
Malam ini outlet tak begitu ramai..pengunjung uang datang silih berganti. Banyak bangku yang kosong. Mungkin karena bukan malam minggu. Saat sepi seperti ini, aku mencatat stok persediaan di dapur. Bahan-bahan harus senantiasa dicek agar tidak kehabisan.
"Sst....Ros..ada tamu cari kamu" Kata salah satu teman kerja.
Siapa kira-kira yang datang. Alanta? Ah tidak, dia sedang sibuk dengan olimpiade yang kurang dua hari lagi. Dinda? Oh ya, semoga dia yang datang.
Aku melihat sekeliling, seorang perempuan dengan blazer warna peach sedang menungguku. Perempuan familiar. Langkahku menjadi ragu setelah tahu siapa yang datang mengunjungiku. Nyonya Hamdani. Sekian lama dia tidak mengusik hidupku sekarang dia datang lagi. Dan sudah kuduga dia datang dengan berita buruk.
Aku duduk berhadapan dengan menunduk. Bagaimanapun aku adalah anak kecil. Berhadapan dengan kaum Borjuis seperti dia membuat bulu kudukku merinding.
"Selamat malam Rosa" Kata Nyonya Hamdani.
Terdengar lembut namun tajam di pandangan.
"Tumben Nyonya menemui saya" Kataku.
"Saya tidak tahu, kalau kamu juga bersekolah di First. Clara juga tidak pernah cerita. Ya, mungkin dia takut aku pindahkan ke sekolah lain...tapi dia salah. Kalaupun harus pindah, bukan dia yang akan kupindahkan. Kamu tahu maksudku?"
Aku mengangguk. Intinya dia minta aku pindah sekolah.
"Bagus. Jadi bagaimana? Kamu mau kan?" Tanya Nyonya Hamdani datar.
Yang benar saja, bagaimana aku bisa keluar dari sekolah itu, untuk bisa masuk ke sana saja sudah penuh perjuangan. Aku bahkan mempertaruhkan orang lain dalam hal ini. Lalu dengan enaknya dia memintaku pindah.
"Maaf Nyonya, saya sudah mendapat beasiswa di First, jadi..."
Belum selesai aku bicara, Nyonya Hamdani mengeluarkan amplop cokelat tebal. Sudah bisa diduga isinya uang.
"Saya rasa itu lebih dari cukup untuk mengganti beasiswa kamu" Begitu mudahnya dia berbicara.
Ini bukan masalah uang, ini adalah harga diri, tanggung jawab, pendidikan dan masa depanku. Begitu mudahnya dia membeli nasib seseorang. Dia tidak tahu bagaimana perjuangan Alanta membujukku sampai pada titik ini. Dia tidak tahu bagaimana perjuanganku menahan diri ketika dibully.
"Kenapa Nyonya harus melakukan ini? sebenarnya apa masalahnya jika saya masih sekolah di First? Apakah keberadaanku menjadi ancaman buat Clara?" Aku memberanikan diri.
Mendengar itu Nyonya Hamdani tersenyum sambil menyeruput white coffee.
"Yang pasti iya, jika ada kamu di lingkaran anak saya, its so uncomfortable....untuk saya, anak saya, keluarga saya...kamu pasti ingat kan Clara hampir saja gagal mengikuti Olimpiade Kota. Saya rasa kamu juga tahu itu karena siapa"
Sejenak aku terdiam. Tak ada yang bisa kukatakan. Tidak ada kalimat yang mampu mengubah pemikiran orang di hadapanku ini. Mereka ingin dimengerti tapi tidak mau mencoba mengerti.
"Saya tidak bisa Nyonya. Saya akan tetap melanjutkan sekolah di First. Nyonya jangan khawatir, saya tidak akan menyentuh Clara, jika dia tidak memulai duluan"
"Jadi menurut kamu anak saya yang cari gara-gara?"
"Nyonya juga tidak perlu khawatir, saya tidak akan membeberkan kecurangan yang anak Nyonya lakukan"
"Kecurangan? Kecurangan apa maksud kamu?"
Brakk....Nyonya Hamdani menggebrak meja sehingga beberapa pengunjung terkejut. Menyadari jika perbuatannya menarik perhatian, diapun berusaha merubah sikap.
