
Rekan kerjaku, Mbak Susi sedang mengepak banyak sekali choco roll. Wah, pasti ada yang memesan sebanyak itu. Bisa-bisa aku tidak kerja nih, pikirku.
"Eh Ros. Bantuin dong!!" Kata Mbak Susi.
"Siapa yang pesan Mbak, banyak banget" Tanyaku sambil meletakkan tas di meja.
"Kamu inget gak waktu aku cerita, ada anak seumuranmu borong produk kita sampai habis"
"Waktu di outlet yang lama?"
"Nah itu, ini dia balik lagi. Kali ini buat ultah Mamanya katanya" Kata Mbak Susi sambil terus mengepak choco roll.
Aku bahkan belum berganti seragam. Aku segera membantu Mbak Susi karena sebentar lagi pesanan diambil.
"Lah itu dia" Kata Mbak Susi menunjuk ke arah pintu. Tentu saja aku segera menoleh ke arah yang ditunjuk Mbak Susi. Betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang.
Dia melihat ke arahku dengan tatapan terkejut. Sama terkejutnya denganku. Dia seperti sedang menemukan hartanya yang hilang. Dia tersenyum. Dadanya naik turun melihatku. Seperti sedang memenangkan sebuah kompetisi.
"Rosa" Panggilnya.
Aku tak menjawab. Aku berlari. Keluar dari outlet. Aku berlari dan berlari. Aku tak sanggup menatap wajahnya. Aku marah. Aku benci. Tapi aku juga rindu. Aku tak bisa menguasai diriku sendiri. Aku belum siap bertemu dengannya.
"Ros...Rosa!!" Dia berteriak memanggilku. Dia mengikutiku. Dia bahkan mengejarku.
Aku terus berjalan dengan cepat bahkan setengah berlari. Aku tidak sanggup. Aku belum siap. Benar-benar belum siap.
"Ros...berhenti Ros...kenapa kamu ini" Doa berhasil meraih tanganku. Namun aku segera menghempaskannya dan terus berjalan. Sesekali kuusap air mata yang tiba-tiba menerobos pertahananku. Entah kenapa aku harus menangis dengan hal yang terbilang sepele ini.
Aku masih menghindar. Aku berlari tapi tenagaku sudah menipis. Kembali dia mendapatkan lenganku dan memaksaku berbalik badan. Aku menunduk tak ingin memandang sorot matanya.
"Ros...kenapa? Kamu menghindar terus dari aku" Katanya.
"Ngapain kamu ke sini?? Pergi sana!!!"Aku mendorongnya sampai dia mundur beberapa langkah.
Aku hendak lari tapi dia masih bisa dengan mudah meraih tanganku. Kupukuli dadanya dengan geram, tapi dia tidak melawan. Sampai akhirnya tenagaku benar-benar habis dan kepalaku jatuh di dadanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku marah. Dia tiba-tiba hilang, lalu tiba-tiba muncul kembali.
"Aku benci kamu ..aku benci kamu..huhuhu...pergi sana!!" Suaraku sudah hampir habis.
Dia tidak menjawab apa-apa. Dia hanya memegang kuat kedua lenganku. Aku lemas. Aku terduduk di jalanan. Dia pun ikut terduduk bersamaku. Tanpa sadar aku menangis di pelukannya. Entah apa yang kupikirkan sampai aku menangis seperti orang gila. Segala hal yang kurasakan kuluapkan di sana.
"Kenapa Alan? Kenapa...?" Aku masih tak percaya dia hadir di sini.
Alanta. Sekian tahun kami tak bertemu. Dia tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Ini kebetulan atau dia memang tahu keberadaanku. Aku duduk di tepi jalan memeluk lututku sendiri. Kubenamkan wajahku diantara keduanya. Dunia ini penuh kejutan.
"Minum dulu" Alanta menyodorkan sebotol air mineral padaku.
Aku masih menyembunyikan wajahku dari ya meski tanganku meraih minuman yang ia berikan.
"Kamu marah banget ya sama aku?" Alanta kini berani bertanya setelah sebelumnya hanya memeluk dan menepuk pundakku.
Aku tetap kekeh tidak menjawab. Kupalingkan muka ke arah lain sambil meneguk air mineral.
"Oke...gak usah dijawab. Aku minta maaf. Aku pergi tanpa pamit. Aku...ah sudahlah. Apapun yang aku katakan belum tentu kamu terima"
Aku masih diam seribu bahasa.
"Yuk" Ajak Alanta.
Aku menoleh kali ini. Dia memberikan tangannya untuk kuraih.
"Kemana?" Tanyaku.
"Pulang?"
