
"Ntar dulu...istirahat dulu, perutku sakit banget" Kata Clara sambil terus memegangi perutnya.
Kami berhenti di sebuah persimpangan jalan. Ada dua arah jalan yang stau lebar, yang satu lebih sempit.
"Cla...ini kita ambil arah yang mana ya?" Tanyaku.
"Aduh gak tau gue....yang itu kali ya...apa yang itu..."
Aku tahu dia menahan sakit tidak mungkin bisa berpikir jernih. Oh aku baru ingat, saat melewati jalan ke sini, ada tanda yang sengaja dibuat untuk petunjuk.
"Bentar ya Cla...aku cek dulu"
Clara mengangguk. Masih beberapa menit aku memeriksa terdengar suara teriakan. Aku segera kembali pada Clara, dan dia tidak ada. Di mana Clara?
"Clara!!!!" Aku berteriak.
"Tolong...!!!"
Aku segera menuju sumber suara. Kudapati Clara terperosok di jurang. Entahlah apakah itu jurang atau hanya turunan. Yang Jelas jika terpeleset disana akan tembus dengan sungai kecil di bawah sana. Clara berpegangan pada sebuah pohon kecil sambil meringis menahan sakit perutnya.
"Bertahan Cla, gue cari kayu dulu ya!!!" Kataku setengah berteriak.
Clara tidak menjawab, dia hanya meringis dan bertahan sekuat tenaga. Sial. Tidak ada benda yang bisa kugunakan menarik Clara dari bawah sana. Tidak ada tali, juga tidak ada kayu ranting. Tidak ada pilihan, kuulurkan tanganku padanya.
"Pegangan tanganku bisa gak?" Tanyaku.
Clara menaikkan tangannya untuk meraih tanganku. Tetapi tidak sampai.
"Gak bisa" Jawab Clara.
Aku harus cari cara lagi. Beberapa saat kemudian terpikirkan olehku suatu cara. Aku turun beberapa langkah untuk membantu Clara. Tentu saja terlebih dulu aku berpegangan pada sebuah pohon yang lebih kuat. Kini aku bisa meraih Clara hanya dengan mengulurkan tangan.
"Ayo Cla!" Kataku.
Clara mencoba mengulurkan tangannya, uluran pertama gagal, uluran kedua lun juga belum berhasil. Barulah di ukuran ketiga dia berhasil meraih tanganku.
"Pegang yang kuat Cla, aku tarik ke atas ya" Kataku.
Clara mengangguk. Kini kedua tangannya berpegangan erat dengan tanganku. Kutarik dan kuarahkan pada sebuah pohon sejajar dnegan pohon yang kugunakan pegangan. Sekuat tenaga dia berusaha akhirnya dia berhasil meraih pohon itu. Aku bisa bernafas lega. Kini kami sejajar dan dia berusaha untuk naik lebih atas lagi.
Amin, disaat aku lengah, dia justru menginjakkan kakinya yang masih menggunakan sepatu ke tanganku yabg hanya sebelah.
"Cla kena tanganku Cla!!!" Aku mengingatkan Clara yang keliru menginjakkan kaki.
"Cla....sakit!!" Teriakku.
Clara tidak menjawab apa-apa. Dia hanya melihatku dengan pandangan kebencian. Sekali lagi dia menginjak kakiku, dan lepaslah tanganku karena tak kuat menahan. Aku terperosok lebih dalam lagi. Untung aku bisa secepat mungkin menangkap akar sebuah pohon yang berbentuk seperti tali. Meski begitu aku takut akar itu putus.
Aku mendongak ke atas. Kulihat Clara masih di sana dengan senyum yang mengerikan. Lalu dia pergi meninggalkanku dalam kondisi mengkhawatirkan. Aku bertahan sekuat tenaga. Aku tidak mau menyerah begitu saja.
"Toloooong!!!!!.....tolooong!!!!" Aki berteriak sekeras mungkin walaupun aku tahu kecil kemungkinan untuk didengar.
Kemudian aku menyadari, bahwa hanya akan menguras tenagaku jika aku berteriak seperti itu. Aku akan mengandalkan kemampuanku sendiri sambil berharap ada yang datang dan melihatku bergelantungan.
