
"Kamu gak papa kan kalo kita jenguk Dinda dulu?" Tanyaku pada Alanta sewaktu pulang sekolah.
"Baik Nona!!" Jawabnya dengan gaya pengawal pada tuan puteri.
Kutepuk ringan pundaknya dan segera naik ke motor.
Sampai di rumah sakit aku menuju kamar dimana Dinda dirawat. Sebelum masuk kuintip dulu kondisi di dalam sana. Bagaimanapun aku adalah orang lain. Benar saja, kulihat Dinda diapit kedua orang tuanya. Mereka tampak begitu bahagia. Meski Dinda tampak masih pucat, tetapi dia sudah selamat dari pertaruhan nyawa itu.
Sudahlah, aku tidak ingin membuyarkan kebahagian keluarga itu. Aku mundur dan berbalik arah hendak pulang. Alanta menunggu di ujung karena menerima telepon. Tiba-tiba saja pintu terbuka.
"Rosa....kenapa balik, ayo masuk" Kata Papanya Dinda.
"Oh iya Om terima kasih"
"Pacarnya diajak dong"
O o, dari mana Om tahu aku pacaran dengan Alanta. Haduh, salting kan aku jadinya. Dan saat itu juga Alanta tiba di sampingku. Mungkin dia bingung kenapa aku malu-malu begini.
Kami berdua masuk menemui Dinda. Dia tampak sumringah dengan kehadiranku. Aku berhambur ke pelukannya. Tak dipungkiri aku begitu merindukannya semenjak aku pindah ke sekolah lain. Menangis pun aku tak malu.
"Eh jangan nangis dong. Malu sama pacarnya" Kata Dinda.
Dinda lagi. Bagaimana dia tahu aku pacaran dengan Alanta. Kucubit kecil pinggangnya.
"Tapi bener ya kalian udah jadian?" Tanya Dinda dengan berbisik.
"Lah aku pikir udah tahu"
"Belum, tadi Papa yang bilang gitu"
"Oooh"
"Jadi bener apa enggak?"
"Eh..enggak ...eh...anu...iya"
"Selamat ya kalian" Kata Dinda.
"Din....cepet sembuh, entar gue cariin pacar, buar bisa senyum-senyum sendiri kayak Rosa" Sahut Alanta
Kucubit pinggang Alanta karena malu.
"Ih kamu apaan sih"
Dinda tampak berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat sangat bahagia kali ini.
"Kamu beneran mencoba bunuh diri?" Aku bertanya karena penasaran.
Dinda mengangguk santai tanpa malu tanpa ragu.
"Kenapa Din? Kok bisa?"
"Kamu yang ngajarin" Jawab Dinda masih dengan logat yang santai.
"Kok aku?"
"Kamu nekat pindah sekolah untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan bukan"
"Loh, apa hubungannya dengan keadaan kamu ini? Lagian apa yang aku inginkan di sekolah itu?"
"Aku lihat sekarang ini kanu happy banget begitu pindah sekolah. Aku jadi punya ide untuk menjatuhkan diriku sendiri untuk mendapatkan apa yang aku mau"
"Aku masih gak ngerti"
"Mamaku ...."
"Kenapa?"
"Dia nggak akan ngerti kalau aku gak senekat ini. Sudah banyak usaha yang aku lakukan untuk membuat dia ngerti bahwa aku punya hak untuk mengatur hidupku sendiri. Semua gagal. Tapi lihat deh, dengan kenekatanku ini, Mamaku akhirnya ngerti. Papaku akhirnya pulang. Semua yang kuinginkan hadir di sini"
"Itu pemikiran yang bener-bener bodoh. Parah banget kamu Din...parah .." Aku kecewa dengan pemikiran itu. Menurutku itu sangat konyol dan berbahaya.
"Hehehe...tenang ..sebelum aku bertindak aku udah nyiapin semua dengan rapi."
"Apaan?"
"Jadi sebelum aku minum itu, aku nyiapin nomer kamu ke pembantu aku jadi dia cepet hubungi kamu"
"Aduuuuh gila...bener gila" Komentarku.
Dinda yang dulu introvert dan suka menyendiri, sekarang menjadi pemberani, bahkan berani mati. Meskipun di berhasil dengan rencananya, tetaplah aku tidak menyarankan hal itu pada semua remaja. Masih banyak cara lain untuk menuju cita-cita kita, selain dengan cara terbodoh di dunia, yaitu bunuh diri.