"Berani sekali kamu mengancam saya. Kamu pikir siapa kamu?" Katanya lirih.
Aku diam. Karena memang keberanianku sudah ciut. Siapa yang berani melawan orang seperti dia.
"Jangan macam-macam Rosa, pikir baik-baik, tidak perlu terburu-buru, ambil uang ini, saya tahu bagaimana kondisi keluarga kamu, jadi jangan egois. Ingat Papa kamu yang lumpuh, ingat Mama kamu yang banyak hutang"
Sembari memberikan amplop itu, Nyonya Hamdani meninggalkan uang untuk membayar minuman yang ia pesan, kemudian dia berlalu. Kulihat tubuhnya dari belakang. Cara jalannya berbeda dengan perempuan pada umumnya. Langkahnya cepat namun cantik. Terlihat sekali setinggi apa kelasnya diantara kami.
Dia tahu segalanya tentang orang tuaku. Jika dia tahu tentang Papa aku maklum, semua orang juga tahu kondisinya. Tapi dia juga tahu tentang Mama. Dia bilang Mama banyak hutang. Benarkah? Lalu bagaimana dia bisa tahu? Dia pasti sudah mengintai keluargaku sejak dulu.
Aku menunduk. Setitik air mata jatuh tanpa kuminta. Namun buru-buru kuusap. Menangispun tak ada gunanya. Keadaan tidak akan berubah dnegan berapapun banyaknya air mata yang tumpah. Semua harus dihadapi, bukan ditangisi kurasa.
"Saha eta teh? Kelihatannya orang kaya ya?" Tanya salah satu teman kerjaku dengan logat sundanya yang kental.
Aku hanya tersenyum tidak menjawab.
***
Aku melihatnya dari jarak sepuluh meter. Melihat keberadaanku, dia berhenti sejenak. Masih terasa kebenciannya padaku sejak pertama aku bersekolah. Dia kemudian melewatiku tanpa memandangku. Rasanya aku ingin pindah ke kelas Dinda. Tapi jika itu kulakukan, Dinda yang akan kena getahnya. Mamanya pasti akan memindahkannya lagi. Tidak, aku tidak bisa melibatkan orang lain lagi.
Waktu istirahat. Semua siswa berbondong-bondong keluar kelas mencari udara segar. Kelas menjadi lebih sepi dari sebelumnya. Aku sudah siap menemui Clara. Jika bukan karena malam itu, aku tidak akan repot-repot melakukan ini. Aku toh tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi. Aku sudah berada di depan bangku Clara. Seketika ketiga temannya bersiap pasang badan di sekitar Clara. Seolah aku akan melakukan sesuatu pada Clara.
"Mau ngapain Lo?" Tanya Jessie ketus.
"Kalian tahu kan, gue gak pernah datang buat cari gara-gara. Jangan sampai ada yang keningnya robek lagi ya"
Ketiganya saling pandang.
"Nih, lo sampein ke nyokap lo, gue gak akan nyerah. Gue akan tetap diam sampai gue lulus. Suruh nyokap lo hitunh, gue gak abil sepeser pun" Kataku sambil memberikan amplop cokelat pemberian Nyonya Hamdani malam itu. Aku mengembalikannya sebagai bukti penolakan.
Aku hendak berlalu, tetapi kemudian aku berbalik lagi.
"Oh ya satu lagi, masa depan gue gak bisa dibeli dengan uang itu"
Huh lega rasanya menyampaikan apa yang kurasakan. Sesuatu yang kutahan-tahan akhirnya kuungkapkan. Kurasakan penuh dengan kemenangan hari ini. Setidaknya mereka tahu, bahwa aku bukan orang yang dengan mudah diinjak-injak harga dirinya. Mereka bisa membeli apapun dengan uang yang mereka miliki, tapi tidak dengan harga diriku.
Aku menuju kantin dengan perasaan campur aduk. Kutinggalkan mereka dengan sejuta pertanyaan yang menyisa. Biar saja mereka mengumpat di belakang,. Aku tak peduli. Aku tahu semua tidak akan berhenti di sini saja. Mereka pasti akan mempersiapkan serangan balasan. Bisa jadi serangan balasannya lebih menyakitkan. Dan aku harus siap dengan itu.
Fighting, Rosa!!
***