"Lagian produk kalian udah aku borong tadi"
Malu rasanya aku meraih tangan Alanta. Aku terlalu emosional tadi. Wajarkah jika aku semarah itu padanya. Bagaimana bisa dia yang pernah berjanji akan terus di sampingku dan bahkan mengantarku ke Monas, ternyata justru menghilang tanpa pamit. Dan kini tiba-tiba saja dia kembali di saat aku mulai terbiasa tanpa kehadirannya.
***
Larut malam. Dari lantai atas kulihat sebuah mobil sedan berhenti tepat di depan pagar rumah kami. Dari kejauhan kulihat Mama turun dari mobil itu. Jalannya pun sempoyongan. Dia baru saja menikmati indahnya dunia malam di luar sana. Yang paling kupikirkan adalah Monica. Bagaimana perkembangannya jika mendapat figur seorang ibu yang negatif. Ibu yang sering mengabaikan tanggung jawabnya dan justru memberi contoh yang kurang baik.
Kali ini aku tidak ingin menyambutnya. Biarkan saja dia dengan dunianya. Pikiranku sedang disibukkan dengan hadirnya orang lama, Alanta. Dia tiba-tiba saja ada di sini. Oh, apa yang sedang Tuhan rencanakan sekarang.
Glonteng...siara dari bawah. Mama pasti sedang menabrak sesuatu. Dia mabuk lagi pasti. Kuintip sedikit dari balik pintu. Benar saja. Vas bunga besar dari kayu ambruk. Untung saja tidak mengenai guci di depannya. Jika tidak, maka guci itu akan pecah berantakan dan makin rumit membereskannya.
Kupastikan Mama masuk ke kamarnya. Barulah aku bisa menutup pintu kembali. Dan betapa terkejutnya aku saat berbalik badan, kulihat Monica terduduk menatapku. Dia mungkin terbangun oleh suara benda jatuh tadi.
"Monica kenapa bangun?"
"Ada apa sih kak?"
"Gak papa, tikus kali, yuk bobok lagi" Kataku.
Pagi-pagi sekali Mama sudah berdandan rapi. Harus kuakui, Mama angkatku ini memang sangat cantik. Dandanannya simpel namun elegan. Make up nya pun tipis namun terasa begitu mempesona. Siapa yang akan menyangka jika dia sudah memiliki seorang putri. Dia masih pantas menjadi anak kuliahan.
"Mau kemana kamu pagi-pagi begini?" Tanya Papa yang sedang berjemur di belakang.
"Ada meeting penting Mas" Kata Mam sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.
"Meeting dengan orang ini?" Papa menunjukkan sebuah foto. Lalu dilemparnya foto itu ke arah Mama. Mama memungutnya pelan-pelan.
"Darimana kamu dapat foto ini Mas?" Tanya Mama.
"Nggak penting itu. Yang penting kamu foto seksi sama laki-laki lain, dan kamu juga akan meeting dengan laki-laki itu" Suara Papa meninggi.
"Ini rekan kerja Mas. Ya kerjaku kayak gini. Foto, ganti baju, foto lagi, ganti gaya, foto lagi, ganti tempat, foto lagi"
"Foto model kok posenya gitu, kamu ini model apa cewek panggilan?"
"Stop Mas!!!" Kali ini Mama benar-benar marah. Sampai kami semua yang ada di rumah berhenti sejenak dalam beraktivitas.
"Setiap hari aku kerja demi kalian semua yang enak-enakan di rumah ya. Kamu, yang harusnya nafkahin aku, tapi masih pelihara anak bawa sial itu. Sedikitpun gak mendengarkan omonganku, dan sekarang gak menghargai jerih payahku selama ini?"
"Alah, coba ingat, kapan terakhir kali kamu membawaku ke dokter? Kapan terakhir kau tidur sana Monica? Kamu bilang demi kami??"
"Ahhhh memang susah ngomong sama orang cacat!!"
"Ma....Mama...?" Monica tiba-tiba muncul dari suatu tempat. Dia akan berangkat sekolah.
"Sini .. sini sayang" Mama meraih tangan Monica dan mendekatkan putrinya pada dirinya.
"Lihat nak, lihat Papamu...cuma duduk di situ, sementara Mama harus kerja sampai malam. Kamu lihat sendiri kan? Nanti kalau uang Mama sudah banyak, kita pergi dari sini ya. Kita akan punya rumah sendiri. Ya?"
Bagaimanapun Monica masih anak-anak, dia akan tetap mengangguk karena dia masih sangat polos. Dia tidak tahu apa artinya punya rumah sendiri.
"Arini!! Ngomong apa kamu? Apa yang kamu ajarkan sama anakmu?" Teriak Papa.
"Biar dia tahu yang sebenarnya" Selepas berbicara Mama keluar dari rumah.
***