My Name Is Rose

My Name Is Rose
Kuis



"Selamat pagi anak-anak. Hari ini Ibu akan mengadakan kuis. Kuis ini akan menjadi pertimbangan Ibu dalam lomba olimpiade tahun ini. Sebenarnya sudah ada kandidat peserta yang akan mewakili sekolah kita. Tapi Ibu juga mau bersikap adil. Seleksi ini menyeluruh ke semua kelas" Bu Yuni, guru matematika menjelaskan.


Olimpiade. Aku teringat beberapa kali mengikuti Olimpiade itu. Di SD aku pernah mengikuti bersama Alanta. Di SMP bukan olimpiade, tetapi lomba Karya Ilmiah Remaja bersama Panji. Kali ini aku tidak bisa terlalu percaya diri, semua anak dengan nilai terbaik berkumpul di sekolah ini. Belum tentu aku yang terpilih. Tetapi jika aku tak terpilih, bagaimana dengan beasiswaku. Berarti beasiswa itu salah sasaran. Beasiswa yang seharusnya diberikan kepada anak berprestasi, justru diberikan kepada anak dengan prestasi biasa saja.


"Soal pertama...."


Tentang logaritma. Aku ingat soal yang diberikan adalah soal online yang pernah diberikan saat lomba. Aku masih ingat rumusnya.


"Jawabannya 0.75...yang salah silahkan keluar"


Dari soal pertama saja sudah banyak yang gagal. Sekitar tujuh anak yang keluar kelas karena tidak bisa menjawab dengan tepat. Hana, salah satu teman Clara sudah gagal. Tiga yang lain masih bertahan.


"Soal selanjutnya...."


Soal ini tidak ada rumusnya. Ini soal nalaristik. Perlu logika untuk mampu menyelesaikannya.


"Jawabannya 12...yang salah silahkan keluar"


Dinda keluar setelah soal ketujuh. Jessie dan Stella keluar sebelum Dinda. Clara masih bertahan. Clara bisa?


Di dalam kelas tersisa empat orang. Aku, Clara, dan dua anak cowok. Ini adalah soal ke dua belas. Entah sampai soal ke berapa kami bersaing.


"Soal ke dua belas"


Ini soal yang cukup ribet. Sebenarnya tidak terlalu sulit hanya butuh menghitung berkali-kali.


"Jawbannya 120"


Tidak ada yang keluar. Semua menjawab dengan benar. Tampaknya semua di kelas ini benar-benar pilihan. Persaingan semakin ketat di soal ke sembilan belas.


"Soal selanjutnya ..ibu sudah hampir kehabisan soal ini ya"


Suasana sedikit mencair dengan gurauan Bu Yuni. Soal ke sembilan belas sangat rumit. Tentang lingkaran melalui tiga sudut segitiga. Aku harus mengingat-ingat lebih lama. Logika sangat diperlukan dalam menyelesaikan soal ini.


"Jawabannya 3,-1 "


Dua anak cowok keluar. Mereka menjawab terbalik. Tersisa aku dan Clara. Tak kusangka dia bisa mengejarku sampai ke titik ini. Aku tidak bisa meremehkannya. Mungkin dia sekarang banyak peningkatan seperti Dinda. Mungkin dia juga menemukan tutor yang tepat sehingga mengalami perkembangan yang pesat.


"Baik persaingan semakin panas ya...biar lebih panas lagi, korden ibu buka ya"


Korden jendela dibuka. Semua anak yang telah gagal bisa melihat kami. Mereka menyaksikan perebutan gelas pemenang diantara aku dan Clara. Mereka juga tampak ikut memikirkan jawabannya.


"Soal selanjutnya tentukan nilai dari soal berikut" Bu Yuni menuliskan soal di papan.


Aku dan Clara berburu waktu. Anak-anak lain di luar juga tampak sedang menghitung di buku masing-masing. Ini saat yang mendebarkan. Tinggal aku dan Clara. Kami seakan tidak hanya bersaing dalam seleksi ini saja. Kami bersaing dalam kehidupan nyata.


"Jawabannya -5"


Jawabanku salah. Jawabanku -24 aku sudah menghitung dan yakin jawaban ini benar. Aku mencoba mengulangi lagi. Aku yakin caraku benar.


"Rosa jawabannya? Clara bagaimana?"


"Min lima Bu" Jawab Clara.


Clara menjawab benar? Yang benar saja. Bagaimana bisa jawabanku salah dan jawaban Clara benar. Sementara selama ini dia selalu di bawahku.


"Maaf Bu, bisakah dijelaskan langkah pengerjaannya. Saya yakin jawaban saya benar. Dengan cara yang benar juga Bu" Kuberanikan diri berbicara.


