
Suatu senja.
Aku sedang mengangkat jemuran di atas. Kulihat dari atas Papa pulang dengan sepeda motornya. Dia memang selalu pulang sore. Sama seperti dulu waktu di Malang. Artinya, pekerjaan Papa lancar.
"Ros....Rosa!" Panggil Papa.
Aku segera turun menemui Papa. Kulihat Papa di ruang tamu sedang melepas sepatunya.
"Iya Pa" Jawabku.
"Ijazahmu sudah diantar Nak. Papa memang kasih alamat kantor ke sekolah. Besok Papa coba cari SMP yang bagus ya" Kata Papa sambil beberes.
"Iya Pa" Jawabku.
"Memangnya mau disekolahin di mana?" Sahut Mama sambil membawa teh hangat untuk Papa.
"SMP negeri sudah banyak yang tutup, kita cari sekolah swasta saja" Jawab Papa sambil menerima secangkir teh hangat dari Mama.
"Di mana?" Tanya Mama.
"Rencananya SMP Cendekia, temanku sudah mencarikan formulirnya" Jawab Papa.
Klonteng.....Mama menjatuhkan sendok pengaduk gula. Papa kemudian membungkuk mengambil sendok yang jatuh.
"SMP Cendekia? Yakin? Itu SMP mahal lo Mas? Memangnya punya uang?" Tanya Mama sedikit ragu-ragu.
"Ada lah, yang penting yakin, pasti bisa" Jawab Papa meyakinkan.
"Jangan sombong Mas, kita tinggal di sini masih nyewa. Kita belum punya rumah sendiri, bahkan kita tidak sanggup punya pembantu" Kata Mama.
Papa yang sedari tadi duduk, kini berdiri berhadapan dengan Mama.
"Kenapa Mama selalu memperhitungkan biaya? Kalau kita usaha, kita pasti bisa. Yang penting kita bisa menyekolahkan anak di tempat yang bagus" Jelas Papa dengan sedikit meninggi.
"Terserah, yang penting kebutuhan Monica jangan sampai tergeser" Mama lantas masuk ke dalam dengan kesal setelah menyelesaikan ucapannya.
Lagi-lagi karena aku mereka bertengkar. Aku belum tahu seperti apa SMP Cendekia itu dan seberapa mahal biayanya, sampai Mama merasa tidak sanggup menyekolahkan aku di sana. Tidak adakah sekolah swasta yang lebih murah namun kualitasnya hampir sama? Tapi bukankah sekolah sama saja yang penting adalah keseriusan dalam belajar?
Papa beralih pandang padaku. Ia memandangku dengan pandangan nanar. Untuk sekian kalinya mukanya tercoreng oleh pertengkaran dengan istri ya di hadapan anak kecil. Aku tahu dia malu. Aku menunduk agar dia bisa berdiri tegak.
"Besok kita daftar pagi. Sebab jam 9 Papa sudah harus di kantor" Kata Papa mengakhiri pembicaraan ini dengan lirih.
Sungguh betapa berat beban di pundaknya. Dia berpikir seorang diri. Benar-benar seorang diri. Andai aku bisa meringankan bebannya, tapi bagaimana caranya. Aku bahkan tidak bisa mengangkat bebanku sendiri. Kedua tanganku terlalu kecil untuk sekedar menyentuh, bagaimana mungkin mampu menyangga.
***
SMP Cendekia.
SMP Cendekia. Memang tepat apa yang dikatakan Mama. Ini memang sekolah mahal meskipun biayanya tak semahal SD ku di Malang. Tapi sekolah ini cukup untuk dikategorikan mahal. Yah, mahal untuk ukuran ekonomi menengah ke bawah seperti kami. Sesuai dengan fasilitas yang ditawarkan. Laboratorium bahasa, ruang praktikum IPA, studio musik, koreografi sampai ruang karya ilmiah remaja pun tersedia. Aku masih belum tahu fungsinya.
Bangunan sekolah ini bergaya klasik. Kata Papa ini adalah bekas bangunan Belanda. Terlihat dari bagian bangunan yang temboknya tersusun dari batu batuan berukuran besar. Kokoh namun rapi. Di beberapa bagian terdapat jendela berbentuk lingkaran. Jendela yang identik dengan bangunan tempo dulu. Tiap kelas memiliki sirkulasi udara yang baik sebab jendelanya selalu menjuntai hingga seukuran pusar anak remaja. Ukuran ruangan pun sangat lebar. Cukup lah untuk kejar-kejaran saat istirahat. Ups, aku sudah SMP sekarang,mana sempat kejar-kejaran.
