
Dinda masih ditangani di ruang IGD. Aku bisa mengintip dari celah jendela kaca. Ada selang yang dimasukkan ke dalam mulut Dinda dan dari selang itu keluar cairan cokelat hitam. Itukah racunnya? Beberapa saat kemudian Alanta merangkulku dan mengajakku untuk duduk. Aku masih berlinang air mata saat itu.
"Berdoa...yakin...percayakan pada dokter" Kata Alanta menenangkanku.
Aku tidak mampu menjawab. Aku hanya mengangguk sambil terus menangis. Sesekali aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Oh Tuhan, aku sudah kehilangan Papa, jangan lagi aku kehilangan Dinda. Tidak berselang lama Tante Santi tiba dengan tergopoh-gopoh. Suara sepatunya bahkan menimbulkan irama yang keras.
"Dimana Dinda...Rosa...Dinda ..dimana?" Tanya Tante Santi panik.
"Masih ditangani Tante" Jawabku.
Kami berdua adalah para perempuan yang takut kehilangan. Kami sama-sama takut kehilangan Dinda. Maka kami berpelukan, saling menumpahkan segala kesedihan, saling menguatkan, saling berbagi rasa, dan sama-sama berdoa dalam diam. Di sinilah aku merasakan rangkulan seorang ibu yang begitu mencintai putrinya. Pelukan yang baru kurasakan selama ini. Pelukan yang tak mungkin kutemukan selain ini. Pelukan yang selalu kurindukan di setiap malamku.
Kami masih menunggu proses penyelamatan nyawa Dinda oleh dokter. Beberapa lama kemudian, Papanya Dinda datang dengan kepanikan yang sama dengan Tante Santi.
"Dinda...Dinda mana? Baik-baik saja kan....Dinda...di ruang mana ..Dinda...." Kata Papanya Dinda.
"Masih ditangani Mas" Jawab Tante Santi.
Papanya kemudian duduk membungkuk. Perilakunya menunjukkan rasa panik yang luar biasa. Dia sama seperti kami. Sama-sama takut kehilangan Dinda. Dinda adalah anak semata wayang mereka. Jika Dinda gagal diselamatkan, maka nyawa mereka seakan hilang pula.
Kami sama-sama duduk di bangku yang sama. Sama-sama kehilangan senyum kami. Kami semua menangis sesenggukan berharap dokter segera memberi kabar baik. Suasana sepi menyelimuti malam ini. Alanta masih setia menunggu meski aku sudah menyuruhnya pulang.
Dokter keluar dari ruangan setelah sekian lama menangani Dinda. Kami tidak menyiakan kesempatan ini. Segera kami menghampirinya untuk memastikan kondisi Dinda.
"Saya rasa Dinda tidak keracunan, tetapi....upaya bunuh diri" Kata dokter.
"Bunuh diri? Tidak mungkin dok" Sanggah Tante Santi.
"Maaf ini hanya dugaan. Sebab cairan yang diminum tidak bercampur dengan zat atau makanan lain, saya hanya menduga saja. Semoga saya salah" Kata dokter.
Bunuh diri. Kenapa? Apakah dia patah hati karena seorang cowok? Atau karena keinginannya di dunia seni rupa belum tersampaikan? Bukankah dia punya cara lain untuk tetap bisa melukis? Ataukah ketahuan lagi? Kenapa? Ada apa sebenarnya?
"Ini semua karena kamu Santi!! Anak kita tertekan karena kamu selalu menekannya!!" Papa Dinda marah besar.
"Kenapa jadi aku Mas? Selama ini aku yang mengurus Dinda, jika dia tertekan dia tidak akan bertahan hidup sama aku selama ini" Kilah Tante Santi.
"Kamu masih belum sadar juga??? Selama ini Dinda menahan diri!! Dinda punya keinginan untuk menjadi seniman, kamu yabg mendesak dia untuk bisa berkarir seperti yang kamu mau!! Kamu malu dnegan teman-teman kamu kalau sampai Dinda tidak masuk First Internasional School. Kamu ingin Dinda mendongkrak popularitas di depan teman-teman sosialitamu!!!"
"Mas...aku yang merawatnya sedari kecil, aku tahu yang terbaik buat Dinda Mas. Aku melakukan segala cara demi membuat dia menjadi anak yang pinter!!" Jawab tante Santi.