***
Sebuah mobil hitam terparkir di depan sekolah. Jelas itu bukan mobil siswa atau guru di sekolah SMA Bintang Harapan. Pasalnya aku tahu para guru tidak sesejahtera First School. Apalagi siswanya. Mereka rata-rata dari kalangan menengah ke bawah. Ditambah lagi sebagian besar ikut orang tuanya bekerja demi menyambung hidup. Lalu mobil siapa itu?
Seseorang keluar dari mobil itu ketika aku datang. Dia muncul lagi di hadapanku. Kali ini dia sendiri tidak bersama teman-temannya. Clara, dia datang lagi. Melihat kehadiranku, dia mendekat dengan berkacak pinggang. Tatapannya masih sama. Masih penuh dengan kebencian.
"Clara ...kamu..."
"Aku gak lama, cuma sebentar"
"Ada apa?" Karena dia bertanya dengan nada tidak enak, akupun menjawab dengan nada serupa.
"Alanta pindah sekolah beberapa hari setelah kamu"
"Oh ya?" Aku pura-pura tidak tahu saja.
"Kamu tahu kemana?"
Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Tetapi aku yakin Clara tidak percaya begitu saja. Dia pasti akan mencari tahu bagaimanapun caranya.
"Well, thanks ya..."
"Buat apa?"
"Untuk keputusanmu yang spektakuler"
"Clara....Clara...tidak ada cara yang membuat Rosa tenggelam begitu saja. Kamu lupa? My name is Rose. Bunga mawar yang berduri. Hati-hati dalam mematahkanku. Jangan-jangan nanti kamu yang ketusuk duri" Jawabku.
Jawabanku membuatnya marah tentu saja. Hampir saja dia menerkamku seperti macan kelaparan, kalau saja tidak ada Alanta yang tiba-tiba muncul.
"Alanta" Sebut Clara.
Alanta muncul dari arah belakangku.
"Clara kamu kok di sini?" Tanya Alanta.
"Kamu...kenapa di sini?" Tanya balik Clara.
Clara kemudian melihat bet saku kami sama.
"Kalian satu sekolah? Jadi kanu pindah ke sini Alan? Bukannya ke...luar negeri?" Tanya Clara bingung.
"Oh iya, aku memang pindah kesini" Alanta dengan santai menjawab.
"Alan...di sekolah yang seperti ini? Kamu yakin? Kamu sudah kelas tiga Alan, sebentar lagi lulus" Kata Clara.
"Trus kenapa? Sekolah seperti ini? Seperti ini gimana maksudnya? Jelek? Tidak berkualitas? Yang jelas, anak-anak di sini lebih sopan dari First Internasional School" Jelas Alanta.
Clara hanya melongo tak bisa berkata apa-apa.
"Kamu kenapa kayaknya kesel banget tadi sama Rosa?" Tiba-tiba saja Alanta bertanya begitu, sepertinya memang sengaja.
"Alan...kamu belum tahu saja siapa cewek ini. Dia.....ah sudahlah, apapun yang aku katakan kamu nggak bakalan percaya" Clara kemudian hendak masuk kembali ke dalam mobil. Lalu dia kembali lagi dan menggelandang tangan Alanta.
Mereka ngobrol berdua. Hatiku remuk melihat mereka berhadapan. Inikah yang dinamakan cemburu? Mereka tak lama. Clara kemudian kembali dan masuk ke dalam mobil.
Pertama, Clara tahu darimana aku pindah ke Bintang Harapan? Kedua dia kemari hanya untuk menanyakan dimana Alanta pindah? Atau ada hal lain? Kupikir dengan pindah kesini akan bebas lepas dari Clara. Nyatanya tidak. Dia masih menguntitku. Dia tidak akan membiarkan hidupku lebih tenang. Apalagi setelah tahu Alanta kembali satu sekolah denganku. Masalahku bekum sepenuhnya selesai.
"Kalian ngomong apa tadi?" Tanyaku datar.
"Kamu cemburu?"
"Aku serius Alan. Kalian ngomong apa?"
"Seperti biasa, dia mengingatkan akan hubungan keluarga kami, dan dia mengancam akan melaporkan ini sama keluargaku"
"Lalu kamu gimana?"
"Gimana apanya?"
"Kamu gak takut?"
"Kenapa mesti takut? Aku gak salah jadi gak perlu takut"
"Maaf ya"
"Untuk?"
"Sejenak aku berpikir kalau....."
"Kalau aku ada main dengan Clara?"
"Enggak...tapi....ah sudahlah"
"Ngomong cemburu aja susah banget"
Aku tidak mendengarkan. Aku berlalu dan dia berjalan lebih cepat agar sejajar denganku. Tangannya sesekali menyenggolku. Dia sedang menggodaku yang sudah kepalang malu.
***