
Mereka masih mengerumuni papan pengumuman saat aku masuk kelas. Aku tidak selera melihat siapa yang terpilih mewakili sekolah dalam lomba olimpiade sains. Setelah satu dari teman-teman baruku tahu hubunganku dengan Alanta, bubar semuanya.
Di dalam kelas masih ramai riuh padahal sudah jam 7 lebih. Guru juga belum hadir di jelas. Anak-anak masih mengerumuni papan pengumuman. Sebab selain diumumkan 3 teratas juga diumumkan nilai masing-masing. Baguslah, artinya mereka peduli dengan nilai mereka sendiri.
Kulihat anak-anak berkumpul pada satu meja. Meski itu bukan hal baru, alias sudah menjadi kebiasaan, tapi kali ini berbeda. Sepertinya mereka sedang bergosip. Ah, pasti tentang aku. Sebab ada Bella di situ. Aku menunduk berjalan menuju kursiku.
"Eh..Ros!!" Panggil Bella.
Aneh, dia tidak kesal. Dia memanggilku dnegan senyuman. Apa dia amnesia, padahal kemarin dia begitu marah denganku. Bella berjalan menghampiriku. Diberikannya tangannya untuk kujabat.
"Sudah siap kerja satu tim denganku?" Tanya Bella.
"Eh?"
"Kami belum lihat pengumuman?"
Aku menggeleng.
"Surprise kan??? Kita satu tim, satu lagi anak kelas sebelah" Kata Bella.
"Oh ya?" Kujabat tangannya yang sedari tadi diacungkan padaku.
"Good luck ya!!" Kata Bella.
Sungguh perubahan yang drastis. Kadang aku berpikir, apa yang ada di pikirannya, sebentar ia marah, sebentar ia baik.
Pulang sekolah, sesuai rencana kami berkumpul berempat. Aku, Bella, anak kelas sebelah dan Alanta sebagai pelatih. Sejauh ini baik-baik saja. Tak ada yang aneh lagi dari Bella.
"Oke... Ada tiga soal saja, silahkan dikerjakan dengan kerjasama" Kata Alanta.
Memang hanya ada tiga soal tapi satu soal saja membutuhkan waktu setengah jam untuk menemukan jawabannya.
"Pusing aku" Komentar Bella.
Aku hanya menimpali dengan senyuman. Tapi aku salut. Dia berusaha keras untuk mencari jawaban. Sementara anak kelas sebelah yang bernama Rizal lebih banyak diam dan bergerak ketimbang Bella yang banyak bicara dan komentar. Tapi justru komentar Bella yang membuat kami tidak jenuh bekerja.
"Bagus. Cuma waktunya kurang cepet. Gak papa besok kita latihan lagi" Kata Alanta.
"Kak, ini sudah boleh pulang kan?" Tanya Rizal.
"Ok...sampai ketemu besok ya" Kata Alanta.
Tinggallah kami bertiga. Ini saat uang mendebarkan. Apakah yang akan dikatakan Bella sekarang ini. Ataukah dia berlalu menghindari kami.
"Bell...makasih ya" Kata Alanta lirih.
Bella tersenyum sebelum meneruskan.
"Starbucks nya jadi kan?" Tanya Bella.
Giliran Alanta yang tersenyum.
"Siap!!" Jawabnya kemudian.
Ali berjalan bersama Bella, kali ini aku memilih naik bus. Tidak setiap hari aku harus diantar Alanta ke tempat kerja. Meski kami berpacaran, tapi kami punya dunia masing-masing.
"Bell...makasih ya..." Aku mengulangi perkataan Alanta.
"Kamu mau kasih Starbucks juga?" Tanya Bella dengan senyum.
Aku tidak bisa menjawab lagi.
"Satu bungkus batagor kayaknya enak" Kata Bella, artinya dia minta ditraktir batagor. Okelah aku pun mencarikan Bella batagor kesukaannya yang tak jauh dari sekolah. Sambil menunggu bus datang, kami mengobrol. Suasana saat ini benar-benar canggung setelah kejadian hari itu.
"Makasih ya ..udah jaga rahasia gue" Kataku mengawali dengan ragu-ragu.
"Setelah gue pikir-pikir, gak ada gunanya protes. Setiap manusia punya hati. Dan gue gak bisa maksain hati kalian untuk nggak saling cinta" Kata Bella sambil mengunyah batagor.
