
"Bapak lihat yang tadi naik motor boncengan tiga orang gak?" Tanyaku pada sembarang orang yang kutemui.
"Yang mana Neng?"
"Yang tadi suara knalpotnya keras banget!" Jawabku.
"Woh anak anak muda tadi to. Belok situ lo mbak" Jawab salah satu orang yang kutemui secara random.
Aku segera menuju ke arah yang disebutkan. Dengan langkah kupercepat aku berharap mereka berhenti di sekitar itu sehingga lebih cepat kulaporkan polisi. Hapeku sudah ku share loc dan kukirim pada Alanta. Dia paham jika aku mengirim lokasi berarti aku butuh bantuan.
Alu berjalan lebih cepat dari seblumnya. Aku berbelok dan tak kudapati apa-apa kecuali sandal jepit terbalik sekitar tong sampah. Sandal jepit itu, ya aku ingat itu sandal yang dipakai salah satu pemotor. Apakah mereka lewat sini? Atau mungkin mereka membuang jam tanganku di tong sampah itu?
Tanpa pikir panjang aku mengobrak abrik isi tong sampah seperti pengemis jalanan. Kotor dan bau tak lagi kuhiraukan. Jam tangan itu harus ketemu bagaimanapun caranya.
"Hoey!!" Teriak seseorang.
Tentu saja aku terkejut dan sedikit takut. Orang itu bertubuh besar dan berkepala botak.
"Nyari apa??" Katanya dengan nada marah.
Mungkin ia berpikir aku orang gila. Mana ada orang gila berpakaian rapi begini. Atau mungkin ia berpikir aku pencuri.
"Saya nyari jam tangan Pak. Jam tangan saya dijambret orang" Jawabku panik.
"Jam tangan dijambret kok nyari di sini..ya pastinya dibawa kabur to"
Benar juga. Kenapa aku repot-repot cari di tong sampah. Tidak mungkin mereka membuangnya di sini. Untuk apa mereka capek-capek jambret kalau pada akhirnya dibuang.
"Ada apa ini?" Seorang satpam muncul dari kejauhan.
"Ini Pak, Mbak nya ini nyari jam tangan. Tapi serius nyari jam tangan? Nggak masang bom?" Tanya laki-laki berkepala botak itu.
"Serius Pak. Saya bukan pencuri apalagi naruh bom" Kataku memelas.
"Sekarang gini, ketemu nggak di tong itu?" Tanya Satpam.
"Tidak Pak" Jawabku.
"Ya sudah sebaiknya Mbak pergi dari pada menimbulkan keresahan di sini" Kata Satpam.
"Iya Pak"
Tidak ada pilihan. Sepertinya memang tidak mungkin ada di sekitar sini. Aku berjalan lagi beberapa meter. Dan kulihat di ujung jembatan kecil ada benda berkilau. Aku segera mendekati. Benar saja. Jam tanganku terjepit diantara besi dan batu. Bagaimana bisa jam tanganku di sini.
Di saat aku berusaha menarik jam tanganku, dari kejauhan muncullah sebuah motor dengan cahaya yang terang. Lalu motor itu berhenti di sekitarku.
"Ros!!"
Aku menoleh. Alanta.
"Ada apa?" Alanta khawatir.
"Bantuin ini....kejepit ini" Kataku.
Alanta membantuku dan dalam sekejap jam tanganku dapat kuambil. Namun bagian utamanya sudah rusak..sepertinya memang dipukul dengan batu. Kacanya pecah dan tidak berfungsi lagi.
"Jadi kamu bela-belain kayak gini cuma karena jam tangan?" Tanya Alanta kesal.
Wajar, siapapun pasti akan berpikir begitu. Hanya demi sebuah jam tangan, aku meminta seseorang yang jadwalnya padat jauh jauh datang untukku. Demi sebuah jam tangan aku membuat diriku kotor mengobrak abrik tong sampah.
"Berapa sih harganya, aku bisa beliin buat kamu. Lihat kamu sampai kotor begini, berantakan" Katanya.
"Alan, bukan masalah harganya Lan. Kamu tahu seberapa berharga nya jam tangan itu? Kamu tahu gimana ceritanya jam tangan itu nyampek ke situ? Ada lima orang yang nyerang aku dan anehnya mereka cuma jambret jam tanganku. Dan ujung-ujungnya dirusak kayak gini...jam tangan itu adalah bukti kerja pertamaku, dan itu simbol persahabatanku dengan Dinda. Jika itu terjadi pada apapun pemberian kamu aku juga akan ngelakuin hal yang sama kok...."
