
"Makasih udah anterin pulang. Lagian gak perlu lo tiap hari antar aku pulang. Kasihan tukang ojek gak ada rejeki" Kataku.
"Hahaha...besok aku pakek seragam ojek aja kalo gitu"
Aku mencibir.
"By the way kamu kok bisa sih tiba-tiba ada di depan outlet aku. Nguntitin aku yaa??"
"Hahah pagi aku sudah ke sana, kata Mbak...siapa itu yang kerja di sana, yang badannya tinggi item?"
"Mbak Susi"
"Nah itu, katanya kamu hari ini shift sore. Ya udah sekalian aja aku nanya biasanya tutup jam berapa"
"Jadi tadi pagi kamu sudah ke outlet?"
Alanta mengangguk. Jadi, brosur itu...
"Kamu yang nitipin sesuatu ke Mbak Susi?"
"Ya, aku pikir kamu berhak untuk mencoba" begitu tenangnya dia menjawab itu. Tidak tahukah dia batinku berkecamuk ketika melihat brosur itu.
"Kalimatku kemarin kurang jelas ya? Aku belum butuh sekolah, aku butuh duit Alan....duit!!"
"Aku pikir kalimatku juga sangat jelas. Kamu berhak untuk mencoba. Apapun kondisi kamu, menyerah bukan pilihan terbaik"
"Ah sudahlah Alan, aku lagi males banget buat debat"
"Kamu pikir baik-baik, besok aku datang lagi"
Alanta memutar balik motornya dan berlalu pergi. Mataku sudah sangat ngantuk. Untung tadi aku tidak tertidur di atas motor seperti kemarin. Jika tidak, aku akan sangat malu dengan Alanta.
Aku hampir sampai rumah saat kulihat tiga orang laki-laki memakai jaket hitam ada di depan pagar. Mereka seperti sedang mencari seseorang. Salah satunya bahkan mendongakkan kepala ke kanan dan kiri seolah sedang mengintip.
"Maaf siapa ya?" Tanyaku pada mereka. Aku menunjukkan ekspresi tidak suka. Tidak nyaman rasanya diperlakukan seperti ini. Mereka seperti paparazi yang hendak mencari informasi.
"Ini benar rumahnya Arini?" Tanya salah satunya.
"Iya, benar, Mas bertiga ini siapa ya cari Mama saya?"
Mendadak ketiganya saling pandang. Seolah mereka bingung dengan panggilan yang kusebutkan.
"Arini ada di dalam?" Tanya yang lain lagi.
"Tidak, biasanya pulang malam banget. Jam dua belasan"
"Tunggu sebentar. Ini rumah Arini model fashion kan?"
"Iya itu Mama saya"
"Baik, nanti kalau pulang, bilang saja Jacob mencarinya"
Aku mengangguk, dan mereka pun pergi sebelum aku sempat bertanya siapa Jacob itu dan ada urusan apa dengan Mama.
Pagi-pagi sekali Mama sudah bangun. Mungkin aku terlalu lelah sampai tidak tahu kapan Mama pulang. Mama sudah bangun bahkan ketika Monica dan Papa masih terlelap. Mama sedang menerima telepon di teras. Dari mimik wajahnya, dia tampak sedang marah. Apakah mungkin ada hubungannya dengan tiga pria semalam?
"Waduh....trus gimana urusannya nih, itu sudah buka puluhan, ratusan!!! Usahain dong" Begitu kalimat yang kudengar dari Mama.
"Ahhhh" Lalu Mama menutup telepon. Aku segera menyingkir agar tidak terlihat mencolok jika aku mengintip.
Mama kemudian menuju dapur untuk minum. Jadilah kami berdampingan. Stop Rosa stop, jangan tanya apapun ke Mama. Sudah cukup jangan urusi urusannya. Cukup hidupmu sendiri. Setelah minum, Mama hendak ke depan lagi, namun buru-buru dia kembali lagi ke dapur.
"Ros, ada orang di depan. Kami hadepin. Bilang Mama gak di rumah ya. Ada pemotretan di luar kota gitu ya. Atau apalah terserah. Cepetan" Kata Mama sedikit panik.
Aku menurutinya. Dan ternyata benar dugaanku. Tiga pria semalam datang lagi.
