
"Jahitannya udah bagus ini, tinggal dirawat saja, dan jangan lupa obatnya diminum ya" Kata dokter memeriksa luka di keningku.
"Kalau Papa dok?" Aku masih selalu menanyakan Papa. Aku memastikan pahlawanku baik-baik saja. Jika tidak, akan sulit bagiku memaafkan diriku sendiri.
"Kalau Papanya masih butuh perawatan insentif jadi masih harus di rawat inap ya"
Aku mengerti. Operasi di beberapa bagian tubuh, tentu butuh waktu lebih untuk bisa pulang. Terdengar pintu berderit. Seorang perawat datang untuk memberitahukan sesuatu.
"Ada tamu dik" Katanya.
Sesaat setelah itu, seorang perempuan ibu-ibu masuk. Aku mengenalnya. Dia baik padaku. Tante Santi, Mamanya Dinda. Untuk apa dia kesini?
"Saya boleh bawa Rosa jalan-jalan dok?" Tanya Tante Santi begitu sampai padaku.
"Oh boleh, saya rasa dia butuh refreshing juga" Jawab dokter.
Tante Santi mengajakku ke taman di area rumah sakit. Ada banyak orang di sana. Sebagian adalah pasien, dilihat dari seragam yang mereka kenakan. Tante Santi membelikanku sejumlah makanan dan cemilan. Dia tidak bersama Dinda hari ini. Sahabatku itu hampir setiap hari menjengukku di rumah sakit. Kali ini dia tidak datang.
"Tante senang melihat kamu sudah semakin membaik. Maaf Tante baru hari ini jenguk kamu" Kata Tante Santi.
"Tidak apa-apa Tante, Dinda sudah tiap hari ke sini" Jawabku senang. Setidaknya masih ada seorang ibu yang peduli padaku.
"Tante ikut perihatin ya. Pasti besar biayanya. Tante dengar Papa kamu masih harus menjalani beberapa operasi lagi"
Lagi? Darimana Tante Santi tahu akan hal itu. Padahal aku baru mendengarnya dari dia. Apakah benar Papa akan menjalani operasi lagi. Separah itukah? Tapi bukankah dia sudah bisa menerima kunjungan.
"Rosa, Tante punya penawaran untuk kamu"
"Penawaran?"
Tante Santi menyodorkan kertas formulir padaku. Formulir pendaftaran tes masuk First Internasional School. Sebuah tes penjaringan untuk masuk ke sekolah bergengsi itu. Di dalam formulir itu sudah tertera nama Dinda lengkap dengan biodatanya.
"Kamu bisa bantu Dinda kan?" Tanya Tante Santi.
"Kapan itu Tante? Saya rasa Dinda sudah banyak belajar Tante"
"Besok. Tante masih ragu apakah Dinda bisa lolos tes. Yah, meskipun nilai ujiannya bagus. Tapi..."
"Lalu maksud Tante apa?"
"Kamu yang akan menjalani tes...atas nama Dinda"
Aku? Bagaimana bisa? Apakah maksudnya aku akan menjadi joki? Apakah itu tidak berbahaya? Bagaimana jika ketahuan? Tidak hanya aku, nama Dinda akan dicoret dari pendaftar. Apakah Tante Santi sudah memikirkan ini? Bagaimana akibatnya untuk putrinya?
"Tapi Tante....bagaimana bisa....."
"Saya sudah memikirkan matang-matang. Kamu akan mengikuti tes sebagai Dinda. Sengaja saya pasang foto Dinda mengenakan kacamata. Nanti kamu juga akan menggunakan kacamata dan rambut palsu. Oh ya, jangan khawatir, sudah saya siapkan imbalan yang setimpal" Tante Santi mengeluarkan amplop cokelat tebal yang tentulah isinya adalah uang.
Kubaca nominal yang tertera pada amplop. Tak tanggung-tanggung, dua puluh juta rupiah. Angka yang fantastis untuk remaja sepertiku.
"Pikirkan baik-baik Rosa. Ingat Papa kamu masih butuh perawatan. Dalam keadaan seperti ini, Papa kamu tentu tidak bisa kerja kan. Jadi apa salahnya jika kamu menerima tawaran saya untuk meringankan beban keluarga kamu"
***
Pada hari yang ditentukan. Aku menyodorkan formulir pada petugas di First Internasional School. Beberapa kali petugas membandingkan wajahku dengan foto yang disertakan pada formulir.
