toilet. Lain kali lebih teliti lagi" Kata Dinda.
"Oh syukur deh... Untung aja Lo yang nemuin. Haduh berharga banget jam tangan ini tahu" Kataku dengan mengelus jam tangan itu.
Sebenarnya ada alasan lain di balik jam tangan itu. Ada sesuatu yabg sangat oenting di dalamnya. Rekaman peristiwa waktu itu. Peristiwa dimana Clara berusaha menjatuhkanku ke dalam jurang di Bogor. Aku masih menutupinya. Entahlah, menghukumnya sama dengan menghukum diriku sendiri. Perbuatannya memang sudah kategori kriminal, tapi rasanya tak tega menjebloskan dia ke penjara.
***
Malam begitu sepi karena cuaca gerimis. Hujan memang sudah tidak turun lagi tapi hawa dinginnya masih menggema. Jalanan dari tempat pemberhentian bus sampai pada gerbang menuju perumahan tempat tinggalku sungguh sepi bak kota mati. Aku berjalan sendirian sambil sesekali menutupi kepala dengan tas selempangku. Memang sudah tidak hujan tapi terkadang masih ada titik-titik air yang jatuh entah dari mana. Aku sedikit berlari agar cepat sampai di gerbang perumahan pinggiran tempatku tinggal.
Dari arah depan muncul sepeda motor yang dinaiki tiga orang cowok remaja. Sepeda motor itu menyalakan lampu sangat terang sampai aku harus menutup wajahku dengan kedua tangan. Sepeda motor itu ternyata ada dua dan keduanya berhenti di sekitarku. Satu motor dikendarai tiga orang dan motor lainnya dua orang. Mereka semua turin dan sepertinya memang sengaja mengepungku.
Tanpa banyak bicara mereka menangkapku dan berusaha menarik tanganku. Jelas mereka akan merampokku.
"Tolooong!!!!"Aku berteriak.
Namun mereka buru-buru membungkam mulutku dengan kedua tangannya yang kuat dan kekar. Kupegang erat tasku, menurutku mereka akan merampas tasku dan membawa lari seluruh isinya. Jika dompet dan hapeku terbawa serta bagaimana aku menyambung hidup.
Salah satu menarik tanganku kiriku. Sementara tangan kananku dibiarkan merangkul tas rapat-rapat. Lalu yang lainnya melepas paksa jam tanganku. Pergelangan tanganku sakit dibuatnya. Selesai melepas jam tanganku mereka naik kembali ke atas motor dan berlalu dengan kencangnya.
Dasar rampok goblok, batinku. Di tasku ada uang gajianku malah mereka biarkan. Jam tangan yang belum tentu laku malah dirampok. Oh tidak, jam tangan itu tidak boleh hilang. Aku segera berlari mengejar mereka.
"Woey...rampok...berhenti!!!!" Teriakku.
Namun sekeras apapun aku berteriak tidak ada yang mendengar. Sebab jalanan sedang sangat sepi. Kuperhatikan betul-betul kemana arah motor mereka. Aku terus berlari meski aku tahu motor itu tak akan terkejar. Benar saja. Motor itu terlalu kencang dan aku terlalu lelah mengejar.
Moto itu menghilang di kegelapan. Aku membungkukkan badan dengan terengah-engah. Nafasku serasa hampir habis. Kemana motor itu. Mau diapakan jam tangan itu. Meski aku tahu rasanya tak mungkin, aku tetap berjalan ke arah motor itu melaju. Siapa tahu ada yang melihat atau menolongku atau apalah. Aku sendiri tak tahu harus bagaimana. Aku tak punya rencana.
***