My Name Is Rose

My Name Is Rose
Juknis



Setelah peristiwa semalam, aku tidak berani meninggalkan hapeku di rumah. Aku membawanya kemanapun aku pergi. Aku hanya tidak ingin Nyonya Hamdani mengorek banyak tentangku saat hape kutinggal di rumah. Bisa saja Nyonya Hamdani menelepon lagi dan Mama yang mengangkat.


Dinda tidak masuk hari ini. Dia tidak memberitahuku sebelumnya. Entahlah. Semalam hape kumatikan karena shock dengan apa yang dikatakan Mama. Ketika kunyalakan pun tidak ada satupun sms dari Dinda. Kenapa? Sakit?


Aku melihat Clara dari kejauhan. Dia berjalan bersama teman-temannya yang sama populernya. Aku dengar mereka pernah menampilkan sebuah dance kontemporer saat perayaan ulang tahun sekolah. Aku dengar salah satu dari mereka adalah model remaja ternama.


Clara melihatku sesaat. Kami saling pandang meski dari kejauhan. Menyadari bahwa Clara melihatku, teman-temannya pun melihatku, tentu saja dengan tatapan sinisnya. Mereka kini membenciku atas sesuatu yang tak masuk akal. Memang seperti itulah remaja kota yang sering kulihat di televisi. Darah muda. Begitu para pakar menyebutnya. Kemudian mereka berlalu. Entah kenapa mereka tidak antusias membully ku hari ini. Baguslah.


Aku mencoba menelepon Dinda, namun tak ada jawaban. Apakah dia sakit. Saat ini aku lebih peduli dengan Dinda ketimbang memikirkan bagaimana caranya bisa kembali bersama Clara seperti dulu. Kenyataan yang pahit sudah kuterima sejak kemarin. Sejak dia mengatakan bahwa dia dengan sengaja tidak mengundangku ke acaranya. Sejauh itu dia bertindak. Sedalam itu dia berniat untuk lepas dariku.


Pulang sekolah aku menunggu bus antarkota. Kendaraan yang biasa kutumpangi. Dan saat itulah sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Itu mobil yang biasa kulihat. Seseorang keluar dari sana. Kupikir Dinda yang keluar, ternyata Mamanya. Dia tersenyum padaku lalu menghampiriku.


"Rosa, belum dijemput? Ikut Tante bisa?" Tanya Mama Dinda.


"Oh iya Tante, kemana ya?"


"Lunch dulu"


Aku menurut. Tante Santi, begitu sapaan akrab Mamanya Dinda, sangat baik padaku. Kupikir kami akan menemui Dinda di suatu tempat.


"Dinda kemana Tante?" Tanyaku mengawali obrolan di dalam mobil.


"Dinda kurang enak badan, makanya Tante suruh istirahat dulu. Dinda tidak menelepon?"


Aku menggeleng. Tepat seperti dugaanku. Akhir-akhir ini dia berjuang keras untuk belajar. Mungkin karena terlalu capek, dia akhirnya tumbang. Aku senang, dia memiliki semangat yang luar biasa untuk bisa mengatasi setiap ujiannya sendiri.


Kami tiba di sebuah restoran. Entah kenapa Tante Santi membawaku kemari, bukannya ke tempat Dinda. Bukankah Dinda akan makin membaik jika aku menjenguknya? Ataukah ada alasan lain? Sejauh ini aku masih menurut saja. Kurasa memang ada sesuatu yang akan Tante Santi bahas denganku. Kurasa itu tentang nilai Dinda di sekolah.


"Maaf ya Rosa, Tante harus ngajakin ke sini dulu. Gak papa kan?" Kata Tante Santi sambil membuka-buka buku menu.


Tanpa bertanya kepadaku, Tante Santi memutuskan memesan sejumlah makanan dan minuman. Tapi kudengar menunya tidak terlalu asing. Semacam mi goreng atau apalah itu. Kurasa lidahku akan cocok. Siapa sangka tak jauh dari sekolah ada tempat makan yang cukup bagus. Beberapa kali kulihat anak-anak remaja berseragam sekolah ada di sini, namun mereka berbeda almamater, terlihat dari corak seragam kami yang berbeda. Bisa jadi harga menu di sini sesuai dengan kantong kami para pelajar. Dan mungkin menunya cocok di lidah para remaja.


"Maaf ya Rosa, kita harus bicara...tanpa Dinda" Lanjut Tante Santi.


Aku semakin penasaran apa sebenarnya yang akan kami bahas sampai harus mencari tempat sendiri. Menurutku tidak terlalu serius mengingat Tante Santi sering kali tersenyum saat memandangku. Tetapi tetap saja, aku gugup.


"Ini adalah juknis tes masuk ke SMA First Internasional School" Kata Tante Santi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas di atas meja.