Sebelum aku meneruskan pembicaraanku, Alanta memelukku.
"Sudah...sudah...aku minta maaf...aku ngerti...aku ngerti...sudah ya"
Tadinya aku baik-baik saja, tapi setelah berada di pelukan Alanta aku malah menumpahkan air mata. Antara nelangsa dan haru. Begitu damai di pelukannya, begitu aman rasanya. Meski dia terlambat datang tapi dia tidak pernah ingkar janji, dia akan tetap datang. Alanta mengantarku pulang.
Sampai di rumah. Aku segera mengecek kondisi jam tanganku. Karena kacanya sudah pecah, maka jelas rekaman suaranya sudah hilang. Tak ada bunyi sama sekali ketika kupencet. Huft. Hilanglah sudah semua bukti-bukti itu. Bodohnya aku, kenapa kukatakan pada Clara bahwa aku punya rekaman kejadian itu di jam tanganku. Yah, aku sadar sekarang. Orang-orang itu adalah suruhan Clara. Pantas saja hanya jam tangan yang dijambret, bukan tas atau uang.
***
Aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, namun di depan sudah ada Alanta yang nangkring di di atas motor.
"Hai sayang, mau sekolah, kamu gak papa kan? Ada yang luka?" Tanya Alanta.
Aku menggeleng.
"Ayo aku anter" Katanya.
Aku menurut. Sudah lebih dari seminggu dia tidak mengantarku karena kesibukannya mengurus pendaftaran kuliah di Malaysia. Aku pun sudah kangen dengannya.
Sepanjang jalan semuanya tampak baik saja. Tapi ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku. Aku sedang menyimpan sebuah rahasia darinya. Bukankah seharusnya saling jujur dengan pasangan? Jika masih ada yang disembunyikan maka hubungan itu tidaklah baik.
"Alan aku lapar, bisa mampir sarapan dulu?" Kataku.
"Oke" Jawabnya tanpa ba bi bu lagi.
Kami berhenti di tukang bubur pinggir jalan. Kami duduk di atas tikar yang tergelar tepat menindih rumput. Alanta begitu menikmati pagi ini. Dia sekarang sudah mahasiswa, waktunya begitu santai tidak terbebani oleh berbagai aturan.
"Alan...." Kataku mengawali.
"Hm?"
"Aku minta maaf soal semalam" Kataku
Dia tidak menjawab. Hanya mengelus lenganku ringan. Itu cukup menandakan bahwa ia memaafkan.
"Alan....ada sesuatu di balik jam tangan itu yang kamu gak tahu" Kataku dengan ragu.
Barulah Alanta memperhatikanku dengan seksama. Dia sudah siap mendengarkan penuturanku.
"Jam tangan itu bisa merekam suara di sekitarnya..."
"Oke, trus?"
"Dan aku merekam kejadian waktu itu, waktu aku terperosok ke jurang di Bogor"
Alanta menaruh mangkuk buburnya dan menggenggam tanganku. Dia tampak terkejut dengan kalimatku. Aku mengeluarkan jam tanganku dari dalam tas.
"Sekarang kondisinya rusak" Kataku.
"Tidak bisa diperbaiki?"
"Sepertinya tidak"
"Siapa pelakunya, yang mendorong kamu ke jurang"
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab.
"Clara"
"Shits!! Bisa-bisanya dia pura-pura gak ada apa-apa kurang ajar!!" Umpat Alanta.
Aku terdiam.
"Ini gak bisa dibiarkan. Lama-lama mereka semakin ngelunjak. Kita harus menindak mereka"
"Nggak mungkin Lan, rekaman itu sudah tidak ada, jam tanganku sudah rusak"
"****!!"
Alanta mulai emosi. Inilah yang kuhindari selama ini.
"Kenapa kamu nggak jujur dari dulu. Kenapa kamu lindungi pengecut itu?" Protes Alanta.
"Aku tidak sedang melindungi siapa-siapa kecuali diriku sendiri Alan. Kamu pikir aku punya kekuatan untuk melawan mereka? Selama aku masih pelajar dan seorang diri aku tidak bisa berbuat apa-apa"
Alanta memegang kedua pipiku. Matanya menunjukkan kemarahan yang berapi-api. Namun ada kedamaian yang terselip pila di sana.
"Kami nggak sendiri, ada aku. Kamu punya aku. Kita bisa menghentikan mereka asal kita bersama-sama"
"Kamu, aku, sekuat apapun kita bersama. Kita tetaplah anak-anak. Ada hati yang sedang kujaga. Ada hubungan yang sesang kupelihara. Ibu kamu, dan Nyonya Hamdani"
***