
Langkahku bimbang saat melewati jalan berumput. Semakin lama semakin melambat. Seperti senja yang memerah perlahan. Seperti angin yang berhembus pelan. Aku ragu. Ya, aku ragu pulang ke rumah. Rumah siapakah sebenarnya yang aku tuju. Benarkah rumah itu rumahku. Kenapa dia tidak berfungsi sebagaimana mestinya, bahwa rumah itu melindungi.
Kuakui aku bersalah.menginjak kaki Mama bukanlah hal yang patut dibenarkan sekalipun dengan alasan yang tepat, membela diri. Audah kuprediksi bahwa hukuman sudah menghadangku malam ini. Mama pasti sudah menyusun rencana untuk membalas perbuatanku tadi pagi. Ah, betapa bodohnya aku. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Tadi pagi aku begitu berani. Sekarang nyaliku ciut. Karena aku sadar, saat ini sampai besok pagi aku sendirian di kandang macan. Sewaktu-waktu macan akan menerkamku tanpa ampun.
Kubuka pelan-pelan pintu gerbang agar tak menimbulkan suara. Sambil menenteng tas besar berisi pakaian dari laundry, aku berjalan berjinjit-jinjit. Tujuannya sama, tidak menimbulkan suara. Kudengar televisi berbunyi lirih. Kudengar pula Monica bernyanyi di dalam kamar. Jantungku berdegup kencang. Hatiku bergidik ketika kuingat peristiwa tadi pagi serta kubayangkan raut murka Mama.
Aku menuju dapur mengambil air minum. Tampaknya Mama tertidur karena dari tadi tak terdengar suaranya sama sekali. Baguslah. Aku membuat teh hangat untuk meredakan rasa lelah. Teguk demi teguk kurasakan hangatnya menembus dada. Seolah menyapu keringnya tenggorokanku. Sampai aku tidak terpikir akan masalahku nanti.
"Sudah pulang kamu!!" Betapa terkejutnya aku ketika Mama tiba-tiba saja memegang lengan kiriku dengan kasar. Sampai-sampai aku tersedak.
Aku tak menyangka secepat ini Mama menangkapku. Aku bahkan tak berani menatap matanya. Pasti menakutkan.
"Berani-beraninya kamu melawan Mama. Beraninya kamu injak kaki Mama!!!" Bentak Mama.
Alu tak berani bersuara apapun. Bahkan mohon ampun pun tak berani. Sebab pasti akan dibalas dengan umpatan yang lebih kejam lagi.
"Sok jago kamu ya berani berdebat dengan Mama!!" Kini Mama menjambak rambutku. Aku meringis kesakitan tetapi sekali lagi aku tidak berani menjawab.
"Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma anak pungut di rumah ini yang tak tahu diri, yang sudah tahu tidak saya inginkan tapi tetep aja tinggal di sini semaumu!!" Mama semakin keras menjambak rambutku.
"Ampun Ma!!" Akhirnya aku bersuara karena sudah tak tahan dengan sakitnya.
"Ampun??? Oh ya tentu saja. Memang seharusnya kamu dapat ampun, setelah...aku hukum kamu!! Anak seperti kamu harus mendapat pelajaran supaya ngerti, supaya paham. Sini!!!"
Mama menggelandangku ke belakang dengan tetap mengomel tak karuan. Alu hanya bisa mengaduh dan meringis kesakitan. Aku bahkan tidak bisa mendengar dengan jelas kata-kata Mama karena saking banyaknya. Mama melemparku ke sebuah ruangan dekat dengan jemuran. Dan mengunci pintu dengan keras.
"Maaa jangan Ma tolong Ma!! Buka pintunya Ma!! Rosa minta maaf Maa...Rosa janji akan menurut sama Mama!!" Pintaku memelas.
Aku melihat sekeliling. Aku belum pernah ke ruangan ini sebelumnya. Kupikir ini adalah gudang. Tetapi ada dipan tanpa kasur di sini, ada kamar mandi yang sudah kering, juga lemari kayu yang tak terlalu tinggi. Menurutku ruangan ini dulunya difungsikan sebagai kamar pembantu leh pemiliki sebelumnya. Kucoba memutar kran di kamar mandi. Masih berfungsi. Syukurlah.