"Thanks" Kataku.
"Sebenarnya kita gak niat rahasiakan dari teman-teman... Tapi...Alanta punya janji dnegan orang tuanya untuk nggak pacaran sampai lulus" Jawabku mulai santai.
"Ooh jadi gitu...tapi artinya kalo anak-anak tahu harusnya gak masalah dong ya"
"Yaa sih...tapi kita takut kalo cepat atau lambat berita ini akan sampa ke Ibunya Alanta"
Bella manggut-manggut sambil berpikir.
"Eh...gue kalo mau mikir ternyata pinter ya?" Kata Bella
Hampir saja aku tersedak mendengar kalimat itu. Ada orang yang segitu pedenya. Tapi its real. Dia benar-benar apa adanya.
"Tuh kan gue bilang juga apa. Kalian itu punya nilai yang sayang banget kalo dianggurin" Komentarku.
"Bener. Gue gak nyangka lo dapat nilai tertinggi ketiga dalam seleksi kemarin..."
Aku mengangguk.
"Gue....gak sama lo dengan anak lainnya" Tiba-tiba saja Bella berkata begitu.
"Hm?"
"Gue gak punya keterampilan sama dnegan yang lain. Orang tua gue kerja di pabrik. Jadi apa yang bisa gue bantuin? Beda dnegan Adi yang bantuin reparasi kipas angin, atau Eni yang berinovasi dengan makanan"
"Kalo cita-cita lo sendiri? Atau hobi deh"
"Mmmm apa ya....kayaknya aku tertarik dengan desain....desain interior.... Arsitek juga boleh"
"Wow, keren"
"Tapi kayak nya gak mungkin" Di sinilah aku melihat raut muka pesimis Bella. Bella yang selama ini terlihat ceria dan banyak omong, hari ini terlihat pesimis.
"Kenapa?"
"Nyak gue sudah ngedaftarin gue di pabrik tempatnya bekerja. Sebab katanya di situ masuknya sulit. Nah dia masukkan lamaran lebih awal supaya pas lulus nanti langsung kerja"
Aku menunduk. Antara enak dan tidak enak. Faktanya banyak orang yang sudah lulus S1 ujung-ujungnya juga kerja di pabrik. Sementara pandangan orang dari lulus SMA langsung kerja di pabrik, seperti pemuda tanpa masa depan.
"Kadang-kadang aku iri sama kamu, kami bisa kerja part time. Jadi bisa sambil sekolah"
"Emang di pabrik gak pakek sistem shift?"
"Ya pakek tapi kan beda dengan part time. Waktunya lebih padet"
"Seandainya bisa, kamu mau kuliah?" Tanyaku.
"Mau. Mau banget. Kalau saja bisa"
"Pasti bisa"
"Kamu mah selalu gitu"
"Kenapa?"
"Kamu mah mesti ngedorong-dorong kita, biar kita greget jalaninnya, aku benci ah"
Kuelus ringan lengannya.
"Bukan. Aku gak benci sama kamu Ros, aku benci karena gak bisa segreget yang kamu bilang. Orang kayak kita memiliki banyak keterbatasan. Karena kita punya orang tua yang butuh duit, bukan sekedar nilai matematika yang tinggi, atau gelar sarjana"
Inilah hidup. Terlalu lama menunggu seseorang menjadi sarjana baru bekerja. Sebagian orang memilih jalan pintas untuk langsung bekerja. Sebab faktanya, hidup perlu uang untuk menyambung hidup, bukan selembar kertas untuk sebuah pengakuan atas suatu kualitas. Di dunia ini hanya sebagian orang yang punya waktu lebih untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi. Sisanya memilih untuk langsung pada intinya.
Ah aku, bagaimana aku akan memilih. Posisiku sama dengan Bella. Sejatinya aku tidak memiliki waktu lebih itu. Aku hanya punya waktu separuh saja dalam sehari untuk mengurus pendidikanku. Akankah aku berbelok arah seperti keluarga Bella? Langsung pada intinya.
Bus datang tepat disaat obrolan kami berakhir. Kami segera masuk ke dalam bus. Seperti biasa, para pelajar akan berdiri di sepanjang perjalanan. Karena kursi sudah penuh dengan penumpang yang lebih tua. Bus bergerak pelan sambil terus mencari penumpang. Seperti hidup, yang bergerak pelan sambil mencari rejeki demi tetap hidup.
***