
Angin berhembus dari utara ke selatan. Artinya, sebentar lagi akan turun hujan. Begitu yang sering kudengar. Daun-daun pohon Akasia berguguran di tanah. Udara menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Aku masih menunggu Alanta keluar dari kelasnya. Hal yang sudah biasa kulakukan. Alanta sudah kelas 6, selalu ada saja kelas tambahan untuk menghadapi Ebta Nasional meski ini masih caturwulan kedua. Aku akan menunggu sampai dia keluar kelas. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padanya. Sampai saat ini, masih dia satu-satunya sahabatku di sini. Aku memang kurang gaul, mungkin karena aku sudah menemukan sahabat sebaik Alanta, sehingga tidak ingin punya teman lain lagi. Atau karena Rania, aku tidak ingin menempatkan orang lain di posisi Rania, karena aku yakin, aku akan menemukannya. Ya, suatu hari nanti.
Tet...tet...tet...
Bel khusus kelas 6 berbunyi. Kenapa khusus kelas 6, karena berbunyi saat kelas lain sudah pulang, dan tersisa kelas enam saja. Puluhan siswa kelas enam yang terdiri dari empat ruang kelas ini berhamburan keluar. Tampak sekali raut gembira di wajah mereka yang senang mendengar bunyi bel, artinya mereka bebas melepas penatnya pelajaran tambahan. Pandanganku tertuju pada ruang kelas di hadapanku. Kelas Alanta. Dia akan segera keluar dari sana. Aku menunggu penuh harap. Aku akan bersepeda dengannya. Aku akan naik di belakang dengan posisi berdiri, dia yang mengendalikan sepeda. Kami akan ke alun-alun Batu, sekedar membeli ketan susu, dan bercerita panjang lebar. Lalu kami akan kembali ke sekolah saat Papa sudah menjemputku. Aku akan bercerita tentang malam itu. Dimana Mama tak berhasil menidurkan Monica, justru aku yang bisa melakukannya.
"Rosa, kamu belum pulang? Belum dijemput?" Suara Bu Susi, wali kelas Alanta, membuyarkan lamunanku.
"Oh belum Bu, Papa pulang sore lagi hari ini" Jawabku.
Aku mengintip ke arah belakang Bu Susi, berharap Alanta muncul di sana.
"Cari siapa?" Tanya Bu Susi membuatku salah tingkah.
"Alanta ... tidak masuk ya Bu?" Tanyaku.
"Ya nggak dong, kan sudah tidak sekolah di sini" Jawab Bu Susi.
"Tidak sekolah di sini gimana Bu?" Aku tidak paham maksud Bu Susi.
"Kamu belum tahu?"
Aku menggeleng pelan.
"Alanta sudah pindah sekolah sejak senin kemarin" Jawab Bu Susi dengan tenangnya.
Apa? pindah? Sejak Senin? Dan ini sudah hari Rabu. Bagaimana aku bisa tidak tahu hal sebesar ini? Keterlaluan. Apakah Alanta pernah cerita tentang ini tapi aku tidak memperhatikan? Sahabat macam apa aku ini. Oh tidak, bukan aku, tapi dia. Seingatku dia tidak pernah cerita kalau akan pindah. Sahabat macam apa dia. Kenapa secepat ini dia pindah. Kenapa? Kemana? Oh tidak.
Ah, Alanta, tega sekali kamu. Aku duduk di bawah pohon akasia, tempat dimana aku duduk menunggu Alanta. Aku tidak berdaya. Dia sahabatku satu-satunya di sekolah ini. Dan sekarang menghilang tanpa kabar, tanpa pesan apapun, tanoa kata-kata terakhir. Oh Tuhan, bagaimana dia bisa melupakanku segampang ini.
Bress....hujan tiba-tiba saja turun, sedang pohon akasia, sekalipun lebat daunnya tidak akan mampu menahan air hujan sampai ke tubuhku. Aku berlari menuju pos satpam. Tempat dimana aku biasa menunggu Papa menjemput. Ini .asih setengah tiga sore. Papa akan menjemputku sekitar setengah empat sore. Masih satu jam lagi aku harus menunggu.
