My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kerak Telor



Enam ratus meter menuju halte bus. Aku berjalan sendiri seusai pulang kerja. Selama liburan semester genap aku mengambil sift pagi. Alasannya jelas, karena aku takut pulang malam sendirian. Perempuan masih belia, jalan sendiri di kota Jakarta ini rasanya rawan sekali.


Sebuah motor berjalan pelan di sampingku. Aku tahu siapa yang mengendarainya. Motor ini yang kemarin mengantarku pulang. Meski hanya sekali tapi aku masih ingat. Benar saja. Setelah helmnya dibuka, dia tersenyum padaku.


"Alanta" Panggilku.


"Kemarin belum sempat ngobrol, jalan yuk"


"Kamu nguntitin aku?"


"Hahaha....serasa jadi artis ya ngomong kayak gitu?"


Alanta memberikan gestur agar aku segera naik motor gedenya. Motor melaju menuju jalan besar. Entah dia akan membawaku kemana. Rambutku bersibak oleh gerakan angin. Teringat masa kecil dulu, dia memboncengku dengan sepedanya. Aku berdiri di bagian belakang dengan berpegangan pundaknya. Saat melewati turunan kami seakan meluncur dari puncak gunung ke dataran rendah. Rambutku berkibar seperti kibaran bendera yang diterpa angin. Bahagiaku sesederhana itu.


Kami tak pergi jauh. Hanya ke sebuah taman hijau yang dikelilingi jajanan ringan jalanan. Alanta membelikanku kerak telor dan es teh dengan irisan leci. Sederhana, murah tapi enak. Kami duduk di salah satu kursi panjang yang disediakan.


"Maaf ya aku emosional banget kemarin" Kataku dengan muka malu.


"Gak papa. Aku paham kok. Kamu pasti marah banget keinget waktu dulu"


"Memang kamu masih inget janji kamu?"


"Aku gak akan ninggalin kamu sebelum aku bawa kamu ke Monas"


Aku tersenyum. Sahabat lamaku sudah kembali. Dia masih sama seperti dulu. Dia masih ingat janjinya membawaku ke Monas. Padahal aku belum menceritakan perihal Rania padanya. Dia pun tak bertanya panjang lebar tentang tujuanku ke Monas.


"Tunggu dulu, bukannya kamu pindahnya ke Bandung?"


Alanta tersenyum dengan pertanyaanku.


"Kamu masih ingat kemana pertama kali aku pindah? Ceritanya panjang. Aku memang pindah ke Bandung karena Ayahku mendapat promosi kerja di sana. Setahun kemudian Eyang dari Bunda meninggal dan mewariskan sebuah yayasan. Di situ Bunda harus turut mengurus Yayasan. Jadilah kami pindah ke Jakarta"


Aku mengangguk.


"Kamu sendiri? Bagaimana bisa sampai di Jakarta?" Alanta berbalik bertanya.


"Ceritaku lebih panjang dari ceritamu"


Alanta terkekeh sambil menikmati kerak telor di tangannya.


"Perusahaan tempat Papaku kerja bangkrut, Papa terpaksa harus cari tempat lain. Kami pindah ke Semarang, atas saran salah satu teman Papa. Di sana Papaku kerja di sebuah perusahaan. Dan mendapat promosi ke Jakarta. Jadilah kami di sini sekarang"


"Cukup panjang" Alanta tidak sedang berkomentar, tapi dia meledekku, aku hapal betul.


Kucubit pinggangnya dan dia mengaduh. Puas rasanya membuatnya meringis kesakitan.


"Monas. Tapi akhirnya kamu sudah ke sana kan?" Tanya Alanta.


"Sudah"


"Seneng?"


"Entahlah"


"Begitu berartinya Monas buat kamu ya? Diantara banyak tempat, kenapa harus Monas"


Aku menghela nafas panjang sebelum aku melanjutkan.


"Sebenarnya, aku sedang mencari seseorang"


Mendengar penuturanku, Alanta terkejut. Terlihat dari posisi duduknya yang tiba-tiba berubah.


"Dia, teman masa kecil yang sama-sama dibesarkan di panti. Kudengar dia diadopsi oleh keluarga di Jakarta. Aku berharap ketika aku ke Monas, dia menungguku di sana"


"Sampai segitunya?"


"Dan kemarin kalian bertemu?"


