
Sesuai janjiannya, Alanta datang lagi. Dia bahkan datang lebih dulu dariku. Hari ini aku kembali shift pagi. Mbak Susi yang kemarin meminta berganti shift, sekarang kembali ke shift sore. Kulihat Alanta sedang ngobrol asyik dengan Mbak Susi. Begitu aku datang, Mbak Susi tersenyum menyapaku.
"Nah itu anaknya muncul batang hidungnya. Ros!! Ini si Arjuna nyamperin Srikandinya" Kata Mbak Susi meledek.
"Bukan nyamperin itu Mbak. Mau nagih utang" Sahutku
Sontak Mbak Susi tertawa lepas. Alanta pun demikian. Aku segera ke belakang berganti baju. Sambil berganti baju aku memikirkan apa yang akan kusampaikan terkait usulannya agar aku tetap sekolah. Jujur aku bingung. Satu masalah belum selesai, muncul lagi masalah lainnya. Huft.
Kini aku berhadapan dengan Alanta. Hari ini tak terlalu ramai sehingga Mbak Susi memperbolehkan kami ngobrol di meja customer. Biasanya kami ngobrol di luar, atau bahkan selesai kerja baru kami ngobrol.
"Sepuluh menit" Begitu ledek Mbak Susi.
"Alan, aku hari ini gak pengen ngomongin sekolah dulu. Bisa?" Kataku.
Mendengar itu Alanta sedikit kecewa. Tapi akhirnya dia mengangguk. Meski anggukannya tidak begitu semangat.
"Coba kamu lihat ini" Kusodorkan fotokopi salinan akad perjanjian kerjasama Mama dengan Jacob.
"Apa ini?"
"Kamu bisa gak ngertiin apa isi dari surat ini. Aku udah baca bolak balik tap gak laham juga.
"Ini punya siapa?"
"Mama. Ada tiga orang pria yang datang ke rumah, mengancam kalau Mama tidak memenuhi permintaan mereka, Mama bisa dituntut"
Kuberikan waktu yang cukup untuk Alanta berpikir. Sementara itu aku melayani customer. Aku berharap Alanta dapat memecahkan sesuatu yang aku tak bisa. Aku memang pintar dalam akademik bahkan nilaiku nyaris sempurna. Tapi aku memang kurang pengalaman di luar, dalam hal ini aku masih kalah jauh dengan Alanta.
Alanta melambaikan tangan. Aku segera datang ke mejanya.
"Aku memang gak begitu paham ya karena di dalamnya banyak sekali kata-kata yang asing buat aku. Tapi aku bisa menyimpulkan sedikit" Kata Alanta mengawali.
Aku mendengarkan dengan teliti.
"Mama kamu menandatangani kontrak kerja, dimana Mama kamu bersedia bekerja padanya selama tiga tahun. Pekerjaannya cukup ekstrim. Photoshoot dengan pakaian **** di tempat-tempat yang mereka tentukan. Aku pernah dengar tentang tempat-tempat itu. Kalau sampai Mama kamu mau, Mama kamu tidak akan bisa lepas meski sudah tiga tahun. Itu tempat terlarang. Prostitusi terselubung. Nah mungkin Mama kamu tahu akan hal itu dan dia menolak"
"Trus gimana dong" Aku panik. Sungguh.
"Jika Mama kamu tidak melaksanakan kontrak ini, dia harua rela membayar sejumlah uang ini" Alanta menunjuk pada nominal ratusan juta.
"Duh banyak banget lagi. Katanya jika Mama tidak mampu bayar, bakal dilaporin sebagai penipuan"
"Salah. Di sini sebenarnya Mama kamu adalah korban penipuan. Tapi dnegan surat perjanjian semacam ini, Mama kamu jelas kalah. Apalagi orang-orang seperti Jacob ini pasti sudah punya orang dalam"
Aku mengerti. Jadi jalan satu-satunya adalah dengan membayar uang itu. Tapi tujuh ratus juta, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu.
"Gimana Lan, apa yang harus aku lakukan?" Aku meminta saran Alanta.
"Sekarang aku belum punya ide. Tapi kamu tenang saja, aku akan bantu entah bagaimana caranya" Alanta menggenggam tanganku untuk menenangkan.
Aku mengangguk. Tapi tetap saja aku belum bisa tenang. Pasalnya, nanti malam Mama harus menemui Jacob lagi. Apa yang harus Mama lakukan.
"Dan aku harus bilang ini ke kamu. Pendaftaran memang sudah ditutup, tapi aku bisa bantu kamu untuk masuk sekolah dan mendapat beasiswa. Kamu gak perlu jawab sekarang. Pikirkan saja baik-baik. Aku sangat berharap kamu kembali sekolah"
"Kenapa Alan? Kenapa kamu ingin banget aku sekolah lagi?"