"Ini? Ini yang kamu bilang terbaik untuk anak kita? Anak kita sampai melakukan percobaan bunuh diri kamu pikir ini yang terbaik untuk anak kita??"
"Bukan begitu Mas!!....."
Tante Santi tidak melanjutkan ucapannya. Tampaknya dia mulai sadar, apa yang dikatakan suaminya benar adanya. Bahwa selama ini dia begitu menekan putrinya agar menjadi siswa dengan nilai akademik tinggi. Dia bahkan menentukan sekolah mana yang harua dimasuki oleh putrinya, ekstarkulikuler apa yang boleh ia ikuti putrinya.
Laki-laki yang kecewa sampai mengeluarkan air mata, adalah laki-laki yang begitu memendam rasa. Rasa cinta yang begitu besar kepada putrinya. Teringat olehku Papa angkatku, yang menyayangiku sebesar menyayangi putri kandungnya sendiri. Ia akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku. Ia akan marah semarah Papanya Dinda. Dia akan membelaku mati-matian seperti yang dilakukan Papanya Dinda.
Papanya Dinda kemudian memeluk istrinya, Tante Santi. Meski semarah apapun, Papanya sadar, dia tidak bisa menyalahkan sepenuhnya pada istrinya. Sebagai seorang suami dia berkewajiban mengingatkan jika istrinya salah. Kurasa marahnya dia adalah bentuk peringatan untuk istrinya. Mereka berdua berpelukan sambil tetap sesenggukan. Mereka menyadari, yang saat ini dibutuhkan anaknya adalah doa. Doa tulus orang tua untuk anaknya.
Aku menyaksikan momen haru seperti ini tepat di depanku sendiri. Dengan mata kepalaku sendiri. Dengan begitu aku bisa pulang dengan lega.
***
"Bagaimana kondisi Dinda Tante?" Tanyaku pada Tante Santi yang menunggui Dinda di rumah sakit.
"Racunnya sudah dikeluarkan. Tinggal menunggu dia pulih. Kekuatannya sudah terkuras habis. Itu membuat dia lemah dan masih harus berbaring istirahat" Kata Tante Santi.
Mata Tante Santi sembab karena semalaman ia menangisi putrinya. Dilihat dari ucapannya, sepertinya Tante Santi sudah tidak terlalu marah denganku.
"Apakah...Dinda pernah cerita ke kamu tentang apa yang ia rasakan selama ini?" Tanya Tante Santi tiba-tiba.
Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Aku takut menyinggung perasaannya.
"Ehm, sepertinya kita tidak usah membahas itu untuk saat ini Tante" Jawabku.
"Katakan Rosa, apa yang pernah ia ceritakan ke kamu. Apakah benar dia tertekan selama ini? Apakah Tante salah karena telah memaksa dia masuk First? Apakah dia punya keinginan lain?"
Aku terdiam beberapa saat, kemudian menjawab.
"Yang saya tahu, Dinda mencintai dunia seni Tante. Dan dia berbakat di bidang itu. Tetapi ketika Tante menyatakan tidak memberikan restu atas hobinya tersebut, Dinda menerima. Dia juga berusaha untuk mendapat nilai bagus di setiap ulangan. Tante tahu kenapa? Karena Dinda begitu mencintai Mamanya"
Tante Santi manggut-manggut sambil mengusap air matanya.
"Tante hanya tidak ingin dia memiliki nasib seperti Tante. Jika tidak dinikahi Mas Irwan saya tidak tahu seperti apa nasib saya yang tidak memiliki keahlian apa-apa. Itulah kenapa saya tekankan pada Dinda untuk bisa masuk First"
"Dinda anak yang sangat berbakat Tante. Lukisannya beberapa kali menang lomba. Dinda menyamarkan namanya hingga tidak ada yang tahu pemilik dari lukisan yang dilombakan itu"
"Oya? Saya tidak tahu"
"Dinda tidak ingin membuka masalah kembali dengan Tante..."
Tante Santi kembali menitikkan air mata. Mungkin sebagai seorang Ibu, dia gagal menjadi tumpuhan dari putri semata wayangnya. Jika seorang anak sudah merahasiakan sesuatu, maka tentu si Ibu bukanlah tumpahan ternyaman bagi anaknya.
Tante Santi menangis dalam diamnya. Matanya yang sembab adalah bukti cintanya pada putrinya.
***