My Name Is Rose

My Name Is Rose
Bintang Harapan



SMA Bintang Harapan. Di sinilah aku sekarang. Bukan lagi di First Internasional School. Kupikir aku mampu melawan kekuasaan di sekolah itu. Ternyata tidak. Semakin aku melawan semakin aku lelah. Semakin aku bertahan semakin aku terluka.


Awalnya akuu berpikir akan tetap bertahan di First demi membuktikan kemampuanku atas mereka. Tetapi kemudian aku melapangkan pikiranku. Terkadang kita harus meletakkan sesuatu demi meraih sesuatu yang lain. Seperti yang dikatakan Bu Sarah. Masa depan tidak hanya di tangan First. Sekalipun itu sekolah bergengsi dan melahirkan banyak generasi dengan mas depan cerah.


SMA Bintang Harapan. Sama sekali berbeda dengan First. Taman yang tidak tertata, banyak rumput liar, ruangan kelas yang temboknya sudah menjamur, meja kursi yang penuh coretan tipe ex, serta kamar mani yang bau pesing. Ditambah lagi kantin yang hanya ada satu, perpustakaan yang sempit dan sepi peminat, juga laboratorum komputer yang hanya nama. Hanya ada satu komputer tabung dan itupun tidak berfungsi sempurna.


Kini seragamku bukan lagi jaz almamater dengan rok di atas lutut dan rompi yang trendi. Seragamku hanya putih abu-abu, seragam olahraga dan pramuka. Sepatu wajib hitam. Kaos kaki wajib putih. Dan tas ransel sebab tidak ada loker untuk siswa.


"Perkenalkan saya Rosa Nirwasita, panggilan Rosa, saya pindahan dari First Internasional School" Aku memperkenalkan diri.


Mendengar nama sekolahku dulu, mata mereka terbelalak. Mungkin terkejut jika ada pindahan dari sekolah bergengsi.


"Baik ada yang mau bertanya pada Rosa?" Tanya Guru kelas.


"Ada Bu!!" Seorang siswa mengangkat tangan.


"Iya Yogi, silahkan"


"Sudah punya pacar belum?"


"Huuuuuu....."


"Tenang...tenang....Rosa silahkan duduk, cari bangku yang masih kosong ya" Kata Guru.


Perilaku yang tidak pernah kudapatkan dari First Internasional School. Anak-anak di sini masih senang bergurau, bercanda atau semacamnya. Sementara di First, semua anak tampak serius, sehingga tidak akan terlalu peduli dengan anak baru atau pindahan.


"Eh beneran kamu pernah sekolah di First. Katanya di sana banyak guru bule ya?" Tanya seorang siswi yang sebangku denganku.


"Eh..iya, tapi gak semua kok..." Jawabku.


"Oh ya, trus ngomongnya pakek bahasa inggris terus gitu?" Dia masih bertanya padahal guru sudah memulai pelajaran.


"Oh ya kadang-kadang. Eh dilanjut entar ya, kan udah mulai pelajarannya" Kataku.


"Oke" Jawabnya.


Baru juga beberapa menit dia bertanya lagi.


"Bayarnya mahal banget ya katanya?"


Harus bagaimana aku menjawab. Dia tidak mengerti juga bahwa pelajaran sudah dimulai, tandanya seluruh anak harus memperhatikan, bukannya ngobrol sendiri.


Kulihat sekeliling. Benar-benar berbeda. Sebagian bermain hape, sebagian malah baca novel, sebagian ngobrol sendiri termasuk anak di sampingku. Pantas saja di sini sepi peminat. Dan mungkin hanya anak orang yang kurang mampu atau anak kurang memiliki prestasi yang bersekolah di sini.


Bel istirahat. Jika di sekolah yang duku, anak-anak menghambur ke kantin yang luas dan banyak jumlahnya serta sudah mirip dengan food court di mall, di sekolah ini hanya ada satu kantin. Dan uniknya anak-anak di sini tidak terlalu banyak yang berminat ke kantin. Rata-rata justru membawa bekal dari rumah.


"Oh my God!!" Salah satu siswi yang duduk di bangku paling belakang berteriak setelah melihat hape.


"Apaan sih!! Ada apa?" Siswa lain bertanya.


Lalu siswi itu membisikkan sesuatu ke teman di sampingnya. Temannya membisikkan sesuatu ke telinga teman di sampingnya lagi. Begitu seterusnya sampai pada telingaku.