"Kacamatanya beda ya" Komentar salah satu petugas.
"Oh iya, baru ganti" Jawabku ragu.
Aku tidak memperhatikan model kacamata yang ada di foto Dinda. Tante Santi mungkin lupa menyiapkan ini.
"Oke. Silahkan mengambil tempat duduk sesuai nomor ya" Kata Petugas akhirnya.
Kursiku berada di deretan belakang. Aku duduk untuk menenangkan diri. Aku berdoa agar ini segera berakhir. Ini pertama kalinya aku melakukan kecurangan. Aku terpaksa karena keadaan. Sebenarnya bukan karena uang yang diberikan Tante Santi. Tapi karena Papa memang membutuhkan biaya saat ini.
Dari kejauhan aku melihat seseorang yang membuat jantungku semakin kencang bertabuh. Nyonya Hamdani juga ada di sini. Aku menunduk agar dia tidak melihatku. Sekalipun aku memakai rambut palsu dan kacamata, bisa saja dia mengenaliku dan membongkar semuanya. Tak hanya aku, keluarga Dinda juga akan mendapat masalah. Dan Papa, bisa saja tidak mendapatkan uang itu untuk berobat. Aku menunduk sampai Nyonya Hamdani keluar ruangan.
Rupanya Clara juga mengikuti tes hari ini. Kursinya ada di ujung depan. Dia cukup berani menurutku, mengingat kemampuannya di sekolah yang masih standar. Aku berharap dia tidak mengenaliku, atau dia akan melaporkan pada Mamanya.
Soal-soal yang diberikan cukup sulit. Beberapa soal adalah bermodel nalaristik. Persis dengan olimpiade yang kuikuti selama ini. Jika saja Dinda mengikuti tes sendiri, belum tentu dia akan lolos. Aku juga tidak berani menyombongkan diri. Aku sendiri belum tentu akan lolos dengan kemampuanku.
Seratus dua puluh menit waktu yang disediakan. Pekerjaanku sudah selesai. Banyak peserta yang sudah mengumpulkan. Kulihat Clara masih duduk manis di kursinya. Aku harus menunggu dia keluar agar dia tidak melihatku. Waktu hampir habis. Aku tidak bisa menunggu Clara selesai. Bisa-bisa aku justru kehabisan waktu dan mempengaruhi kelolosan.
Aku mengumpulkan lembar jawaban tepat di depan Clara. Kebetulan petugas sedang berdiri di sana. Kuberikan lembar jawabanku pada petugas itu.
"Dinda Melani Putri, oke" Kata Petugas itu.
Mendengar nama itu, Clara menoleh. Seolah mengenal nama Dinda. Ya, dia memang mengenalnya. Dia sangat hafal Dinda sebagai sahabatku. Cepat-cepat kupalingkan muka dan segera keluar ruangan. Kupercepat langkahku agar tidak bertemu Nyonya Hamdani.
Aku tidak ingin menunggu bus di depan sekolah. Aku berjalan sejauh mungkin agar tidak bertemu dengan mereka. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Jantungku berdegup kencang. Bisa saja ini mobilnya Nyonya Hamdani. Aku gugup. Bagaimana aku akan mengelak dari ini. Aku akan ketahuan. Bagaimana ini.
"Rosa, ayo masuk" Tante Santi mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.
Huft. Aku lega. Itu mobil Tante Santi. Aku segera masuk ke mobil. Keringat mulai bermunculan di dahiku. Aku benar-benar takut.
"Bagaimana? Sukses?" Tanya Tante Santi.
"I..iya Tante, tinggal nunggu hasilnya" Jawabku sedikit takut.
"Setelah ini adalah wawancara orang tua. Itu urusan Tante. Terima kasih ya"
Begitulah orang kaya. Mereka bisa membeli segalanya dengan uang mereka. Bahkan pendidikan pun bisa dimanipulasi dengan mudah. Ada pertanyaan besar di benakku yang belum aku tanyakan kepada Tante Santi. Setujukah Dinda dengan cara ini? Apakah dia tahu akan hal ini? Atau dia hanya bisa menurut seperti biasa?
Hari ini aku melakukan kecurangan. Hal yang tak pernah kutoliler dalam hidupku selama ini. Keadaan memaksaku melakukan hal di luar naluriku. Kota metropolitan sudah memaksaku berubah. Memaksaku menjadi manusia jahat dalam versiku.
***