Tumben pos satpam sepi. Tidak biasanya. Mungkin pak satpam sedang ke toilet. Baguslah. Tidak akan ada yang menggangguku yang sedang ingin sendiri. Aku sedih jujur saja. Siapa yang mau kehilangan seperti ini. Sekaligus juga marah. Dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku apapun. Kemana sebenarnya dia pindah. Apa dia lupa kalau sudah kelas enam. Sebentar lagi juga lulus. Kenapa tidak menunggu lulus. Apa dia tidak tahu aku sangat membutuhkannya saat ini. Aku butuh teman, aku butuh dukungan, aku butuh hiburan.
Sekonyong-konyong pak satpam kembali entah darimana. Ia berlari dengan kedua tangan memayungi kepala. Aku mengangguk memberi hormat kepada yang lebih tua.
"Lha ini nih, yang bapak cari-cari dari kemarin nih" Kata Pak Satpam begitu melihatku.
"Ada apa ya Pak?" Tanyaku sedikit takut.
Aku memang sering menunggu jemputan dari Papa di pos satpam ini. Dan ditemani Pak Satpam ini pula. Lalu kenapa kemarin dia mencariku? Ada apa? Apakah aku melakukan kesalahan?
"Ini...ada titipan dari Alanta" Kata Pak Satpam memberiku kotak kardus kecil.
"Alanta Pak?"
"Iya, yang pindah itu lo"
Alanta, dia meninggalkan pesan untukku. Dia tidak melupakanku. Sebuah kotak kecil terbuat dari kardus. Kubuka kotak itu. Ada beberapa barang di sana. Ada miniatur Monas, ah dia tahu aku sangat ingin ke Monas. Lalu foto kami berdua berseragam pramuka saat mengikuti kunjungan ke kebun jeruk. Dan, sepucuk surat, ini yang membuatku penasaran.
Hai, Rosa.
Maaf aku tidak sempat memberitahu sebelumnya, karena memang mendadak. Aku pindah ke Bandung. Ayahku mendapatkan promosi kerja di sana. Semoga kita bisa ketemu lagi ya.
Salam
Alanta
Bandung, Alanta pindah ke Bandung. Dimana Bandung itu? Apakah dekat dengan Jakarta? Jika dekat, aku ingin pergi ke salah satunya, antara Bandung dan Jakarta, dan menemukan keduanya. Alanta dan Rania. Ah, aku bahkan belum menceritakan tentang Rania kepada Alanta. Dulu aku berpikir keras agar bisa menemukan Rania. Sekarang aku harus berpikir dua kali untuk mencari Alanta juga.
Tit..tit...suara klakson mobil Papa. Papa sudah menjemput. Aku masuk ke mobil dan seperti beberapa hari sebelumnya, Papa tampak tak sebergairah dulu. Mungkin pekerjaannya sedang banyak-banyaknya sehingga menguras pikiran. Kami terdiam. Tak ada yang kami obrolkan.
"Halo, iya pak saya Pak Hartono, masih ingat?" Papa berbicara di telepon.
"Ya...betul, bagaimana tentang pembicaraan kita kemarin Pak?" Lanjut Papa.
Aku tidak berani berucap sepatah katapun. Aku hanya melihat ke arah luar. Ada sawah yang membentang di luar sana. Kunikmati saja pemandangan itu.
"Ah ya jangan segitu lah Pak, mobil saya kan keluaran terbaru, mesinnya masih bagus, bisa dicek lah Pak, belum juga tiga tahun saya belinya" Kata Papa.
Mobil? Ada apa dengan mobil ini? Sepertinya papa menawarkan sebuah harga. Apakah mobil ini akan dijual? Kenapa? Aku rasa ekonomi keluarga kami baik-baik saja. Aku juga tidak pernah kekurangan uang saku.
Papa menutup telepon sambil mengumpat. Meskipun lirih tapi aku dengar. Aku juga tahu, Papa berusaha menyembunyikan kemarahannya dariku, aku pun berpura-pura tidak mendengar, aki terus saja menoleh ke arah luar. Aku tidak ingin Papa merasa tidak nyaman dengan keberadaanku. Aku ingin semua tampak normal saja. Meskipun dadaku berdesir karena takut. Apa yang kutakutkan aku sendiri tidak tahu. Karena faktanya, orang yang ada di sampingku adalah orang asing yang secara tertulis menjadi orang tua asuhku.
Lebih baik diam. Ya, diam.