"Min dua puluh empat Bu"


Bu Yuni tampak sedang berpikir. Sesekali beliau membuat kacamatanya. Dahinya berkerut. Kemudian kulirik Clara. Dia tampak panik dengan apa yang kuucapkan tadi. Jika jawabannya keliru meskipun sama dengan jawaban di kertas Bu Yuni, maka dia tidak akan mewakili sekolah dalam olimpiade.


"Di lembar jawaban ini, tertulis min lina Rosa" Kata Bu Yuni kemudian.


Kembali kulirik Clara. Dia tampak lega dengan jawaban Bu Yuni. Aku bisa saja melepas ini untuknya. Rasa sayangku masih penuh padanya. Tapi ini tentang reputasi. Tentang beasiswa. Juga tentang Alanta.


Jika aku tidak bisa maju, maka beasiswa itu tidak pantas untukku. Dengan demikian prediksi Alanta mengenai kemampuanku adalah salah. Dia pasti akan malu dengan Tantenya, Bu Sarah. Tidak. Aku tidak bisa menyerah begitu saja.


"Mungkin Rosa bisa membuktikan?" Akhirnya Bu Yuni memberiku kesempatan.


Aku segera maju ke depan. Kukerjakan sesuai keyakinanku. Dengan hasil min dua puluh empat. Bu Yuni tampak membandingkan hasil pengerjaanku dengan lembar jawabannya.


"Saya bisa menjelaskan Bu" Sambungku.


"Silahkan"


Aku menjelaskan dari awal cara mengerjakan berikut alasan jika diperlukan. Aku juga tahu dimana letak kesalahan jika menjawab dengan hasil min lima. Bu Yuni tampak manggut-manggut.


"Kamu Clara, jawabanmu min lima. Bisa menjelaskan?" Bu Yuni memberi kesempatan pada Clara untuk mempertahankan jawabannya.


"Ya Bu"


Clara berhenti cukup lama di depan papan tulis. Miris rasanya melihat dia kebingungan seperti itu. Aku tak ingin situasi seperti ini. Clara menulis persis dengan yang kutulis. Tetapi dengan jawaban min lima.


"Cara kamu sebenarnya sudah sama dengan Rosa. Tetapi jawaban kalian beda" Kata Bu Yuni.


Saatnya pengambilan keputusan. Bu Yuni memandang kami satu persatu. Clara menunduk. Mungkin dia sedang merapalkan doa. Aku pun demikian. Aku berharap Bu Yuni dapat sportif menilai dan memutuskan.


"Baik....Ibu tidak memutuskan sendiri. Ibu minta waktu sebentar ya" Bu Yuni keluar kelas.


Tinggal kami berdua di dalam kelas.


"Ambisi banget ya kamu..." Kata Clara masih dengan duduk di kursinya.


"Apa tidak kebalik? Segitu ambisinya kamu sampai punya bocoran jawaban" Jawabku.


Mendengar itu Clara terkejut. Matanya lari kemana-mana. Mungkin dia berpikir darimana aku tahu kalau dia punya bocoran jawaban. Aku tahu dari pikiranku sendiri. Aku tahu dari caranya mengerjakan di papan tulis. Dia terlihat ragu. Dan aku tahu dia tidak bisa menjelaskan. Lalu bagaimana bisa dia bisa menjawab dengan tepat sampai ke titik ini. Inilah kemudian aku merasa curiga dengannya. Pertanyaannya, darimana dia mendapat bocoran itu?


"Maaf menunggu lama" Bu Yuni datang.


Terdengar suara riuh dari luar kelas. Tampaknya anak-anak juga penasaran dengan persaingan ketat ini. Mendadak suara riuh itu diam. Kelas menjadi sangat sunyi.


"Banyak yang perlu kami pertimbangkan"


Kami mendengarkan.


"Setelah banyak pertimbangan, tidak hanya soal kemampuan tetapi juga attitude, kami putuskan, pemenang seleksi untuk kelas ini jatuh kepada....Clara"


Sontak semua anak menyerbu masuk ke dalam kelas. Mereka menyerbu Clara untuk memberinya selamat. Aku lemas. Aku duduk lesu. Hanya satu anak yang menghambur padaku. Siapa lagi kalau buka Dinda. Aku kecewa. Sungguh. Jawabanku benar tetapi Clara yang menjadi kandidat dari kelas ini.


Aku menatap nanar pada mereka yang berjingkrak-jingkrak. Melihat Clara yang sedang bahagia. Melihatnya tenggelam dalam sebuah kejayaan.


***