"Indonesia butuh siswi-siswi pintar kayak kamu"
"Sok idealis"
"Hahaha.... "
Mau tak mau akupun ikut tertawa. Dan cowok di depanku ini terlihat puas melihatku tak bisa menahan tawa.
"Tuh kan akhirnya kamu senyum juga" Katanya.
"Nah itu dia pulang, sini Ros!" Kata Mama memanggilku. Tumben Mama peduli dengan keberadaanku.
"Selama Mama nggak di rumah, apa ada orang nyari Mama?" Tanya Mama dengan memegang kedua lenganku.
Aku mengangguk.
"Ngomong apa aja dia?"
"Cuma kasih kertas di map"
"Mana?"
Aku segera mengambil berkas itu di laci kamarku dan segera kuserahkan ke Mama. Mama membaca dengan cepat isi berkas itu dan mengumpat berkali-kali di hadapanku. Aku tak ingin bertanya apapun. Aku takut masalah akan semakin rumit.
"Kak Rosa!! Main yok!!" Untunglah Monica memanggilku sehingga lebih mudah bagiku untuk meninggalkan Mama.
Tak berapa lama Mama sudah berdandan dengan rapi dan cantik. Dia begitu cantik, pantas jika Jacob mengincarnya.
"Mama mau kemana?" Aku iseng bertanya.
" Mama mau keluar sebentar, ada urusan" Jawabnya buru-buru.
Di tangannya ada sebuah tas hitam yang sepertinya isinya penuh. Aku tidak bisa memprediksi isinya apa. Oh apa jangan-jangan isinya uang? Darimana? Oh hari ini adalah hari yang ditentukan oleh orang-orang itu. Mama akan bertemu dengan Jacob. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi. Aku segera menelepon Alanta. Aku tidak bisa menahan sampai besok.
"Halo, Alan....Mama akhirnya nemuin Jacob"
"Ha? Kamu gak bilang apa-apa ke dia?"
"Aku gak berani Alan..."
Terjadi jeda beberapa menit sampai kemudian Alanta kembali berbicara.
"Kamu tahu tempatnya?"
"Enggak"
"Punya nomer hape Mama kamu? Biar aku lacak"
"Oke"
Kuberikan nomer hape Mama dan menunggu kabar dari Alanta. Aku hanya bisa mondar mandir memikirkan hal terburuk yang bisa saja terjadi. Pembunuhan, pemerkosaan, penyekapan, penculikan. Ah bulu kudukku merinding membayangkan itu semua.
Telepon berdering. Alanta.
"Keluar, aku dah di depan"
Alanta sudah di depan untuk membawaku ke tempat Mama berada. Apakah benar Mama keluar untuk bertemu Jacob atau tidak, jawabannya akan kami ketahui nanti. Motor melaju memecah gelapnya jalanan. Aku tidak tahu Alanta membawaku kemana. Yang jelas jalan ini sudah jauh dari rumah kami. Jauh, sampai aku tidak tahu ini di mana.
Kami berhenti di pinggir sebuah danau. Masak iya Mama bertemu Jacob di tempat seperti ini.
"Di situ" Alanta menunjuk suatu paviliun di pinggir danau. Danau ini masih cukup ramai karena sepertinya memang sebuah wisata yang banyak dikunjungi. Di tempat yang ditunjukkan Alanta, kulihat Mama berhadapan dengan seorang pria yang mungkin itulah Jacob. Dan di kanan kiri mereka ada beberapa pria yang menjaga. Jacob benar-benar mafia. Bagaimana bisa Mama berurusan dengan orang seperti itu
"Apa yang harus kita lakukan Alan?" Tanyaku panik.
"Tidak perlu. Kita pantau dari sini saja. Jika aman, kita biarkan. Kita belum cukup kuat untuk melawan mereka. Jika Mama kamu diapa-apain baru kita maju"
Aku menurut. Dari kejauhan Mama memberikan tas itu pada pria di hadapannya. Terjadi perbincangan di antar mereka yang tidak bisa kudengar. Lantas Mama masuk ke dalam mobil dan mobil melaju. Alanta segera menyuruhku Naik ke motor. Kami mengikuti mobil yang membawa Mama. Aku takut Mama benar-benar diculik. Tak henti-hentinya aku merapalkan doa sambil berpegang erat pada tubuh Alanta.
Dugaan kami salah. Mama sampai di rumah. Mobil itu mengantarkan Mama pulang.
***