
Kelulusan SMP Insan Mulia.
Aku tidak percaya akhirnya aku mampu menyelesaikannya. Kupikir aku akan berhenti di tengah jalan, tentu saja karena biaya. Setelah Papa mengalami kecelakaan, ekonomi keluarga kami benar-benar tumbang. Sejumlah tabungan yang kami miliki ludes. Upah dari Tante Santi yang kudapatkan dengan melakukan kecurangan pun sudah raib. Apakah memang tidak berkah karena jalanku yang salah.
Semua siswa memakai pakaian nasional dan dibalut dengan busana wisuda yang sudah lumrah di jamanku. Sekolah ini sekolah bergengsi. Tentu saja perpisahan menjadi momen yang bergengsi pula. Mereka menggunakan busana terbaik dari para designer mahal. Walaupun mereka tahu, busana itu akan tertutupi oleh baju jubah toga. Untuk memeriahkan acara, sekolah mengundang band ternama di ibukota. Bahkan grup band ini sudah mengeluarkan album dan sudah booming.
Kala sang vokalis mulai mengibaskan rambutnya, semua siswi mulai berteriak riuh. Siapa yang tak mengagumi ketampanan vokalis band yang suaranya serak-serak basah itu. Keringatnya membentuk lingkaran-lingkaran tak beraturan di sekujur kaosnya, menambah jantannya sang vokalis.
Kulihat dari kejauhan, Nyonya Hamdani tampak berbicara dengan kepala sekolah dan beberapa orang lain yang kurasa adalah petinggi sekolah ini. Dan di sampingnya, Tuan Hamdani, atasan Papa. Setelah Papa tidak lagi bekerja di perusahaannya, dia belum pernah datang lagi. Dan diantara mereka Clara berdiri. Dia tetap saja anggun meski tubuhnya terbungkus baju toga. Rambutnya digelung ringan, dan di ujung depan berwarna kecokelatan. Kulit putihnya semakin menambah cantiknya dia. Hari ini mungkin terkahir aku bertemu dengannya, setelah ini kita akan jarang atau bahkan tidak pernah bertemu. Karena sepertinya aku tidka akan melanjutkan sekolah ke SMA manapun. Aku akan mengakhiri petualanganku dalam mencari ilmu. Aku akan berganti mencari uang, demi kebutuhan hidup
Acara hura-hura selesai. Berganti dengan pengukuhan para wisudawan wisudawati SMP Insan Mulia. semua siswa diminta duduk di tempat yang disediakan. Para orang tua sudah berdatangan. Jangan tanya tentang orang tuaku. Mereka tidak akan datang hari ini. Papa tidak mungkin keluar dari rumah. Dan Mama juga tidak mungkin sudi meninggalkan pekerjaannya demi datang ke acaraku.
"Hadirin sekalian, kita mendapatkan kabar gembira....ehm..." Kepala Sekolah memberikan sambutan.
Sambil tersenyum anggun, Kepala Sekolah SMP Insan Mulia yang merupakan seorang perempuan memberikan kesan-kesannya tentang para donatur sekolah.
"Saya sungguh tersanjung, beliau-beliau ini sudi menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini"
Kemudian disambut dengan tepuk tangan para hadirin.
"Salah satu donatur kota yang tergabung dalam anggota Komite Yayasan Insan Mulia, beliau Ibu Nurmalina Hamdani, yang biasa kita sebut Ibu Hamdani"
Ya, sudah kuduga begitu dekatnya keluarga Clara dengan sekolah ini. Kemudian Nyonya Hamdani berjalan dari bangku paling belakang menuju ke panggung melewati semua hadirin, termasuk aku. Sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, Nyonya Hamdani berjalan dengan senyumnya yang manis.
"Beliau telah menyumbang sebuah laboratorium komputer, dengan jumlah komputer 20 unit. Dengan demikian, sekolah kita memiliki tiga laboratorium komputer"
Tepuk tangan hadirin lebih keras lagi kali ini. Dan Nyonya Hamdani semakin tersipu malu dengan kalimat Kepala Sekolah.
"Ini merupakan kehormatan bagi kami, sekolah kita ini akan lebih maju dengan sumbangan tersebut. Pembelajaran berbasis teknologi menjadi lebih merata" Demikian Kepala Sekolah mengakhiri sambutan.
Nyonya Hamdani memberikan sebuah plakat bertuliskan nominal uang yang akan disumbangkan untuk pembangunan laboratorium komputer. Sumbangan ini sekaligus sebagai perpisahan, sebab putrinya hari ini telah lulus. Itu ia sampaikan pada sambutan singkatnya.