Aku hendak menjawab iya, tapi kuurungkan. Aku akan menyimpan ini rapat-rapat. Bahkan kepada Alanta sekalipun. Aku tidak ingin siapapun tahu tentang masa lalu kami. Semua demi keamanan Rania. Aku heran dengan diriku sendiri. Aku masih saja melakukan sesuatu untuk Rania meski aku tahu dia sudah menjauh. Dan aku pun tak tahu mengapa aku melakukannya.


"Oh ya kamu sekolah di mana? Ntar kita bisa berangkat bareng, atau aku jemput kamu" Tiba-tiba saja Alanta membahas masalah ini. Mungkin dia hendak mencairkan suasana.


"Aku dah lulus"


"Iya SMP nya lulus, SMA nya?"


Aku menggeleng.


"Belum daftar? Yang bener aja, udah tanggal segini"


"Ehm...aku kayaknya istirahat dulu deh"


"Ha?"


"Aku mau cari modal dulu"


"Maksudnya...maksudnya kerja gitu? Jadi pelayan outlet?"


Aku mengangguk.


"Ini bukan Rosa banget. Bukan kamu banget ini"


"Keadaanku gak kayak dulu lagi Alan, saat ini aku gak lagi mengejar sertifikat, piagam, piala, atau apalah, aku sekarang butuh kerja buat nyambung hidup"


"Tapi...tapi kan kamu masih muda. Kamu harus sekolah dong. Kerja boleh aja tapi kan sekolah tetep nomer satu"


"Kondisi keluargaku sekarang berada di roda paling bawah. Papaku sakit sampai gak bisa kerja lagi..."


"Ibu angkat?"


"Dia gak sama dengan ibu-ibu yang lain...makanya aku harus berdiri di kakiku sendiri..."


"Tunggu dulu, berbeda gimana maksudnya?"


"Ah udah lah, kamu gak akan ngerti"


"Ya makanya kasih tahu aku?"


"Yang jelas, aku harus kerja untuk menghidupi keluargaku, juga untuk diriku sendiri. Kamu gak perlu khawatirkan pendidikanku. Nanti kalau sudah mencukupi aku akan mengejar ketinggalanku. Yang pasti untuk sekarang ini, aku butuh duit, butuh kerja"


Tampaknya Alan sudah kehabisan cara untuk membujukku. Diapun terdiam. Mungkin dia memikirkan sesuatu tentangku. Bjarlah. Aku tak ingin membuka celah lebih dalam lagi. Masalah keluargaku akan kutelan mentah-mentah. Biar aku saja. Orang lain tak perlu tahu lebih dalam.


Langit sudah berubah warna menjadi oranye. Lukisan alam sudah terlihat lebih nyata di ufuk barat. Lampu-lampu kota sudah menyala. Udarapun berhembus semakin dingin. Alanta mengantarkanku pulang. Hawa dingin seakan membius mataku. Beberapa kali mataku terpejam. Beberapa kali pula secara tak sadar aku bersandar di punggung Alanta. Aku bisa merasakan, Alanta menarik tanganku ke depan. Dia memegangi kedua pergelangan tanganku. Dia tahu aku mengantuk. Dia tahu aku tertidur meski tak pulas.


Motor melaju tak terlalu kencang. Desiran angin yang menyentuh tubuh tak begitu terasa karena motor berjalan pelan. Aku masih bisa mendengar suara riuh jalanan. Namun aku tak bisa memastikan suara apa itu. Semua semakin tidak jelas. Sesekali aku membuka mata namun lebih banyak terpejam.


"Ros ...Rosa bangun!" Kata Alanta membangunkan dengan pelan.


Aku bisa merasakan motor sedang berhenti. Aku membuka mata. Dan barulah aku tahu di mana kau sekarang. Aku berada di ujung jalan masuk menuju kompleks. Di situlah batas akhir Alanta mengantarku. Itu merupakan permintaanku. Kemarin dia juga mengantarku sampai sini. Akan timbul banyak pertanyaan jika dia mengantarku sampai depan rumah.


Aku segera turun dari motor. Terlebih dulu aku melihat sekeliling. Setelah yakin ini memang jalan menuju rumahku, barulah aku turun dari motor.


"Sorry Alan, kayaknya aku tadi ketiduran" Kataku.


"It's okay, jaga kesehatan. Jangan terlalu capek. Untuk aja tadi punggungku uang kamu tempelin. Kalo tukang ojek, kebanyakan untung dia"


Aku tersenyum


***