
Penangkapan Om Banu sudah tersebar di stasiun televisi. Bagaimana perasaan Silvi melihat ini? Apalagi dialah yang membuka jalan sehingga Papanya tertangkap.
"Kamu udah dengar berita di tivi?" Tanya Alanta suatu hari saat sekolah sudah masuk kembali.
Aku mengangguk.
"Kenapa kayaknya kamu gak seneng?" Tanya Alanta.
"Alan...aku mikirin Silvi. Jelas dia hancur banget melihat berita itu" Kataku.
Alanta mengangguk. Dia pun setuju dengan pendapatku.
"Gak nyangka ya, anak sebaik dia lahir dari seorang mafia"
Aku mengangguk. Hari pertama masuk digegerkan dengan berita penculikanku. Banyak anak yang berbisik membicarakan kami. Tetapi berbeda dengan Alanta. Mereka semua justru mendewakan Alanta. Alanta sang pahlawan, Alanta remaja pemberani, Alanta hero of the year. Foto-foto candid Alanta pun bermunculan di setiap sudut sekolah.
"Alan...lihat deh, dalam sekejap kamu sudah jadi artis" Ledekku.
Bukannya menjawab komentarku, Alanta justru menggandeng tanganku erat-erat sambil terus berjalan.
"Seneng kan digandeng sama artis?" Katanya.
Alanta akan terus menggandeng tanganku kalau saja Bundanya tidak lewat.
"Alanta.... Temui Bunda di kantor" Katanya.
"Iya Bun" Jawab Alanga.
Entah kenapa feelingku tidak enak. Aku berharap mereka sedang baik-baik saja. Silvi tidak masuk hari ini. Tentu saja dia tidak siap menghadapi dunia yang kini menghujat keluarganya. Berita tentang kasus itu pasti sudah sampai ke telinga Kepala Sekolah, apalagi Ketua Yayasan juga sudah menyaksikan sendiri. Apakah sekolah masih mau menerima Silvi sebagai murid?
"Ros ... Apa bener berita yang beredar?" Tanya Dinda tergopoh-gopoh.
"Berita apa?"
"Yang nyulik kamu, orang suruhan Papanya Silvi?"
Akhirnya berita itu muncul di permukaan. Dinda akhirnya mengetahui. Gosip dengan cepat menyebar. Lebih cepat dari kilatan petir.
"Iya"
"Oh my God....ternyata bener. Kok bisa sih. Apa Silvi punya dendam sama kamu? Tega banget dia" Komentar Dinda.
"Din, please apapun yang dilakukan Papanya, Silvi gak tahu menahu. Silvi gak salah. Dia juga kaget tahu hal itu. Jadi please kita jangan ikut menghujat dia ya, bagaimanapun dia teman kita, sahabat kita"
"Tapi nyawa kamu hampir saja melayang lo Ros, aku dengar itu kasus trafficking kan? Kamu hampir saja dijual ke om-om, masa depan kamu hampir saja terenggut. Hiii aku ngeri dengernya" Kata Dinda.
"Udahlah Din, yang penting sekarang aku dah selamat. Aku gak kenapa-napa" Kataku.
"Berkat Alanta kan???" Dinda mencoba mencairkan suasana dengan meledekku.
"Gue gak ngerti lagi kalo gak ada Alanta nasib gue bakal gimana"
"Trus kalian udah balikan dong pasti?"
"Balikan apaan emang kita ngapain?"
"Lah kalian kan barusan putus makanya Alanta deket sama Clara, trus kalian balikan ya kan??"
"Ck...apaan sih" Aku berlalu dengan senyuman dan Dinda masih saja mencercaku dengan sejumlah pertanyaan bertubi-tubi.
Dan saat aku sedang bersenda gurau dengan Dinda, Clara muncul di ujung lorong. Seperti biasanya, pandangannya penuh kebencian. Tetapi sangat terlihat bagaimana dia mencoba menutupi kemarahannya dengan gaya yang elegan. Dia bergerak maju ke arahku. Sesekali dia melirikku namun dia tidka mengatakan apa-apa. Hanya berlalu begitu saja.
"Dia pasti cemburu banget lihat berita tentang kalian " Komentar Dinda.
Aku hanya bisa diam. Rasanya aneh saja jika Clara membiarkan Alanta dekat kembali denganku. Dia bahkan tidak marah-marah seperti biasa.