"Belum pulang Mas!" Aku berteriak dari tengah pintu. Dan ketiga pria itu ada di luar pagar.
"Kapan pulangnya?" Tanya salah satunya
"Belum tahu. Ada pemotretan di luar kota" Jawabku.
Tanpa berkata apa-apa mereka kemudian mengegas motornya dan pergi.
Sesaat kemudian Mama sudah berada di belakangku. Dia melengok ke sekeliling lalu menghela nafas lega.
"Ah syukur udah pergi" Begitu saja tanpa berterima kasih padaku.
Sungguh aku menjadi penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi. Tapi stop, aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan Mama. Sesaat kemudian Mama menelepon seseorang dan terdengar lagi kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa Mama sedang panik.
"Anak buahnya Jack datang lagi" hanya itu kalimat yang kudengar. Kupikir Jack itu Jacob.
Selang beberapa hari ketiga pria itu datang lagi. Kali ini aku sendirian. Mama sedang mengantar Papa terapi. Tentu saja Monica ikut. Hari ini aku benar-benar ingin berbicara dengan mereka. Maka dari itu kupersilahkan dia masuk. Sejak awal melihat mereka, aku tahu mereka tidak seperti seorang rentenir. Tapi aku juga yakin mereka bukan rekan dalam sebuah kerjasama.
"Adek tenang saja, kami tidak akan teriak-teriak atau mengobrak abrik rumah adek sampai tetangga dengar semua" Kata salah satunya.
Aku mendengarkan. Sungguh aku bergidik berhadapan dengan mereka seorang diri.
"Adek lihat ini" Kata yang lain dengan menyodorkan satu map berkas.
Kubuka lembar demi lembar berkas itu. Di situ tertulis akad perjanjian kerjasama. Namun aku tidak begitu paham apa isinya. Tertulis pula jumlah nominal uang yang jumlahnya ratusan juta. Jiga tertulis beberapa kota di Jakarta. Aku masih belum paham maksudnya.
"Ini hanya salinan. Yang asli kami bawa. Jika Arini tidak memenuhi kerjasama sesuai dengan akad kerjasama ini, kami bisa laporkan ke polisi" Yang lain lagi berkata.
Deg, sungguh aku tidak menyangka ancaman seperti ini akan terjadi pada keluarga kami. Bagaimana jika Mama benar-benar tidak mampu memenuhi?
"A....apa yang harus kami lakukan?" Tanyaku dengan takut.
"Besok malam, suruh Arini datang ke tempat Jacob. Arini sudah paham di mana. Jika tidak, kami akan jadikan surat ini sebagai bukti penipuan"
Sebenarnya apa susahnya hanya dengan datang menemui orang yang disebutkan tadi. Ah, tentu ada alasan kenapa Mama sampai tidak bisa mendatangi orang itu. Sebenarnya kerjasama apa yang mereka lakukan sampai sejauh ini. Dan kenapa Mama tidak memenuhi sesuai dengan perjanjian yang mereka sepakati.
"Jadwal Mamaku sibuk Mas. Setiap hari ada pemotretan. Bagaimana jika beaok malam Mama belum bisa hadir. Apakah ada tenggang waktu?"
"Hahaha, sesibuk apa sih pekerjaan model itu? Sampai Arini tidka bisa menyempatkan waktu ke tempat Jacob? Atau lebih mudahnya, transfer saja uangnya. Beres"
Oh jadi ini soal uang. Asal Mama bisa memberikan sesuai nominal yang tertulis dalam akad kerjasama itu, Mama bisa lepas dari Jacob. Tapi uang sebanyak itu aku tidak punya. Apakah Mama punya? Pekerjaannya kan menjanjikan banyak uang. Tapi kenapa Mama tidak memberi saja uang itu. Apakah benar-benar Mama tidak punya? Lalu kemana uang hasilnya bekerja?
Sebelum kuberikan Mama, salinan akad perjanjian itu terlebih dulu kufotokopi. Suatu saat akan kupelajari. Jadi paling tidak aku tahu akar masalah yang menimpa Mama. Ah, kenapa aku jadi ikut campur urusan Mama. Tapi aku harus ingat, masalah ini suatu hari nanti akan menyeret yang lain. Papa, Monica, bahkan aku. Maka aku tidak bisa cuek begitu saja. Maka aku harus bersiap.
***