"Hari ini Meta ulang tahun" Bisik siswi yang sebangku denganku.


"Yaaahhhhh" Suara sebagian besar anak.


Aku tidak tahu dimana salahku tetapi semua siswa menyayangkan tindakanku.


"Waduh, bakalan perang nih" Kata seorang siswi dan kemudian dia berlari ke luar kelas. Anak-anak yang lain mengejarnya dan terjadilah kekacauan di luar sana.


Aku baru sadar. Rupanya ada anak yang sedang ulang tahun, dan teman-temannya sekelas sedang berusaha memberi kejutan. Namun aku menggagalkan itu semua dengan menyebut nama Meta dengan keras.


Anak yang bernama Meta itu kembali ke dalam kelas dalam keadaan basah kuyup dan penuh tepung. Perayaan seperti ini masih berlaku di sekolah ini. Di First Internasional School, anak yang berulang tahun akan mengundang teman-temannya ke sebuah party dengan nuansa mewah. Teman yang paling spesial akan mendapatkan potongan kue pertama. Lalu dilanjut dengan makan-makan. Di sini, semua serba sederhana.


"Traktir...traktir...traktir...!!!" Teman-teman bertepuk tangan sambil menagih traktiran.


"Ros...ayo berdiri, ayo!!" Kata seorang siswi.


Aku pun ikut berdiri dan berteriak sama seperti yang lain.


"Oke...oke..ya udah...maunya apa?" Tanya anak yang bernama Meta.


"Bakso"


"Ketoprak"


"Mi goreng di kantin"


"Cilok"


"Es dung dung"


Dan masih banyak yang mengajukan request. Dan yang menurutku unik, semua makanan yang diajukan adalah makanan yang murah meriah. Apakah memang kemampuan mereka hanya sebatas itu.


"Ya udah cilok aja ya..... Dewiiiii" Meta menghampiri Dewi.


Yang dipanggil Dewi sepertinya sudah paham maksud dari Meta.


"Oke...aku telepon Nyak ya..." Kata Dewi.


"Nyak....bentar aku hitung dulu Nyak. 1..2..3..4....tiga puluh ya Nyak!!"


Telepon ditutup. Tak berapa lama seorang ibu-ibu membawa bungkusan plastik hitam besar. Ibu itu berpapasan dengan guru. Mereka kemudian saling menyapa, berjabat tangan dan berbincang sebentar.


"Wah, Meta ulang tahun ya...selamat ulang tahun ya Meta" Kata guru itu memberi selamat.


Meta kemudian mendekat dan mencium tangan guru itu. Si Ibu itu kemudian membagikan cilok pada anak-anak. Tak hanya itu, Ibu itu memberikan binus untuk guru dengan cilok isi telur puyuh katanya. Suasana seperti ini tidak ada di sekolahku dulu. Guru tidak akan memiliki hubungan sedekat itu dengan wali murid. Wali murid juga tidak diperkenankan keluar masuk sekolah apalagi dengan pakaian yang tidak rapi dan tidak bersepatu.


Jadi baru aku tahu, bahwa Ibunya Dewi adalah penjual cilok, dan Meta tadi memesan cilok untuk traktiran ulang tahun. Kucicipi ciloknya lumayan enak. Bumbunya adalah paduan kacang dan saos tomat. Manis, asam dan gurih berpadu menjadi rasa yang nikmat. Pedasnya pas dan berasa bumbunya. Pantas saja anak-anak menyukai cilok ini. Bu guru juga terlihat menikmati. Lucunya lagi, pelajaran mundur setengah jam demi menikmati cilok bersama.


Meta masih basah kuyup sehingga guru memperbolehkannya untuk berjemur di luar sampai pakaiannya kering. Di First, jika baju basah bisa membeli lagi di koperasi. Atau meminjam di laundry milik sekolah. Berbeda sekali bukan. First dengan high class nya dan Bintang Harapan dengan kesederhanaannya.


Sepertinya Tuhan hendak menunjukkan padaku kelasku yang sesungguhnya. Aku adalah anak sebatang kara yang pernah mencicipi tinggal di istana dan sekarang terpental kembali ke kelasku yang sesungguhnya. Di sinilah kelasku. Disinilah seharusnya aku tumbuh. First bukanlah tempatku, bukan kelasku, bukan pangkatku, bukan derajatku


***