***
"Silvi!!!" Panggilku.
Sebuah mobil sudah terparkir di depan rumahnya. Mamanya pun dikelilingi banyak koper. Jelas mereka akan pergi.
"Mama tunggu di mobil ya" Kata Mamanya memberi kesempatan kami berbicara.
Melihatku, Silvi menunduk. Antara rasa bersalah, malu dan kecewa. Aku datang memeluknya.
"Kamu mau kemana?" Tanyaku.
"Aku akan pindah ke Batam. Banyak saudara Mama di sana" Jawabnya.
"Kamu sudah kelas tiga lo, apa nggak nunggu lulus dulu?" Aku mencoba memberi referensi.
"Setahun terlalu lama untuk menanggung semua ini. Lagipula sekolah pasti akan mengeluarkan aku cepat atau lambat. Siapa yang mau menerima anak seorang mafia seperti aku" Jawabnya begitu jelas.
Aku tidak bisa menahannya lagi. Jika aku jadi dia pun mungkin akan melakukan hal yang sama. Berpindah mungkin akan jauh lebih baik.
"Kenapa harus kamu Ros. Kenapa harus kamu korbannya!!" Silvi mulai menangis.
Aku masih berdiri terpaku.
"Aku begitu bodoh sampai gak ngeh kalau Papa melakukan hal semacam itu. Selama ini dia begitu sempurna" Kata Silvi.
"Silvi...aku tidak pernah dendam ke kalian. Kamu adalah sahabatku. Sedikitpun aku tidak ada rasa benci" Kataku.
Silvi tidak menjawab. Ia hanya menghapus air matanya dengan tisu.
"Kamu serius, dia bukan Ibu kandung kamu?" Tiba-tiba Silvi menanyakan Mama.
"Iya. Aku bukan anak kandungnya. Aku diangkat dari panti asuhan"
"Itulah sebabnya dia tega menjual kamu?"
Aku mengangguk.
"Jadi Mama angkat kamu terlibat?"
Sekali lagi aku mengangguk.
"Lakukan seperti yang kulakukan. Laporkan Mama kamu!!" Pinta Silvi.
"Silvi..kenapa tiba-tiba kamu..."
"Ini tidak adil. Papaku tertangkap. Maka Mama kamu juga harus tertangkap"
Aku tercengang. Dia memintaku untuk menjebloskan Mama ke penjara sama seperti yang dia lakukan untuk polisi. Apa yang harus aku lakukan. Aku bahkan tidak yakin jika Mama terlibat. Tapi jelas anak buah Om Banu mengatakan begitu. Transaksi dilakukan oleh Mama.
"Silvi...lima menit lagi" Mamanya mengingatkan dari dalam mobil.
Mamanya tidak ingin menemuiku. Aku paham perasaannya. Aku adalah korban dari tindakan suaminya. Otomatis akulah yang menyebabkan suaminya ditangkap. Kedua, aku adalah anak dari perempuan yang berselingkuh dengan suaminya. Dia tidak ingin bertatap muka denganku untuk memendam semua perasaannya.
Silvi kemudian meninggalkanku. Dia masuk ke dalam mobil dan mobil mulai melaju. Kata-kata terakhirnya membuatku berpikir keras. Ya, memang ini tidak adil. Silvi bersedia menjebak ayahnya agar bisa ditangkap polisi. Tetapi aku membiarkan Mama hidup bebas, padahal jelas Mama terlibat dalam kasus ini.
Satu lagi sahabatku hilang dari hidupku. Setelah Dinda yang tak bisa leluasa bersamaku, sekarang Silvi yang berpindah tempat ke tanah seberang. Alanta masih berdiri di samping motornya menyaksikan mobil Silvi yang menjauh. Alanta tahu aku bersedih. Dia lantas menghampiriku dan menenangkanku dengan caranya yang khas.
Saat aku pergi, beberapa orang yang menurutku adalah wartawan datang. Mereka hendak meliput kondisi rumah Om Banu. Syukurlah Silvi dan Mamanya sudah tidak di rumah. Aku bisa membayangkan betapa hidupnya tidak tenang. Setiap hari harus bersembunyi dari wartawan. Harus menahan diri, menahan malu. Belum lagi menghadapi tetangga yang serba penaaran.
Silvi, semoga kamu bahagia di sana.
***