Kulihat area bawah, cukup ngeri, sungai dengan batu-batuan besar dan aliran air yang cukup deras. Kabarnya beberapa hari ini memang turun hujan meski tidak terlalu deras. Itulah kenapa debit air cukup banyak.
Aku bertahan sambil berusaha meraih cabang pohon di atasku. Aku hampir berhasil namun masih gagal. Aku tidka menyerah. Lihat saja nanti Clara, kamu dan segala ide konyolmu tidak akan mampu menghancurkan aku menjadi tanah. Juga tidak akan menenggelamkan aku ke dasar samudera. Justru kamu yang akan mengalami itu.
Aku berusaha meraih batang pohon itu lagi. Aku hampir saja berhasil tetapi aku kurang kiat sehingga terperosok lebih dan lebih dalam lagi. Aku berpegangan lagu lada sesuatu yang kuat. Aku tidak tahu apa yang kupegang. Aku tidak sanggup menghadap ke atas lagi. Kepalaku sudah sanga penat.
Pandanganku kabur, aku terjatuh lebih dalam lagi. Aku bisa merasakan tubuhku basah oleh air sungai. Aku terjatuh tetapi tidak tenggelam. Aku sekuat tenaga membuka mata agat aku tahu apa yang terjadi padaku. Aku berada di atas sebuah rakit yang sudah rusak. Aku bisa melihat beberapa bagian rakit yang sudah lepas.
Oh tidak, rakit berjalan mengikuti aliran air. Sesekali berhenti karena membentur batuan besar. Aku lemas. Aku tidak berdaya, tenagaku sudah habis. Aku hanya bisa pasrah. Kurapalkan segala doa yang kutahu. Sudahlah, jika memang ini sudah akhir kisahku. Biarlah. Tapi setidaknya biarlah semua orang mengenangku menjadi anak yang baik, bukan anak yang malang. Tenagaku benar-benar sudah habis. Semua gelap.
***
Aku membuka mata, semua benar-benar gelap. Hanya sinar rembulan yang menembus pohon-pohon besar. Aku tersadar aku berada di atas rakit yang sudah rusak. Sewaktu-waktu aku bisa tenggelam. Rakit berhenti karena terdampar pada sebuah batu. Aku berpegangan pada batu itu sekuat tenaga agar rakit tidak terseret aliran air, sehingga posisiku tidak bergeser.
Suara aliran air memenuhi udara, ditambah suara serangga yang memekakkan telinga, membuat bulu kudukku merinding. Aku benar-benar sendirian di hutan. Apakah mereka tidak ada yang mencariku? Alanta, apakah dia tidak menyadari bahwa aku tidak ada dalam rombongan?
Udara semakin malam semakin dingin. Dan aku masih mengenakan kaos dan jaket tipis. Badanku menggigil kedinginan. Oh tidak, rakit bergerak kembali mengikuti aliran air. Aku pasrah. Tapi bukan berarti aku menyerah. Aku berusaha tidak pingsan lagi. Aku harus tetap terjaga agar tetap hidup. Bukankah Tuhan memberikan kesempatan manusia untuk merubah nasibnya?
Kulihat dari kejauhan ada sinar yang berpindah-pindah arah. Jelas itu sinar senter. Mereka mencariku, aku tidak yakin tetapi setidaknya ada manusia yang melintas. Aku hendak berteriak minta tolong tetapi aku sama sekali tak punya tenaga.
"Ros...!!!!" Itu suara Alanta. Dia mencariku. Aku bangkit semampuku. Aku berusaha berteriak tetapi tak satupun suara mampu kukeluarkan. Aku mengambil kerikil lalu kulemparkan tetapi tidak cukup kuat untuk membuat suara. Kerikil itu justru masuk dalam air.
"Ros!!!!" Alanta masih di sana. Dia masih mencariku di sekitar sini. Aku berusaha bangkit tetapi tenagaku habis tak bersisa. Aku bahkan tidak bisa menunjukkan bahwa aku ada di bawah sini.
"Ros!!!" Suaranya melemah. Dia menjauh dari tempat ini. Doa mencariku ke sisi lain hutan ini.
Alanta, aku di sini, kembalilah...
Aku hanya mampu berkata dalam hati. Tak satupun huruf keluar dari mulutku. Tuhan sebaik-baik pelindung. Tak henti-hentinya aku berdoa memohon keselamatan padaNya. Semoga ada manusia yang menemukanku siapapun dia.
***