Kami duduk di ruangan Kepala Sekolah yang luas. Ruangan yang spesial untuk jabatan tertinggi di sekolah. Lemari kaca yang menjulang tinggi, meja kerja yang besar, kursi empuk, dan sofa untuk tamu.Tepat di depan kami, seorang perempuan berbadan gemuk, memakai seragam warna abu-abu, dan berkacamata. Rambutnya keriting sebahu, alisnya tebal karena memakai pensil alis, bibirnya merah jambu sedikit keunguan. Aku tak berani menatap lama. Meski dipoles, wajah itu tetap terkesan galak. Apakah memang kepala sekolah harus berdandan galak agar ditakuti dan disegani?
"Aduh bagaimana ya Pak, jalur itu sudah ditutup. Bapak terlambat. Yang ada sekarang jalur reguler, biaya penuh, dan penempatan kelas sesuai nilai ujian akhir" Kata Kepala Sekolah.
"Untuk itulah saya menghadap ke Ibu, supaya dipertimbangkan anak saya mengikuti tes beasiswa itu. Saya mohon diberi kesempatan Bu. Sekolah ini tidak akan rugi menerima anak saya. Ibu bisa lihat kan prestasinya. Baik akademik maupun non akademik. Berbagai kejuaraan dia peroleh semasa SD. Bahkan nilai ujiannya tertinggi kedua se-kota Batu Bu" Pinta Papa.
Apakah ini memalukan? Meminta keringanan biaya karena tak sanggup membayar penuh. Atau Papa sedang memperjuangkan hakku yang seharusnya mendapat keistimewaan karena prestasiku? Aku hanya menunduk mendengarkan pembicaraan keduanya. Sungguh, aku rela jika tidak bersekolah di sini. Aku rela sekolah di SMP biasa yang lebih murah sekalipun tempat ini begitu menggiurkan.
"Banyak anak yang seperti itu Pak, anak-anak yang sekolah di sini harus melalui seleksi yang ketat. Anak bapak bukan satu-satunya" Kata Kepala Sekolah.
Papa mendesah. Sepertinya dia sudah menyerah. Biarlah, aku paham kondisi kami.
"Tolonglah Ibu pertimbangkan lagi. Negara kita menjunjung tinggi generasi yang berprestasi, yang mengharumkan nama bangsa. Seharusnya anak-anak yang memiliki potensi ini mendapat perhatian khusus. Jangan sampai dia tidak bisa berkembang hanya karena sistem yang memperumit" Papa masih berjibaku.
"Tapi Pak...."
"Jika Ibu tetap menolak, tidak apa-apa, saya akan mencari sekolah lain yang lebih menghargai anak saya, sampai jumpa di olimpiade bulan depan" Papa berdiri hendak pamit.
Olimpiade? Bulan depan? Apa maksud Papa? Apa hubungannya olimpiade dengan pendaftaranku ini?
"Eh...maaf Pak. Duduk dulu...sebentar, saya akan bicara dengan Waka Kesiswaan dan panitia PSB, Bapak...duduk dulu. Tunggu sebentar saja" Kepala sekolah berkata dengan terbata-bata lalu dia beranjak meninggalkan kami.
"Pa, apa maksudnya tadi...olimpiade?" Tanyaku sesaat setelah Ibu Kepala Sekolah benar-benar meninggalkan ruangan.
"Jika mereka tidak menerima kamu, muridnya akan menjadi lawanmu di olimpiade bulan depan ini. Dan kalau sampai mereka kalah, mereka akan sangat malu" Kata Papa.
"Ih Papa, belum tentu juga aku bisa menang Pa" Kilahku.
"Papa yakin kamu bisa meraih itu dengan mudah. Sekolah ini bertahun-tahun memenangkan olimpiade. Apa jadinya kalau tahun ini kalah?"
Benar juga. Darimana Papa mendapatkan ide seperti itu disaat situasi terjepit seperti ini. Sejujurnya aku masih harap-harap cemas. Apakah cara ini akan berhasil, dan apakah aku mampu mempertanggungjawabkan ini jika berhasil.
Tek..tok ..tek. tok ... Suara langkah sepatu Ibu Kepala Sekolah. Huft, kami akan menerima keputusan finalnya. Uh, rasanya aku ingin berlari sejauh mungkin. Biar Papa yang mendengarkan hasilnya.
"Ehm Pak...Hartono" Kata Ibu Kepala Sekolah mengawali.
"Iya Bu" Jawab Papa.
Aku menunduk. Menunggu kalimat berikutnya. Menunggu keputusan Ibu Kepala Sekolah. Aku setegang ini. Papa tentu lebih tegang dari aku. Oh Ya Tuhan. Menunggu keputusan ini seperti menunggu vonis hukuman.
***