Aku duduk bersandar pada dipan. Memeluk lututku sendiri. Merenungi nasib diri. Sepanjang hidup, baru kali ini aku dikurung ditempat lembab minim cahaya seperti ini. Hanya ada ventilasi empat buah dengan ukuran kecil. Baru kali ini pula aku bertemu seseorang yang tega berbuat seperti ini. Yang sampai hati mengurung gadis 13 tahun yang masih mengenakan seragam sekolah.
Sudah malam. Perutku terasa lapar. Segelas teh hangat yang kuteguk tadi sore belum cukup untuk mengganjal perutku. Aku teringat ada beberapa snack di tas. Satu roti bantal dan satu keripik kentang. Kulahap habis dua snack itu dalam dua menit saja, dan hanya mampu menahan perutku satu atau dua jam saja. Perutku masih sangat lapar. Di saat seperti ini aku berharap Papa tiba-tiba pulang dan menyelamatkanku dari sini.
Semakin malam perutku semakin melilit. Perih, rasanya sedikit sakit di ulul hati. Kurebahkan diri di atas kardus bekas yang kutata sedari tadi. Sampai kapan aku di sini? Sampai kapan meringkuk dan memakai seragam sekolah ini. Gerah, bau tak sedap, lembab. Bagaimana besok aku sekolah?
Alu tidak tahu ini jam berapa. Sudah tengah malam kah? Aku mengantuk hebat. Tetapi aku ingin buang air. Kubongkar barang-barang yang ada di ruangan ini. Kutemukan toples plastik. Lumayan untuk menampung air. Kugunakan air secukupnya untuk buang air kecil. Untung saja kran masih mengalirkan air walau tidak deras.
Aku kembali merebahkan diri. Rasanya lemas sebab aku belum makan sejak tadi sore. Terakhir aku makan tadi siang bersama teman-temanku di sekolah sebelum pulang ke rumah. Aku bertahan. Aku menenangkan diri agar tetap kuat. Agar tetap hidup.
Allahu akbar...allahu akbar....
Adzan apa ini? Isya kah? Aku belum sholat. Sekuat tenaga aku bangun, tetapi hanya sanggup duduk. Ada kran masih mampu mengalir di kamar mandi tapi aku tak kuat berjalan ke sana. Kupakai mukenaku, dan bersiap sholat isya.
Asholatu khoirun minannauum...
Subuh??? Aku bahkan belum sholat isya. Ternyata sudah semalaman aku di sini. Bagaimana aku bisa sekolah jika tetap terkurung di sini. Kutunaikan kewajibanku pada Sang Pencipta, semoga Dia berkenan menolongku.
Tubuhku lemas, dadaku mulai panas, perutku sudah tidak merasa lapar. Aku tidka bisa merasakan apa-apa. Aku lemas, tak kuat melakukan apapun. Matahari semakin tinggi, aku masih belum dibebaskan. Masih untung narapidana di penjara, masih memiliki jatah makan, jatah besuk, dan masih bisa bernapas lega.
Kreek...pintu terbuka, kukira Mama akan melepasku, tapi tidak. Mama hanya membawakanku segelas air dan sepotong roti. Kulahap habis roti itu seperti singa kelaparan. Cukup menyambung nyawaku meski tidak membuat kenyang. Sampai kapan aku di sini. Aku bersandar. Aku memohon kepada Sang Pencipta, semoga Dia datangkan penolongku siapapun yang Dia pilih. Aku belum menemukan Alanta. Aku belum menemukan orang tuaku. Aku baru saja menikmati indahnya bertemu kembali dengan Rania. Tolong beri aku hidup, beri aku kekuatan, biarkan aku tetap bernyawa, agar aku bisa melihat dunia. Biarkan aku mencari orang-orang yang sedarah denganku. Mencari keluargaku.