"Anak-anakku, dan hadirin sekalian, saatnya kami umumkan tiga siswa terbaik dengan perolehan nilai akumulasi antara nilai ujian nasional dan ujian yayasan. Tiga siswa ini akan mendapatkan beasiswa pendidikan selama satu tahun" Kata Waka Kesiswaan.
Penonton bertepuk tangan dengan riuh. Para siswa pun memberikan teriakan semangat. Semua siswa sudah menduga bahwa dia akan mendapatkan nilai yang tinggi. Yang dipanggil segera menuju ke panggung untuk mendapatkan penghargaan.
"Terbaik kedua, Dinda Melani Putri!!"
Kali ini hanya sedikit yang bertepuk tangan. Semua mata kini memandang Dinda. Dinda pun melongo karena namanya disebut. Rasanya tak percaya, seorang Dinda yang selama ini bahkan tak dikenal, nyatanya meraih gelar siswa terbaik kedua di sekolah bergengsi ini.
Dinda ragu-ragu saat berdiri. Sebelum itu, dia berbisik " Berarti yang pertama kamu!" Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan betapa dia saat ini sangat bahagia. Dari kejauhan kulihat Tante Santi bertepuk tangan dengan berdiri. Dia juga pasti tidak menyangka jika putri semata wayangnya mampu sampai di titik ini.
"Dan yang paling ditunggu tentu peringkat pertama... Jangan menunggu yang tidak pasti" Kata Waka Kesiswaan.
Hadirin serentak tertawa ringan. Waka Kesiswaan ini bisa juga bercanda.
"Baik. Terbaik pertama diraih oleh Ananda Clara Britania Putri"
Sama seperti saat Dinda dipanggil, tak banyak yang bertepuk tangan. Namun teman satu gengnya memberi tepuk tangan dengan berdiri sehingga beberapa yang lain juga ikut berdiri. Kurasa ada yang aneh. Clara? Dia mendapat terbaik pertama? Jika Dinda diragukan oleh orang lain, tapi tidak denganku. Aku percaya jika Dinda mampu. Dia memang mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak kubimbing. Tapi Clara? Aku tidak melihat ada perkembangan yang drastis. Gak tahu juga lah, kami toh beda kelas.
Jujur aku kecewa. Apakah karena aku bekerja nilaiku turun. Padahal aku sangat yakin mampu menjawab soal-soal ujian dengan baik. Anehnya lagi, nilai ujian tidak dibagikan. Hanya ada daftar akumulasi nilai akhir yang akan dipasang di papan pengumuman nanti. Bahkan Dinda pun mengalahkanku. Tak apa. Dia sudah membayar mahal untuk bimbinganku.
Ketiga siswa terbaik mendapatkan beasiswa pendidikan selama satu tahun di SMA manapun yang dipilihnya. Sungguh mereka anak yang beruntung. Sudah kaya tambah kaya lagi. Dan hidupnya semakin mudah. Ah sudahlah, aku toh tak ingin melanjutkan ke SMA. Aku lebih memilih mencari kerja. Aku butuh bertahan hidup. Ujianku bukan lagi soal matematika tapi soal hidup dan mati.
Selesai acara semua siswa berfoto bersama keluarganya. Sekali lagi jangan tanya keluargaku. Mereka tidak ada di sini. Aku hanya duduk di teras kelas sambil melihat mereka yang bahagia di pelukan kedua orang tuanya. Mungkin sudah nasibku untuk hidup sendiri, menentukan langkahku sendiri, berdiri di kakiku sendiri.
Kulihat Nyonya Hamdani begitu bangga memamerkan putrinya sebagai siswa terbaik SMP Insan Mulia. Begitupun Clara yang dengan senyumnya yang cantik sedang tersipu dengan sejumlah pujian dari orang-orang petinggi itu. Mereka seakan membuktikan padaku, bahwa Clara lebih baik dariku. Merekalah pemenang sejati.
"Rosa!!" Tante Santi memanggilku dari kejauhan. Dia melambaikan tangan memintaku datang. Akupun memenuhi panggilannya.
"Ini dia sahabatnya anak saya, ini juga yang kasih privat anak saya" Alu senang Tante Santi tidak melupakan jasaku. Dia justru memamerkanku di hadapan banyak wali murid yang lain.
Lain halnya dengan Dinda. Dia tidak tampak senang dengan apa yang dia terima hari ini. Raut wajahnya memandangku penuh tanya. Aku tahu dia kecewa atas hasil yang disampaikan oleh Waka Kesiswaan. Tetapi apakah kami bisa mengubah keadaan?
***