"Di situ tertera kriteria penerimaan siswa baru, kamu pelajari apa yang dibutuhkan Dinda untuk bisa masuk ya, sekalian kamu bantu dia ya" Lanjutnya.


First Internasional School, dengan bahasa pengantar bahasa inggris. Sekolah yang amat bergengsi di negeri ini. Kupikir SMP Insan Mulia sudah sangat bergengsi, rupanya ada yang lebih dari itu. Tentu hanya anak konglomerat yang bisa bersekolah di sana. Bahkan Dinda yang terlahir dengan harta berlimpah pun harus bersaing untuk bisa masuk ke sana.


"Kamu tidak akan bekerja secara gratis" Kata Tante Santi lagi. " Ini masih setengahnya, nanti setelah semua beres alan Tante tambah lagi" Tante Santi menyodorkan amplop cokelat yang tampak tebal. Tentu saja isinya adalah uang. Dia membayarku untuk membimbing Dinda.


Pertanyaan ini membuat Ibu muda di hadapanku tersedak oleh minuman di tangannya. Sesaat kemudian dia terbatuk-batuk. Aku bersiap mengambilkan tisu sebelum dia mengambil lebih dulu.


"Sorry, ehm..Dinda soal gampang. Dia anak yang penurut. Saya yakin Dinda akan senang sekali jika yang membimbingnya adalah sahabatnya sendiri"


Apa karena ini Dinda sakit? Dia mungkin berpikir terlalu keras untuk bisa memenuhi keinginan orang tuanya. Otaknya tidak mampu untuk mengerjakan soal-soal akademis. Hati dan pikirannya ada pada seni rupa. Dia lihai dalam menggambar. Namun bakat itu seakan dikubur dalam oleh kedua orang tuanya.


Mobil berhenti di ujung jalan. Jaraknya sekitar seratus meter dari gerbang perumahan. Tante Santi turut turun dari mobil saat mengantarku. Sengaja aku meminta turun di sini. Sebenarnya Tante Santi berharap bisa mengenal orang tuaku. Tapi untuk saat ini kurasa tidak perlu. Justru itu akan memperkeruh keadaanku sendiri. Mama tidak mungkin akan mentoliler hal semacam ini.


"Tante..." Aku menghentikan langkahnya yang bersiap pergi.


"Ya?" Dia menoleh.


"Sebenarnya...Dinda....."


"Ada apa Rosa?"


"Apa Tante tahu Dinda punya bakat menggambar"


Awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku memberitahukannya. Kurasa penting bagi Tante Santi tahu akan hal ini.


"Nggambar?" Tante Santi tampak terkejut dengan apa yang kukatakan. Benarkah dia tidak tahu sama sekali? Berarti Dinda menyembunyikannya dari Mamanya.


"Oh, masak?" Dia mengulangi.


Sesegera mungkin aku mengambil kertas dari tasku. Kutunjukkan beberapa hasil gambar Dinda yang menurutku mengagumkan. Tante Santi terbelalak melihat kertas-kertas yang kutunjukkan.


"Bukankah ini hebat Tante? Dinda juga pernah bilang kalau dia pengen banget ke sekolah seni. Katanya ada di Jakarta Tante" Jelasku. Namun tampaknya Tante Santi tidak begitu tertarik dengan ucapanku. Dia lebih terkejut dengan lembaran-lembaran itu.


"Ah, ini hanya hobi Ros, dia tidak serius dengan ini " Kata Tante Santi setelah beberapa saat hanya diam.


"Tapi ini fantastis Tante, apa Tante tidak ingin mengasah bakatnya ini? Dia bisa punya galeri sendiri, membuat pameran sendiri, mendirikan perusahaan sendiri Tante" Aku begitu menggebu-gebu meyakinkan seorang ibu dengan dandanan menor ini.


"Oke stop....stop Rosa, STOP!!!" Tante Santi tampak terengah-engah.


"Apapun yang terjadi, Dinda harus bersekolah di First Internasional School. Okey, Dinda akan bersekolah di sana. Dinda pasti setuju. Semua itu demi kebaikan Dinda sendiri. Tugas kamu adalah membimbing Dinda. Paham ya? Tante permisi"


Aku tidak masalah soal itu. Membimbing Dinda sudah bukan lagi sebuah pekerjaan demi uang. Dinda adalah sahabatku sekarang. Aku ingin dia berkembang lebih baik lagi. Hal yang sama kulakukan pada Rania dulu saat kami masih di asuh di sebuah panti asuhan yang sama. Tetapi yang jadi masalah, apakah Dinda dengan sukarela menempuh jalan ini. Aku tidak ingin dia melakukan sesuatu dengan terpaksa. Alu masih memikirkan kondisi Dinda yang menurut Mamanya sedang tidak enak badan. Apakah itu semua karena juknis ini?


***